Mittelstand: Belajar Filsafat Bisnis dari Jerman

http://www.mittelstand-optimierung.de
http://www.mittelstand-optimierung.de

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn Jerman

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, para praktisi bisnis dan ekonomi AS dan Inggris menertawai strategi ekonomi Jerman. Bagi mereka, kebijakan ekonomi perusahaan-perusahaan Jerman, yang menolak untuk melakukan investasi finansial di bursa-bursa saham untuk meraup keuntungan secara cepat, dan masih giat memproduksi berbagai bentuk barang, amatlah kuno dan konservatif. Sepuluh tahun berlalu, dan dunia dihantam krisis yang diakibatkan para pemain pasar finansial yang bertindak semaunya. Sekarang, siapa menertawakan siapa? (Campbell, 2012)

Ketika Eropa diguncang oleh krisis hutang yang mengancam sebagian negaranya, ekonomi Jerman malah mengalami surplus. Ekspor meningkat, dan angka pengangguran menyentuh titik terendah selama 20 tahun terakhir. Kita bisa mengajukan pertanyaan kecil, apa kuncinya? Apa rahasia keberhasilan ekonomi Jerman di awal abad ke 21 ini?

Rahasianya adalah Mittelstand. Secara harafiah, kata ini bisa diterjemahkan sebagai “kelas menengah”, atau bisnis kelas menengah. Namun, maknanya lebih dalam dan lebih luas daripada itu, yakni suatu etos kerja, dan suatu paham filosofis tentang bagaimana kita harus hidup. Secara sederhana, ada beberapa inti dari Mittelstand, yakni etos kerja radikal, spesialisasi, familiaritas, kejujuran, konservatisme keuangan, investasi pada manusia, dan pemerintah yang kompeten.

Etos Kerja dan Spesialisasi

Salah satu semboyan yang cukup dikenal di kalangan para pekerja di Jerman adalah “Work hard, play hard”, atau dalam bahasa Jerman, “wer viel arbeitet, soll auch viel feiern.” Artinya, orang yang bekerja banyak juga harus berpesta banyak. Tak ada kerja, atau sedikit bekerja, maka orang tak boleh berpesta. Inilah yang saya sebut sebagai “etos kerja radikal”.

Berbicara bersama beberapa teman disini, saya juga bisa menarik kesimpulan sementara, bahwa orang-orang Jerman sangat menekankan pentingnya pemisahan kehidupan profesional pekerjaan dan kehidupan pribadi bersama keluarga dan teman-teman. Seolah di kepala mereka, ada semacam partisi-partisi yang memisahkan bagian-bagian otaknya. Ketika di kantor atau di pabrik, mereka bekerja begitu cepat dan intens. Namun, ketika di rumah, mereka tidak mau diajak bicara tentang pekerjaan, apalagi diajak bekerja. Saya rasa, etos kerja semacam ini baik untuk produktivitas dan kesehatan mental seseorang, dan masyarakat.

Membaca statistik pabrik di daerah Bavaria, Jerman Selatan, kita akan menemukan gejala menarik, yakni spesialisasi yang begitu terasa di antara berbagai kotanya. Memang, Jerman bukanlah negara kesatuan yang sudah berdiri ratusan tahun, seperti Inggris dan Prancis misalnya. Jerman, dulunya, adalah negara yang terdiri dari berbagai kerajaan dan kota-kota kecil, yang kini menyatu menjadi satu negara. Kota-kota maupun kerajaan-kerajaan kecil itu saling berkompetisi dengan memproduksi barang-barang yang unik daerahnya masing-masing. Tradisi itu masih berlanjut sampai sekarang.

Dengan kata lain, spesialisasi produk dari setiap daerah adalah salah satu kunci keberhasilan ekonomi Jerman. Setiap kota, dan setiap daerah, berlomba memproduksi produk-produk terbaik, sesuai dengan kekhasan mereka masing-masing. Kebiasaan ini sudah mengental menjadi kultur dan tradisi, yang begitu bangga diteruskan ke generasi berikutnya. Inilah salah satu “roh” dari Mittelstand.

