Yang Tak Bernama, Yang Terlupakan

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Ada sekitar 6 juta orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi di kamp konsentrasi mulai dari 1936 sampai dengan 1945 di Eropa. Perang dunia kedua sendiri telah membunuh lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia. Kita tentu tahu nama-nama terkenal dari orang-orang yang pernah hidup di konsentrasi, seperti Viktor Frankl dan Primo Levi. Korban-korban lainnya tetap tak bernama, dan terlupakan dari aliran sungai sejarah.

Mulai dari Awal Oktober 1965 sampai dengan Desember 1966, anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi yang bekerja sama dengannya ditangkap dan dibunuh begitu saja. Jumlah korban sekitar 500.000 orang sampai 1,5 juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa orang ditahan sebagai tahanan politik. Kita di Indonesia tentu kenal dengan nama Pramoedya Ananta Toer, yang menjadi tahan politik dari peristiwa ini. Tapi bagaimana dengan ratusan ribu orang lainnya yang juga dibunuh, dan mayatnya dibuang begitu saja? Mereka tanpa nama, dan juga terlupakan dari ingatan kita sebagai bangsa.

Kita bisa menderet mayat-mayat tanpa nama dan yang terlupakan ini di berbagai peristiwa keji lainnya sepanjang sejarah peradaban manusia. Bencana alam juga melahirkan mayat-mayat tanpa nama ini, seperti bencana di Filipina beberapa waktu lalu. Mereka bukan orang-orang terkenal. Mereka hanya orang-orang biasa yang menjadi korban dari sebuah peristiwa, dan kini wajahnya hilang ditelan waktu, dan terlupakan.

Bagaimana kita memikirkan orang-orang yang tak bernama dan terlupakan ini? Apakah kita ingin mengingatnya sebagai bagian dari sejarah perjalanan peradaban manusia? Ini memang sulit, karena kita tak punya pengetahuan apapun tentang mereka. Ataukah kita melupakan begitu saja, dan melanjutkan hidup masing-masing, seolah semua baik-baik saja?

Satu hal yang pasti, mayat tak bernama dan terlupakan ini adalah manusia. Tubuhnya mungkin sudah lenyap ditelan bumi, dan menjadi debu sekarang. Tetapi, mereka tetap adalah keluarga dari seseorang. Mereka adalah anak, dan mungkin orang tua dari seseorang. Bagi kita, mereka tak berharga. Bagi beberapa orang, mereka adalah dunianya.

Ataukah mereka debu di lautan semesta yang bernama sejarah manusia? Mungkinkah kita terlalu melebih-lebihkan arti dari seorang manusia? Mungkinkah, pada dasarnya, kita semua ini bukanlah apa-apa? Mungkinkah kita bukan mahluk yang bermartabat, apalagi citra Tuhan, melainkan hanya sekedar debu yang tak bermakna saja?

Maurice Halbwachs, filsuf Prancis, di dalam bukunya yang berjudul On Collective Memory, mencoba menjelaskan arti penting dari ingatan kolektif suatu bangsa. Pengandaian dasanya adalah, bahwa setiap peristiwa itu penting, apalagi peristiwa yang mengakibatkan tewasnya ratusan ribu sampai jutaan orang. Peristiwa menentukan identitas suatu bangsa. Jika peristiwa itu dilupakan, maka ada bagian yang hilang dari identitas bangsa tersebut.

Artinya, mayat-mayat tak bernama dan terlupakan itu harus kita kenang. Peristiwa yang menghancurkan mereka harus kita ingat. Tujuannya, supaya identitas kita sebagai bangsa, dan sebagai manusia, bisa utuh, walau pedih dan cacat. Tujuan lainnya adalah, supaya kita, sebagai umat manusia, selalu bisa belajar dari peristiwa tragis di masa lalu kita, dan tak mengulanginya lagi di masa depan.

Jan Assmann, filsuf Jerman, juga punya pendapat yang sama. Di dalam bukunya yang berjudul Kultur und Gedächtnis, ia merumuskan arti penting ingatan bersama, atau ingatan kolektif. Ada beberapa konsep penting yang dirumuskannya, yakni ingatan sebagai penghubung-pengikat (Verbindlichkeit), ingatan sebagai pengalaman bersama sebagai bagian dari satu kelompok (Gruppenbezogenheit) dan ingatan sebagai citra diri dan identitas (Selbstbild). Dari sudut pandang ini, kita jelas harus mengingat mayat-mayat tak bernama yang menjadi korban peristiwa tragis sejarah. Ingatan ini menjadi dasar ikatan, pengalaman bersama dan citra diri kita sebagai suatu bangsa, atau sebagai umat manusia.

