Paradoks Perdamaian

Surrealism-oil-font-b-painting-b-font-handpainted-on-canvas-man-woman-s-font-b-face
g02.a.alicdn.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Memasuki tahun baru, saya teringat salah satu cita-cita tertua dan terluhur manusia, yakni perdamaian dunia. Hidup di kota yang diancam bom pada saat malam pergantian tahun membuat saya kembali merenungkan hal tersebut. Mungkinkah ia terwujud? Apa harga yang harus dibayar untuk mencapainya?

Pertanyaan tersebut menjadi bahan renungan sekaligus penelitian para filsuf politik sepanjang sejarah. Mereka mencoba memahami akar masalah, dan mengajukan jalan keluar. Kita pun tergerak untuk merumuskan pandangan kita sendiri tentang perdamaian dunia, serta cara-cara untuk mencapainya. Ini tentu tak selalu mudah, namun niat untuk melakukannya sudah terhitung sebagai sebuah tindakan luhur.

Filsafat dan Agama

Salah satu pandangan yang paling menarik dan penting, menurut saya, tentang ini adalah pandangan dari Immanuel Kant, filsuf Jerman, yang dituangkan di dalam bukunya yang berjudul Zum ewigen Frieden, atau Tentang Perdamaian Abadi. Di dalam buku ini, Kant merumuskan terciptanya pemerintahan dunia, atau apa yang disebutnya sebagai Federasi Dunia (Weltföderalismus). Semua negara di dunia adalah bagian dari federasi ini. Semua hubungan dan tata kelola di dalam federasi ini diatur berdasarkan hukum-hukum yang berpijak pada akal budi dan kebebasan manusia, serta rasa hormat satu sama lain.

Pandangan Kant ini mempengaruhi pandangan para filsuf politik lainnya, mulai dari Jürgen Habermas, John Rawls sampai dengan Jacques Derrida. Inti dari pandangan ini kiranya satu, yakni keadilan global yang berlaku untuk semua bangsa. Keadilan ini dilindungi dan dipastikan melalui berbagai institusi hukum dan undang-undang yang berpijak pada akal budi, kebebasan serta rasa hormat satu sama lain. Habermas, di dalam bukunya yang berjudul Faktizität und Geltung, juga menegaskan, bahwa beragam institusi dan undang-undang ini haruslah dirumuskan dengan berpijak pada proses diskusi satu sama lain yang rasional dan bebas dari penindasan.

Beragam pandangan filosofis ini kiranya juga sejalan dengan pandangan dari berbagai agama di dunia tentang perdamaian dunia. Buddhisme, misalnya, menekankan pentingnya peran pencerahan batin setiap pribadi di dalam mewujudkan perdamaian dunia. Semua institusi dan hukum akan percuma, jika orang-orang yang bekerja di dalamnya bermental bejat. Maka, agama haruslah mendorong pencerahan batin pribadi setiap orang, lalu baru perdamaian dunia yang sejati bisa terwujud.

Di dalam Kristianitas, perdamaian dunia dilihat sebagai terwujudnya Kerajaaan Allah di dunia. Kerajaan Allah disini berarti terciptanya tata dunia yang berpijak pada cinta dan keadilan. Pandangan ini amat kuat tertuang di dalam Ajaran Sosial Gereja Katolik Roma. Tanpa cinta dan keadilan, perdamaian dunia hanyalah penampakan sesaat yang segera lenyap, ketika badai menghadang.

Masalahnya

Masalah muncul, ketika kita sadar, bahwa beragam konsep tentang perdamaian kerap kali tidak membantu kita untuk mewujudkan perdamaian dunia secara nyata. Setiap konsep mengandung kelemahannya masing-masing yang seringkali diabaikan. Konsep Kant tentang perdamaian dunia mengandaikan pemahaman tentang akal budi dan kebebasan khas Eropa yang tidak dapat diterima di tempat lain. Konsep Habermas tentang diskusi rasional yang bebas dominasi tak mungkin dapat diwujudkan di dalam kenyataan, terutama karena adanya ketidaksetaraan antar manusia yang tak pernah bisa dihilangkan begitu saja.

