Kejahatan dari Kebaikan

bwskullgirl,photography,female,portrait,surrealism,black-22751ceca1dde73428459373bf0a605c_hOleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya

Sejak kecil, kita diajarkan untuk berbuat baik. Kita diajarkan untuk membantu orang yang kesusahan. Kita diajarkan untuk berani bertindak, ketika orang lain membutuhkan bantuan kita. Semua ini tentu baik.

Berbuat baik adalah nilai yang cukup universal. Semua agama dan filsafat mengajarkannya. Ini ditemukan di semua peradaban yang telah dikenal manusia. Namun, ada masalah tersembunyi disini.

Bahaya dari Berbuat Baik

Banyak perbuatan baik justru membuat susah orang lain. Banyak orang akhirnya hidup dalam ketergantungan pada kebaikan orang lain. Mereka menjadi malas untuk berdiri di atas kaki sendiri dalam hidupnya. Pepatah lama kiranya benar, bahwa jalan ke neraka kerap kali dilapisi dengan kehendak baik.

Pada kasus-kasus yang lebih parah, perbuatan baik justru membunuh orang lain. Perbuatan baik menciptakan hubungan-hubungan antar manusia yang tidak adil. Hitler memusnahkah orang Yahudi atas nama kehendak baik kepada rakyat Jerman pada awal abad 20. Suharto membantai ratusan ribu atas nama kehendak baik bagi kejayaan Republik Indonesia.

Sekarang ini, ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) membunuh, menyiksa dan memperkosa warga di Irak dan Suriah. Mereka melakukannya atas nama agama. Mereka mengira, perbuatannya adalah perbuatan baik untuk agama dan bangsanya. Pola yang sama ditemukan di kelompok teroris Islam radikal Boko Haram di Nigeria Utara.

Mengapa begitu banyak perbuatan baik justru menghasilkan penderitaan yang lebih besar? Mengapa kehendak baik seringkali bermuara pada malapetaka? Mengapa berbuat baik justru berbahaya? Mari kita kupas bersama.

Kebaikan dan Kejernihan

Berbuat baik menjadi petaka, ketika itu dilakukan dengan pamrih. Kehendak baik menjadi jalan ke neraka, ketika ia dilumuri dengan kepentingan kotor. Ini terjadi, karena orang yang berbuat baik tidak memiliki kejernihan pikiran. Pikirannya dilumuri dengan perhitungan untung rugi dan nafsu jahat.

Enomiya-Lasalle, Zen Master dari Jerman, menegaskan, bahwa kejernihan hanya mungkin, jika orang sudah memahami jati diri sejatinya. Jati diri sejati terletak sebelum segala bentuk pikiran, bahasa dan konsep. Seluruh ajaran filsafat, mistik dan agama di seluruh dunia mengajarkan kita untuk menyadari jati diri sejati kita sebagai manusia. Sayangnya, kita lebih terpaku pada ajaran moral dan ritual, daripada jati diri sejati kita sebagai manusia.

Dengan menyadari jati diri sejati kita sebagai manusia, kita lalu juga sadar, bahwa jati diri sejati kita sama dengan jati diri sejati seluruh alam semesta. Kita semua adalah satu. Tidak ada perbedaan. Perbedaan hanya dibuat oleh bahasa, konsep dan pikiran yang kita rumuskan sendiri.

Man Gong, Zen Master asal Korea, juga menegaskan, bahwa tugas utama kita sebagai manusia adalah menyadari jati diri sejati kita. Semua tugas lain perlu dikesampingkan, supaya kita bisa sampai pada kesadaran semacam ini. Tanpa kesadaran akan jati diri sejati kita sebagai manusia, hidup kita akan terus dipenuhi penderitaan, walaupun kita kaya dan sukses di mata masyarakat. Menyadari jati diri sejati kita adalah tugas asli kita sebagai manusia, ketika dilahirkan ke dunia.

Kejernihan yang lahir dari kesadaran ini membuat kita juga menjadi kritis. Kita tidak lagi menjadi manusia naif yang gampang percaya. Kita melihat kenyataan yang sebenarnya, dan bukan lagi kenyataan yang diberikan kepada kita oleh media, atau pihak-pihak lain yang hendak menyembunyikan kebenaran. Kita tidak lagi gampang tertipu oleh segala bentuk pencitraan.

Bentuk Berbuat baik

Seung Sahn, Zen master asal Korea, merumuskan empat bentuk berbuat baik. Ini penting sekali untuk diperhatikan. Yang pertama adalah berbuat baik dalam bentuk pemenuhan kebutuhan fisik. Ketika ada orang lapar, kita beri makan. Ketika orang kehausan, kita beri minum. Ini bentuk tindakan baik yang paling rendah.

