Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

WhatsApp Image 2022-02-22 at 08.01.59MENGKAJI PEMIKIRAN THICH NHAT HANH TENTANG SPIRITUALITAS DAN PERDAMAIAN DUNIA

Bersama Dr Reza Wattimena

Rabu, 23 Pebruari 2023

Pukul 19.00 – 21.00 WIB

Link: s.id/Esoterika23

Thích Nhất Hạnh  (11 Oktober 1926 – 22 Januari 2022) adalah seorang biksu Buddhisme Zen, penulis, penyair, dan aktivis perdamaian dan HAM, yang berasal dari Vietnam. Ia tinggal di Biara Desa Prem di wilayah Dordogne di Prancis Selatan. Puluhan tahun ia telah bepergian secara internasional untuk memberikan retret dan berbicara tentang pentingnya membangun petdamaian dunia. Lanjutkan membaca Thich Nhat Hanh tentang Spiritualitas dan Perdamaian Dunia

Beragam Budaya, Banyak Nama, Namun Satu Makna

img_8606_virtual_divorce_marital_love_surreal_bw_floating_two_headsOleh Reza A.A Wattimena

2014, derita menerpa hidup saya. Tak tertahankan, karena mereka datang bergerombolan pada waktu yang sama. Semua keadaan tak sesuai rencana. Kematian tak terduga dari keluarga sungguh membuka mata.

2014 juga, perjalanan Dharma saya dimulai. Saya meninggalkan mitos dan takhayul dari cara berpikir lama. Dharma adalah jalan pembebasan yang sesuai dengan alam sebagaimana adanya. Sedikit demi sedikit, mata saya terbuka. Lanjutkan membaca Beragam Budaya, Banyak Nama, Namun Satu Makna

Berpikir Distingtif

istockphoto-1092089394-612x612

Oleh Reza A.A Wattimena

Sore itu, saya berjalan di trotoar Jalan Casablanca, Jakarta. Seperti biasa, Jakarta macet dan kacau. Saya hanya berjalan, dan tak menggunakan kendaraan apapun. Itu pun, ternyata, sulit.

Banyak orang berdagang di trotoar. Banyak supir ojol (ojek online) yang parkir sembarangan di trotoar. Naik kendaraan sulit, dan berjalan di trotoar juga sulit. Saya mesti bagaimana? Lanjutkan membaca Berpikir Distingtif

Zen untuk Deradikalisasi

4d4ae064710791.5adb43bfd4580Oleh Reza A.A Wattimena

Surabaya selalu dekat di hati saya. Selama kurang lebih empat tahun, saya tinggal disana. Pada 2018 lalu, Surabaya dihantam bencana. Teroris Islam dari aliran Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) membom tiga Gereja disana.

Tepatnya, pemboman Gereja terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13 dan 14 Mei 2018. Gereja yang dibom adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. Tidak hanya Gereja yang menjadi korban. Rumah Susun Wonocolo di Taman Sidoarjo dan Markas Polrestabes Surabaya juga menjadi sasaran. 28 korban tewas, termasuk pelaku bom bunuh diri, serta 57 orang mengalami luka. Lanjutkan membaca Zen untuk Deradikalisasi

Dari Buang Kotoran Secara Cerdas, Vagina Publik sampai Rekomendasi Gaya Bercinta

Digital-surrealism-by-Martin-De-Pasquale-artists-i-lobo-you12Oleh Reza A.A Wattimena

Cukup berkata “buka!”, supaya toilet itu membuka alasnya. Tak perlu tangan untuk membukanya. Hanya kata, dan suara. Algoritma dari toilet cerdas (smart toilet) tersebut akan langsung menangkapnya, dan menjalankan operasi yang diinginkan.