Pandangan agama-agama tentang perdamaian dunia juga bermasalah. Konsep pencerahan batin di dalam Buddhisme kerap kali begitu jauh dari jangkauan, sehingga orang kerap kali jatuh ke dalam keputusasaaan, ketika mencoba untuk menyelaminya. Konsep Kristianitas tentang cinta dan keadilan seringkali menjadi bumbu kata-kata semata yang bertentangan dengan tindakan nyata dari orang-orang yang mengaku beragama Kristen. Hal yang sama kiranya bisa ditemukan di dalam agama-agama lainnya, baik di Islam, Hindu dan sebagainya.

Beragam konsep perdamaian dunia yang ada seringkali tidak hanya saling bertentangan di meja diskusi, tetapi juga mewujud nyata di dalam perang yang tak berkesudahan. Perang tiga puluh tahun di antara beragam Gereja Kristen di Eropa adalah pertumpahan darah, akibat perbedaan paham semacam ini. Dukungan tanpa tanya agama Kristen terhadap kolonialisme Eropa, yang selama ratusan tahun menghancurkan beragam bangsa di seluruh dunia, juga menjadi contoh nyata konflik yang lahir, akibat perbedaan pandangan dunia (Weltanschauung) semacam ini. Perang Salib di Abad Pertangahan dan tradisi radikal Jihad di dalam Islam terhadap orang-orang non Muslim juga memperkeruh masalah.

Inilah yang kiranya terjadi, jika perdamaian dunia dirumuskan melalui konsep. Setiap konsep, menurut Husserl, berakar pada dunia kehidupan (Lebenswelt), tempat konsep tersebut dirumuskan dan berkembang. Maka dari itu, setiap konsep membawa bias budayanya masing-masing. Hal ini menjadi berbahaya, ketika konsep disamakan dengan kenyataan dan kebenaran itu sendiri. Ketika ini terjadi, perang dan konflik tak berkesudahan pun nyaris tak terhindarkan.

Dalam arti ini, kita dapat mengatakan, bahwa justru penghalang terbesar dari perdamaian dunia adalah konsep kita tentang perdamaian dunia. Konsep-konsep tersebut terlihat indah di mata dan merdu di telinga, tetapi berbahaya untuk kenyataan. Ia menyempitkan kenyataan ke dalam sekumpulan rumusan yang lalu dikira sebagai kebenaran itu sendiri. Buahnya adalah kesalahpahaman, yang akhirnya mendorong perpecahan.

Lalu Bagaimana?

Kita harus mencermati paradoks perdamaian dunia ini. Perdamaian dunia hanya dapat sungguh terwujud, jika kita masing-masing melepaskan pandangan kita tentang perdamaian dunia. Kita tidak lagi mengira beragam konsep yang indah dan merdu tersebut sebagai kenyataan, apalagi sebagai kebenaran. Ini adalah langkah awal yang amat penting untuk mewujudkan perdamaian dunia yang sesungguhnya.

Ketika konsep tentang perdamaian dilepas, maka perdamaian yang sesungguhnya akan muncul. Perdamaian yang sejati ini berpijak pada kenyataan sebagaimana adanya, dan bukan kenyataan sebagaimana kita bayangkan dalam konsep yang kita rumuskan. Kenyataan sebagaimana adanya ini sejatinya tidak memiliki nama. Ia adalah keadaan sebelum pikiran, yakni sebelum segala konsep muncul di kepala kita.

Ketika segala konsep tentang perdamaian dilepas, kita lalu bisa bekerja untuk perdamaian yang sejati dari saat ke saat. Semua tindakan kita tidak dibimbing oleh bayangan konseptual tentang kenyataan, tetapi dari kesadaran akan kenyataan sebagaimana adanya disini dan saat ini. Setiap tantangan dilihat sebagai sesuatu yang unik. Buahnya adalah kejernihan, sehingga jalan keluar akan otomatis tampak.

Di titik ini, kita bergerak dari kekosongan. Artinya, kita bergerak dari ketakterbatasan. Ini adalah kejernihan sesungguhnya yang menjadi dasar utama bagi perdamaian dunia yang sejati. Tanpa kejernihan semacam ini, perdamaian dunia hanyalah buih dari koar para filsuf politik dan pemuka agama yang hidup dalam kepalsuan dan kemunafikan.

