Ada dua Arka yang hidup dalam tubuh yang sama — dan keduanya, dalam caranya masing-masing, mencintai kebenaran dengan cara yang menyakitkan.
Arka secara administratif tercatat sebagai seorang mahasiswa Kampus Negeri di Depok semester 7 Fakultas MIPA. Sama seperti semua manusia, Arka memiliki banyak episode dalam hidupnya.
Episode Yang pertama: ateis rasionalis, yang menjadikan nalar sebagai altar.
Episode Yang kedua: apologet Ortodoks, yang menjadikan kemurnian sebagai senjata.
Keduanya menolak sisi manusiawinya sendiri Lanjutkan membaca Mengapa Menjadi Anti Tuhan dan Bertuhan Terasa Sama Saja?
Tubuh. Pagi itu, tema tersebut menjadi tema diskusi saya dengan F. Budi Hardiman, guru dan teman diskusi saya. Ia sedang melakukan penelitian mendalam soal itu. Filsafat menjadi pisau bedah intelektualnya.
Di dalam filsafat, tubuh kerap dipinggirkan. Tubuh dianggap sebagai penjara jiwa. Itulah kiranya pandangan terkenal dari Plato, seorang filsuf besar dari masa Yunani Kuno. Pandangan tersebut menempel erat di dalam tradisi Yudeo-Kristiani-Islam, dan terus bertahan di masa sekarang. Lanjutkan membaca Tentang Tubuh Manusia
Prolog: Liturgi Baru Seorang Lelaki yang Ingin Benar
Pada pukul sebelas malam, Dion—seorang aktivis yang rajin menulis utas tentang patriarki, keadilan gender, dan trauma kolektif—menyetel laptopnya di kafe yang hampir tutup. Di depannya, cangkir kopi dingin separuh habis; di kepalanya, adrenalin bekerja seperti khotbah yang tak sabar dikhotbahkan. Ia baru saja menemukan sebuah komentar “problematis” dari seorang akademisi tua di media sosial—kalimat ambigu tentang “perempuan dan kebebasan tubuhnya.”
Bagi Dion, ini bukan sekadar komentar. Ini adalah tanda dosa baru yang tak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Ia mulai mengetik utas panjang dengan ritme yang nyaris liturgis: kalimat pertama moral, kalimat kedua politis, kalimat ketiga penuh emosi—lalu tautan, tagar, dan tangkapan layar. Ia tahu, dalam waktu kurang dari satu jam, utasnya akan beredar, dikutip, ditambahi komentar, dan mungkin—jika algoritma berkenan—mengubah opini publik. Lanjutkan membaca Ketika Keinginan Menjadi Benar Berubah Menjadi Bencana
DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT Oktober 2025 VOLUME 71
Abstrak
Tulisan ini hendak membahas kaitan antara kecerdasan buatan, kesadaran diri dan moralitas. Kesadaran diri terkait dengan konsep diri, dan moralitas terkait dengan kesadaran moral yang memungkinkan entitas bertanggung jawab atas keputusan maupun tindakannya. Awalnya, tulisan ini membahas soal kecerdasan buatan. Lalu, tulisan ini akan mencoba menjawab, apakah kecerdasan buatan memiliki jenis kesadaran tertentu? Tema terpentingnya terkait kaitan antara kesadaran moral dan kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan tidak (belum?) memiliki kesadaran reflektif transendental yang memungkinankan ia sadar sebagai pelaku dari keputusan maupun tindakannya. Namun, kecerdasan buatan, dalam perkembangannya di pertengahan 2024 ini, bisa dianggap memiliki kesadaran minimal yang membuatnya mampu membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Kata-kata Kunci: Kecerdasan Buatan, Kesadaran Diri Minimal, Konsep Diri, Kesadaran Diri sebagai Pribadi, Kesadaran Diri sebagai Pelaku, Moralitas
[1] Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Transformasi Kesadaran, Teori Tipologi Agama, Teori Politik Progresif Inklusif dan Etika Natural Empiris. Teori terbarunya adalah Epistemologi Pembebasan.
Oleh A. Rahadian – Pengurus Pakel 65 (Paguyuban Keluarga 65)
Penanda lupa: Di Lembah Plantungan
Di bawah langit pagi yang lembab di lembah Gunung Prahu, jalan menuju Plantungan berkelok di antara sawah dan kebun kopi. Udara di sana dingin — dingin yang menyimpan gema masa lalu. Di balik pohon-pohon pinus yang berdiri seperti penjaga tua, masih tampak sisa kawat berduri, berkarat namun tak runtuh, seperti kenangan yang menolak dilupakan.
