Sesudah Revolusi, Sebuah Refleksi

Dutch Fishing Boats, Verso: Sketches of BoatsJohan Barthold Jongkind (Dutch, 1819–1891)
Dutch Fishing Boats, Verso: Sketches of Boats
Johan Barthold Jongkind (Dutch, 1819–1891)

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

Dunia tersentak oleh revolusi yang nyaris tanpa darah di Mesir 2011 lalu. Sosok pimpinan yang telah memimpin begitu lama dengan teror dan senjata rontok oleh desakan ratusan ribu orang yang menggedor pintu politisnya. Setahun setelah peristiwa itu, suasana berubah.

Revolusi belum selesai, karena presiden terpilih (dengan dukungan kelompok Muslim Brotherhood) membuat kebijakan yang seolah mengangkat dirinya sendiri sebagai diktator baru, mengancam keberadaan kelompok minoritas, maupun cita-cita revolusi sebelumnya. Revolusi harus dilanjutkan, mungkin kali ini dengan pertumpahan darah. Musim Semi di Arab seolah berganti muka menjadi Musim Dingin di Arab (Der Spiegel, Dezember 2012)

Hampir dua tahun, Suriah dicabik oleh perang saudara. Kelompok pemberontak berperang melawan pemerintah untuk menguasai negeri itu. Berbagai skenario bertebaran, siapa yang mendukung siapa, atau siapa menolak siapa. Namun, satu pertanyaan menggantung, apa yang terjadi, setelah perang usai? Apakah keadaan akan lebih baik, atau sebaliknya, bagaikan keluar dari mulut singa masuk ke mulut harimau, justru terperosok lebih dalam ke dalam penderitaan? Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Revolusi dan Perang Saudara

Revolusi adalah suatu perubahan politis yang relatif cepat, yang biasanya diikuti dengan gerakan massa yang besar, serta gencetan senjata yang memakan korban jiwa. Indonesia, dan ratusan negara lainnya, telah mengalaminya. Dua tahun belakangan ini, badai revolusi bergerak dari Afrika Utara, dan kini sedang menyerang Timur Tengah. Apa yang terjadi setelah revolusi? Tak ada yang tahu.

Jarang sekali, kita menemukan revolusi yang berjalan damai. Seperti situasi Mesir, revolusi yang berjalan damai, mungkin saja, berarti, bahwa revolusi belum selesai, dan harus terus dilanjutkan. Bagaikan saudara kembar yang senantiasa bergandengan tangan, revolusi dan perang saudara yang mencabik banyak korban jiwa selalu ada berbarengan. Apakah ini hukum sejarah? Mungkin.

Dengan adanya revolusi, orang mengharapkan perubahan politis ke arah yang lebih baik, yakni terciptanya tata politik yang memungkinkan orang untuk hidup secara damai, adil, dan sejahtera. Namun, harapan luhur ini bisa tak terwujud, ketika orang tak mempersiapkan, apa yang mesti dilakukan, setelah revolusi usai. Pertanyaan apa yang harus segera dilakukan setelah revolusi, pada hemat saya, tak kalah pentingnya dengan pertanyaan, bagaimana melakukan revolusi secepat mungkin, dan tanpa darah.

Sesudah Revolusi

Apa yang harus dipersiapkan sebelum revolusi? Pertanyaan ini menarik, karena di dalam perjalanan sejarah, seringkali kita lihat, bahwa revolusi terjadi secara mendadak, tanpa perencanaan. Jika ini halnya, bagaimana kita merencanakan, apa yang akan segera dilakukan setelah revolusi?

Mari kita pertimbangkan alternatif sebaliknya. Revolusi berjalan tanpa rencana pasti, apa yang akan dilakukan setelahnya. Yang kemudian terjadi adalah muncul para pengkhianat revolusi yang justru merebut kekuasaan, dan menjalankan kebijakan-kebijakan politis yang berseberangan dengan cita-cita revolusi di awal, misalnya kebijakan diktatorial yang mengancam kebebasan, keadilan, serta kesejahteraan rakyatnya.

Berpijak pada argumen ini, revolusi tanpa rencana yang mantap justru akan sia-sia. Visi masyarakat berikutnya serta siapa pemimpin yang layak, dan mampu menciptakan visi tersebut, haruslah dipersiapkan sedapat mungkin, sebelum revolusi bergulir. Harga yang harus dibayar, ketika kita gagal mempersiapkan ini, amatlah mahal, yakni perang saudara yang sia-sia, dan cita-cita revolusi yang lenyap ditelan udara.

Para pengkhianat revolusi biasanya berkedok fundamentalisme agama dan fundamentalisme ekonomi. Atas nama agama, mereka memelintir agenda revolusi, dan mengangkat kelompoknya sendiri sebagai pemimpin yang, seringkali, bergaya diktatorial. Di sisi lain, kekuatan modal ekonomi, yang dimiliki oleh negara-negara maju maupun perusahaan-perusahaan multinasional, siap menyokong dengan uang dan senjata, supaya pemerintahan yang baru dapat memberikan kontrak bisnis yang menguntungkan kepada mereka, walaupun pemimpin yang baru menyiksa rakyatnya dengan kebijakan-kebijakan yang korup.

Kita harus berhati-hati pada dua kekuatan yang siap mendikte dunia dengan ketidakadilan tersebut. Sesudah revolusi tak kalah penting dengan proses revolusi itu sendiri. Bahkan, dalam beberapa hal, apa yang terjadi sesudah revolusi jauh harus lebih diperhatikan, dari proses revolusi itu sendiri. Revolusi yang sebenarnya, menurut saya, adalah Sesudah Revolusi.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 thoughts on “Sesudah Revolusi, Sebuah Refleksi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s