Musik Rock, Stand-Up Comedy dan Filsafat

freefever.com
freefever.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang di München, Jerman

Apa yang sama dari musik rock, Stand-Up Comedy dan filsafat? Ketiganya digemari banyak orang, mulai dari usia muda sampai tua. Bahkan, di salah satu video youtube, kita bisa menyaksikan anak balita menari-nari dengan gembira, ketika mendengar lagu Enter Sandman dari Metallica. Sewaktu di Jakarta dulu, saya pernah menyaksikan ibu-ibu yang mengenakan Jilbab melakukan head bang (menggoyangkan kepala), ketika mendengar konser Metallica.

Stand-Up Comedy berkembang pesat baru-baru ini di Indonesia. Yang pertama menyiarkan adalah Kompas TV, lalu diikuti oleh siaran televisi lainnya. Orang dari beragam usia menikmati dan bahkan ikut menjadi stand up komedian, atau komik, mulai dari anak SD sampai dengan seniman senior sekelas Sujiwo Tedjo. Di AS dan negara-negara Eropa, Stand-Up Comedy memiliki sejarah yang lumayan panjang, sejak dari abad 19.

Di sisi lain, filsafat adalah ilmu tentang segalanya. Ia adalah sebuah tindakan berpikir secara teratur, guna mendapatkan pengetahuan tentang dunia. Keteraturan itulah yang menjadi amat penting di dalam filsafat. Di dalam sejarah, filsafat adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan. Saya berpikir, musik rock, Stand-Up Comedy dan filsafat memiliki jiwa dan tujuan yang sama.

Rock dan Stand-Up Comedy

Musik Rock memiliki sejarah yang menarik. Usianya masih muda, tetapi sudah berhasil meraih perhatian dan cinta banyak orang. Musik ini berkembang pada era tahun 1950-an di AS dan Inggris. Akarnya adalah musik blues yang telah berkembang sebelumnya di AS pada dekade 1940-1950an.

Di dekade 1980-an, band-band progresiv rock dan progresiv metal, seperti Dream Theater dan Sympony X, mengembangkan pola baru, yakni menggabungkan musik rock dengan jazz dan musik klasik. Gabungan ini menghasilkan gaya musik yang begitu rumit, sekaligus indah dan membuat pendengarnya bersemangat. Ketukan menjadi begitu dinamis, berubah setiap saat, guna memperkaya nuansa musiknya. Setelah itu, muncul puluhan band progressiv rock lainnya di seluruh dunia.

Musik ini bukan hanya untuk hiburan, tetapi kerap menjadi simbol dari suatu gerakan budaya dan gerakan sosial tertentu. Biasanya adalah gerakan budaya tandingan terhadap budaya lama yang sudah menetap di masyarakat tertentu. Nuansa yang ada di baliknya adalah protes politik yang terwujud dalam perubahan sikap terhadap makna seks, makna ras dan penggunaan obat-obatan. Kritik utama musik rock adalah terhadap budaya konformitas yang serba patuh pada tradisi yang juga membunuh kreativitas serta perubahan.

Di dalam Stand-Up Comedy, satu orang berdiri di depan banyak orang, lalu berbicara dan bercerita kepada mereka. Orang ini juga dikenal dengan nama komik. Ia menceritakan hal-hal yang dianggapnya lucu, sehingga bisa mengundang tawa dari penontonnya. Ceritanya berupa gabungan antara lelucon, kejadian nyata, atau rangkaian dengan musik, tari, maupun gerak tubuh, guna meningkatkan tingkat kelucuannya.

Orang-orang seperti George Carlin selama puluhan tahun menjadi komik di berbagai kota di AS. Ia membicarakan soal cinta, anak kecil, kematian bahkan juga soal Tuhan. Di negara-negara lainnya, banyak komik yang kemudian berkembang menjadi bintang iklan dan juga bintang film. Stand-Up Comedy banyak dikenal sebagai komedi cerdas yang tidak sembarangan membuat lelucon kasar, tetapi sungguh dipikirkan dan memiliki batas-batas kepantasan yang tegas.

Kebebasan

Secara klasik, filsafat dipahami sebagai kecintaan pada kebijaksanaan. Namun, filsafat lebih luas dari itu. Ia mencoba memahami segalanya, dan mencoba mencari akar dari segalanya. Ia menantang cara berpikir lama, dan mengajukan cara berpikir baru di dalam memahami dunia.

Hal yang serupa bisa juga ditemukan di musik rock dan Stand-Up Comedy. Hal-hal yang lama diurai dan diolah kembali. Seringkali, kita merasa bodoh, setelah mendengarnya. Perasaan bodoh itu lalu menginspirasi kita untuk berubah.

