Mengurai “Bahasa” Kepemimpinan untuk Indonesia

us.123rf.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Satya (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pimpinan perusahaan. Ia dipercaya menjadi CEO (Chief Executive Officer) di salah satu perusahaan berskala nasional di Jakarta. Ia amat menguasai core business perusahaannya. Namun sayangnya banyak orang, termasuk kolega maupun bawahannya di perusahaan, tidak mempercayainya.

Ketika Satya ada mereka tampak ramah dan bersahabat. Namun ketika ia pergi, mereka berbicara di belakang tentang kejelekan-kejelekannya. Bagi mayoritas anak buah dan kolega di perusahaan yang ia pimpin, Satya adalah pimpinan yang otoriter, tidak ramah, dan arogan. Hmm.. pola semacam ini banyak terjadi di berbagai organisasi di Indonesia. Apakah di tempat anda terjadi hal semacam ini?  

Apakah anda adalah pimpinan seperti Satya, yang tampak dicintai, tetapi sebenarnya dibenci oleh bawahan dan kolega? Apakah anda adalah seorang pimpinan yang amat cerdas dan menguasai core business organisasi anda, tetap tidak dapat memperoleh simpati maupun kepercayaan kolega serta anak buah anda? Jika ya mengapa ini bisa terjadi?

Ini terjadi karena anda tidak menguasai “bahasa” kepemimpinan.[1]

Bahasa Kepemimpinan

Satya adalah seorang ahli (di bidang bisnisnya), tetapi ia bukanlah seorang pemimpin sejati. Jika ia dicopot dari statusnya sebagai CEO, dan dicopot dari gajinya yang puluhan juta rupiah per bulan, maka tidak ada orang yang menghargainya. Ia hanya manusia biasa yang, walaupun pernah menjadi pimpinan, tidak akan diingat sebagai pemimpin. Setelah masa jayanya ia akan “lenyap” ditelan waktu dan peristiwa.

Padahal esensi kepemimpinan adalah menginspirasi orang lain untuk melakukan hal-hal hebat, walaupun situasi yang ada amat tidak pasti, dan sumber daya terbatas. Untuk bisa memberikan inspirasi pada orang lain, seorang pimpinan harus bisa meraih kepercayaan dari orang-orang yang ia pimpin. Pertanyaannya lalu bagaimana seorang pimpinan bisa meraih kepercayaan dari kolega maupun orang-orang yang ia pimpin? Bagaimana ia bisa memberikan inspirasi, supaya kolega maupun bawahannya di organisasi bisa melakukan hal-hal hebat, walaupun situasi tidak pasti, dan sumber daya amat terbatas?

Seperti dicatat oleh Golsby-Smith, pada masa Yunani Kuno, tugas seorang pemimpin hanya satu, yakni mengajak orang untuk “melakukan tindakan-tindakan luar biasa di dalam dunia yang tidak pasti, dengan hanya menggunakan satu alat: yakni kata-kata.” Rumusan paling padat tentang hal ini dapat dilihat di dalam pemikiran Aristoteles tentang kepemimpinan. Baginya ada tiga bahasa kepemimpinan, yakni rasionalitas, otentisitas, dan empati. Dalam bahasa Yunani tiga hal itu disebut sebagai logos, ethos, dan pathos.

Logos adalah rasionalitas yakni kemampuan manusia untuk menalar, berpikir. Dalam konteks kepemimpinan rasionalitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk melihat situasi sekitar, dan menyelesaikan urusan maupun hal-hal yang telah dijanjikan. Satya jelas memiliki kemampuan seperti ini. Yang kemudian diperlukan adalah kemampuannya untuk mengekspresikan logos ini di dalam proses komunikasi, baik dengan kolega maupun bawahannya di perusahaan.