Yang kedua adalah bertindak baik dengan memberikan inspirasi pada orang lain untuk mandiri. Orang lain memperoleh inspirasi, supaya ia lalu bisa bekerja sendiri. Ia juga bisa memotivasi dirinya, ketika keadaan menjadi sulit. Ia menjadi api bagi dirinya sendiri untuk berkembang.

Yang ketiga adalah berbuat baik dengan menjelaskan kepada orang lain hakekat sesungguhnya dari kenyataan yang ada. Artinya, kita mengajarkan kepada orang lain tentang kebenaran dari kenyataan sebagaimana adanya. Kita tidak menipu mereka dengan ajaran maupun konsep yang terlihat indah, namun palsu. Dengan kata lain, kita memberikan “kebenaran” kepada orang lain.

Yang keempat, dan tertinggi, adalah berbuat baik dengan menjelaskan fungsi yang tepat dari segala sesuatu kepada orang lain, sehingga orang lain bisa menggunakan segala hal yang ia punya untuk menolong semua mahluk. Di dalam tradisi Zen, ini disebut juga jalan Bodhisattva. Orang tidak menolak apapun. Orang menerima segalanya, termasuk hal-hal yang dianggap jelek oleh masyarakat, dan kemudian menggunakan semuanya untuk menolong semua mahluk.

Namun, kesadaran akan fungsi yang tepat dari segala sesuatu ini hanya mungkin, jika kita menyadari jati diri sejati kita. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Untuk mencapai ini, orang kerap kali perlu mengalami penderitaan di dalam hidupnya. Penderitaan disini dilihat sebagai bagian dari jalan menuju kesadaran.

Jangan” Berbuat Baik

Keempat bentuk kebaikan di atas harus dilakukan, jika kita sudah memperoleh kejernihan di dalam batin dan pikiran kita. Jika pikiran kita masih kacau oleh kepentingan diri dan nafsu kotor, maka jangan berbuat baik. Jika kita pikiran kita masih dilumuri oleh perhitungan untung rugi, maka jangan berbuat baik. Perbuatan baik yang didasari oleh pamrih dan kekacauan pikiran justru akan melahirkan kejahatan dan penderitaan yang lebih besar.

Dalam arti ini, kita perlu menolong diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum menolong orang lain. Kita perlu berbuat baik pada diri kita sendiri dulu, sebelum kita berbuat baik pada orang lain. Artinya, kita perlu untuk “selesai” dengan segala pamrih dan perhitungan di dalam diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum membantu orang lain. Jika kita belum “selesai” dengan diri kita sendiri, maka jangan membantu orang lain.

Bukankah orang buta menuntun orang buta akan membuat keduanya masuk ke dalam jurang?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

41 tanggapan untuk “Kejahatan dari Kebaikan”

  1. seorang teman berkata,” Sungguh…satu hal yang menjadi sangat menarik adalah… menjadi orang baik… tapi sekali lagi aku masih belum yakin apakah menjadi orang baik itu bermanfaat atau hanya sekedar pelengkap drama kehidupan agar supaya orang jahat dapat terus berperan… apakah menjadi orang baik itu memang harus ada ataukah hanya sekedar imajinasi…seperti buah segar yang tidak bisa dipetik karena tidak ada batangnya….” Dari situ kemudian saya teringat dengan ide yang mengatakan bahwa manusia adalah serigala bagi manusia yang lain; lalu pilihan yang paling menggoda adalah menjadi manusia oportunis, agar tidak menjadi pecundang dalam persaingan dunia yang tak berbelas kasihan dan tak mengenal ampun. Awalnya berbuat baik dengan berharap imbalan bahwa kelak saya akan bahagia, namun kekecewaan datang bertubi tubi hingga akhirnya saya memutuskan mentertawai diri sendiri karena saya merasa seolah olah hidup di tengah hutan belantara. saya dua kali sadar; yang pertama: sadar bahwa berbuat baik saya masih belum baik. Yang kedua: saya percaya bahwa berbuat baik yang baik pasti dapat dilakukan, namun saya masih tidak bisa membayangkan lagi bagaimana caranya??? Jadi, pertanyaan saya adalah; bagaimana dan di mana saya harus memulai belajar Zen atau sejenisnya di tempat saya di jawa tengah?

