Melampaui Dogmatisme

aziz-anzabi.com
aziz-anzabi.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda pernah melihat orang yang saling berdebat satu sama lain? Ataukah anda sendiri pernah terlibat perdebatan dengan orang lain, atau kelompok lain? Perdebatan muncul, karena perbedaan pendapat, yakni ketika dua orang melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Masalah muncul, ketika keduanya merasa, bahwa mereka masing-masing memegang kebenaran mutlak.

Biasanya, perdebatan semacam ini diakhiri dengan pertengkaran. Sangat sedikit perdebatan dengan pola semacam ini yang berakhir dengan kesepahaman. Ini terjadi, karena kedua belah pihak memegang erat pendapat mereka, dan menutup telinga dari pendapat pihak lainnya. Inilah salah satu bentuk dogmatisme yang bisa dengan mudah kita temukan dalam hidup sehari-hari.

Pada tingkat yang lebih luas, dogmatisme dapat dengan mudah dilihat di dalam agama dan politik. Keyakinan agama dan politik tertentu dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh ditanya. Siapa yang berani bertanya, apalagi mengritik, dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa dogmatisme adalah penyakit paling berbahaya di dalam kehidupan bersama umat manusia.

Dogmatisme

Dogmatisme adalah keyakinan mutlak tanpa tanya pada suatu bentuk rumusan konseptual. Rumusan tersebut bisa dalam bentuk perintah moral, atau penjelasan atas sesuatu yang tak boleh lagi dipertanyakan. Segala hal di alam semesta ini selalu bisa untuk dipertanyakan. Namun, dogmatisme melarang segala bentuk pertanyaan tersebut.

Yang sering ditemukan adalah dogmatisme di dalam bidang moral yang berpijak pada keyakinan agama tertentu. Orang hidup dengan keyakinan mutlak atas kebenaran pikiran diri dan kelompoknya. Ia pun bergerak untuk memaksakan keyakinan tersebut pada orang lain. Tidak ada toleransi dan kelembutan di dalam penerapannya.

Orang dogmatis dapat dianggap seperti orang yang buta pikirannya. Ia menutup mata dari kenyataan dunia ini yang beragam dan terus berubah. Orang ini seringkali tidak sadar, bahwa ia bersikap dogmatis. Ia memaksakan tata nilainya ke dirinya sendiri dan ke orang lain, tanpa ada kesadaran sedikit pun, bahwa dunia ini dipenuhi dengan ketidakpastian dan perubahan.

Selain buta, orang dogmatis juga biasanya dipenuhi ketakutan. Ia merasa, jika dunia berjalan tidak sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai hidupnya, maka semua akan hancur. Ia mengira, bahwa seluruh alam semesta ada dan bergerak dengan berpijak pada nilai-nilai hidup yang ia yakini tanpa tanya. Tak salah juga jika dikatakan, sikap dogmatis tidak hanya terkait dengan kebutaan dan ketakutan, tetapi juga dengan kebodohan.

Dogmatisme juga membuat suatu nilai yang sejatinya baik menjadi rusak. Setiap orang perlu hidup dengan nilai di dalam hidupnya. Namun, ketika nilai tersebut diyakini secara dogmatis, maka nilai itu akan menjadi sumber masalah bagi hidup pribadi orang tersebut, maupun hubungannya dengan orang lain. Dogmatisme meruntuhkan keluruhan suatu nilai, dan menjadikannya sumber pembenaran bagi segala bentuk kekerasan dan kejahatan.

Orang yang dogmatis juga akan cenderung mengalami penderitaan di dalam dirinya, karena keyakinannya akan terus berbenturan dengan kenyataan yang ada. Benturan ini menghasilkan penderitaan tidak hanya di dalam batinnya, tetapi juga penderitaan bagi orang-orang yang di sekitarnya. Kesadaran akan sikap dogmatis di dalam diri ini lalu kerap kali mendorong orang untuk mencari jalan keluar.

Melampaui Dogmatisme

Bagaimana keluar dari penyakit dogmatisme semacam ini? Yang jelas, kita harus terlebih dahulu sadar pada segala bentuk sikap dan pikiran dogmatis di dalam diri kita. Apakah kita punya kepercayaan yang tidak boleh lagi dipertanyakan? Jika masih ada satu saja kepercayaan di dalam hidup kita yang tidak boleh lagi digoyang dengan pertanyaan, maka kita adalah orang yang dogmatis.