Lebih dari lima puluh tahun silam, pada April 1971, tempat ini bukan sekadar lembah hijau. Tempat ini adalah bekas rumah sakit lepra peninggalan Belanda yang diubah menjadi kamp reedukasi bagi lebih dari lima ratus perempuan yang dituduh terlibat peristiwa 1965. Rumah sakit yang dulu dirancang untuk menyembuhkan, berubah menjadi ruang penjinakan ide. Di sinilah tubuh, iman, dan keyakinan diuji — di antara udara yang tenang dan langkah-langkah penjaga yang berderap pelan. Lanjutkan membaca Luka dan Kerumitan Pengampunan: Refleksi 60 Tahun Peristiwa 1965
Kita mulai dari kisah yang saya ambil dari The New York Times berjudul Tales From the Teenage Cancel Culture (2019) tentang seorang siswi bernama Neelam untuk menggambarkan bagaimana budaya pembatalan (cancel culture) bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Neelam, seorang pelajar sekolah Katolik di Chicago, duduk di kelas saat seorang teman sekelas memutar lagu Bump N’ Grind karya R. Kelly, penyanyi yang pada saat itu telah dipenjara karena kasus kekerasan seksual terhadap anak. Bagi Neelam, seorang perempuan kulit hitam yang baru saja menonton dokumenter Surviving R. Kelly bersama ibunya, momen itu bukan sekadar soal lagu, melainkan tentang luka, ketidakadilan, dan ketidaksensitifan moral. Ia meminta agar lagu itu dimatikan, tapi sang teman menolak. Bagi temannya itu, musik hanyalah musik, terpisah dari moralitas sang musisi. Lanjutkan membaca Cancel Culture: Sebuah Pengantar Kritis
Teman lama tiba-tiba menghubungi. Ia ingin berjumpa. Kami membuat janji untuk berjumpa di kafe dekat tempat tinggal saya. Percakapan dimulai dengan sedikit nostalgia, kabar terbaru lalu masuk ke inti pembicaraan.
Hidupnya dilanda badai. Perceraian dan pemecatan kerja datang berbarengan. Ah, saya teringat kisah hidup saya sendiri. Memang, rasa sakit yang timbul dari dua hal ini sungguh tak terbayang. Lanjutkan membaca Apakah Laut Takut pada Ombak?
Apakah ada yang tertarik melihat ijazah saya? Saya rasa tidak. Saya bukan pejabat publik, dan bukan artis. Namun, jika anda mau, saya bisa memperlihatkannya. Tidak ada masalah sama sekali.
Lima tahun terakhir, Indonesia dibuat susah oleh masalah remeh, namun sangat mendasar. Ijazah Jokowi, mantan presiden, tetap menimbulkan banyak pertanyaan kritis, bahkan sampai hari ini. Kini, di 2025, Gibran, anaknya, yang terpilih menjadi wakil presiden dengan cara-cara kontroversial, juga dipertanyakan soal ijazahnya. Lanjutkan membaca Semiotika Ijazah
2003, saya belajar filsafat manusia di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Pada masa itu, sejujurnya, saya lebih suka menjadi seorang demonstran, daripada menjadi mahasiswa. Namun, filsafat manusia adalah mata kuliah wajib. Saya pun mengikutinya dengan penuh rasa ingin tahu.
Hal terpenting yang saya dapat dari kuliah itu adalah soal kebebasan. Kebebasan manusia terletak pada kemampuannya menanggapi keadaan yang ada. Keadaan itu sendiri tak bisa sepenuhnya ditentukan. Ada orang lain, masyarakat dan alam yang menentukan keadaan di luar diri kita. Lanjutkan membaca Satu-satunya Masalah Manusia
Setiap hari, saya menerima begitu banyak pesan dari media sosial. Beberapa mengirim ke email. Ada yang bertanya soal filsafat dan perluasannya. Mayoritas bertanya soal jalan keluar dari penderitaan hidup yang berat.
Ada yang berduka, karena patah hati. Ada yang berduka, karena bersentuhan dengan kematian. Ada yang berduka, karena sulit menemukan pekerjaan yang pas. Begitu banyak penderitaan tersebar di dunia ini.