Sambil menunggu kotoran dari perut dan saluran kencing keluar, toilet cerdas itu akan menganjurkan beberapa hiburan. Ada berita hari ini. Ada laporan cuaca. Ada musik, supaya kegiatan buang air menjadi menyenangkan. Lanjutkan membaca Dari Buang Kotoran Secara Cerdas, Vagina Publik sampai Rekomendasi Gaya Bercinta

Bunuh “Tuhanmu”, Bunuh “Orang Tuamu”, lalu…. Bunuh “Dirimu” Sendiri

5ac1a5cc173ad462474c68f84191de6e--science-illustration-weird-art

Oleh Reza A.A Wattimena

Percakapan di kafe sederhana itu memanas. Seorang teman minta dijelaskan, apa inti utama dari Zen. Saya menjawab: bunuh “tuhanmu”, “orang tuamu” lalu “dirimu” sendiri. Reaksinya bisa dimengerti: APA??!!

Reaksi anda pasti serupa, ketika membaca judul ini. Apakah Reza sudah gila? Apakah ia menyarakan orang untuk bertindak tak bermoral, dan melawan hukum? Beberapa penjelasan tentu diperlukan. Lanjutkan membaca Bunuh “Tuhanmu”, Bunuh “Orang Tuamu”, lalu…. Bunuh “Dirimu” Sendiri

Keadaan Demokrasi Kita

79bf9763a9747df3da54b1ce79994397Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu wawancaranya dengan BBC, kantor berita nasional Inggris, pada 2020 lalu, Presiden Jokowi menyinggung soal demokrasi. Baginya, demokrasi adalah keterbukaan pada ketidaksetujuan. Banyak orang yang mengritik kebijakannya, terutama terkait dengan penegakan HAM, dan kelestarian lingkungan. Itu sah, dan merupakan bagian dari demokrasi, begitu kata Jokowi.

Jawaban ini salah total. Demokrasi bukan hanya soal memperbolehkan ketidaksetujuan, lalu mengabaikannya. Ini namanya pemerintahan tuli. Sebaliknya, demokrasi tidak boleh tuli. Kritik diberikan ruang, didengarkan lalu dipelajari, apakah isinya bisa dan harus diterapkan, atau tidak. Lanjutkan membaca Keadaan Demokrasi Kita

Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

12121212 (1)Oleh Reza A.A Wattimena

Beberapa kali, saya berbicara tentang Zen di acara publik. Ini sudah beberapa tahun terjadi. Ada yang di luar jaringan (offline), ada yang di dalam jaringan (online). Seorang teman pun berkomentar.

“Mengapa kamu tidak pernah mengutip teks-teks klasik? Mengapa tidak mengacu pada ortodoksi, terutama ortodoksi Dharma di dalam ajaran Vedanta, Hindu dan Buddhis?” Tidak sekali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jawaban saya pun selalu sama. Lanjutkan membaca Bisa Mudah, Bisa Sulit, Mau yang Mana?

Kelas Filsafat Komunitas Salihara: Antropologi, Manusia dan Dunia Digital

271819574_10159789444677017_1152463787548639722_n

Revolusi digital mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan kita, baik secara positif maupun negatif, sehingga kita juga hidup di dalamnya. Kita beradaptasi, memanfaatkannya dan terkadang terjebak di dalamnya. Sebenarnya bagaimana filsafat menanggapi perubahan ini?

Tema besar Kelas Filsafat tahun ini adalah bagaimana melihat fenomena dunia digital yang kita alami hari ini dari sudut filsafat dengan mengacu pada bidang antropologi, etika dan epistemologi.

Pada putaran pertama, dalam empat pertemuan, Reza A.A Wattimena membahas bagaimana eksistensi pikiran manusia ketika berhadapan dengan “kemayaan realitas” dalam dunia digital. Bagaimana filsafat Zen sampai pemikiran Nietzsche dapat menanggapi fenomena dunia digital?

271742465_10159789445102017_646227978522981985_n

Antropologi: Manusia dan Dunia Digital

Pengampu: Reza A.A. Wattimena

Setiap Sabtu, 05, 12, 19, 26 Februari 2022, 13:00 WIB

Tiket: Rp 300.000 (promo) | Rp400.000 (normal)

Zoom Webinar

Tunggu apalagi? Yuk perluas wawasanmu dengan belajar filsafat! Daftar sekarang di tiket.salihara.org 

Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

0_1opthal5_465_801_int-1Oleh Reza A.A Wattimena

PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) baru saja merayakan hari lahirnya yang ke 49 pada 10 Januari 2022 kemarin. Di dalam perayaan itu, Megawati Soekarno Putri, sebagai ketua umum, mengajukan beberapa kritik.

