Belajar Praktis

Untitled-20111
kyaari.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Di dalam bukunya yang berjudul ēthiká Nikomácheia atau ἠθικὰ Νικομάχεια, Aristoteles merumuskan dua bentuk kebijaksanaan dalam hidup manusia. Kebijaksanaan ini harus dilihat sebagai bagian dari keutamaan hidup manusia, atau aretḗ (ἀρετή). Kebijaksanaan pertama adalah kebijaksanaan teoritis, atau yang disebutnya sebagai theoria (θεωρία). Yang kedua disebutnya sebagai kebijaksanaan praktis, atau phronêsis (φρόνησις).

Kebijaksanaan pertama terkait dengan upaya untuk memahami alam. Manusia memandang alam dan segala yang ada, serta berusaha memahaminya. Kebijaksanaan kedua terkait dengan moralitas dan etika, yakni segala hal di dunia ini yang terkait dengan penilaian baik dan buruk, serta apa yang mendasarinya. Jika orang memiliki keduanya, maka ia akan menjadi bijaksana, begitu kata Aristoteles.

Di Indonesia

Berpijak pada pandangan ini, kita bisa mencoba memahami keadaan pendidikan di Indonesia. Berada berjam-jam di kelas, anak dipompa dengan berbagai informasi teoretik, mulai dari rumus fisika, sampai dengan butir-butir Pancasila yang mesti mutlak dihafalkan, tanpa cacat. Sejak kecil, anak dihujam dengan berbagai ujian dan pekerjaan rumah yang justru kerap membuat stress dan depresi. Jelas, dimensi praktis pendidikan di Indonesia terlupakan.

Para koruptor kelas kakap yang sekarang ini banyak dipajang di televisi justru lulusan dari berbagai universitas miliki negara yang ternama di Indonesia, mulai dari Universitas Indonesia, Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada. Sebaliknya, di perguruan tinggi kini banyak muncul wacana tentang pendidikan karakter. Namun, yang banyak terjadi adalah, mereka hanya menghafalkan konsep-konsep etika dan agama. Akibatnya, orang bisa lulus dengan peringkat tertinggi, sekaligus korup sampai ke tulang sumsumnya.

Jelas, daripada kita sibuk digempur dengan hafalan dan hitung-hitungan abstrak, lebih baik kita mengubah pola belajar kita di Indonesia, yakni dengan berfokus pada apa yang disebut Aristoteles sebagai kebijaksanaan praktis. Saya menyebutnya sebagai “belajar praktis”. Ada tiga nilai yang penting untuk ditanamkan sebagai alternatif dari pola didik teoritik yang sekarang ini banyak terjadi di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi di Indonesia. Nilai-nilai itu adalah antri, tepat waktu dan mendengarkan.

Belajar Praktis

Belajar praktis terpenting yang perlu kita pahami dan terapkan adalah sikap antri. Antri ini memiliki dua bagian. Yang pertama adalah antri fisik, yakni ketika membeli karcis, masuk ke pertunjukan atau dalam kegiatan bersama lainnya. Budaya antri di dalam berbagai kegiatan bersama adalah salah satu dasar terpenting dari perdamaian di antara manusia.

Antri yang kedua adalah antri dalam hidup. Tidak ada orang yang kaya mendadak. Semua harus bekerja dan sabar antri untuk mencapai tangga kesuksesan. Tindak memotong antrian untuk mencapai sukses dalam hidup kerap bermuara pada cara-cara korup, seperti yang dilakukan oleh banyak politikus kita di Indonesia.

Bentuk belajar praktis yang kedua adalah tepat waktu. Orang perlu datang sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikannya. Ketepatan waktu adalah tanda kedalaman pribadi orang yang memilikinya. Konsep “jam karet”, yang berarti selalu terlambat, juga menandakan kedangkalan kepribadian orang atau masyarakat yang memilikinya.

Tepat waktu juga berarti tepat pada dateline, ketika bekerja. Jika saya bilang, bahwa pekerjaan akan selesai dua hari lagi, maka dua hari kemudian, saya harus sudah menyerahkan pekerjaan itu. Kesetiaan pada dateline akan menunjang kerja sama di dalam kelompok, guna mencapai hasil yang diinginkan. Hal ini berlaku secara umum, mulai dari kesetiaan menyerahkan pekerjaan rumah sesuai yang dijanjikan di sekolah atau di universitas, sampai dengan kesetiaan kerja-kerja menteri di dalam kabinet pemerintahan, guna mencapai target-target kerja yang telah ditetapkan dan dijanjikan sebelumnya.