Ada yang sudah belajar beragam hal. Ada yang sudah mengikuti retret meditasi berulang kali. Ada yang sudah belajar Yoga, sampai layak menjadi anggota sirkus. Namun, penderitaan selalu merongrong, dan mereka kerap merasa tak berdaya. Lanjutkan membaca Menebar Benih di Musim Dingin
Jakarta, 31 Agustus 2025, sekitar jam 3 pagi, saya langsung berhadapan dengan massa penjarah. Mereka bukan demonstran. Mereka bukan mahasiswa, ataupun masyarakat sipil yang menuntut keadilan. Mereka adalah massa bayaran berusia sekitar 20 tahunan yang ditugaskan untuk merusak.
Mereka mengenakan masker dan menggunakan helm. Mereka mengendarai motor dengan knalpot brong yang merusak telinga. Mereka tak peduli moral dan hukum. Mereka dibayar untuk merusak, lalu langsung mengirimkan foto-foto bukti kerusakan tersebut pada sang penyandang dana kerusuhan.
Saya tak kenal Affan Kurniawan. Ada 20 juta lebih manusia di Jakarta ini. Namun, berita kematiannya sungguh membuat saya terpukul. Era digital membuat semua informasi menjadi begitu mudah mengalir.
Sejak pagi, hati saya pilu. Beberapa kali, air mata menetes. Mungkin, karena ia meninggal dengan jaket hijau khas ojek online. Sepuluh tahun terakhir, hidup saya banyak terkait dengan jaket hijau tersebut.
Setiap hari, mereka datang ke rumah saya. Ada yang mengantar paket. Ada yang mengantar makanan. Bisa dibilang, bagi saya, dan bagi jutaan rakyat Indonesia, jaket hijau itu sudah seperti anggota keluarga. Lanjutkan membaca Jaket Hijau yang Memerah
“Mengapa terus berbelanja? Apakah elo membutuhkan semua barang itu”? Jawabannya singkat: “tidak. Gua belanja, supaya hepi”. Begitu secuil percakapan saya dengan seorang kawan.
Jika tidak belanja, katanya, ada rasa hampa di dada. Ada rasa bosan yang mencekik. Dengan adanya ponsel cerdas, semua info untuk belanja bisa didapat. Belanja hal-hal yang tak perlu pun menjadi amat mudah. Lanjutkan membaca Selalu Utuh dan Penuh
Joan Miró’s Person Throwing a Stone at a Bird, 1926
Oleh Reza A.A Wattimena
17 Agustus 2025, saya merasa sendu. Saya tak sendirian. Seluruh Indonesia, kiranya, juga merasa yang sama. Ada perayaan, tetapi kebanyakan sekedar basa basi, tanpa rasa tulus yang asli.
Indonesia sedang gelap. Indonesia sedang kusut. Masa depan bangsa seolah tanpa harapan. Pemerintah hidup foya-foya di atas derita rakyatnya, dan terus mengeluarkan berbagai kebijakan bodoh. Sesungguhnya, tak ada yang perlu dirayakan. Lanjutkan membaca Jangan Gembira, Kita Belum Merdeka…
Oleh Dhimas Anugrah, Penulis buku “Filosofi Kematian” (Kanisius, 2024) dan Ketua Circles Indonesia, komunitas pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains.
Delapan puluh tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah sebuah rahmat yang patut kita rayakan. Bukan hanya lewat upacara seremonial tentunya, tapi juga melalui perenungan filosofis yang agak mendalam. Sejarah bangsa ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dibentuk oleh arah dasar keberadaan manusia sebagai makhluk yang mencari makna.
Dalam filosofi eksistensial, Martin Heidegger memperkenalkan konsep Sein zum Tode, atau berada menuju kematian, yaitu kesadaran bahwa manusia sepanjang hidupnya selalu bergerak menuju akhir. Eksistensi manusia tak bisa dilepaskan dari kefanaan. Heidegger menyatakan bahwa manusia yang sadar akan keberadaannya “selalu telah menuju akhirnya” (Being and Time, 1962). Lanjutkan membaca Kemerdekaan dan Panggilan Mencintai
Negara Bandit, itu konsep yang keluar dari pikiran Pak Fransisco Budi Hardiman, mentor sekaligus sahabat saya dalam berpikir. Setiap berjumpa dengannya, inspirasi selalu menyala. Begitu banyak ide bertebaran di kepala. Mereka menunggu untuk dituangkan di dalam tulisan.
