Mengupas Trauma Sosial

Upaya Mengupas Duri-duri Trauma

Pendekatan Fenomenologis atas Fenomena Trauma [1]

Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

“They who do not know history tend to repeat it”

Deborah Lisptadt

Semua trauma akibat peristiwa negatif dapat dicairkan dengan menajamkan kemampuan untuk mendengarkan, pengungkapan diri seutuhnya, dan pengambilan jarak terhadap apa yang telah lalu namun menyakitkan.

Pendahuluan

“Jemari mungil itu menari di atas kertas. Zulia Febrina, 10 tahun, dengan lancar menorehkan pena. Gadis kecil asal Lamno, Aceh Jaya, itu merangkai kata menjadi sebuah cerita. "Kami lari ke gunung ketika air laut naik. Saya takut sekali. Saya lihat banyak mayat-mayat. Saya teringat teman saya. Teman-teman maafin kami ya. Kami tak bisa membantu kalian karena kita semua sama-sama kena musibah," demikian sepenggal tulisan Febrina. Sore itu, Febrina bersama sejumlah anak-anak seusianya sedang ikut "belajar ceria" di tenda darurat Child Centre Aceh, yang didirikan Pusaka Indonesia, mitra UNICEF, di lokasi pengungsian Mata Ie, Aceh Besar. Setiap hari, Febrina dan sekitar 30-an anak lainnya belajar di tenda. Berbekal sebuah meja kecil, kertas dan alat tulis, mereka terkadang diajar membaca, menulis, dan menggambar. Hari itu, ketika seorang relawan menanyai kesediaan mereka menulis tentang gempa dan tsunami, anak-anak serentak berteriak, "bersedia". "Ini bagian untuk menghilangkan trauma mereka saat gempa dan tsunami itu," kata Vivi Sofianti Siregar, satu-satunya psikolog yang menangani anak-anak di posko Unicef di Mata Ie. Menurut Vivi, sebagian besar anak-anak yang berada di pengungsian mengalami trauma berkepanjangan pasca tsunami. "Sebagian besar mereka masih ketakutan dan sering mengingau saat tidur," kata psikolog asal Sumatera Utara itu.”[2]

Peristiwa pembantaian mereka-mereka yang dituduh PKI, pada tahun 1965 di Purwodadi, juga menjadi contoh fenomena peristiwa negatif yang traumatis. RPKAD di mobilisasi untuk masuk dan menangkap secara langsung oknum-oknum PKI, tidak peduli apakah mereka terlibat penculikan ketujuh jendral atau tidak, kemudian digiring seperti ternak, dan ditembak di dalam suatu situs hutan, yang nantinya akan menjadi kuburan massal. Mereka yang tidak dibunuh kemudian ditempatkan di dalam kamp-kamp kerja paksa, dan dibebaskan tak kurang dari belasan tahun kemudian. Tercatat tidak kurang dari lima ratus ribu orang menjadi korban pembantaian massal itu. Sampai sekarang, peristiwa itu tidak pernah diadili, atau bahkan diungkap ke publik dan diakui sebagai “dosa” negara. Peristiwa itu kini terlupakan, dan bukan hanya terlupakan, ia mengendap menjadi luka, dan melahirkan trauma.

Kekerasan, peperangan, konflik sosial dan bencana alam menjadi warna tersendiri dalam kehidupan umat manusia. Peperangan telah menjadi catatan dalam buku-buku sejarah yang harus dibaca bahkan dihafal oleh anak-anak saat sekolah. Padahal mereka tidak tahu, mengapa mereka harus menghafal kata-kata peperangan!!. Tapi memang terkadang perang tidak bisa dihindarkan, terkadang ia menjadi penyelesaian akhir.

Beberapa waktu yang lalu, konflik sosial yang bernuansa sara di Ambon, Poso, Sampit atau konflik di Aceh telah menjadi sumber berita yang memenuhi koran, majalah, tabloid dan menjadi berita radio dan televisi. Terkadang kita hidup dari bencana, dari perang, dari konflik, dari kekerasan atau dari kemiskinan. Bencana, kerusuhan, konflik sosial dan peperangan telah dirangkai menjadi sebuah kata, kalimat atau paragraf untuk menggambarkan kesedihan hanya untuk eksploitasi nama, simpati atau harga diri. Kadang kita melupakan akibat trauma lalu (perang, bencana alam, kerusuhan dan konflik sosial) dengan alasan sudah mereda, sudah stabil, sudah berdamai atau sudah membuat kesepakatan untuk tidak saling menyerang. Kita tinggalkan trauma mereka seolah sudah selesai, seolah sakit mereka sudah terobati, seolah orang tua mereka yang hilang sudah kembali, seolah anak mereka yang terbunuh telah bangkit lagi dari kematian atau seolah rumah-rumah mereka yang terbakar telah muncul kembali dari perut bumi. Kita terpaku pada trauma dan tidak memikirkan akibat yang lebih jauh lagi dari trauma itu sendiri.[3]