Salah satunya sungguh mengena di saya. Ia berkata, bahwa banyak Undang-undang di Indonesia tak sesuai dengan UUD. Secara langsung, ia menegur Puan Maharani, Ketua DPR RI, yang adalah putrinya sendiri. Lanjutkan membaca Penyakit-Penyakit Lama dari “Negara Republik Oligarki” Indonesia

Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono, Antropolog

Penaklukkan itu membawa luka. Membuat orang merasa hina!

“Bu, mungkin ibu bisa membuatkan rumah bangunan untuk saya berteduh. Ibu punya uang untuk itu. Tapi, ‘rumah’ bagi jiwa saya, biarlah saya menemukannya sendiri.” Kalimat itu diungkapkan dengan suara berat, beradu dengan isak tangis, di antara perdebatan penuh lupaan emosi seorang anak perempuan dengan ibunya.

Itu bukan satu-satunya perdebatan yang melibatkan mereka berdua. Dan, setelahnya pun masih terjadi beberapa perdebatan. “Sebagai orang tua, ibu kan ingin anak-anaknya ‘mapan’. Punya pekerjaan yang baik. Rumah yang layak. Setiap bulan menerima gaji. Saat tua nanti dapat pensiun. Seperti keluarga-keluarga yang lain, setelah beberapa tahun bisa membeli mobil. Tidak usah yang terlalu bagus, tapi cukup layak dipandang. Tidak membuat malu. Apakah itu salah? Normalnya orang hidup di masyarakat kan begitu.” Lanjutkan membaca Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

Rumah Filsafat: Tshirt Pack Vol 1. 2022

WhatsApp Image 2022-01-07 at 12.15.48Sebuah Bingkisan Istimewa dari Rumah Filsafat

Rumah Filsafat
Tshirt Pack Vol 1 2022

Untuk pertama kalinya, setelah lebih dari lima belas tahun, kami memberikan sebuah bingkisan awal tahun.

Rumah Filsafat.com hadir di ruang digital sejak 2007. Kami menyajikan karya-karya yang membantu dunia lebih sadar dan bernalar sehat. Lanjutkan membaca Rumah Filsafat: Tshirt Pack Vol 1. 2022

P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

face-man-migraine-aura-against-rainbow-shards-oil-surrealism-165763079Oleh Reza A.A Wattimena

“Kekuatan untuk mengubah hal-hal yang bisa diubah

Menerima hal-hal yang tak bisa diubah

Kebijaksanaan untuk membedakan keduanya”

Suasana tempat makan itu ramai. Di sana, seorang teman berkomentar tentang buku saya: Urban Zen. “Memang mengapa jika hidup itu menderita? Mengapa harus panik?”, begitu tanyanya.

Memang, hidup harus terus bahagia? Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk direnungkan. Hidup memang tak harus selalu bahagia. Derita adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Lanjutkan membaca P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

Kemunafikan Membuat Nalar Buntu

9efaf190325473.Y3JvcCw4NDQsNjYwLDAsMTY5Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar jam 10 malam, bilangan Tanah Abang Jakarta, saya berjalan. Baru saja selesai berjumpa dengan seorang teman dari jauh. Saya kaget, karena ada sosok berjalan di kegelapan. Ia tidak menyerupai manusia.

Ternyata, ia adalah seorang perempuan. Tubuhnya ditutupi oleh kain dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia berjalan biasa, namun tampak menyeramkan, karena pakaian yang ia gunakan. Saya teringat film Sundel Bolong yang saya tonton sewaktu saya kecil. Lanjutkan membaca Kemunafikan Membuat Nalar Buntu

Distraksi Sebagai Derita

600px-Joos_de_Momper_the_Younger,_Anthropomorphic_Landscape_c.1600-1635Oleh Reza A.A Wattimena

2022 sudah tiba. Sebenarnya, itu hanyalah angka. Ia tak sungguh punya makna. Namun, karena kebiasaan manusia selama ribuan tahun yang bersifat global, maka ia memiliki pola tetap yang bermakna.