Seperti dicontohkan oleh Golsby-Smith, Satya perlu lebih sering berkata seperti ini, baik ketika memimpin rapat, maupun ketika berkomunikasi sehari-hari, “Ide anda amat baik. Saya amat menghargainya. Namun kita perlu memperhatikan aspek lain dari kondisi yang ada. Maka setelah mempertimbangkan dan melakukan refleksi, keputusan saya adalah A. Bagaimana menurut anda?” Di dalam kalimat ini tercermin dua hal, yakni kemampuan untuk menerima pendapat dari orang lain, belajar dari pendapat orang lain, dan membuat keputusan berdasarkan analisis atas situasi yang ada. Inilah salah satu “bahasa” kepemimpinan.

“Bahasa” kepemimpinan kedua adalah otentisitas. Seorang pemimpin perlu untuk menegaskan, bahwa dirinya memiliki nilai-nilai luhur. Setiap pikiran maupun tindakannya harus dibimbing oleh nilai-nilai luhur kehidupan tersebut. Lebih dari itu seorang pemimpin harus punya cita-cita yang tinggi. Cita-cita itu disampaikan ke semua kolega maupun bawahannya dengan keyakinan yang mendalam.

Seorang pemimpin menawarkan harapan dan arah, terutama ketika situasi serba tidak pasti. Seorang pemimpin berbicara dari hati. Inilah esensi dari otentisitas kepemimpinan, bahwa ia berbicara dari hati. Seperti dicontohkan oleh Golsby-Smith, Satya, untuk menunjukkan otentisitasnya sebagai pemimpin, perlu untuk berkomunikasi dengan pola ini, “Sewaktu saya bekerja sebagai penjaga gudang, saya sering mengalami diskriminasi. Saya sering diperlakukan tidak adil. Uang makan saya dipotong. Cuti saya dipotong dan berbagai hal lainnya. Namun sekarang sebagai pimpinan, saya yakin, bahwa diskriminasi harus dilenyapkan dari perusahaan kita. Setiap orang harus mendapatkan hak-haknya sebagai pegawai sekaligus sebagai manusia di perusahaan ini.”

Inilah komunikasi yang datang dari hati. Apa yang datang dari hati pasti akan menyentuh hati lainnya. Inilah bahasa otentisitas. Inilah salah satu “bahasa” kepemimpinan.

“Bahasa” kepemimpinan ketiga adalah empati, atau pathos. Seorang pemimpin perlu untuk merasa peduli dengan situasi kolega maupun bawahannya. Bentuk konkretnya amat sederhana.

Sudahkah anda menyapa orang dengan ramah di hall atau lorong kantor, ketika berjumpa dengan kolega ataupun bawahan anda? Sudahkah anda mengajak kolega ataupun bawahan anda untuk minum kopi bersama, dan berbincang-bincang santai? Sudahkah anda membantu kesulitan-kesulitan yang dialami kolega atau bawahan anda, baik itu kesulitan personal maupun profesional? Sudahkah anda mendengarkan keluhan maupun harapan mereka dengan sepenuh hati?

Inilah bahasa empati. Inilah bahasa dari rasa peduli yang amat manusiawi. Inilah “bahasa” yang digunakan oleh para pemimpin sejati. Sudahkah anda menggunakannya? Yang pasti Satya belum menggunakannya, sehingga ia belum memiliki kepercayaan kolega maupun anak buahnya.

Indonesia

Di Indonesia kita mengalami krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin di berbagai level tidak mampu melihat situasi, menganalisis, dan melakukan hal-hal yang penting untuk memperbaiki situasi. Mereka memiliki rasionalitas namun tak digunakan untuk memahami situasi yang ada. Inilah salah satu alasan, mengapa bangsa kita mengalami krisis di berbagai dimensi, mulai dari korupsi, konflik sosial, sampai terorisme.

Di sisi lain orang-orang yang menggunakan rasionalitasnya secara tepat ternyata tidak mampu berkomunikasi secara baik. Akibatnya ia tidak dikenali, tidak dipercaya, dan sulit untuk memimpin secara baik. Rasionalitas, dalam bentuk kemampuan memahami situasi dan bertindak secara tepat, di dalam kepemimpinan perlu untuk disampaikan dengan “bahasa” yang tepat, sehingga bisa dipahami, dan kemudian menumbuhkan kepercayaan.

