Tarian Kematian

Daniel Johnson

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup ini memang seperti menari. Kita bergerak, sering tanpa pola, tanpa arah. Namun, intinya, kita terus bergerak. Kita bekerja. Kita menjalin hubungan dengan orang lain. Kita bahagia, dan kita pun menderita.

Namun, menyimak keadaan dunia di akhir 2018 ini, tarian kita seolah berubah menjadi tarian kematian. Kita menari bukan untuk merayakan kehidupan, melainkan untuk merusak dan menebarkan petaka. Di berbagai bidang kehidupan, kita bergerak, tidak ke arah kebaikan bersama (common good), melainkan ke arah kehancuran bersama (common destruction). Di banyak bidang kehidupan, kehancuran terjadi secara perlahan, namun pasti. Lanjutkan membaca Tarian Kematian

Atas Nama Iwan: Sebuah Kisah Cinta

Oleh Reza A.A Wattimena

Sabtu, 15 Desember 2018. Perjumpaan antara teman lama terjadi di Blok M Square, Jakarta. Kita berjumpa untuk saling berbagi cerita. Kita berjumpa untuk saling mendukung dalam nestapa.

Ada teman lain yang akan datang. Namun, ia terhalang. Kami paham, dan berjanji untuk tetap saling berhubungan. Percakapan pun dilanjutkan di tengah gemeriuh Blok M Square yang begitu kaya akan kehidupan. Lanjutkan membaca Atas Nama Iwan: Sebuah Kisah Cinta

Ada dan Hibrida

WallHere

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu acara untuk masyarakat luas di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) minggu lalu, saya mendengarkan satu ide yang amat menarik dari Komaruddin Hidayat, salah satu pemikir publik terbesar di Indonesia saat ini. Ia berkata, bahwa generasi sekarang adalah generasi hibrida (bercampur aduk). Latar belakang orang tua datang dari beragam suku dan ras. Ini membuat identitas etnis dan ras menjadi begitu cair di Indonesia sekarang ini.

Pernyataan itu langsung menyentil diri saya. Saya memang hibrida, baik dari segi fisik maupun pemikiran. Kedua orang tua saya adalah kumpulan dari beragan suku, etnis dan ras. Ayah saya keturunan Ambon, Belanda, Portugis dan Batak, mungkin masih ada yang lainnya. Sementara, ibu saya keturunan Cina, Padang dan sedikit percikan Jawa Surabaya. Akhirnya, lahirlah manusia yang berambut keriting, bermata sipit, dan berbadan besar. Lanjutkan membaca Ada dan Hibrida

“Tuhan”

Justin Peters

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah lama, saya menghindari berbicara tentang konsep tuhan. Terlalu banyak konsep ini dibicarakan di berbagai tempat. Seringkali, tuhan dibicarakan dengan penuh sikap sok tahu. Semakin tidak tahu, orang justru semakin percaya diri, dan semakin sok tahu.

Dalam sejarah, konsep tuhan memang banyak mengundang kontroversi. Berbagai agama mencoba memahami dan menjelaskannya. Beragam tafsiran muncul. Di dalam proses, pengaruh politik kekuasaan pun semakin terasa, ketika orang berbicara tentang tuhan. Lanjutkan membaca “Tuhan”

Publikasi Terbaru: Mendidik Integritas

Marisol García Pulgar

KONSEP KESATUAN PRIBADI (EINHEIT DER PERSON) DI DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN JULIAN NIDA-RÜMELIN

Oleh Reza A.A Wattimena

dimuat dalam 

Studia Philosophica et Theologica, Vol. 18 No. 1, Maret 2018

Abstrak

Tulisan ini menjabarkan inti pandangan Julian Nida-Rümelin tentang konsep kesatuan pribadi sebagai proses pendidikan integritas di dalam tradisi pendidikan humanis. Metode yang digunakan adalah analisis kritis terhadap tulisan Nida-Rümelin di dalam buku Philosophie einer humanen Bildung, sekaligus dengan mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh penulis artikel ini sebelumnya. Beberapa tanggapan kritis juga akan diberikan terhadap pandangan Nida-Rümelin ini. Mendidik integritas berarti mendidik manusia dalam keseluruhan unsur dirinya. Ia menciptakan keseimbangan yang merupakan hal yang amat penting di dalam tradisi pendidikan humanis.

Kata-kata kunci: Integritas, Kesatuan Pribadi, Pendidikan Humanis

Silahkan diunduh disini: Mendidik Integritas, Studia vol 18 no. 1 Maret 2018-29-39-1-10

Berdamai dengan Diri Sendiri

Etsy

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita hidup di era teknologi canggih. Komunikasi, transportasi dan hidup sehari-hari menjadi begitu mudah dan murah. Bahkan, manusia kini mulai mencari jalan untuk menciptakan kehidupan dengan teknologi yang ada. Tak berlebihan jika dikatakan, dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada, manusia kini menjadi „tuhan“ atas bumi.

Sayangnya, semua kemajuan itu tidak sejalan dengan kemajuan kebahagiaan manusia. Dengan kata lain, manusia tidak lebih bahagia, walaupun hidup di dunia yang penuh dengan kemudahan. Sebaliknya, berbagai penelitian menunjukkan, tingkat depresi dan bunuh diri justru meningkat di abad 21 ini. Pertanyaannya, apa guna semua kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, jika manusia justru semakin menderita? Lanjutkan membaca Berdamai dengan Diri Sendiri