Tahun-tahun sebelumnya tak mudah. Pandemik mengancam nyawa dan kesehatan batin banyak orang. Krisis ekonomi menggiring milyaran orang ke dalam jurang kemiskinan. Yang lebih parah, kecemasan akan masa depan yang tak pasti terus menghantui dunia. Lanjutkan membaca Distraksi Sebagai Derita

Hasrat Akan Kehormatan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono, Antropolog

Suami isteri yang saya kenal dengan sangat baik itu berjuang untuk menyingkirkan segala bentuk penderitaan dari jalan hidup anaknya. Secara verbatim suami berkata kepada saya suatu pagi, ketika anaknya masih kelas 2 SD, “Cukup kami orangtuanya yang kerja keras banting tulang ke kebun. Biar kami saja yang kehujanan kepanasan. Anak-anakku tidak perlu. Pokoknya cukup belajar yang rajin. Kalau sekolahnya pintar, kelak dia akan jadi ‘orang’.”

Mereka bertani. Di samping rumah ada 3 ekor sapi yang harus dikasih makan. Ada ayam bangkok dan ayam kampung di kandang berbanjar. Pagi dan sore harus dikasih makan. Ada kolam ikan gurame dan nila—ikan-ikannya harus dikasih makan. Untuk menjaga kebun dari orang jahil, delapan ekor anjing dilepaskan. Semuanya mesti dikasih makan dua kali sehari. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kehormatan: Dukkha

Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

3685179-HSC00002-6

Oleh Johanes Supriyono, Antropolog

Suatu ketika, saya berjumpa seorang teman yang libido sekolahnya tinggi. Di ruang kerjanya ia setengah pamer tentang rencana sekolahnya. “Saya selesai S2 tepat waktu. Nilai saya A semua. Saya lulusan terbaik. Tesis saya sangat layak dibukukan. Kamu tertarik untuk membacanya? Ada banyak referensi yang saya rujuk untuk membahas topik penelitian saya.” Kemudian bla bla bla bla bla…. Sangat panjang. Aura bangga menguar dari mulut; mengiringi setiap kata.

“Saya sedang menyiapkan proposal penelitian S3 saya. Ke luar negeri,” katanya lagi. Lagi-lagi ia menggarisbawahi alasan bahwa ia sangat spesial dan penting untuk masuk ke pergaulan internasional. Ia merasa dirinya selayaknya menjadi bagian dari komunitas ilmuwan trans-nasional. Ia suka mengutip kalimat-kalimat dari buku yang ia pernah baca. Juga ia suka mengubah kalimatnya ke dalam bahasa Inggris yang terdengar sangat fasih. Sekurang-kurangnya di telinga saya. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

Musuh Terbesar Semua Agama

Stupidity is Dead! Long Live Stupidity! A Rant - South Florida FilmmakerOleh Reza A.A Wattimena

Sampai ke pelosok desa, agama telah menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia. Agamanya pun beragam. Namun, hampir tak ada tempat yang bebas dari agama di Indonesia. Inilah keadaan kita di awal abad 21 ini.

Salah satu sebabnya adalah karena gagalnya pemerintah memberi rasa aman pada warganya. Sebaliknya, pemerintah justru menjadi penindas terhadap warganya sendiri. Para pelayan rakyat justru mencuri uang rakyat, guna memperkaya diri. Para penegak hukum justru mendiamkan, dan bahkan kerap menjadi pelaku pelanggaran hukum itu sendiri. Lanjutkan membaca Musuh Terbesar Semua Agama

Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)

Taylor Swift's Video for "Style" Is Totally Dreamy | InStyleOleh Reza A.A Wattimena

Tak biasanya, saya mendengar lagu-lagu baru. Namun, ini perkecualian. Taylor Swift, salah satu musisi perempuan terbaik di dunia saat ini, merekam dan menyebarkan ulang salah satu lagu lamanya. Judulnya All too Well (10 Minute Version) (Taylor’s Version) (From the Vault).

Lagu itu unik. Durasinya 10 menit. Ini sungguh tak biasa untuk musik jaman sekarang. Itu juga salah satunya yang membuat saya tertarik. Anda juga bisa melihatnya dengan gratis di Youtube, termasuk film pendek yang dibuat atasnya. Lanjutkan membaca Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)