Filsafat dan Revolusi yang Tak Berhenti

http://citizenscientistsleague.com
citizenscientistsleague.com

Cuplikan dari Buku Filsafat sebagai Revolusi Hidup, Terbit 2014

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Saya beruntung, karena mendapat kesempatan mendengar kuliah yang amat bagus dari Hendra Sutedja tentang Filsafat Timur. Saya ingat, ia mengajukan pendapat, bahwa inti dari seluruh Filsafat Cina adalah perubahan. Orang-orang Cina melihat perubahan iklim, perubahan cuaca, dan perubahan di dalam segalanya. Alam adalah perubahan itu sendiri, dan perubahan adalah inti dari revolusi, yakni perubahan yang cepat dan mendasar.

Pendapat yang sama dapat ditemukan di dalam pemikiran Herakleitos, filsuf Yunani Kuno. Ia berpendapat, bahwa inti terdasar dari seluruh kenyataan yang ada adalah perubahan. Ia kemudian merumuskan argumen: pantha rei, yang berarti mengalir. Seluruh alam, termasuk manusia, itu terus mengalir dan berubah, tanpa henti.

Revolusi adalah sebentuk perubahan. Bedanya, revolusi adalah perubahan yang disadari, terjadi secara cepat dan mendasar. Reformasi, seperti yang dilakukan di Indonesia sejak 1998, adalah perubahan di permukaan, bagaikan menambal kain yang rusak. Ini jelas bukanlah revolusi. Revolusi bagaikan membakar kain yang lama, lalu berusaha menjahit baju yang baru dari kain yang baru dengan teknik yang lebih baik.

Juga seperti dijelaskan oleh Herakleitos dan mayoritas aliran berpikir di dalam filsafat Cina, perubahan itu tak pernah berhenti. Revolusi, juga, tak pernah berhenti. Ia bagaikan air yang menghempas, menantang orang untuk mengubah cara hidupnya. Ia adalah perubahan dengan rencana, walaupun kita tahu pasti, tidak ada rencana yang 100 persen bisa terjadi di kenyataan.

Ketika revolusi sudah dianggap selesai, maka keadaan akan berubah menjadi dogmatis. Artinya, orang tak lagi berpikir dengan cara-cara baru, melainkan menerima begitu saja, bahwa keadaan tidak lagi bisa diubah. Inilah sikap dogmatis yang menjadi akar dari fanatisme dan fundamentalisme yang bisa menindas segala bentuk perbedaan maupun ide-ide baru yang muncul. Saya sudah membahas soal ini lebih dalam di salah satu tulisan di dalam buku ini tentang konservatisme.

Sayangnya, inilah yang kerap kali terjadi. Revolusi dihentikan atas nama kestabilan. Stabilitas memang amat diperlukan dalam hidup. Namun, stabilitas tidak pernah boleh menjadi situasi aman nyaman yang membunuh kreativitas dan kebaruan. Sebaliknya, stabilitas justru harus memungkinkan lahirnya ide-ide baru yang lebih baik. Ia tidak boleh menyembunyikan ketakutan atas kebaruan di baliknya.

Di dalam filsafat Jerman, Hegel berbicara soal gerak roh. Gerak tersebut terjadi di dalam sejarah manusia, dan tak akan pernah berhenti, sampai roh menjadi absolut. Ini adalah argumen filosofis tentang revolusi yang berjalan terus sepanjang sejarah manusia, dan juga sepanjang hidup setiap orang. Ia terjadi secara niscaya, entah manusia menginginkannya, atau tidak.

Hegel juga berbicara soal dialektika. Ide ini sendiri sebenarnya punya akar panjang di dalam sejarah filsafat, sampai ke Plato di masa Yunani Kuno. Gerak kenyataan terjadi melalui tiga tahap, yakni tesis, yang kemudian menemukan perlawanan dalam anti tesis, lalu keduanya meningkat menjadi sintesis, yang secara kualitatif lebih baik dari tesis maupun antitesis. Gerakan ini, menurut saya, adalah bentuk revolusi ide. Hegel menyebutnya sebagai proses Aufheben.

Di dalam bukunya yang berjudul The Sublime Object of Ideology, Slavoj Zizek, filsuf asal Slovenia, merumuskan konsep yang nyata (the real). Ia mengembangkan konsep ini dari pemikiran Jacques Lacan, psikoanalis asal Prancis. Yang nyata adalah saat-saat tak terduga dalam hidup manusia, yang tak direncanakan, tetapi tetap terjadi, dan mengubah hidupnya. Dampaknya bisa kecil, namun juga bisa besar. Revolusi, menurut saya, adalah bentuk dari yang nyata ini, yang terus terjadi dalam hidup manusia, dan memaksanya untuk terus memikirkan ulang hidupnya kembali.

Jelas, revolusi membuat hidup tak nyaman. Ia menggoyang stabilitas, dan memaksa orang untuk berpikir ulang tentang hampir segalanya. Hal yang sama juga terjadi di level politik. Revolusi mengganggu stabilitas politik, namun kerap kali menjadi awal untuk keadaan yang lebih baik di masa datang. Orang tak boleh membunuh kebaruan atas nama kenyamanan, itulah yang kiranya diajarkan oleh para pemikir besar sepanjang sejarah manusia.