Akar dari dogmatisme adalah kelekatan pada ide. Kelekatan adalah anggapan, bahwa orang tidak bisa hidup tanpa suatu ide tertentu. Pada tingkat yang lebih luas, orang yang melekat ini berpikir, bahwa dunia ini akan hancur, jika tidak ditata dengan satu cara tertentu yang tidak boleh dipertanyakan. Kelekatan juga berakar dalam pada ketakutan dan kebodohan, atau lebih tepatnya pada kesalahan berpikir di dalam melihat dunia.

Jika kelekatan adalah akar dogmatisme, maka jalan keluar dari penyakit dogmatisme adalah dengan mencabut akar kelekatan. Akar kelekatan bisa dicabut, jika kita mengubah struktur kesadaran kita, yakni dengan menyadari sepenuhnya, bahwa segala kenyataan yang tampil di depan mata dan pikiran kita adalah sesuatu yang terus berubah. Akibat dari perubahan yang terjadi di setiap saatnya ini, maka dapat juga dikatakan, bahwa kenyataan yang di depan mata dan pikiran kita adalah semu. Ia bukanlah kenyataan sesungguhnya, karena ketika kita menyebutnya sebagai kenyataan, ia segera pergi dan berubah.

Dengan sampai pada kesadaran ini, kita lalu secara otomatis melepas kelekatan yang kita miliki. Ketika kita melepaskan kelekatan, kita melepaskan dogmatisme. Bersamaan dengan itu juga, segala bentuk ketakutan dan kebodohan, yakni kesalahan berpikir di dalam melihat kenyataan, juga lenyap. Ketika ketakutan, dogmatisme dan kelekatan lenyap, maka perdamaian antar manusia sekaligus kedamaian di dalam diri menjadi kenyataan.

Sikap Alami

Apa yang terjadi, ketika orang melepaskan segala bentuk dogmatisme di dalam dirinya? Apa yang terjadi kemudian, ketika orang melepaskan segala bentuk kelekatan, ketakutan dan kesalahan berpikir di dalam dirinya? Yang terjadi kemudian adalah orang tersebut kembali ke jati diri alamiahnya. Hidupnya menjadi sepenuhnya mengalir di dalam kenyataan yang terus berubah, sekaligus bisa menanggapi berbagai keadaan yang muncul secara tepat dan jernih.

Segala bentuk kekerasan juga lenyap. Ini terjadi, karena tidak ada lagi keterpisahan antara diri pribadiku dengan alam semesta. Dengan kata lain, ketika segala bentuk kelekatan dan dogmatisme dilepas, maka orang kembali terhubung dengan alam semesta. Ia adalah alam semesta, dan alam semesta adalah dia.

Perdamaian dunia tidak akan pernah tercipta, jika orang masih hidup dalam kelekatan dan dogmatismenya masing-masing. Uang dan beragam proyek perdamaian bisa digelontorkan. Akan tetapi, jika semua itu masih menyelipkan satu bentuk dogmatisme dan kelekatan saja, maka semuanya akan berantakan. Bukankah itu yang kita alami sekarang ini?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

26 thoughts on “Melampaui Dogmatisme”

    1. Pijakan ya. Dogmatisme no. Dogmatisme juga menghancurkan pijakan yang kita punya. PIjakan yang kita punya di dalam hidup harus bisa dipertanyakan dan diubah, jika diperlukan. Dogmatisme menutup kemungkinan perubahan semacam itu.

