Zen dalam Satu Untai Puisi

Sol, Nuptials of Zen (Talon Abraxas) ~ flying dakiniOleh Reza A.A Wattimena

Puisi yang tepat akan menghantarkan kita ke gerbang pencerahan. Itu yang kiranya saya rasakan.

Tak heran, begitu banyak Zen Master yang menulis puisi. Mereka menyampaikan pesan-pesan pencerahan di dalam untaian puisi yang menggetarkan hati.

Zen adalah jalan tanpa jalan. Tidak ada teori.

Tidak ada rumusan. Yang ada hanyalah upaya untuk mengekspresikan inti dari segala yang ada, yakni kekosongan yang maha luas. Lanjutkan membaca Zen dalam Satu Untai Puisi

Dipanggil Bali Ketika Pandemi

File:Danau Women, Bali.jpg - Wikimedia CommonsOleh Reza A.A Wattimena

Awalnya, bagi saya, pulau itu tak sungguh bernama. Saya mengunjunginya sekitar tahun 1993. Bersama ayah, saya berkunjung ke Pulau Bali, pulau dewata yang terkemuka di dunia. Waktu itu, yang tampil di kepala adalah kumpulan pantai yang membosankan, diselingi hutan dan gunung diantaranya. Yang teringat hanya bermain dengan para monyet di Monkey Forest Ubud.

Perjalanan kedua terjadi pada 2006. Kali ini, teman-teman pergi menemani. Tetap sama, karena tak ada yang istimewa. Panasnya pantai Kuta menjadi satu-satunya yang teringat di kepala. Lanjutkan membaca Dipanggil Bali Ketika Pandemi

Duri di dalam Daging

Bureaucrat 1969 Etching 22x15 by Salvador DaliOleh Reza A.A Wattimena

Spanduk itu bertebaran di seluruh sudut kota. Wajah tak dikenal dengan gelar akademik yang berlimpah. Biasanya, ia berasal dari partai politik tertentu yang memegang kekuasaan. Ini ditambah dengan senyum bergigi putih, serta slogan-slogan agamis hampa.

Inilah pemandangan berbagai kota di Indonesia, ketika pemilihan umum tiba. Tingkatnya beragam, mulai dari pemilihan kepala desa, sampai dengan pemilihan presiden. Ada pengandaian sederhana, bahwa dengan banyaknya gelar akademik yang diperoleh, orang menjadi semakin kompeten di dalam memimpin bangsa. Semua seolah tambah meyakinkan, jika gelar agamis diselipkan diantaranya. Lanjutkan membaca Duri di dalam Daging