Jika kita secara lebih jauh mencoba untuk meneropong kondisi mental bangsa ini, kita akan melihat begitu banyak luka-luka kolektif, seperti diatas, yang masih bernanah dan belum tersembuhkan. Luka-luka kolektif itu adalah trauma, yang diakibatkan oleh belum terselesaikannya problem-problem masa lalu, dan kini menjadi torehan di dalam jiwa kolektif bangsa kita. Torehan semacam itu tentunya bukan tanpa akibat. Seperti layaknya individu yang memiliki trauma, dan kemudian mengalami neurotik, begitu pula suatu bangsa yang belum berdamai dengan masa lalunya, dengan traumanya, juga menghasilkan neurotik-neurotik tertentu, sebut saja neurotik kolektif. Neurotik kolektif semacam itu dapat kita temukan di dalam pola perilaku masyarakat kita yang agresif, destruktif, dan miskinnya upaya-upaya pencapaian otonomi individu. Ketiga aspek itu memang bukanlah akibat langsung dari trauma kolektif tersebut. Kita masih bisa menderetkan berbagai variabel di sampingnya untuk menganalisis tiga fenomena negatif tersebut. Akan tetapi, pada tulisan ini saya ingin mengajukan sebuah tesis, yakni bahwa abnormalitas kolektif yang diderita masyarakat kita berakar dari belum diadilinya berbagai bentuk kejahatan-kejahatan masa lalu, sehingga kejahatan-kejahatan itupun tinggal menjadi luka. Luka mengeras dan memasuki mental kolektif bangsa kita, dan kemudian menjadi trauma.

Bagaimana kita dapat memahamai trauma tersebut, dan kemudian berupaya untuk melampauinya? Untuk menjawab pertanyaan itu, tulisan ini akan saya bagi dalam enam bagian. Bagian pertama akan mencoba mengurai apa yang dimaksud dengan trauma, serta bagaimana kaitanya dengan timbulnya dendam dan prasangka. Bagian kedua mau menyoroti para pengerubung korban, namun menderita trauma, dengan analisis Ellias Canetti tentang massa yang meratap. Bagian ketiga ingin mendaratkan definisi trauma tersebut untuk menyoroti problematika di Indonesia.. Bagian keempat merupakan alternatif solusi yang mungkin untuk mengupas duri-duri trauma. Di samping alternatif solusi, bagian kelima ini mau mencoba menemukan makna di balik penderitaan, atau trauma, yang dialami oleh survivor. Tulisan ini akan ditutup dengan tanggapan kritis.

Trauma, Dendam, dan Prasangka

Apa itu trauma? Trauma adalah bekas dari suatu peristiwa negatif di masa lalu. Di dalam peristiwa negatif, manusia bukanlah tuan atas dirinya sendiri. Peristiwa negatif tersebut dapat dianalogikan seperti hadirnya suatu monster yang menakutkan atau membuat sedih, dan menyeret manusia ke dalam kesedihan dan kemenakutkannya tanpa ia mampu mengambil jarak dan mengendalikan dirinya. Perang, bencana, penindasan, pemerkosaan, dan tragedi hidup adalah contoh dari peristiwa negatif itu. Memang, peristiwa negatif itu adalah bagian dari masa lalu, tetapi luka traumatis yang ditinggalkan peristiwa itu tetaplah ada. Trauma adalah semacam distorsi yang membekukan sebuah peristiwa negatif, dan kemudian menghadirkan kembali dengan menekankan sisi jahatnya. Oleh karena itu, trauma itu bagaikan seorang tiran dari masa lalu yang terus menerus menteror masa kini seseorang.

Trauma dalam konteks tulisan ini bukanlah trauma pribadi, melainkan trauma kolektif. Trauma semacam ini diderita suatu komunitas, suatu bangsa, ataupun kelompok penganut agama tertentu. Di dalam psikologi massa, peristiwa kolektif negatif itu diidentikan dengan psikosis massa. Psikosis massa menekan individu sampai tiada, dan membuat kolektifitas menjadi raja. Peristiwa negatif itu, dimana individu tiada dan kelompok menjadi segalanya, memang telah lewat, tapi bekas kolektifnya masih ada. Salah satu bekas kolektif itu adalah prasangka. Prasangka adalah bagian dari trauma kolektif, yang memangkas kemampuan berkomunikasi kedua belah pihak untuk mencapai saling pengertian. “Prasangka itu sendiri”, demikian Budi Hardiman, “adalah bagian dari karakter massa”.[4]

