Paris…

pic.pilpix.com
pic.pilpix.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Munich, Jerman

Mereka menyebutnya “Jumat tanggal 13”, seperti dalam film horror terkenal Friday the 13th. Salah satu kota terbesar Eropa tersebut dihantam serangan teror di berbagai tempat pada 13 November 2015. Sampai tulisan ini dibuat, lebih dari 140 orang mati terbunuh di Paris. Ketakutan dan kemarahan bagaikan udara yang kini dihirup tidak hanya oleh para penduduk kota Paris, tetapi juga oleh seluruh Eropa.

Lingkaran Kekerasan

Lingkaran kekerasan kini berlanjut, dan ini tak dapat dipisahkan dari brutalitas yang telah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat, dengan Prancis dan berbagai negara di Eropa lainnya sebagai sekutunya, sudah menyerang Irak dan menurunkan Sadam Hussein dengan paksa. Ini dimulai sejak serangan 2003 lalu. AS dan sekutunya juga menyerbu Libya dengan kekerasan militer yang brutal. Sampai detik ini, AS dan sekutunya terus mendukung gerakan teroris yang menyerang pemerintahan Assad di Suriah. Lanjutkan membaca Paris…

Iklan

Yang Tak Bernama, Yang Terlupakan

blogspot.com
blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Ada sekitar 6 juta orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi di kamp konsentrasi mulai dari 1936 sampai dengan 1945 di Eropa. Perang dunia kedua sendiri telah membunuh lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia. Kita tentu tahu nama-nama terkenal dari orang-orang yang pernah hidup di konsentrasi, seperti Viktor Frankl dan Primo Levi. Korban-korban lainnya tetap tak bernama, dan terlupakan dari aliran sungai sejarah.

Mulai dari Awal Oktober 1965 sampai dengan Desember 1966, anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi yang bekerja sama dengannya ditangkap dan dibunuh begitu saja. Jumlah korban sekitar 500.000 orang sampai 1,5 juta orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa orang ditahan sebagai tahanan politik. Kita di Indonesia tentu kenal dengan nama Pramoedya Ananta Toer, yang menjadi tahan politik dari peristiwa ini. Tapi bagaimana dengan ratusan ribu orang lainnya yang juga dibunuh, dan mayatnya dibuang begitu saja? Mereka tanpa nama, dan juga terlupakan dari ingatan kita sebagai bangsa.

Kita bisa menderet mayat-mayat tanpa nama dan yang terlupakan ini di berbagai peristiwa keji lainnya sepanjang sejarah peradaban manusia. Bencana alam juga melahirkan mayat-mayat tanpa nama ini, seperti bencana di Filipina beberapa waktu lalu. Mereka bukan orang-orang terkenal. Mereka hanya orang-orang biasa yang menjadi korban dari sebuah peristiwa, dan kini wajahnya hilang ditelan waktu, dan terlupakan. Lanjutkan membaca Yang Tak Bernama, Yang Terlupakan