Generasi yang Menunduk

                                           Scott Kelby

Oleh Reza A.A Wattimena

Senangnya melihat keluarga bahagia berjalan bersama. Ayah, ibu dan kedua anaknya berjalan penuh keceriaan ke rumah makan tersebut. Wajah mereka cerah. Kebahagiaan tampak jelas terpancar dari wajah merea.

Ketika sampai di restoran, tiba-tiba mereka mulai mengeluarkan telepon pintar dari kantung celana maupun tas mereka. Seketika itu juga, mereka mulai sibuk sendiri-sendiri dengan alat tersebut. Suasana kebahagiaan pun hilang dalam sekejap mata. Yang tampak adalah empat orang yang sibuk dengan telepon pintar mereka masing-masing.

Pemandangan semacam ini amat sering ditemukan di dalam ruang publik. Pasangan yang duduk bersama, namun sibuk masing-masing dengan telepon pintar mereka. Keluarga besar yang berkumpul, namun tak sungguh “berkumpul”, karena semua sedang asyik di dunianya (maya) sendiri-sendiri. Saya menyebut mereka semua sebagai generasi yang menunduk.

Tidak hanya itu, generasi yang menunduk ini terkesan tidak mencintai kehidupan. Ada yang mengendarai motor dan mobil, sambil melihat telepon pintarnya. Mereka seolah tak peduli akan nyawa sendiri, ataupun nyawa orang lain. Ketika kecelakaan terjadi, mereka mengira itu adalah cobaan dari Tuhan.

Generasi yang Menunduk

Ada enam ciri dari generasi yang menunduk. Pertama, generasi ini miskin kemampuan untuk mengamati (observational skill). Ketika pandangan terarah ke bawah kepada telepon pintar yang ada, lingkungan sekitar cenderung terabaikan. Tanpa kemampuan mengamati, orang pun tak sungguh memahami lingkungan tempat ia hidup.

Kedua, ketika kemampuan mengamati berkurang, maka kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain (Perspektivenübernahme) pun juga berkurang. Empati melemah. Hubungan antar manusia diwarnai asas saling memanfaatkan. Tinggal didorong sedikit, kekerasan dan konflik pun akan terjadi.

Tiga, empati adalah dasar dari solidaritas. Sementara, solidaritas adalah ikatan yang mendasari hidup bersama. Ketika empati melemah, solidaritas pun melemah. Ketika solidaritas melemah, ikatan yang mendasari hidup bersama pun juga melemah. Perpecahan akan sangat mudah terjadi, apalagi jika ada campur tangan asing dengan kepentingan politik dan ekonominya.

Empat, ini juga merupakan sebab dari begitu banyaknya orang menderita kesepian dan depresi di dunia sekarang ini. Jumlah manusia terus bertambah. Sementara, jumlah orang yang kesepian dan terabaikan justru semakin banyak. Inilah kiranya yang disebut sebagai kesepian kolektif (collective loneliness) di abad globalisasi ini.

Lima, dalam tekanan kesepian dan terabaikan, orang menjadi tak peduli. Orang hanya memikirkan keselamatan diri dan keluarga dekatnya. Keselamatan bumi, apalagi keselamatan hewan dan tumbuhan, sama sekali tak dipikirkan. Pola pikir sesat inilah yang justru semakin menyebar dewasa ini.

Enam, generasi yang menunduk adalah generasi yang gampang patah. Mereka seolah menunduk di hadapan begitu banyak tantangan kehidupan, mulai dari radikalisme, terorisme sampai dengan pemanasan global. Gerakan sosial pun menjadi berumur pendek, karena tidak didasari motivasi yang kokoh. Pun jika ada, berbagai gerakan sosial hanya menyembunyikan motif ekonomi terselubung, guna mendapatkan uang dan nama besar di masyarakat.

Berhenti Menunduk

Lalu, apakah kita harus melepaskan sama sekali penggunaan telepon pintar tersebut? Apakah kita harus berhenti menunduk? Ada tiga hal yang kiranya perlu dipertimbangkan.

Pertama, penggunaan telepon pintar harus disertai dengan kesadaran penuh. Jangan sampai orang menunduk, tengelam di dalam telepon pintar, semata karena kebiasaan yang bersifat mekanistik. Dalam hal ini, orang melakukan itu secara otomatis, karena ia tidak sadar penuh atas apa yang sedang dilakukannya. Inilah yang disebut Martin Heidegger sebagai gejala ketidakberpikiran (Gedankenlosigkeit) yang menjadi ciri utama peradaban kontemporer.

Dua, untuk bisa sadar di dalam penggunaan telepon pintar, kita kiranya mesti melakukan puasa digital. Satu hari dalam seminggu, kita berhenti menggunakan semua teknologi informasi dan komunikasi yang ada. Sebagai gantinya, kita bisa sekedar membaca buku, atau melakukan kegiatan spiritual bermutu lainnya, seperti meditasi atau yoga. Ini akan membuat kesadaran semakin meningkat di dalam penggunaan teknologi.

