Karya Terbaru: Globalization: Citizenship and Its Challenges, Cosmopolitanism as an Alternative Paradigm in International Relations

Globalization: Citizenship and Its Challenges, Cosmopolitanism as an Alternative Paradigm in International Relations

Oleh Reza A.A Wattimena dan Anak Agung Banyu Perwita, Dosen di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Proceeding The 3rd International Indonesian Forum for Asian Studies: Borderless communities & nations with borders, Challenges of globalisation

Universitas Gadjah Mada & Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Download di Link berikut: Proceeding

 

Agama di Era Globalisasi

quicktoptens.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Agama lahir di dunia ini sebagai berkah semesta. Ia mengajarkan hubungan manusia dengan penciptanya, hubungannya dengan semua mahluk serta hubungannya dengan diri sendiri. Agama mengajarkan kedamaian dan cinta, baik ke dalam diri maupun kepada semua mahluk. Ia membuat hidup manusia menjadi seimbang.

Sekarang ini, agama telah menjadi organisasi global dengan ruang lingkup seluas dunia itu sendiri. Cabangnya ada di berbagai negara, baik agama yang diakui maupun yang tidak. Agama sendiri adalah institusi global yang lahir dari pengalaman mistik seseorang. Pengalaman mistik itu lalu berkembang menjadi ajaran, tata nilai dan jalan hidup tertentu. Lanjutkan membaca Agama di Era Globalisasi

Macet Lagi… Macet Lagi…

si komo lewat tol
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional di Universitas Presiden, Cikarang,  Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

            Sewaktu saya kecil, saya punya satu lagu favorit. Judulnya adalah “Si Komo Lewat Tol”. Nada lagu ini begitu mudah untuk melekat di telinga: macet lagi macet lagi.. gara-gara si Komo lewat. Sampai sekarang, ketika menghadapi macet, saya suka bersenandung lagu itu pelan-pelan, sambil menyetir.

Lagu itu adalah tanda keluhan orang-orang kota besar yang harus menghadapi macet setiap harinya. Komo adalah binatang komodo yang menjadi simbol dari segala sesuatu yang menyebabkan kemacetan. Ia besar, kuat dan amat sulit untuk dipindahkan. Ini berarti, semua orang tampak memiliki teori sendiri tentang penyebab kemacetan. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena penyebab kemacetan itu besar dan kuat, seperti si Komo. Lanjutkan membaca Macet Lagi… Macet Lagi…

Buku Terbaru: Esei-esei Keadilan untuk Ahok

Penulis:

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd.

Dr. phil. Reza A. A. Wattimena

Pdt. Dr. Mesakh A. P. Dethan., M.Th., MA.

Fransiskus Ransus, S.S., M.Hum

Suhendra, M.A.

Pengantar

Oleh Reza A. A. Wattimena (Dosen Hubungan Internasional di Universitas Presiden Cikarang, Peneliti di President Center for International Studies/PRECIS)

Penulis adalah cermin dari jamannya. Ungkapan ini jelas mengandung kebenaran di dalamnya. Penulis adalah para pemikir. Mereka menuangkan gagasan mereka ke dalam karya sebagai sebuah tanggapan atas keadaan jaman. Itulah yang kiranya dilakukan para penulis buku ini. Mereka membaca jaman, dan memutuskan untuk terlibat di dalam jaman mereka melalui karya nyata.

Memang, kita hidup di jaman yang penuh dengan ketidakadilan. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), politikus yang tegas menghadapi korupsi dan keterbelakangan di ibu kota Indonesia, justru menjadi korban dari kesempitan berpikir masyarakatnya sendiri.

Buku ini adalah tanggapan para penulis dan pemikir atas keadaan yang penuh ketidakadilan semacam ini. Para penulis buku ini mengupas beragam hal yang penting untuk hidup bersama, seperti kaitan antara agama dan politik, kemanusiaan, keadilan, radikalisme dan nasionalisme yang sempit. Mereka juga mencoba menawarkan jalan keluar dari beragam kesempitan berpikir yang terjadi.

Tujuan mereka sederhana, yakni terciptanya masyarakat beradab yang cerdas dan adil untuk semua. Tujuan yang amat indah, namun amat sulit terwujud di dalam kenyataan.

Buku ini juga merupakan sebuah buku perjuangan, tepatnya perjuangan melawan ketidakadilan. Sebagai rakyat, kita perlu memiliki keberanian sipil untuk bersuara, ketika melihat ketidakadilan. Keberanian sipil itu diwujudkan di dalam karya yang tentu berguna untuk kebaikan bersama. Harapannya, buku ini bisa mengundang kita semua untuk merefleksikan ulang sikap, keputusan dan perilaku kita di dalam berpolitik, supaya bisa semakin mendekati keadilan yang sesungguhnya.