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Paradoks Perdamaian”

  1. Kesadaran akan kenyataan sebagaimana adanya di sini dan saat ini melahirkan buah kejernihan yang menjadi dasar utama bagi perdamaian dunia yang sejati…
    Saat ini, banyak dari kita sadar atau tidak, telah terbelenggu dalam lingkaran keputusasaan akut akan nasib umat manusia di masa depan, hingga sebagian dari kita tidak ragu ragu lagi untuk mengibarkan bendera putih bertuliskan TINA ( there is no alternative ) untuk menyerahkan diri sepenuhnya terhadap kekuatan tren dunia ( terutama korporasi global ) menuju kehancuran umat manusia…
    Kesadaran akan kenyataan sebagaimana adanya adalah sebuah harapan dan peluang di tengah kebuntuan akan jalan keluar. Namun agaknya hal ini sangat susah dan sulit untuk dijalankan dikarenakan kita telah terbiasa berpikir rumit dan jelimet sehingga hal hal yang sebenarnya mudah dan sederhana seolah menjadi ikut ikutan ruwet…
    Sama halnya dengan prinsip dan nilai nilai luhur yang yang terkandung dalam kearifan budaya lokal yang sudah lama ada di bumi pertiwi ini, juga menyadarkan kepada kita bahwa kita adalah bagian integral dari alam semesta, menganjurkan agar senantiasa berpikir secara menyeluruh, tidak sepotong sepotong, hidup sederhana secara sukarela, mengedepankankan kehidupan yang berkelanjutan, kehidupan yang berbasis lokal yang dipenuhi dengan spontanitas, tanpa tendensi dan pretensi yang tidak perlu, senantiasa menjaga harmonisasi dengan alam sekitar, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat diri sebagai manusia.
    Mereka adalah anak didik alam semesta yang selalu peduli dengan kelestarian kehidupan di bumi, memahami apa yang betul2 mereka butuhkan tidak lebih dan tidak juga kurang, memahami keterbatasan mereka sehingga mereka pun memahami apa arti kesalingketergantungan…
    Di tengah agresifitas pengaruh2 yang merusak, kabar baiknya adalah bahwa orang2 tersebut akan senantiasa hadir, baik sebagai golongan minoritas ataupun sebagai kelompok yang terpinggirkan, mereka ada di tiap tiap pelosok dunia, sebagian bergerak perlahan mengikuti siklus alam, memungut keping demi keping reruntuhan untuk perbaikan dunia, bergerak dengan kesadaran yang sama walaupun berada jauh terpisah demi tercapainya mahligai kehidupan bagi perdamaian dunia sejati.
    Akhirnya, dapatlah kiranya kita memutar balik arah kehidupan kita dengan tidak menyerahkan sepenuhnya hidup kita kepada kendali kekuasaan yang sedang berfoya foya di atas kapal pesiar yang tak lama lagi akan tenggelam….
    Mudah mudahan……

    Suka

  2. Akhirnya saya dapat berkomentar juga, komentar awal, tulisan yang baik ini, om..

    Bahwa semuanya adalah apa adanya dan hal itu (apa adanya) akan membuahkan berbagai perdamaian dan segala macamnya yang hanya menjadi anggapan manusia. Tapi manusia itu tak ada puasnya om ? Kita sebagai orang yang “tahu” selayaknya apa tindakan kita ?

    Terimakasih sebelumnya..

    Salam Hangat..

    Suka

  3. artikel pendek yang menarik pa Reza. thanks. saya cUma mau tanya beberapa pertanyaan. jadi apakah perwujudan prdamaian itu tidak memerlukan pemahaman atau konsep bersama? lalu bagaimana kedamaian dapat terwujud ketika sebuah perdamaian tidak ada yang mendasarinya (kekosongan berarti tidak memiliki dasar, bukan)? apakah benar dengan mulai dari titik kekosongan, maka, tidak akan mungkin ada gesekan-gesekan tradisi, ajaran yang bersifat subjektif di dalamnya?

    Suka

    1. terima kasih. Perdamaian tentu butuh dasar bersama. Akan tetapi, darimanakah dasar itu dibangun? Apakah dari konsep? Konsep itu terbatas pada sudut pandang tertentu. Ia seringkali justru menjadi penghalang bagi orang untuk mencapai pemahamanan. Pertanyaan pentingnya adalah, apakah dasar yang kokoh untuk perdamaian, yang lebih dari sekedar konsep? Kekosongan disini haruslah dilihat sebagai ketakberhinggaan, yakni sudut pandang luas yang mencakup segala sesuatu. Ia berada sebelum konsep.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s