Publikasi Terbaru: Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutuk? Sebuah Pertimbangan Kritis-Stratejik

Oleh Dr. der Phil. Reza A.A Wattimena

PUBLISHED IN ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC
MANAGEMENT JANUARY 2020 VOLUME 48

Abstrak

Tulisan ini merupakan analisis terhadap kaitan antara keberadaan sumber daya alam, konflik dan perdamaian. Di satu sisi, sumber daya alam adalah berkah alam untuk manusia, supaya ia bisa mempertahankan keberadaannya, dan mengembangkan kebudayaannya. Sumber daya alam yang diolah dengan baik bisa membantu terciptanya kemakmuran dan perdamaian yang lestari di suatu masyarakat. Di sisi lain, terutama sejak akhir abad 20, sumber daya alam justru menjadi sumber konflik bersenjata yang melahirkan korban jiwa maupun harta benda yang besar di berbagai belahan dunia. Beberapa unsur yang memicu konflik, sekaligus mendorong perdamaian, terkait dengan sumber daya alam yang ada, akan dibahas di dalam tulisan ini. Tulisan ini mengacu pada penelitian yang dibuat oleh Michael Beevers, sekaligus penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh penulis.

Kata-kata Kunci: Sumber Daya Alam, Kutukan Sumber Daya Alam, Keamanan Lingkungan, Konflik, Perdamaian   Lanjutkan membaca Publikasi Terbaru: Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutuk? Sebuah Pertimbangan Kritis-Stratejik

Tuhan dan “Arlojinya”

Ilustrasi Karya Jason Ranti

Oleh Reza A.A Wattimena

Perjalanan peradaban adalah perjalanan untuk mencari Tuhan. Kiranya, ungkapan ini tak berlebihan. Seluruh produk budaya, mulai dari seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, adalah upaya manusia untuk memahami, sekaligus menyatakan kekagumannya pada segala yang ada. Segala yang ada adalah ciptaan (creation). Pertanyaan kecil pun menyelip, siapa yang menjadi pencipta (creator) dari segala ciptaan?

Hubungan antara sang pencipta dan ciptaan adalah hubungan cinta. Yang satu dapat dikenali, karena ada yang lain. Tanpa alam ciptaan, yakni segala yang ada, kita tak akan mencoba untuk memahami sang pencipta. Di sisi lain, tanpa pencipta, segala ciptaan tak akan mungkin ada. Bagaimana memahami sang pencipta ini? Lanjutkan membaca Tuhan dan “Arlojinya”