    Suka

  2. seorang teman berkata,” Sungguh…satu hal yang menjadi sangat menarik adalah… menjadi orang baik… tapi sekali lagi aku masih belum yakin apakah menjadi orang baik itu bermanfaat atau hanya sekedar pelengkap drama kehidupan agar supaya orang jahat dapat terus berperan… apakah menjadi orang baik itu memang harus ada ataukah hanya sekedar imajinasi…seperti buah segar yang tidak bisa dipetik karena tidak ada batangnya….” Dari situ kemudian saya teringat dengan ide yang mengatakan bahwa manusia adalah serigala bagi manusia yang lain; lalu pilihan yang paling menggoda adalah menjadi manusia oportunis, agar tidak menjadi pecundang dalam persaingan dunia yang tak berbelas kasihan dan tak mengenal ampun. Awalnya berbuat baik dengan berharap imbalan bahwa kelak saya akan bahagia, namun kekecewaan datang bertubi tubi hingga akhirnya saya memutuskan mentertawai diri sendiri karena saya merasa seolah olah hidup di tengah hutan belantara. saya dua kali sadar; yang pertama: sadar bahwa berbuat baik saya masih belum baik. Yang kedua: saya percaya bahwa berbuat baik yang baik pasti dapat dilakukan, namun saya masih tidak bisa membayangkan lagi bagaimana caranya??? Jadi, pertanyaan saya adalah; bagaimana dan di mana saya harus memulai belajar Zen atau sejenisnya di tempat saya di jawa tengah?

    Suka

    1. coba tanya ke diri sendiri, “siapa saya?” Yang pasti, saya bukanlah nama, agama, suku, ras, atau bangsa. Siapa saya yang sebenarnya? Coba mulai dengan fokus setiap saat. Kalau makan, ya sepenuhnya makan. Kalo minum, ya sepenuhnya minum. Coba semua kegiatan dilakukan dengan fokus sepenuhnya, tanpa penilaian dan analisis. Juga coba baca tulisan2 ini: https://rumahfilsafat.com/2015/09/06/taoisme-dan-zen-dasar-filsafat-timur/

      Suka

  3. Pada dasarnya semua manusia itu baik. Sejahat apapun manusia, dia akan merindukan kebaikan. Let go and let God. Kita hanya perlu melakukan yg terbaik semampu kita tanpa mengharapkan hasil apapun. Karna itu diluar kendali kita. Biarkan Tuhan yg menentukan hasilnya melalui waktu and time will tell. Dan semua akan indah pada waktunya. Sy rasa hal itu dulu yg perlu ditanamkan dalam diri kita sebelum berbuat kebaikan terhadap org lain.

    Suka

      1. Saya. Saya adalah seorang manusia yg sedang mengejar impian saja. Tetapi setelah sy banyak baca tulisan bapak dan merenungkannya sy menyadari bahwa sy telah dikuasai oleh pikiran sy sendiri. Dan akhirnyq sy setuju dgn apa yg pernah bpk tulis, bahwa Saya hanyalah sebuah ilusi. Saya adalah substansi alam semesta.

        Suka

      2. Ya usaha diperlukan, tidak mudah utk mengalahkan diri sendiri tanpa adanya dukungan dari orang2 terdekat. Karena utk menuju suatu keberhasilan kita membutuhkan mitra sebagai penopang atau kekuatan saat kita berada dititik terendah. Semua memang kita sendiri yg harus melakukan, tetapi kita tdk dpt melakukannya sendiri.

        Suka

  4. Suatu perenungan:

    Saya justru tertarik untuk mencari konsep tentang kejahatan, akan tetapi tidak meng-universalkan konsep tersebut pada seluruh manusia. Manusia adalah makhluk kreatif, oleh karena itu kejahatan adalah produk dari kreatifitas manusia itu sendiri. Banyak tindakan menyimpang yang dimulai dari tindakan manusia memanipulasi kenikmatan dengan cara-cara yang amat kreatif. Oleh karena itu mungkin sampai saat ini pemikir manapun masih berselisih paham tentang konsep kesadaran dan ketidaksadaran. Apakah kejahatan lahir dari kemauan manusia atau yang lainnya dalam konsep agama ada dosa, tapi dalam teori atavis dan pemikiran cicero lombroso kejahatan justru dipengaruhi oleh faktor biologis manusia. Sampai saat ini masih menjadi misteri tentang teori dan sebab musabab kejahatan (Baik dari si pelaku, korban, lingkungan, maupun kebijakan pemerintah, dll). Bagi saya kejahatan hanya mampu dikendalikan dan dikontrol tetapi tidak dapat dihilangkan dari peradaban manusia di muka bumi

    Suka

      1. Ini berguna. Tetapi, kita tidak boleh melekat padanya. Kita perlu mencerap gerak pikiran kita sendiri, sekaligus segala hal yang ada di sekitar kita, tanpa penilaian dan analisis. Lalu analisis dan pikiran pun menjadi jernih. Sudah mencoba kan?

