Agama dan Kemunafikan

art,illustration,painting,surrealism-a22a4fc9ad95bea443970f085264c07e_h
cdnstatic.visualizeus.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Ada dua pandangan tentang kaitan antara agama dan kemunafikan. Di satu sisi, orang bodoh dan munafik memeluk agama tertentu, sehingga agama tersebut membenarkan kemunafikan dan kebodohannya. Inilah cikal bakal segala bentuk kemunafikan dan kebodohan atas nama agama yang banyak kita lihat sehari-hari, mulai dari pembenaran atas kekerasan, nafsu birahi, sampai dengan kerakusan atas harta dan kuasa yang dibalut dengan ayat-ayat suci.

Di sisi lain, agama itu sendiri sudah selalu mengandung kemunafikan di dalamnya. Dengan kata lain, jauh di jantung agama-agama, ada hal yang membuat orang biasa menjadi munafik dan bodoh. Pandangan kontroversial inilah yang hendak saya gali lebih dalam.

Ketidakmungkinan

Agama adalah lembaga yang dibangun berdasarkan pada seperangkat nilai dan prinsip tertentu yang, menurut keyakinan mereka, berasal dari Tuhan, atau entitas transenden lainnya. Agama menawarkan arah kehidupan yang ideal pada pemeluknya. Arah kehidupan tersebut, juga menurut keyakinan mereka, akan menuntun orang ke Surga, atau tempat indah lainnya di dalam bayangan mereka. Jika melanggar atau melawan ajarannnya, maka neraka, atau tempat terkutuk lainnya, sudah siap menanti.

Masalahnya, prinsip dan nilai yang diajarkan agama tersebut tidak akan pernah terwujud di dalam kehidupan. Bahkan, para pemuka agama tersebut pun yang, seringkali secara tersembunyi, melanggarnya. Ketidakmungkinan dari prinsip dan nilai tersebut membuat banyak orang frustasi. Mereka selalu merasa kurang, berdosa dan tak berdaya.

Ada orang yang memilih untuk tetap merasa berdosa, dan kemudian menjadi semakin saleh menekuni agamanya. Orang-orang semacam ini mudah sekali diperalat oleh para pemuka agama untuk menjadi robot-robot patuh yang siap dihisap uangnya, atau diminta menggendong bom bunuh diri, demi harapan surga setelah mati.

Ada orang yang kemudian menyerah, dan kemudian memilih untuk menggunakan ajaran dan prinsip moral agamis untuk membenarkan hal-hal bejat di hati dan perbuatannya. Inilah orang-orang munafik yang berjubah dan fasih mengutip ayat suci, tetapi penuh cela di hati dan kehidupan sehari-harinya. Kita banyak melihat orang semacam ini di Indonesia.

Di hadapan keluruhan prinsip dan ajaran agamis, yang tak akan pernah mungkin menjadi kenyataan, orang jatuh ke dalam perasaan tak berdaya dan kemunafikan. Keduanya adalah penderitaan, baik bagi orang yang mengalaminya, maupun orang-orang sekitarnya. Ini tentu bukan merupakan keniscayaan. Ada jalan lain yang tentu bisa ditempuh.

Tegangan Kreatif

Akar kemunafikan adalah perbedaan yang begitu tajam antara kata dan tindakan. Perbedaan ini tentu tidak selalu bermuara pada kemunafikan. Ia bisa menjadi tegangan kreatif untuk mendorong orang untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Ia juga bisa membawa orang untuk berkembang keluar dari kesempitan pikiran dan pertimbangannya.

Bagaimana menumbuhkan tegangan kreatif ini, dan menjauhkan orang dari kemunafikan? Caranya adalah dengan menumbuhkan sikap kritis di dalam hidup beragama. Orang terbiasa untuk berpikir, bertanya dan menganalisis sebelum menerima ajaran apapun, termasuk ajaran agama. Orang menggunakan nalar dan akal sehatnya untuk mempertimbangkan, ajaran apa yang akan dipeluknya.

Sayangnya, sikap kritis pun juga kerap kali dianggap berbahaya oleh para pemuka agama. Banyak agama hidup dan berkembang dari kebodohan dan kemunafikan pemeluknya. Lembaga agama memperoleh banyak uang dan pengaruh politik, persis karena pemeluknya takut berpikir mandiri dan kritis. Yang dilestarikan kemudian adalah sikap patuh yang berdasarkan pada kepercayaan buta belaka.

Alhasil, orang dicabut dari keunikannya, dan dipaksa untuk menyatu dengan kerumunan. Orang menjadi gerombolan yang bisa disetir untuk kepentingan politik, mengeruk uang atau bahkan mengobarkan perang. Pola semacam ini jamak ditemukan di dalam sejarah agama-agama besar dunia. Di dalam agama semacam ini, kemunafikan dan kekerasan adalah makanan sehari-hari.

Ajaran indah agama hanya menjadi buih moral yang jauh dari tindakan nyata. Para pemuka agama dan orang-orang yang mengaku saleh berkhotbah tentang pentingnya nilai-nilai luhur. Walaupun, seringkali merekalah yang menjadi pelanggar utama dari nilai-nilai yang dikoarkannya sendiri. Kemunafikan bagaikan polusi yang tersebar di udara, walaupun orang kerap kali takut mengungkapkannya.