Di dalam deklarasi Hak-hak Asasi Manusia ditegaskan dengan jelas, bahwa setiap orang memiliki nilai bermakna dalam dirinya. Artinya, setiap orang memiliki martabat yang berharga, yang wajib dilindungi dan dihargai. Pendapat ini juga ditegaskan oleh filsuf Jerman, Peter Bieri, di dalam bukunya Eine Art zu Leben. Maka, tidak ada mayat yang tak berharga, karena semua mayat adalah mayat manusia, yang memiliki harga dan martabat yang bermakna di dalam dirinya sendiri.

Di dalam kuliahnya soal Tao and Buddhism, Alat Watts, filsuf asal Inggris yang juga mendalami Zen Buddhisme, punya pendapat yang berbeda. Baginya, filsafat Barat terlalu berpusat pada manusia, dan akhirnya lupa, bahwa manusia hanya salah satu mahluk di samping mahluk-mahluk lainnya, dan alam. Manusia tidak punya status khusus. Ia hanya bagian dari alam semesta yang luas tak berhingga ini.

Maka, kita, pada dasarnya, bukanlah apa-apa. Kita adalah titik yang tak berharga. Kita adalah pasir-pasir kecil di pantai yang luas, nyaris tak berhingga. Ketika kita merasa spesial, kita lalu merasa punya hak untuk menggunakan mahluk hidup lainnya dan alam ini sepenuhnya untuk kepentingan kita. Pola inilah yang sekarang ini terjadi, sehingga alam perlahan-lahan mulai hancur.

Dari dua pandangan ini, kita tentu bisa melihat bagian-bagian yang penting. Bahwa manusia itu memiliki martabat yang berharga, kita tentu bisa sepakat dengan ini. Bahwa manusia itu juga bukan mahluk yang khusus, melainkan hanya bagian dari alam semesta, kita juga bisa melihat kebenaran dari pendapat ini. Saya rasa, keduanya tak perlu dipertentangkan, tetapi disatukan sebagai paradoks. Maka, manusia, dalam arti ini, harus dilihat sebagai “ketiadaan yang bermakna”.

Ia bermakna, karena ia memiliki nilai untuk orang-orang di sekitarnya, dan juga untuk alam. Namun, ia juga bukan sesuatu yang istimewa, karena ia tak lebih tinggi atau lebih rendah, jika dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya. Maka, kita tentu harus mengingat mayat-mayat tak bernama yang menjadi korban tragis sejarah tersebut, bukan untuk membalas dendam atau menyiksa diri, tetapi sebagai bagian untuk menciptakan kesadaran diri, bahwa walaupun kita ini tak istimewa, tetapi kita layak untuk diingat.

Mayat-mayat yang tanpa nama itu bukanlah orang-orang terkenal. Mereka orang-orang biasa yang mencoba untuk menjalani hidup ini. Lalu, mereka menjadi korban peristiwa tragis. Kita wajib mengingat mereka, karena kita adalah pasir-pasir di lautan semesta yang layak untuk diingat; layak untuk dikenang, walau tanpa nama dan tanpa wajah.

Ada alasan yang lebih pribadi. Satu hal yang kita pelajari dari sejarah adalah, bahwa kita tak pernah sungguh bisa belajar dari sejarah. Kesalahan yang sama berulang terus. Hanya pelakunya yang berbeda. Suatu saat, kita mungkin menjadi korban dari suatu peristiwa keji. Suatu saat, kita mungkin menjadi mayat yang tak bernama dan terlupakan. Apakah kita mau diingat?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Yang Tak Bernama, Yang Terlupakan”

  1. Betul.. Sejarah dunia hanya akan mencatat orang-orang yang “tampil beda”. Adapun orang umum kebanyakan, akan berlalu begitu saja seiring dengan bergantinya generasi… 🙂

    Suka

  2. Manusia merupakan ketiadaan yang bermakna. Paradoks inilah yang begitu sulit dilakukan manusia. Merasa bahwa dirinya begitu berarti (memahami pribadinya dan bangga atas itu), namun pada saat yang sama merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa (tetap rendah hati).

    Suka

  3. mas Reza,
    tulisan sampeyan ini membawa ingatanku pada perdebatan tentang rekonsili konflik (karena berbicara tentang sejarah masa lalu). juga perdebatan tentang GM dan Pram yang dipicu oleh isu permintaan maaf gus dur (tapi sepertinya itu permohonan maaf atas pribadi beliau) untuk aksi kemanusiaan pasca tahun 65 itu. Pram yang begitu sakit hati karena mengalami penderitaan langsung sebagai tapol yang tak berdasar sehingga banyak karya-karyanya dimusnahkan melihat permohonan maaf itu sebagai sesuatu yang basa-basi, penuh kemunafikan, dsb yg berbenturan dengan GM yang kemudian menampilakn rekonsiliasi ala Mandela. jadi bagaimana menurut mas Reza tentang menyikapi masa lalu itu? apakah akan mengutamakan “peace” ala mandela atau “justice” seperti tuntutan korban (tapol/napol katakanlah begitu)?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s