Familiaritas dan Konservatisme

Di pabrik sepatu Meindl di Kirschanschöring, Jerman Selatan, kita akan menemukan contoh bisnis Mittelstand yang menarik. Sekitar 200 orang bekerja di pabrik sepatu tersebut. Semua mengenal semua. Suasana seperti di dalam keluarga, yakni amat familiar. Namun, kekeluargaan tidak merusak produktivitas, justru sebaliknya, pabrik sepatu Meindl kini menjadi eksportir besar sepatu ke Eropa dan AS, khususnya sepatu boot. (Campbell, 2012)

Hal yang sama bisa kita temukan di pabrik mobil ternama dunia, yakni Audi. Walaupun sudah menjadi perusahaan besar, pola manajemen pabrik tersebut masih menggunakan pola Mittelstand, yakni familiaritas antar pekerja, maupun dengan pimpinan. Etos kerja radikal, spesialisasi, ditambah dengan familiaritas, akan menghasilkan sosok Audi dan ratusan pabrik Jerman lainnya yang bermutu tinggi, dan berorientasi pada pasar internasional. (Campbell, 2012)

Sejauh saya teliti, pabrik-pabrik tersebut menerapkan kebijakan yang jujur dan konservatif. Artinya, mereka tidak mau mendapatkan uang cepat, karena bermain saham, atau menipu bank, sehingga mendapatkan pinjaman besar dengan kredibilitas palsu. Dengan kata lain, terutama dari sudut pandangan perusahaan-perusahaan di AS dan Inggris, mereka adalah perusahaan-perusahaan tradisional, yakni perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan banyak orang, giat memproduksi barang bermutu tinggi untuk dijual, tanpa hutang, karena hanya membeli apa yang mereka mampu beli, tak punya masalah dengan bank, dan tidak bermain di bursa saham. Inilah salah satu ciri Mittelstand, yakni konservatisme dan kejujuran, yang terkesan kuno, tetapi berhasil.

Dr. Anton Kahtrein adalah pemilik sekaligus pemimpin Die KATHREIN-Werke KG yang menjadi produsen utama dan tertua dari Antenna dan beragam alat elektronik lainnya di dunia. Baginya, Mittelstand bukanlah semata suatu prinsip manajemen, melainkan suatu filsafat, suatu jiwa dari perusahaan-perusahaan Jerman, mulai dari yang kecil, sampai yang besar. Di dalam salah satu wawancaranya, ia menyatakan tak akan pernah melakukan investasi beresiko tinggi di bursa saham. Investasi tertinggi, baginya, haruslah dilakukan kepada para pekerja, yakni dengan meningkatkan keahlian mereka, dan memperkerjakan lebih banyak orang. (Campbell, 2012) Konservatif? Tradisional? Tapi berhasil!

Peran Pemerintah

Semua ini didukung oleh kompetensi Pemerintah Jerman di dalam memimpin rakyatnya. Harus diakui, pemerintah Jerman amat birokratis. Untuk membuka rekening Bank di Deutsche Bank, orang harus menunggu setidaknya 2 minggu. Orang juga harus menunggu lama dan menjalani beragam prosedur untuk meminjam uang. Semua ini dilakukan demi alasan keamanan, dan untuk melindungi orang itu sendiri, supaya tidak terlilit hutang yang tak mampu dibayarnya nanti. (Campbell, 2012)

Walaupun amat birokratis dan “semi-paranoid”, tingkat korupsi di Pemerintahan Jerman amatlah kecil, dan tidak menjadi masalah besar yang patut menjadi perdebatan publik. Di satu sisi, kita akan bilang, bahwa pola semacam ini amatlah kuno dan konservatif. Di sisi lain, kita juga bisa bilang, bahwa konservatisme Mittelstand maupun pemerintah Jerman yang terdengar kuno di mata teori-teori bisnis modern adalah “Filsafat” utama yang mendorong kinerja perusahaan-perusahaan Jerman.

Etos kerja radikal, spesialisasi kerja dan produksi, familiaritas, kejujuran, konservatisme keuangan, investasi pada manusia, dan pemerintah yang kompeten adalah roh dari Mittelstand Jerman yang membuat negara relatif kecil ini bertahan di tengah berbagai krisis finansial yang mengguncang seluruh dunia. Mayoritas orang Jerman amat bangga dengan tradisi yang terdengar kuno ini, dan tak ragu untuk mewariskannya ke generasi berikutnya. Inilah yang nilai-nilai penting yang bisa kita pelajari dari Jerman saat ini. Pertanyaan kecil kemudian, kapan giliran Indonesia menunjukkan taringnya?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 thoughts on “Mittelstand: Belajar Filsafat Bisnis dari Jerman”

  1. great!!!!….kereeeennnn pak……………para bisnismen di Indonesia harus tahu hal ini nich pak. supaya mereka kaya bukan karena pinjam uang bank.

    Suka

  2. Hehehehe……bisnis konservatik ada keunggulannya, tapi ada juga kelemahannya….
    Saya bersyukur pernah berkutat dengan keduanya, dan sisi romantiknya maupun sisi remuk redamnya 🙂
    Honestly, one is not better than the other in implementation. It is more on which one fits better with the current challenges. It is very dangerous to conclude it is generalization.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s