Sikap kritis terhadap ajaran agama akan menuntun orang ke dalam spiritualitas, yakni cara hidup spiritual yang tulus terungkap dari penghayatan batin, dan bukan dari kepercayaan buta terhadap sekelompok orang berjubah. Spiritualitas selalu bersifat revolusioner. Ia mengubah orang dari dalam. Ia mencela kemunafikan, sekaligus, pada saat yang sama, bersikap lembut dan penuh cinta pada orang-orang munafik.

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

30 thoughts on “Agama dan Kemunafikan”

  1. Artinya sikap kritis pd ajaran agama, memahami bahwa agama itu bersifat dinamis. Bisa ditafsir terus-menerus agar membebaskan. Hal ini telah terjadi ber-kali2 dlm sejarah. Jika ditelusuri lebih dalam, penafsiran kembali ajaran agama seperti sebuah proses evolusi, bukankah begitu pak Reza? Warm regards.

    Suka

      1. Terima kasih pak Reza atas tanggapannya. Pak bolehkah saya berdiskusi, namun konteksnya diluar artikel ‘Agama dan Kemunafikan’. Bila diperkenankan, dalam uraian ringkas ini, saya memerlukan penjelasan dari Pak Reza:
        Akhir2 ini saya menikmati membaca Seneca maupun filsuf Stoics yg lain. Sy menemui kata2 dari Stoics, kadang bisa ‘interchangeable’ dg Taoist kuno seperti Lao Tzu, Zen seperti DT Suzuki dan bahkan barat modern seperti Alan Watts. Pd hal antara Stoics dan Taoist jelas tidak pernah bertemu satu sama lain.
        Jd perihal diatas, tampak ada semacam tumpang-tindih diantara teori2 tsb, atau similarity atau seperti about as good of a Western complement to Zen? Apakah saya salah memahami Stoics, Taoist maupun Zen (Alan Watts, DT Suzuki)? Di titik inilah membutuhkan second opinion. Salam hangat.

        Suka

      2. akar peradaban kita sama. Apa yang dikatakan orang Yunani sejalan dengan apa yang dikatakan dengan orang India dan Cina. Perjumpaan antar peradaban sudah berlangsung ribuan tahun. Kesamaan ide tak dapat dihindarkan. Semua adalah telunjuk yang berbeda yang mengarah ke bulan. Yang penting adalah bulannya. Lupakan telunjuknya.

        Suka

      3. Luar biasa pemikiran Anda..
        akan tetapi saya ingin bertanya ..
        jika agama saja bisa berkabung dengan kemunafikan .
        dan saya ingin agar anda dalam mengutip pandangan agama jangan setegah-setengah.
        islam misal nya anda hanya mengutip kekerasan . pencucian otak bom bunuh diri yang di iming-imingi surga..
        walaupun anda tidak menyebutkan islam di sini tapi saya tahu maksud anda adalah islam.
        saya mohon lihatlah islam bukan dari penganutnya tapi lihatlah dari ajaran dan aturan yang telah ditetapkan tuhan dan nabinya..
        saya tidak tahu apakah agama anda..
        bukankah anda ciptaan tuhan .
        seandainya agama adalah kemunafikan bukankah anda orang yang beragama alhasil anda juga bagian dari kemunafikan itu ..

        Suka

      4. kemunafikan adalah penyakit manusia. Semua agama jatuh ke dalamnya. Adalah tugas kita untuk belajar bersikap kritis dan mengubah diri, sehingga kemunafikan bisa dikurangi, walaupun tak bisa dilampaui sepenuhnya.

        Suka

      1. Pak Reza thank’s untuk ‘Lupakan Telunjuknya’. Sangat setuju! Btw untuk pertanyaan bertuhan tanpa agama, jadi teringat dg kumpulan esainya Bertrand Russel yg kemudian dibukukan dalam ‘Russel on Religion’, jika tidak salah buku tsb telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Gramedia. Opini saya pd Russel, lebih suka menyebutnya sebagai freethinkers dan humanist dari pd memberi label sebagai agnostic theist.

        Suka

  2. ketika kita tertarik untuk percaya terhadap ajaran agama dengan otomatis wajib kiranya kita untuk mempelajari ajarannya terlebih dahulu, agar nantinya tidak serta merta percaya. dalam proses belajarnya tentunya kita juga butuh akan guru atau orang yang mengajari guna untuk memperkecil kesalahan pemahaman tentang ajaran agama. dengan gambaran oknum-oknum agama yang munafik yang anda gambarkan yang dalam hal ini di indonesia sangat banyak sekali, kemudian apa kriteria-kriteria untuk memilih seorang guru yang baik guna mendapat pemahaman yang benar dan memperkecil fenomena kemunafikan yang sedang terjadi ?

    Suka

    1. Saya setuju dengan anda. Carilah guru yang mengajarkan kebahagiaan dan perdamaian universal untuk semua mahluk, serta ia menjadi wujud nyata dari kedua hal tersebut. Artinya, ia hidup juga dengan kedamaian dan kebahagiaan universal yang melibatkan semua mahluk hidup. Inilah guru sejati.

      Suka

  3. “Ia mengubah orang dari dalam. Ia mencela kemunafikan, sekaligus, pada saat yang sama, bersikap lembut dan penuh cinta pada orang-orang munafik.”
    Ini indah sekali….. saya kenal dengan orang-orang seperti ini dalam hidup saya. saya bersyukur.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s