Tiga, di dalam menggunakan teknologi, satu prinsip kiranya perlu digunakan, yakni “saya menggunakan teknologi, dan bukan teknologi menggunakan saya”. Manusia harus menjadi tuan atas teknologi. Segala bentuk teknologi digunakan untuk meningkatkan mutu kehidupan sebagai keseluruhan. Jika teknologi mulai menghambat atau bahkan menghancurkan kehidupan, maka kehadirannya perlu ditelaah ulang.

Generasi yang menunduk adalah bagian dari keseharian kita sekarang ini. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah, apakah mereka menunduk untuk melarikan diri dari kenyataan, dan hidup di dunia maya? Ataukah, mereka menunduk untuk mengembangkan diri mereka melalui berbagai pengetahuan yang ada di dunia maya, dan mengembangkan jaringan ke seluruh dunia demi suatu misi untuk kebaikan bersama? Semoga yang kedua ini yang terjadi.

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Generasi yang Menunduk”

  1. begitu juga pandangan saya. penggunaan ponsel adalah suatu percobaan berat utk kita semua, sebab dgn benda kecil teknik canggih kita mampu mengisi”kehausan” pengetahuan/sozial. sepertinya bermain dengan api.
    selama kita bisa “melepaskan” ponsel setiap saat, cukup lah sebagai permulaan membatasi ” kesibukan maya”.
    saya alami sendiri, selama sesshin, hambatan penglihatan (mata), ponsel rusak , hampa internet dll dll kita mampu sehari2 tanpa ponsel, bahkan kita mampu untuk ber kreasi.
    utk mampu mengamati “kebiasaan” kita dan jujur terhadap diri sendiri, bahkan kita pun tersenyum mengalami “a ha effekt”.
    dunia maya, bayangan di kepala dan begitu banya aspekt dalam hidup , hanyalah suatu relativet, yg berumur pendek.
    banya salam !!

    Suka

  2. Kalau dilihat dari ciri 3 dan 5, itu bisa dikatakan gawat juga ya. Tapi syukurlah selama ini orang orang disekitar saya masih banyak yg orangnya empati an sih. Tapi udah ada beberapa saya lihat memang ada ciri cirinya seperti disebutkan di atas mas. Kemudian yg poin no 6 itu, itu masalah lama juga sih, kalau gerakan sosial yg tidak didasari dengan tujuan yg jelas dan motivasi yg kuat bakal pendek umurnya. Tapi ada benarnya juga kalau sekarang memang terkadang gampang patah juga, orientasinya lebih ditujukan untuk pencitraan di media sosial dan mendapatkan pujian masyarakat artinya buat wah wah an saja, buat keren keren an aja. Nah ini yg umurnya pendek.

    Suka

  3. Salam

    Seturut pemahaman saya sekarang Budaya dominasi dibangun di atas dasar pemisahan dan kekerasan.lihatlah perusakan Bumi dihargai, perdamaian di Bumi dihukum. Kebohongan dihormati, kebenaran difitnah. Ketidaktahuan itu didambakan, kebijaksanaan itu diejek. Bahkan yang disebut ‘terbangun kesadarannya’tetap terjebak dalam hak terkondisi yang melanggengkan perbudakan.
    budaya yang ada sekarang tentang pemisahan / patriarki telah secara fundamental bertentangan dengan kebenaran, cinta, dan kehidupan selama beberapa ribu tahun. Karena itu, bertentangan dengan esensi dari siapa kita.sekarang ketidaktahuan bingung tentang siapa dan apa kita sebagai suatu spesies, khususnya dalam peradaban teknologi narsistik modern kita.
    Karena kita sangat tidak yakin dengan ke otentijan kita sebagai spesies kita *kehilangan rasa memiliki Alam*. Putus dari jaring kehidupan ini telah membawa kita ke tempat kita sekarang berdiri hari ini. kita telah memilih nasakom ( nasib satu koma ) hidup segan matipun tak mau alias koma atas sesuatu yang lebih parah dari pemisahan oleh para mental budak dalang dalang yang tersisa untuk pengkondisian budaya kita sekarang punya, lebih banyak bayi, lebih banyak konsumsi, lebih banyak kekerasan, lebih banyak kebodohan, lebih banyak penyangkalan, lebih banyak hak, lebih arogansi, lebih banyak keegoisan, lebih banyak depresi, lebih banyak kecemasan, lebih banyak kecanduan, dan teknologi yang lebih mengganggu dan merusak untuk membuat kita semakin jauh dari jiwa kita..

    Salam Rahayu
    Amitabha

    Suka

  4. Good point bung.. Turut prihatin dengan fenomena ini.. Saya setuju dengan pandangan bung reza bahwa semua ini berasal dari malasnya manusia untuk berfikir.. Dan juga sayangnya alam juga menciptakan mekanisme sistem “autopilot” yang semakin memanjakan manusia secara alamiah.. Langkah yang bijak adalah menitikberatkan pengurangan pada fungsi ini untuk pencegahan meluasnya “generasi merunduk” ini.. Solusi yg paling tepat seperti yang bung reza katakan, untuk “refleksi” diri sesuai dengan selera masing-masing.. Semoga kawan2 semua yang sudah tersadar, terhindar dari bahaya laten ini.. Thx for sharing bung..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.