Internet, Sosial Media dan Gejolak Budaya: Sebuah Wawancara

 

Wawancara dengan Pers Mahasiswa IDEA Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Januari, 2018 dengan Reza A.A Wattimena. Dimuat di Terbitan IDEA Edisi 41, Mei 2018

Internet, media sosial dan alat-alat digital kini menjadi kebutuhan primer masyarakat modern. Digital bukan lagi sekedar era, tapi sudah menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat. Saking larutnya dalam dunia internet, muncul statement usil menyebut “harta-tahta-kuota” sebagai kebutuhan dasar hidup masyarakat saat ini.

Dengan membuka smartphone atau perangkat gawai yang tersambung dengan koneksi internet, masyarakat disuguhi berbagai bentuk informasi dari mulai teks, gambar, suara, bahkan vidio.

Terkait hal tersebut, bagaimana Anda memaknai literasi di zaman sekarang?

(Reza A.A Wattimena) Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini menciptakan banjir informasi. Orang tak lagi mempunyai waktu, tenaga dan kehendak untuk mengolah informasi yang ada menjadi sebentuk pengetahuan yang berguna bagi kehidupan. Informasi justru menjauhkan orang dari pengetahuan dan kebijaksanaan. Informasi terlalu banyak, dan banyak di antaranya cenderung tak berguna, bahkan merusak. Inilah paradoks perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini. Lanjutkan membaca Internet, Sosial Media dan Gejolak Budaya: Sebuah Wawancara

Iklan

Apakah Kita Memerlukan Negara?

The Flying Merchant by Christian Schloe

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apakah kita masih memerlukan negara? Ketika negara harus berhutang ribuan trilyun rupiah, guna menggaji para pejabat negara ratusan juta rupiah setiap bulannya, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika banyak kepala daerah dan pejabat negara melakukan korupsi terhadap uang rakyat, apakah kita masih memerlukan negara?

Ketika para penegak hukum tunduk pada suap dan hanya membela hak-hak orang kaya dan kelompok mayoritas, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika pejabat negara bertindak layaknya raja kecil di jalan raya, dan menindas hak pengguna jalan lainnya, apakah kita masih memerlukan negara? Lanjutkan membaca Apakah Kita Memerlukan Negara?

Kreativitas yang Masih Dinanti

Forever is not (julia.kropinova)

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kreativitas adalah hal alami yang dimiliki manusia. Semua orang mempunyainya, tak ada perkecualian. Lihatlah bagaimana kreatifnya seorang anak kecil. Jika ada waktu luang, mereka langsung menciptakan sesuatu, entah dengan tangan, tubuh maupun pikirannya.

Walaupun alami, kreativitas membutuhkan tempat untuk berkembang. Ia membutuhkan budaya tertentu, supaya bisa mendorong terciptanya hal-hal baru yang berguna untuk kehidupan. Budaya ini adalah budaya kebebasan berpikir dan berpendapat. Di dalamnya terdapat orang-orang yang tak takut untuk memikirkan hal-hal baru, guna melampaui beragam tantangan kehidupan. Lanjutkan membaca Kreativitas yang Masih Dinanti

Jangan Lupa Tersenyum

Surreal mouth

Oleh Reza A.A Wattimena

Entah mengapa, perasaan saya jelek sekali hari itu. Mengendarai motor, sesuatu yang biasanya sangat saya nikmati, pun terasa tak nyaman. Apalagi, mendadak, ada motor yang menyalip dengan agresif. Emosi pun naik, dan otomatis, saya mengejarnya.

Seolah balapan liar terjadi hari itu. Padahal, jalanan cukup ramai. Ini tentu membahayakan tidak hanya diri saya sendiri, tetapi juga pengendara lain. Akan tetapi, saya tak peduli. Begitulah jika kita sedang dimakan emosi tinggi. Lanjutkan membaca Jangan Lupa Tersenyum

Dibunuh oleh Fiksi?

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Senang rasanya melihat toko buku begitu ramai dikunjungi orang. Pun jika menjadi konsumtif, orang lebih baik berbelanja buku, daripada sekedar makan enak, atau membeli barang yang tak dibutuhkan. Buku membuka wawasan, sekaligus menjadi hiburan sehat di kala waktu luang. Namun, ada satu gejala yang menarik perhatian.

Deretan buku fiksi, terutama dalam bentuk novel, begitu banyak. Sementara, buku-buku lainnya, seperti politik, sejarah, agama maupun bisnis jauh lebih sedikit. Deretan buku komik pun tak kalah banyaknya. Lanjutkan membaca Dibunuh oleh Fiksi?