Lewat musik yang kencang dan cepat, musik rock mengajak kita bergoyang. Gaya musik semacam itu menantang gaya musik lama, misalnya musik klasik yang teratur dan terpola. Musik rock mengedepankan keaslian dan kebebasan. Dua hal ini tidak hanya dilantunkan lewat musik dan syair yang keras, tetapi juga dari gaya hidup para musisi rock yang menolak dubbing (menggunakan rekaman dipanggung) sebagai tanda keaslian musik, dan menantang aturan-aturan tradisional (lelaki berambut panjang, seperti perempuan) sebagai tanda kebebasan.

Lewak lelucon yang kritis, para komik di Stand-Up Comedy mengajak kita berpikir. Lewat narasi yang digabungkan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dan lucu, para komik mengajak kita melihat ulang tindakan kita sehari-hari. Lewat caranya sendiri, Stand-Up Comedy adalah pendidikan yang sejati, yang seringkali lebih dalam dan kritis dari yang kita terima di sekolah. Komedi yang ditawarkan oleh para komik ini adalah cara yang jitu untuk membangunkan kita dari keterlenaan hidup.

Filsafat, lewat tulisan dan rumusan, mengajak manusia untuk mempertanyakan dunianya. Dari pertanyaan itu, lahirlah jawaban-jawaban yang terus berkembang. Pertanyaan-pertanyaan baru lalu lahir. Dengan pola yang sama, filsafat melahirkan beragam cabang ilmu pengetahuan yang begitu banyak, seperti kita temukan sekarang ini.

Berpikir dan Kritik

Filsafat, musik rock dan Stand-Up Comedy mempertanyakan keseharian kita. Filsafat melalui rumusan teori. Musik rock menggunakan nada dan lirik yang keras, yang digabungkan dengan gaya hidup baru para musisi maupun penggemarnya. Stand-Up Comedy lewat lelucon yang menyegarkan.

levimillersproductionhouse.com
levimillersproductionhouse.com

Dengan cara yang unik, ketiganya mengajak kita berpikir lebih dalam tentang hidup kita, dan tentang dunia sekitar kita. Dengan berpikir, lalu kita melihat hal-hal lama dengan cara baru. Inilah kunci perubahan. Inilah kunci revolusi, yakni perubahan yang mendasar dan cepat, terutama di dalam cara kita melihat dunia, dan kemudian di dalam cara kita bertindak.

Ketiganya juga berperan besar di dalam kritik politik dan kritik budaya. Kritik politik berarti kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, misalnya kritik keras grup band Dream Theater dan Green Day pada perang Irak dan Afganistan, atau kritik Iwan Fals terhadap rezim Orde Baru yang menindas para guru sekolah dengan gaji kecil. Kritik budaya berarti kritik atas pola hidup, misalnya kritik Green Day pada acara American Idol yang memperbodoh masyarakat AS, dan menurunkan kualitas musik disana.

Dengan cara-caranya yang unik, musik rock, Stand-Up Comedy dan filsafat memecah keseharian kita. Slavoj Zizek, filsuf asal Slovenia, menyebutnya sebagai the real, yakni situasi, dimana keseharian kita diganggu oleh peristiwa dan pertanyaan-pertanyaan baru. Plato, filsuf Yunani Kuno, menyebutnya sebagai orang yang berusaha keluar dari gua, yakni keluar dari cara berpikir masyarakat yang ada sebelumnya. Dan Thomas Kuhn, filsuf ilmu pengetahuan, menyebutnya sebagai krisis paradigma, dimana jawaban-jawaban lama tidak lagi bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul.

Hidup adalah perubahan. Beberapa perubahan terjadi dengan sendirinya. Beberapa lainnya harus dilakukan secara sadar. Yang kedua ini yang lebih penting dan harus dilakukan secara tepat. Musik rock, Stand-Up Comedy dan filsafat berperan besar di dalam perubahan yang dilakukan secara sadar dan bebas.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

7 tanggapan untuk “Musik Rock, Stand-Up Comedy dan Filsafat”

  1. unik sekali, ternyata ketertarikan musik rock, stand up comedy dan filsafat itu erat.
    apakah musik rock dan stand up comedy ini merupakan dampak dr postmedernisme? soalnya kalau diperhatikan, musik rock dengan gayanya yang hard, dan stand up comedy dgn gaya tersendirinya dalam menyampaikan sesuatu yg lucu. sepertinya mereka ingin merombak kebiasaan lama yg memang telah membosankan dan tak menarik lagi.

    Suka

  2. apa persamaan Film, Sepak Bola dan Game?
    Disukai banyak orang.

    Apa persamaan Pohon, batu dan tanah?
    Disukai banyak orang.

    Apa persamaan kursi, meja dan karpet?
    Disukai banyak orang.

    Korelasi penggambaran sampeyan rock, SUC dan filsafat kurang mas.
    menarik benang sebuah hobi/kesukaan kurasa terlalu global.
    IMO

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s