Juga di Indonesia banyak pemimpin di berbagai level kepemimpinan tidak memiliki nilai-nilai luhur di dalam pikiran maupun tindakannya. Mereka berpikir dan bertindak untuk memenuhi kepentingan sendiri, ataupun golongan (partai?). Mereka juga tidak punya cita-cita tinggi untuk kepentingan pihak-pihak yang dipimpinnya. Karena kepemimpinan yang ada kacau, maka seluruh jajaran birokrasi dan praktek sehari-hari pun juga kacau.

Banyak pimpinan berbicara teknis, bukan dari hati. Apa yang bukan dari hati, tidak pernah akan menyentuh hati lainnya. Tanpa komunikasi antar hati, kepercayaan tidak akan tumbuh. Tak heran banyak orang sudah merasa tidak peduli dengan pelbagai krisis yang terjadi di Indonesia. Mereka mengurung diri dalam kepentingan pribadi, dan berputar tanpa arah di dalamnya.

Dan yang terakhir yang cukup jelas terlihat, banyak pemimpin di Indonesia tidak peduli dengan pihak-pihak yang ia pimpin. Mereka sibuk memperkaya diri ataupun kelompoknya. Mereka melihat diri sebagai penguasa yang lebih tinggi, maka harus dilayani dan dipuja puji. Tak heran kebijakan maupun keputusan yang mencerminkan kerakusan serta kebodohan, dan amat miskin kepedulian yang manusiawi.

Pola komunikasi mereka mencerminkan kedangkalan berpikir dan kedangkalan refleksi. Rasa tidak peduli terlihat bukan hanya dari kata yang keluar, tetapi juga dari mimik muka yang tampil ke depan. Rasa peduli adalah seni yang hilang (the lost art) di dalam praktek kepemimpinan di Indonesia. Yang tinggal tersisa adalah arogansi dan kedangkalan semata.

Kepemimpinan memiliki “bahasa” yang khas. Yang pertama adalah bahasa rasionalitas yang dikomunikasikan dengan keyakinan penuh ke publik. Yang kedua adalah bahasa otentisitas yang dipenuhi dengan nilai-nilai kehidupan serta cita-cita yang tinggi untuk kebaikan bersama, yang kemudian juga dikomunikasikan dengan penuh keyakinan ke publik. Dan yang ketiga adalah bahasa empati yang berisi rasa peduli setulus hati dan manusiawi kepada setiap orang. Rasa peduli yang ditunjukan dalam kegiatan sehari-hari.

“Bahasa” kepemimpinan inilah yang kita perlukan di Indonesia. Rasionalitas, otentisitas, dan empati haruslah disampaikan secara ramah dan dengan penuh keyakinan ke komunitas terkait, supaya tumbuh rasa percaya kepada pimpinannya. Sebagai seorang CEO perusahaan, Satya perlu menerapkan “bahasa” kepemimpinan ini di dalam kerjanya. Dengan begitu ia akan diingat sebagai seorang pemimpin sejati, sekaligus guru yang perlu menjadi acuan, walaupun waktu dan peristiwa mengikis ingatan…..***

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya


[1] Saya terinspirasi pemikiran Tony Golsby-Smith di dalam tulisannya yang berjudul Learn to Speak Three Language of Leadership di dalam Harvard Business Review online. Diakses pada Rabu 10 Agustus 2011.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Mengurai “Bahasa” Kepemimpinan untuk Indonesia”

  1. Bahasa kepemimpinan adalah perwujudan dari situasi kejiwaan si pemimpin. Sayangnya, tidak mudah seseorang terbentuk menjadi sosok dengan situasi kejiwaan sebagai pemimpin. Masyarakat masa kini yang kompleks membuat kualitas mental yang demikian lebih sulit terbangun. Bagaimana menurutmu?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s