Buku berjudul ―esai-esai Keadilan untuk Ahok― ini juga terbit tepat pada waktunya. Bangsa Indonesia tengah dirudung hantu perpecahan, akibat ketidakadilan yang dirasakan di banyak tempat. Bangsa Indonesia membutuhkan titik tolak yang sama, supaya bisa tetap bersatu, dan bekerja sama mewujudkan keadilan dan kemakmuran untuk semua, tanpa kecuali. Titik tolak yang sama, yang lahir dari kedalaman renungan dan pemikiran, inilah yang ditawarkan buku ini, terutama menanggapi ketidakadilan yang ditimpakan kepada Ahok.

Semoga buku ini bisa memberikan pencerahan, dan membuat kita bijak di dalam menyingkapi kehidupan bersama kita. Harapan saya juga, semoga para pembuat kebijakan dan tokoh masyarakat membaca buku ini, dan terbuka pikirannya, sehingga bisa memberikan dan menghadirkan keadilan yang amat sangat dibutuhkan, tidak hanya oleh Ahok, tetapi oleh seluruh komponen dalam bangsa ini. Semoga harapan saya tidak tinggal menjadi sekedar harapan. Selamat membaca

Cikarang, 24 Mei 2017,

Bisa diperoleh di

Penerbit: Desna Life Ministry,  Jln. Bakti Karya 20 B, Kecamatan Oebobo, Kupang – NTT Telp. 081-333-343-222
E-mail: desnapenerbit@yahoo.com Website: desnapublishing.blogspot.co.id

 

Bar..bar…

RT.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Beberapa bulan belakangan, dunia dikepung berbagai serangan teroris. London, Kabul, Jakarta dan Marawi adalah beberapa tempat yang terus menjadi sasaran bom, maupun tindak kekerasan teroristik lainnya. Keadaan di Timur Tengah juga masih terus diliputi konflik dari berbagai pihak yang saling tumpang tindih. Di berbagai tempat, diskriminasi berdasarkan agama dan ras masih terus menjadi makanan sehari-hari.

Di dalam negeri, keadaan politik juga terus memanas. Vonis terhadap Ahok, salah satu Gubernur terbaik sepanjang sejarah Jakarta, mengoyak rasa ketidakadilan tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga dunia internasional. Berbagai kecaman datang di hadapan ketidakadilan yang dipertontonkan di depan publik ini. Keadaan diperparah dengan muaknya masyarakat terhadap tindak korupsi para elit politik, mulai dari dugaan korupsi ketua umum partai politik besar, sampai dengan dugaan korupsi salah satu tokoh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Lanjutkan membaca Bar..bar…

Rasa Sakit dan Kelembutan

dailycreativity.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, Peneliti di President Center of International Studies (PRECIS)

Ia hanya ingin bepergian di malam hari, melepaskan penat, setelah seharian bekerja. Tak disangka, ada ledakan terjadi, dan langsung melukainya. Ia pun terkapar, dan baru sadar, setelah tiba di rumah sakit dengan rasa sakit yang nyaris tak tertahankan di sekujur tubuhnya. Puluhan orang mengalami kejadian serupa pada 22 Mei 2017 lalu di Kampung Melayu, Jakarta.

Di tempat lain, awalnya, ia hanya ingin menikmati liburan dengan cara-cara baru. Bungee Jumping, yakni melompat dari ketinggian beberapa ratus meter dengan menggunakan pengaman, tampak merupakan ide yang bagus. Namun, kecelakaan pun terjadi, sehingga patah kaki pun tak terhindari. Musibah memang tak pernah diminta. Namun, ia selalu datang berkunjung. Lanjutkan membaca Rasa Sakit dan Kelembutan

Dinamika Partai Politik di Era Globalisasi: Beberapa Butir Pemikiran

surrealist-art-illustrations-05
youthedesigner.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Di dalam masyarakat demokratis, seperti indonesia, perubahan politik amatlah dimungkinkan. Ada banyak cara untuk mewujudkan ini. Salah satu jalan terbaik adalah menyalurkan aspirasi politik untuk perubahan ke arah yang lebih baik melalui partai politik. Bisa dibilang, partai politik adalah kendaraan utama perubahan di dalam masyarakat demokratis. Tentu saja, ada jalan-jalan lain yang dimungkinkan, misalnya melalui berbagai karya di dalam berbagai organisasi masyarakat sipil, atau pendidikan masyarakat luas. Namun, jalan perubahan melalui partai politik adalah jalan tercepat, dan memiliki dampak yang paling besar.

Di dalam ranah filsafat politik, partai politik memiliki sejarah yang khas. Partai politik adalah persilangan langsung antara pemerintah dan masyarakat sipil. Persilangan ini amat dibutuhkan di dalam masyarakat demokratis, supaya sepak terjang pemerintah tetap berada di dalam pengamatan dan kendali dari masyarakat sipil, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di dalam demokrasi. Partai politik ini berpijak pada kebutuhan masyarakat sipil akan kehidupan bersama yang damai, adil dan makmur. Partai politik mengemas semua ini ke dalam seperangkat ideologi yang menjadi landasan utama semua karya partai tersebut, terutama ketika mereka duduk di pemerintahan. Lanjutkan membaca Dinamika Partai Politik di Era Globalisasi: Beberapa Butir Pemikiran