Belajar praktis yang ketiga adalah mendengarkan. Orang perlu belajar untuk berhenti berbicara, dan sungguh-sungguh mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Seringkali, kita tidak mendengar. Kita hanya mendengar apa yang kita inginkan, lalu kita pelintir, guna membenarkan kepentingan kita. Pola semacam ini adalah akar dari segala bentuk kesalahpahaman dan pertikaian.

Belajar untuk mendengarkan berarti belajar untuk sungguh memahami kata dan maksud dari orang yang berbicara. Orang juga perlu untuk mendengarkan sekaligus memahami konteks dari hal yang dibicarakan. Jika tidak jelas, orang tidak boleh bertindak atau menjawab hanya berdasarkan perkiraan. Orang perlu bertanya, supaya hal yang dimaksud bisa jelas, lalu ia bisa memberikan tanggapan yang sesuai.

Arah Pendidikan

Pendidikan karakter bukanlah pendidikan agama. Tidak ada gunanya membaca dan mengulang isi kitab suci, atau berdoa sampai berbuih-buih, jika tidak ada “belajar praktis” di dalamnya. Pendidikan karakter juga tidak boleh sibuk dengan konsep dosa. Menghafal jenis-jenis tindakan berdosa tidak akan mengubah cara berpikir kita tentang dunia. Ini terbukti dari para koruptor yang justru mengenyam begitu banyak pendidikan agama yang berisi soal dosa dan tidak dosa.

Pendidikan juga tidak boleh sibuk dengan menghafal berbagai rumus ataupun teori. Ujian juga tidak boleh hanya memuntahkan ulang apa yang sudah dibaca dan didengar sebelumnya. Inilah kesesatan terbesar dalam pendidikan kita di Indonesia. Menghafal teori metafisika Aristoteles atau fisika nuklir tidak ada gunanya, jika orang tidak melakukan “belajar praktis”, yakni antri, tepat waktu dan mendengarkan.

Tiga Metode

Saya melihat ada tiga bentuk metode di dalam konsep belajar praktis. Yang pertama dan yang terpenting adalah teladan. Guru yang mengajarkan antri, tepat waktu dan mendengarkan juga harus menerapkan tiga hal itu dalam hidup mereka. Ingatlah, bahwa anak mengikuti apa yang kita lakukan, dan bukan apa yang kita katakan. Ini berlaku untuk orang tua, guru maupun perilaku orang-orang di masyarakat. Keteladanan guru, orang tua dan orang-orang tua di dalam masyarakat adalah kunci utama di dalam konsep belajar praktis.

Metode kedua adalah pembiasaan. Belajar praktis bukan hanya diterangkan, lalu kemudian dilakukan sekali dalam ujian, lalu lulus. Pola semacam ini tidak ada gunanya. Belajar praktis berarti belajar melalui pembiasaan, yakni diterapkan dari hari ke hari, tanpa henti, dengan sikap displin dan kesungguhan hati. Pada akhirnya, isi dari konsep belajar praktis akan menjadi bagian utuh dari kepribadian orang.

Metode ketiga adalah ketegasan. Belajar praktis tidak hanya menggunakan pikiran abstrak belaka, tetapi juga menggunakan gerak tubuh yang nantinya terbentuk menjadi kebiasaan sehari-hari yang bersifat otomatis. Segala pelanggaran harus diingatkan, misalnya jika orang tidak antri, tidak tepat waktu atau hanya bicara, dan tidak mau mendengarkan. Ketika pelanggaran dilakukan berulang kali tanpa alasan, maka hukuman yang pas layak diberikan.

Percuma kita menguasai beragam teori kimia organik dan anorganik, jika tidak memahami dan menerapkan konsep belajar praktis dalam hidup kita. Percuma kita menguasai ilmu penerbangan roket dan fisika nuklir, jika tidak tidak antri, tidak tepat waktu dan tidak mau mendengarkan orang lain. Percuma kita menguasai seluruh teori filsafat dan ilmu pengetahuan sepanjang sejarah manusia, jika kita melupakan isi dan prinsip dari belajar praktis. Percuma kita memakai jubah dokter atau ilmuwan, atau bergelar doktor dan professor, jika kita bertingkah seperti hewan yang tidak bisa antri, tidak bisa tepat waktu dan tidak mau mendengarkan pihak lain.

Apakah kita mau menjadi monyet tak beradab yang sok-sok jadi manusia?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

3 thoughts on “Belajar Praktis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s