Menjadi Egois Sejati

Hans Bellmer

Oleh Reza A.A Wattimena

Orang egois kerap kali dibenci oleh lingkungannya. Mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Jika perlu, kepentingan orang lain pun dilanggar, supaya ia bisa memperoleh keuntungan. Semua ajaran moral dan filsafat, secara langsung maupun tidak, mengecam sikap egois.

Jika dilihat lebih dalam, semua orang pada dasarnya adalah mahluk egois. Mereka memikirkan kepentingan diri dan keluarganya terlebih dahulu, baru kepentingan orang lain. Ini terjadi, karena sikap egois merupakan unsur penting dari insting pelestarian diri (survival instinct). Tanpa insting ini, orang, bahkan spesies, akan lenyap ditelan hukum perubahan semesta.

Di sisi lain, tanpa sikap kritis dan akal sehat, sikap egois akan merusak hidup bersama. Konflik dan perang tak akan berhenti, karena orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri-sendiri. Solidaritas antar mahluk menipis, bahkan hilang sama sekali. Inilah kiranya yang melanda banyak tempat di dunia sekarang ini.

Politik, Bisnis dan Pelestarian Diri

Di bidang politik, sikap egois menjelma menjadi korupsi. Uang dan jabatan digunakan untuk memperkaya diri dan keluarga. Berbagai program dan proyek dikerjakan tidak untuk kepentingan rakyat luas, tetapi untuk mencuri uang rakyat. Kata “pembangunan” pun menjadi cacat. Ia menjadi sekedar upaya untuk menipu dan mencuri uang rakyat dengan bersembunyi di balik slogan-slogan indah.

Sikap egois juga dengan mudah ditemukan di dalam dunia bisnis. Sejatinya, ekonomi dan bisnis hanya merupakan soal pemenuhan kebutuhan fisik manusia. Namun, dewasa ini, keduanya seolah berubah menjadi unsur terpenting dalam hidup. Apalagi, di dalam sistem ekonomi kapitalis, perolehan untung sebesar mungkin menjadi unsur terpenting semua tindakan ekonomi dan bisnis, termasuk dengan mengorbankan kepentingan orang maupun mahluk hidup lainnya.

Mengapa orang bersikap egois? Pelestarian diri tentu menjadi alasan utama. Namun, dasar terdalam dari sikap egois adalah rasa takut. Orang merasa takut, jika ia terjebak ke dalam kemiskinan dan kegagalan. Maka, ia pun melakukan segala cara untuk terbesar dari keduanya, walaupun dengan merugikan orang ataupun mahluk hidup lainnya.

Ketakutan juga berakar pada kesalahpahaman tentang kehidupan. Jika orang mengira dirinya adalah seonggok daging dan darah yang kecil di hadapan semesta tak terbatas ini, maka ketakutan pasti tak terhindarkan. Sebaliknya, jika ia paham, siapa dia sebenarnya, maka ketakutan akan secara alami sirna. Disinilah paham tentang egois sejati kiranya penting untuk dipahami.

Egois Sejati

Seorang egois sejati sangat memikirkan keselamatan dirinya. Namun, ia juga sadar, bahwa ia tidak akan bisa selamat, jika orang-orang sekitarnya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Ia amat sadar, bahwa keberadaan segala sesuatu itu saling bergantung sama lain. Jika orang ingin selamat, ia justru harus memikirkan kepentingan lingkungan sekitarnya.

Kepentingan masyarakat adalah kepentingan diriku juga. Jika masyarakat hancur, maka aku dan keluargaku juga hancur. Jika alam rusak, maka hidupku juga terancam. Inilah paham egois sejati.

Maka dari itu, jika anda adalah orang egois, jadilah seorang egois sejati. Yang justru berbahaya adalah orang egois yang setengah-setengah. Mereka tak sadar, bahwa kepentingan lingkungan sebagai keseluruhan juga merupakan kepentingan mereka. Akibatnya, mereka pun secara buta merusak alam dan hidup orang lain. Inilah hal  paling berbahaya di muka bumi sekarang ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.