Bahasa dan Kekuasaan

octavio paz
Google Images

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Pendidikan dalam Bahasa Inggris yang dijadikan fokus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) memang mengundang banyak masalah. (Kompas, 12 November 2010) Seolah yang terpenting di dalam proses pendidikan adalah bahasa yang digunakan, dan bukan isi maupun proses pembelajaran di kelas itu sendiri. Seolah yang menjadi fokus adalah kulit dari pembelajaran, dan bukan esensi dari pendidikan itu sendiri. Di dalam kelupaan akan esensi ini, dunia pendidikan kita justru semakin terjebak di dalam hegemoni bahasa dan kekuasaan yang terus membuat Indonesia menjadi bangsa kelas dua di mata dunia internasional.

Bahasa dan Hegemoni

Apa itu bahasa? Sekilas ini pertanyaan yang sangat mudah dijawab. Namun bahasa tidak pernah memiliki satu arti yang definitif. Di dalam filsafat bahasa, para filsuf masih berdebat keras tentang hakekat dari bahasa, serta berbagai aspek darinya yang dipengaruhi sekaligus mempengaruhi hidup manusia. Namun setidaknya saya menemukan empat pengertian mendasar.

Pertama, bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Keluarga dibangun di dalam kerangka bahasa, begitu pula masyarakat dan bangsa. Seperti yang dinyatakan Luhmann, esensi sistem adalah komunikasi, begitu pula kesadaran pribadi sampai kolektif tidak bisa lepas dari kontruk bahasa. (Luhmann, 1983) Bahasa adalah esensi komunitas.

Dua, para filsuf linguistik (filsafat bahasa) berdiskusi keras tentang relasi antara bahasa dan pikiran. Banyak sekali teori yang diajukan. Teori yang cukup menjadi acuan adalah, bahwa bahasa merupakan ekspresi dari pikiran. Pikiran sendiri memiliki eksistensi pada dirinya sendiri. Namun eksistensi itu menjadi terjelaskan dan komunikatif, ketika pikiran menemukan ekspresinya di dalam bahasa. Maka walaupun bahasanya berbeda, jika ide yang tertanam sama, maka proses penterjemahan menjadi mungkin.

Tiga, bahasa juga merupakan ekspresi kultur. Artinya orang bisa menemukan karakter diri dan komunitasnya dengan memahami struktur bahasa yang ia gunakan sehari-hari. Orang bisa bercermin dengan bahasanya. Orang bisa memahami konteks historis diri dan komunitasnya dengan melihat pada bahasa yang ia gunakan sehari-hari.

Tiga pengertian di atas masih bersifat netral dan fenomenologis. Kita belum melihat adanya relasi-relasi kekuasaan yang membentuk bahasa itu sendiri. Dalam arti ini bahasa adalah medium bagi kekuasaan. Siapa yang berkuasa ia akan menentukan bahasa apa yang digunakan, baik bahasa teknis sehari-hari, maupun bahasa dalam arti aturan main yang dipergunakan dalam berbagai hal.

Maka bahasa tidak pernah netral. Penggunaan bahasa Inggris juga tidak bisa dipisahkan dari fakta, bahwa negara-negara berbahasa Inggrislah yang memegang kekuasaan, dan kita hanya tunduk mengikuti aturan main mereka. Ironisnya sikap tunduk itu tidak disertai kemampuan berpikir kritis, tetapi justru dengan pasrah dan bangga. Kita adalah bangsa yang tunduk dan takluk dengan suka cita.

Sikap tunduk dengan suka cita itulah ciri khas hegemoni. Hegemoni memungkinkan penindasan dan penguasaan tidak dianggap sebagai suatu kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang wajar, dan bahkan perlu dijalankan dengan sikap bangga. (Wattimena, 2010) RSBI adalah contoh jelas dari hegemoni negara-negara berbahasa Inggris terhadap Indonesia. Di dalam hegemoni bahasa yang berkelanjutan tersebut, kualitas pendidikan kita semakin terpuruk, karena hanya berfokus pada kulit (bahasa teknis), sumber daya manusia bangsa semakin menurun kualitasnya, dan kita tetap akan menjadi bangsa kelas dua di mata dunia internasional.

Posisi Pendidikan

Saya tidak menyarankan kita menutup diri dari budaya Barat dan pengaruh negara-negara berbahasa Inggris. Sikap tertutup semacam itu tidak menghasilkan apapun, kecuali ketakutan dan kecurigaan satu sama lain. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk memposisikan sistem nilai pendidikan kita dalam dialektik dengan budaya asing. Artinya yang terjadi bukanlah proses hegemoni, melainkan proses percampuran yang sehat antara nilai budaya kita dengan budaya asing.

Di dalam proses “percampuran” atau sintesis ini, bahasa adalah elemen penting, walaupun tetap hanya merupakan satu elemen saja. RSBI boleh tetap menggunakan bahasa Inggris. Tapi fokus dari institusi pendidikan bukanlah melulu penggunaan bahasanya, tetapi proses dan isi pembelajaran yang nantinya akan membentuk manusia-manusia Indonesia yang unggul. Harus ada perpaduan yang dinamis antara penggunaan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan suasana akademik yang ingin diciptakan.

Gagal menghayati dinamika ini hanya akan membuat kualitas pendidikan di Indonesia semakin rendah.***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Pengajar Fakultas Filsafat di UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Gambar dari Google Images

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Bahasa dan Kekuasaan”

  1. Straight to the point! I like this!

    Problem internasionalisasi pendidikan kita adalah berlombaa-lomba ber-Inggris atau ber-asing ria, tanpa konsep jelas apa pendidikan yang mau diciptakan. Bahkan makin lama makin banyak siswa yang sok berbahasa Inggris tapi tak terlalu bagus, namun juga tak lancar berbahasa Indonesia. Dengan model demikian, mentalitas siswa dididik dari kecil untuk tidak menghargai realitas bahwa mereka lahir di Indonesia, dan dengan demikian akan sangat bersedia untuk menjadi pekerja bagi “internasional”

    Kita memang sama sekali tidak bijak bila anti internasionalisasi. Tapi untuk sukses dalam internasionalisasi, kita memerlukan konsep yang sangat jelas dan mantap tentang siapa kita dan apa posisi jelas kita. Dengan modela RSBI yang tidak jelas ini, kita justru melemahkan hal esensial ini.

    Disukai oleh 1 orang

  2. thx James. Hasil dari pendidikan setengah hati semacam ini adalah orang-orang yang terasing dari bangsanya sendiri, dan demikian terasing dari dirinya sendiri.

    Setuju bahwa kita perlu konsep yang jelas tentang apa dan siapa kita, terutama dalam bidang pendidikan. Namun apa dan siapa ini memang tetap harus terbuka dalam dialog dengan sistem nilai yang berasal dari pelbagai belahan dunia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.