Memahami Tragedi

Technorati Tags: ,,,
heysel_stadium.jpg
Google Images

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Indonesia kini berada dalam kepungan tragedi. Berbagai berita tentang bencana alam di Mentawai dan Merapi menusuk hati banyak orang. Belum lagi berita tingkah laku elit politik yang semakin hari semakin buruk, seperti komentar salah seorang petinggi DPR yang tidak mencerminkan kepekaan manusiawi pada pihak yang menderita. Tragedi membawa pada situasi frustasi, tidak hanya di tingkat individual, tetapi juga di level sosial.

Di dalam kaca mata Zizek, seorang filsuf kontemporer ternama sekarang ini, tragedi itu adalah the real, yakni situasi yang tak terkatakan, yang melepaskan kita dari jaring-jaring rutinitas yang menghanyutkan. Dalam arti ini setiap orang mengalami tragedi dalam keseharian hidupnya. The real mengajak kita memikirkan ulang, kemana kita akan menuju, dan apa yang harus kita lakukan. Panggilan the real adalah panggilan The Big Other kepada kita untuk mengkaji hidup kita lebih dalam. (Zizek, 1989)

Tragedi

Tragedi adalah peristiwa menyedihkan. Namun tragedi seringkali muncul secara alamiah, seperti yang terjadi di Merapi dan Mentawai. Manusia tak berdaya di hadapannya. Manusia hanya bisa menerima dengan lapang dada, sambil berusaha yang terbaik untuk mengurangi dampak kerusakan.

Disebut alamiah karena tragedi adalah bagian integral dari realitas itu sendiri. Tragedi adalah bagian dari kontingensi realitas. Kita bisa meramal kejadiannya, namun ramalan itu pun kontingen, yakni tidak pernah sungguh akurat. Kita bisa menanggulanginya semampu kita, namun kerusakan tidak dapat dihindarkan.

Pada titik ini tragedi adalah momen untuk menyadarkan manusia akan keberadaannya di alam ini. Manusia tidak sendiri maka ia tidak bisa seenaknya. Manusia perlu melepas arogansi, bahwa ia adalah mahluk paling mulia. Cara berpikir narsistik semacam itu perlu dilepas, jika kita mau hidup secara harmonis dengan entitas lain di dalam kosmos.

Tragedi mengajarkan pada kita, bahwa kita tak lebih dari setitik debu di dalam keluasan dan keagungan kosmos yang ada. Arogansi dan sikap narsis di hadapan alam tak lebih dari salah satu kebodohan manusia yang perlu ditinggalkan. Paradigma antroposentrik yang menempatkan manusia sebagai pusat teragung realitas di dalam agama, filsafat, maupun sains adalah paradigma kuno yang sudah tidak lagi pas dengan situasi kita sekarang.

Di sisi lain tragedi mendekatkan kita yang sebelumnya tidak saling mengenal. Tragedi melepas orang dari isolasi diri, dan mendorongnya untuk menjalin relasi dengan orang lain. Tragedi mengikatkan kita pada kolektivitas itu sendiri. Tidak hanya mendorong untuk membangun relasi, tragedi membuat kita sadar, bahwa eksistensi kita bergantung sepenuhnya pada orang lain.

Manusia modern adalah manusia yang terisolasi. Hasil dari isolasi adalah alienasi, atau keterasingan. Orang merasa terasing dengan tetangganya, dan bahkan dengan dirinya sendiri. Di tengah kota-kota gemerlap berisi jutaan penduduk, tingkat kesepian justru sangat tinggi.

Tragedi memecah semua itu. Tragedi melepaskan manusia dari keterasingan, dan mengikat dia pada komunitas yang memberinya makna. Tragedi mengantar manusia pada gerbang pencarian makna. Tragedi mengembalikan manusia pada situasinya yang paling dasariah, di mana ia tidak bisa hidup tanpa komunitasnya.

The Real

Pemikiran Zizek banyak dipengaruhi oleh psikonanalis Jacques Lacan, seorang pemikir asal Prancis pada abad ke-20. Bagi Lacan manusia selalu dikepung oleh tiga tata kultural dalam hidupnya, yakni tata imaginer, tata simbolik, dan the real itu sendiri. Tata imajiner menyadarkan manusia, bahwa ia selalu melihat dirinya dari kaca mata orang lain. Orang lain adalah cermin bagi dia untuk memahami dirinya sendiri. Diktum filsafat klasik kembali ditegaskan disini, aku menjadi aku, karena kamu. (Zizek, 1989)

Manusia juga hidup dengan tata simbolik. Tata simbolik adalah tata sosial yang memberikan identitas pada manusia itu sendiri, seperti masyarakat, agama, budaya, dan bahasa yang kesemuanya mendefinisikan manusia, serta apa artinya menjadi manusia. Tata simbolik memberikan kepastian, dan mengajak manusia untuk hanyut dalam rutinitas. Tata simbolik itu menjajah dan pada saat yang sama juga menjinakkan.

The real adalah patahan dari tata simbolik. The real itu tidak bisa dikatakan, tetapi bisa dirasakan. The real itu menolak segala bentuk simbolisasi, namun efeknya memecah rutinitas manusia. The real membawa manusia pada kesadaran, bahwa rutinitas dan normalitas itu sesuatu yang perlu terus dipikirkan dan dipertanyakan ulang. The real adalah peristiwa yang membangunkan manusia dari keterlenaannya menjalani hidup. (Zizek, 1989)

Dalam arti ini tragedi adalah the real. Luka akibat tragedi tidak pernah bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tragedi sebagai peristiwa menolak untuk disimbolisasikan. Tragedi adalah ketidakmungkinan dari realitas serta kehidupan itu sendiri.

Tragedi Merapi, Mentawai, korupsi berkepanjangan, UU yang tidak mencerminkan kecerdasan adalah hal-hal tragis yang memperpanjang tragedi yang dialami bangsa Indonesia. Luka serta kerusakan yang lahir dari tragedi tersebut jauh melampaui apa yang bisa dikatakan. Semua itu adalah the real yang memutus bangsa kita dari rantai rutinitas dan normalitas yang membuat terlena. The real mengajak kita untuk memikirkan, mempertanyakan, dan merumuskan ulang apa artinya menjadi bangsa.

Panggilan the real tidak bisa ditolak, sama seperti manusia tidak bisa lari dari tragedi. Di hadapan tragedi raksasa, kita hanya bisa menangis, karena menangis adalah salah satu hal yang membuat kita menjadi manusia. Menangis adalah the real itu sendiri. ***

Gambar dari Google Pictures

Penulis

Reza A.A Wattimena

Pengajar Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Memahami Tragedi”

  1. Tragedi mengingatkan kita bahwa perubahan adalah keniscayaan. Tragedi mengingatkan bahwa kita hidup dalam rekacipta nalar dan rasa, yang kadang membawa kita menjauh dari pemahaman atas bagaimana hidup itu sesungguhnya fana.

    Suka

    1. Saya jadi teringat Camus. Hidup ini pada dasarnya adalah kesia2an. Sikap heroisme muncul dalam niat dan tindakan untuk melampaui kesia2an itu. Ia menyebutnya perjuangan memaknai absurditas. Itulah inti sikap heroisme tragis. Saya pikir para korban bencana Mentawai, Merapi, dan berbagai bencana di seluruh dunia sudah cukup menghayati bagaimana absurditas hidup tersebut.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s