Di dalam negara bandit, penguasa saling menyandera. Kebuntuan politik, hukum dan ekonomi pun tercipta. Yang menjadi korban adalah masyarakat luas. Tidak ada lagi acuan terhadap “kebaikan bersama”. Lanjutkan membaca Berfilsafat di Negara Bandit
Jangan-jangan saya sendirilah yang kegocek, karena menulis ini hingga bagian ketiga (mudah-mudahan bagian terakhir). Saya teringat pernah menulis perkara perselisihan filsafat analitik dan filsafat kontinental yang dimulai pada tahun 1913, ketika 107 filsuf, beberapa diantaranya adalah Edmund Husserl, Paul Natorp, Heinrich Rickert, Wilhelm Waindelband, Alois Riehl, dan Rudolf Eucken menandatangani petisi yang menuntut menteri kebudayaan Jerman, Austria, dan Swiss untuk tidak lagi mengizinkan ranah psikologi eksperimental masuk ke departemen filsafat (Kusch, 1995: 191-192).
Sederhananya, psikologi eksperimental ditolak sirkel filsafat, karena menyederhanakan problem filsafat menjadi sekadar perkara mental subyektif. Penolakan atas apa yang oleh orang-orang filsafat kala itu disebut “psikologisme”, membelah aliran filsafat menjadi dua kubu yang lestari hingga sekarang: turunan Edmund Husserl menjadi kelompok aliran filsafat kontinental, sementara turunan Gottlob Frege menjadi kelompok aliran filsafat analitik. Penjelasan terkait kedua aliran tersebut tidak akan dibahas dalam artikel ini. Lanjutkan membaca Filsafat Telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 3)
Buku ini adalah kumpulan lima teori yang saya kembangkan. Ada lima teori, yakni teori transformasi kesadaran, teori tipologi agama, teori politik progresif inklusif, etika natural empiris dan epistemologi pembebasan. Pijakannya adalah penelitian saya di bidang filsafat, politik dan neurosains selama lebih dari dua puluh tahun. Selamat membaca, dan semoga menemukan pencerahan.
Katanya, Indonesia sedang diuji. Kemiskinan terus membesar. Ketimpangan sosial ekonomi terus meluas. Di antara derita rakyat yang dicekik kemiskinan dan kebodohan tanpa henti, pemerintah dan oligarki minoritas hidup dalam gelimang kemewahan.
Katanya, ujian ini adalah cobaan dari tuhan. Masalahnya, kok ujian tak ada hentinya? Memang tuhan tak ada kerjaan lain, selain menguji manusia? Tuhan macam apa yang terus membuat manusia terpuruk dalam kemiskinan dan kebodohan? Lanjutkan membaca Tak Ada Cobaan
Oleh Dhimas Anugrah,Ketua Circles Indonesia (Komunitas Pembelajar di bidang budaya, filsafat, dan sains)
Pendahuluan
Pertanyaan tentang homoseksualitas menyentuh preferensi personal dan aspek biologis, sekaligus membuka ruang bagi perbincangan etis yang lebih kompleks. Ketika seseorang bertanya, “Apakah homoseksualitas berada dalam ranah etika?,” ia mengundang refleksi tentang cara manusia memahami martabat, kebebasan, dan tanggung jawab dalam relasi sosialnya. Dalam kehidupan kontemporer yang sarat dengan tuntutan akan otonomi dan pengakuan, muncul dorongan kuat memposisikan orientasi seksual sebagai bagian dari identitas personal yang tak perlu dinilai secara etis. Namun, pendekatan ini sering kali luput membaca kenyataan bahwa manusia adalah makhluk moral, makhluk yang terus bertanya bukan hanya tentang “apa adanya,” tapi juga tentang “apa yang seharusnya.”
John Corvino, seorang filsuf moral dan pendukung hak-hak kaum homoseksual, secara gamblang menegaskan bahwa moralitas tidak dapat direduksi menjadi urusan privat. Ia menulis,
“Some people claim that morality is a “private matter’ and that, in any case, people’s rights shouldn’t hinge on others’ moral opinions. I think this view is badly mistaken. Morality is about how we treat one another, and thus it is quintessentially a matter for public concern. It’s about the ideals we hold up for ourselves and others. It’s about the kind of society we want to be: what we will embrace, what we will tolerate, and what we will forbid” (What Is Wrong with Homosexuality?, 2013: 6). Lanjutkan membaca Hospitalitas Etis dan Moralitas Homoseksualitas