        Suka

  5. Bahkan perbuatan baik itu juga hanya konsep yg tidak ada batasnya, sehingga banyak orang yg belum “selesai” dengan dirinya sendiri, dan tidak akan bisa memulai untuk membantu orang lain. Bahkah pemahaman ini juga sekedar konsep dan kita tidak boleh melekat padanya.

    Suka

  6. Sebenarnya kebaikan berasal dari hati nurani manusia jadi menimbulkan pertimbangan dari hati bukan pertimbangan akal. Pertanyaanya adalah apakah manusia menggunakan hati nurani (rasa) ketika mempertimbangkan baik atau buruk. Setiap manusia sebenarnya memiliki hati nurani. Ketika manusia lebih mementingkan naluri kebinatangannya yang kompleks itu bahkan menggunakan pertimbangan akal untuk memuaskan kepuasan tersebut, seperti contohnya kejahatan korupsi. Oleh karena itu hati nurani manusia harus digunakan, dan sifatnya melewati lintas batas agama, territory (negara, daerah, dst), bahasa, budaya, dll. Pandangan saya ini bukan merupakan pemikiran-pemikiran para filsuf, ilmuwan, tapi keadaan sebenarnya yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari kita. Kebaikan itu bersumber dari hati nurani yang diberikan Tuhan kepada manusia. Mohon komentarnya. thx

    Suka

    1. Pandangan ini sangat Kristiani. Saya sepakat dengan prinsip-prinsip dasarnya. Namun, kita harus kembali ke sebelum konsep, karena nurani juga adalah konsep. Selama masih ada konsep, kita akan terjebak pada pertimbangan rasional. Disini penderitaan muncul.

      Suka

      1. Karena itu memang kah benar bahwa manusia pun merupakan konsep dari Allah sendiri…
        Jika demikian apakah Manusia perlu berbuat baik?

        Suka

  7. Kebaikan justru berasal dari hati nurani manusia, begitupula estetika (keindahan), maupun etika. Masalahnya apakah manusia mau menggunakan hati nuraninya atau tidak, ketika ia tidak menggunakan hati nuraninya bahkan lebih cenderung memuaskan insting naluriahnya akan kepuasan, kenikmatan, keterpenuhan, kerakusan. Bahkan menggunakan pertimbangan akal rasio demi kepentingan pribadinya (hal tersebut terlepas dari jahat atau tidak jahat akan tetapi berfaedah atau tidak). Hati nurani diberikan oleh Tuhan kepada manusia, sebenarnya semua manusia memiliki hati nurani dan seharusnya dapat menggunakan pertimbangan hati nurani, akan tetapi manusia lebih cenderung mengabaikannya dan lebih menggunakan pertimbangan akal. Misalkan kejahatan korupsi, para pejabat dapat menggunakan berbagai cara dengan menggunakan pertimbangan akal sehingga dapat mencari celah terhadap regulasi dan kebijakan yang ada agar dapat memuaskan libido kerakusan kepentingan pribadi, atau kepentingan organisasi politik. Ini mohon maaf ya, bukan rahasia umum bahwa parpol hanya dipakai sebagai alat untuk memuaskan kerakusan manusia akan uang dan power. Bahkan hakim sekalipun dalam mempertimbangkan kesalahan terdakwa berdasarkan Undang-undang yang ada berasal dari pertimbangan akal bukan hati nurani (rasa). Akal manusia sudah lebih dominan menguasai dunia dibandingkan hati nurani yang sifatnya universal (melewati batas territory, yaitu negara, daerah, budaya ras, suku bahasa, warna kulit, dst). Pertanyaannya mengapa manusia tidak menggunakan hati nuraninya ?.

    Suka

  8. Mengapa kejahatan itu ada. Suatu pertanyaan tua setua keberadaan manusia itu di alam semesta ini. Manusia adalah makhluk unik. Ia diberikan akal oleh sang pencipta untuk mempertimbangkan hal apapun melalui rasionya, akan tetapi ia memiliki hati (rasa) yang juga dapat digunakan untuk mempertimbangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebaikan, kebajikan, keindahan, perasaan bersalah, dst. Bila manusia tidak menggunakan pertimbangan bersumber dari hatinya untuk memutuskan apakah itu baik atau jahat, maka niscaya kejahatanlah yang terjadi. Ketika para elit (the rulling class) semena-mena melalui kebijakannya terhadap rakyat bahkan melakukan korupsi, justru hati (rasa) itu tidak digunakan. Hati dan kebaikan sifatnya pararel, artinya dimana manusia menggunakan pertimbangan dari hatinya, maka kebaikanlah yang dihasilkan. Kejahatan justru cenderung dari tendency manusia memuskan nafsu kebinatangan, ego dan kepentingan tertentu yang semuanya berasal dari akal yang menyebabkan manusia menjadi buta karena tidak melihat melalui hati nuraninya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s