      Suka

  1. Ya, sy setuju dgn artikel ini..ketika kita tersandung masalah “dogma”, itu sangat menyakitkan. Dengan pengalaman sy sebagai mantan pecandu narkoba, sy sangat mengalami efek dari dogma pecandu narkoba. Ketika sy clean and sober, mereka tdk melihat itu karna mereka tetap fokus dgn sy sebagai pecandu. Tetapi hal ini tdk membuat sy kecil hati, karna setiap org memiliki proses hidup, dan ini lah proses hidup sy dan sy sangat menghargai sebuah proses. Dan menurut sy, utk meruntuhkan sebuah dogma, kita hanya perlu fokus dgn apa yg ingin kita capai, sehingga saat nanti kita sukses, mereka akan berpikir dgn sendirinya..
    Hehe

    Suka

    1. Ya. Akar dari dogmatisme adalah ketakutan, kelekatan dan kebodohan. Kita coba pahami itu dari orang2 yang menilai kita dengan sikap dogmatisme mereka. Namun, yang terpenting adalah, bagaimana kita melihat diri kita sendiri? Siapa kita? Coba tanyakan itu, dan jangan pernah puas dengan jawaban2 dangkal yang diberikan orang lain.

      Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih atas artikelnya..

    Saya pikir dogmatisme muncul karena orang tidak mau keluar dari dirinya atau keluar dari “zona nyaman”.
    Orang sedemikian kuat berpegang pada keyakinannya dan tidak mau melihat keluar. Kenyataan di luar dianggap sebagai suatu ancaman terhadap keyakinannya. Teorisme merupakan salah satu akibat dari dogmatisme ini, yang sayangnya kerapkali mengatasnamakan agama. Saya pikir, untuk mengatasi dogmatisme orang membutuhkan kedewasaan dan keterbukaan diri.
    thanks..

    Suka

  3. Saya belum yakin kalo di muka bumi ini gak ada yg tetap dan semuanya pasti berubah. Krn bukankah kepastian trhadap segala perubahan adalah suatu hal yg tetap??.. Bukankan lemparan apel issac newton menghasilkan perubahan?? dan sampai issac newton berumur 1000 tahun pun apel tetap akan bergerak jatuh ke bumi?? apa ada sesuatu yg mungkin bs merubah seseorang melempar apel dengan kekuatan murni dr tangannya sehingga apel trsebut jatuh ke bulan??.

    Suka

    1. karena rasa takut meningkat, dogmatisme pun meningkat… rasa takut yang besar mendorong orang untuk memegang erat-erat apa yang sebenarnya tak pernah bisa dipegang… singkirkan rasa takut, maka dogmatisme pun akan lenyap bersamanya… salam…

      Disukai oleh 1 orang

      1. Its simple mas , dogmatisme menurut saya adalah ‘unsur pemaksa’ untuk menjaga yang bernama “etika dan moralitas publik”dogmatisme hanya untuk gembalaan atau domba yang tersesat yang di beri mahkota moral yang di dalamnya kemufikan dan kesesatan berpikir terlindungi dengan nyaman

        Suka

  4. salam kenal pak Reza. saya mulai membaca dan menelaah pendapat bapak megenai dokmatisme itu sendiri, jika tidak ada nilai dokmatisme dalam diri manusia maka manusia itu sendiri akan hidup dalam sebuah kebaradaan tanpa agama, karena tidak ada suatu nilai dokmatisme pun yang ada dalam diri merka. kemudian bapak berkata bahwa saat manusia mulai melepaskan diri dari suatu dokmatisme maka manusia itu akan kembali ke jati diri alamiahnya. “Hidupnya menjadi sepenuhnya mengalir di dalam kenyataan yang terus berubah, sekaligus bisa menanggapi berbagai keadaan yang muncul secara tepat dan jernih.” bukan kah peryataan bapak yg berada di dalam tandakutip ini merupakan dokmatisme juga pak… Trimakasi mohon saran dan pendapatnyaaa pak… silakan di benarkan jika saya salah pak GBU.

    Suka

    1. salam kenal juga. Terima kasih pesannya. Hidup yang mengalir dari jati diri alamiah tidak mengenal dogmatisme, karena ia berubah dari saat ke saat, guna menanggapi segala sesuatu secara tepat… Tidak ada rumus. Tidak ada prinsip. Tidak ada moralitas.

      Suka

  5. setiap pendapat yg dipegang dan dilontatarkan oleh manusia adalah dogma namun yg terpenting dimana dia berpijak dan bagaimana ia miliki rasa keterbukaaan dan toleransi terhadap perubahan dan perbedaan pada kehidupan yg dinamis,bukankah kita mempertahankan sesuatu adalah dogma?sekali lagi dimanakah kita berpijak,terimakasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s