Mengelola Penolakan

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Setiap orang yang pernah hidup pasti pernah mengalami penolakan. Bentuknya beragam, mulai dari ditolak cinta sampai dengan ditolak lamaran kerja. Ada penolakan yang berakhir bahagia, yakni ketika orang menemukan jalan untuk membuka peluang baru. Namun, tak sedikit orang yang jatuh ke dalam depresi, kecanduan narkoba bahkan bunuh diri, karena tak mampu mengelola penolakan.

Di dunia politik Indonesia, kita melihat penolakan yang membuat seorang pemikir nasionalis, sekaligus mantan menteri, menjadi gubernur radikal yang dipertanyakan integritas pribadinya. Ia dipecat dari jabatan sebelumnya, karena tak mampu bekerja dengan baik. Akhirnya, ia mengingkari hati nuraninya, serta menjadi bagian dari kelompok radikal dan koruptor. Penolakan bisa mengubah ideologi hidup seseorang. Lanjutkan membaca Mengelola Penolakan

Iklan

Hukum, Politik dan Pemerintahan Jokowi

catur-jokowi-mega-di-tempo-Foto-via-sociapolitica-Nusantaranews
Nusantara News

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

            Hukuman yang menimpa Ahok (dipenjara dua tahun karena penistaan agama) sungguh menganggu rasa keadilan kita. Tidak hanya Indonesia, berbagai bangsa dan komunitas internasional mengutuk keputusan pengadilan terhadapnya. Pemerintahan Jokowi bersikeras, bahwa hukum tidak boleh dicampur dengan politik. Terkesan ini alasan untuk tidak berbuat apa-apa, walaupun ketidakadilan telah terjadi.

            Hal ini membuat kita berpikir ulang soal hubungan antara hukum dan politik. Pemerintahan Jokowi berpegang pada pandangan, bahwa hukum adalah seperangkat prosedur yang bebas dari campur tangan politik. Bahkan, ketika keputusan hukum sungguh mencerminkan ketidakadilan, tidak ada yang boleh mencampuri urusan hukum. Pendek kata, hukum hanya soal para ahli hukum dan para penegak hukum semata. Lanjutkan membaca Hukum, Politik dan Pemerintahan Jokowi

Zen Itu “Telanjang”

Surreal Composite Photos by Luisa Azevedo

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Zen itu memang “telanjang”. Sebagai salah satu aliran di dalam filsafat Timur, Zen memang sangat unik. Ia “telanjang” (bebas) dari berbagai kata, konsep, ritual dan aturan, yang banyak sekali ditemukan, tidak hanya di aliran lain dalam filsafat Timur, tetapi juga di dalam agama dan tradisi yang lain. Zen adalah pengalaman langsung dengan kenyataan sebagaimana adanya, sebelum segala konsep, kata, aturan dan ritual tercipta.

Pengalaman Zen menunjuk langsung ke inti pikiran kita sebagai manusia. Inti pikiran ini sejatinya kosong. Ia seperti ruang hampa luas yang bisa menampung segalanya, tanpa kecuali. Penderitaan pun bisa ditampung, tanpa halangan. Lanjutkan membaca Zen Itu “Telanjang”