Kenyamanan dan ketenangan hati memang menjadi keinginan hampir setiap orang. Namun, dua keadaan ini juga bisa membahayakan, karena membuat orang terlena, sehingga ia tidak lagi berpikir tentang hidupnya, dan tentang orang lain. Ketenangan hati itu membunuh revolusi. Orang yang hidupnya tenang dan nyaman biasanya sudah mati, walaupun jantungnya masih berdetak, dan ia masih bisa bernafas.

Kenyamanan dan ketenangan hati juga merupakan tanda, bahwa orang hidup dalam dogma. Itu juga berarti, orang sudah nyaman dengan keadaan, yang seringkali menutupi penindasan atas kelompok tertentu. Menjadi tenang dan nyaman berarti juga ikut secara tidak langsung membenarkan keadaan yang menindas. Itulah kiranya yang terjadi di dalam diri banyak orang Jerman, sewaktu Hitler menguasai Jerman pada era perang dunia kedua, dan mendirikan berbagai kamp konsentrasi untuk membasmi orang-orang Yahudi dan musuh-musuh politiknya di Jerman dan negara-negara sekitarnya.

Kata orang, ignorance is bliss, ketidaktahuan itu membahagiakan. Saya sepakat dengan pendapat ini. Orang yang tidak tahu biasanya tenang-tenang saja melihat keadaan. Ia merasa, semua baik-baik saja. Ia hidup dalam kepalsuan dan tetap bahagia, walaupun dunia sekitarnya hancur di depan matanya. Pada akhirnya, ia juga akan menjadi korban dari kehancuran dunia sekitarnya.

Musuh utama revolusi bukan hanya sikap hidup konservatif, tetapi juga ketenangan hati yang berakar pada kemalasan berpikir. Revolusi menuntut dua hal, yakni perubahan yang cepat dan mendasar, serta inklusi, atau penyertaan semua orang di dalam keadaan yang baru. Filsafat sebagai revolusi mendorong masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang terbuka, yang menciptakan keadilan dan kemakmuran bagi setiap orang, tanpa kecuali.

Saya sadar, ini memang amat sulit. Namun, ini adalah tujuan yang amat penting untuk dicapai, walaupun tak pernah sungguh 100 persen bisa dicapai. Dunia yang layak hidup untuk semua, tidak hanya untuk generasi yang sekarang hidup, tetapi juga generasi mendatang. Inilah inti dari semua teori politik ekonomi di awal abad 21, terutama yang dirumuskan oleh Franz Josef Radermacher dengan konsepnya Ökosoziale Marktwirtschaft.

Peran media juga sangat besar dalam melakukan revolusi. Media tidak hanya menjadi tempat berita-berita sensasional, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk mendorong revolusi pribadi, maupun revolusi politik. Ia tidak hanya menjalankan peran sebagai penghibur bagi publik, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya revolusi pribadi di dalam diri. Ini juga berlaku bagi jaringan media sosial yang sekarang ini merupakan bagian penting dari hidup banyak orang.

Revolusi, degan demikian, bukan hanya suatu keadaan sesaat, tetapi suatu cara hidup. Filsafat sendiri adalah suatu bentuk revolusi tanpa henti. Ia menggugat, mempertanyakan dan memperbarui. Kata kunci yang juga penting adalah kesadaran untuk berubah dengan berpijak pada visi dan rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Jadi, bukan revolusi asal, yang juga berarti bukan revolusi sama sekali.

Orang tak perlu takut dengan revolusi, sama seperti orang tak perlu takut dengan filsafat. Ia adalah awal dari kemungkinan baru yang lebih baik, jika dikawal dengan akal budi dan hati nurani. Dua kata kunci itu amat sangat penting, guna menjalankan revolusi, yakni akal budi dan hati nurani. Dua hal ini jugalah yang memastikan, bahwa revolusi pribadi maupun politik akan berjalan terus.

Begitu banyak contoh revolusi sosial yang terjadi di Indonesia. Joko Widodo dan Ahok (Basuki Tjahjaja Purnama) melakukan revolusi besar di Jakarta, guna menciptakan keadaan yang lebih baik untuk semua, tidak hanya untuk orang-orang kaya saja. Tri Rismaharini melakukan revolusi di Surabaya, guna menjadikannya kota yang indah dan bersih untuk semua, tanpa kecuali. Paus Fransiskus, Paus Gereja Katolik Roma, melakukan revolusi di Vatikan, guna membersihkannya dari korupsi dan pelbagai krisis moral lainnya. Pertanyaan saya, kapan revolusimu?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 thoughts on “Filsafat dan Revolusi yang Tak Berhenti”

  1. Saya setuju sekali kita butuh revolusi, salah satu fakta tentang revolusi menurut saya adalah Natal, kita suci memperlihatkan kepada kita, bahwa Allah menumbusi, ruang dan waktu,suatu revolusi Allah mencari Manusia, supaya menusia dapat berjumpa dengan Dia. Selamat Hari Natal, Dan menyongsong Tahun Baru.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s