Salah satu karakter massa, menurut Hannah Arendt, seorang filsuf yang pernah menulis tentang pengalaman negatif dalam rezim NAZI Jerman, adalah cepat lupa. Menurutnya, massa cepat melupakan tanggungjawabnya, karena rasa tanggung jawab menjadi tumpul dihadapannya.[5] Sebenarnya, ada ciri yang lebih tepat jika kita mau mencirikan karakter massa, yakni ketidakberpikiran. Heideggerlah yang memperkenalkan ciri ini.[6] Menurutnya, massa tidak pelupa, melainkan tidak berpikir, dan di dalam ketidaberpikirannya itulah massa menciptakan prasangka.

Lalu, dapatkah suatu kelompok manusia menghilangkan bekas traumatis yang melekat di dalam ingatan kolektifnya? Ketakutanya, kebenciannya, dan rasa malunya akibat peristiwa negatif traumatis tetap menjadi bagian dari identitas kelompok itu. Pada satu sisi, identitas kolektif juga terbentuk dari rasa trauma tersebut, sehingga massa cenderung tidak ingin melupakan trauma itu, melainkan mengulang-ulangnya terus menerus. Medium untuk mengulang terus menerus itulah yang disebut dengan narasi. Di dalam narasi, trauma tersebut ditafsirkan, dan dengan cara itu pula trauma juga dapat direlakan. Narasi-narasi tersebut dapat dilakukan dengan studi sejarah, dokumentasi peristiwa negatif, pembangunan monumen-monumen, dan sebagainya. Di dalam narasi-narasi semacam itu, peristiwa negatif tidak hanya berusaha dihadirkan kembali, tetapi juga direlakan dan dilampaui. Justru, peristiwa negatif bisa direlakan dan dilampaui dengan mengingat dan mengakuinya kembali sebagai peristiwa negatif. Oleh karena itu, bekas traumatis tidak bisa dilampaui dengan dilupakan, melainkan dengan tindak merelakan. “Merelakan,” demikian tulis Budi Hardiman, adalah “melampaui mengingat dan melupakan”.[7]

Massa yang Meratap

Sebelum kita lebih jauh masuk dengan upaya-upaya konkrit mencairkan trauma, ada baiknya kita melihat sejenak analisis yang dibuat Canetti tentang massa yang meratap, yang pada hemat saya menggambarkan secara fenomenologis apa sesungguhnya yang dialami oleh survivor. Di dalam karyanya yang berjudul Crowds and Power, Canetti mau merumuskan sekaligus menjabarkan berbagai kualitas yang ada pada massa. Ia melihat ada berbagai tipe massa, seperti massa yang menyerang, massa yang terbuka, masa yang berlipat, dan, yang cocok dengan konteks trauma, massa yang meratap.[8] Akan tetapi, Canetti tidak menempatkan massa yang meratap dalam kategori crowd, melainkan pack, yakni kumpulan.

Massa yang meratap disini diartikan sebagai kumpulan orang yang mengerubungi seorang korban, ketika korban tersebut tengah berhadapan dengan kematiannya sendiri. Fakta bahwa orang yang dikerubungi tersebut akan mati membuat suasana sekitarnya menjadi ganjil, sedih, dan penuh air mata. “Tangisan dan jeritan memilukan terus berlanjut”, demikian tulis Canetti, “matahari terbenam, kegelapan menutupi tempat itu, dan malam itu juga orang itu mati.”[9] Suasana ganjil dan menakutkan akibat kematian orang itu tidak selesai ketika orang itu mati, melainkan berlanjut terus, dan menciptakan semacam trauma di tempat orang itu meninggal. Trauma tersebut tampil dalam bentuk ketakutan atas roh orang yang telah mati tersebut, yakni orang yang menjadi korban ketidakadilan, korban kejahatan dan kemunafikan. Ketakutan akan balas dendam membuat orang-orang yang tadinya mengerubungi korban tersebut meninggalkan tempat itu, dan selamanya tak akan kembali. Peristiwa itupun terlupakan, tetapi tidak sepenuhnya terlupakan, karena ia telah menjadi mengendap menjadi trauma.

Yang menarik perhatian Canetti dari massa yang meratap itu adalah rasa keganjilan yang menyelubungi orang-orang pengerubung korban tersebut. Keganjilan itu bukan tidak mengenakkan, melainkan sebaliknya: keganjilan itu membangkitkan gairah. “Yang paling penting disini adalah” tulis Canetti, “bangkitnya gairah itu sendiri”.[10] Banyak rasa gairah yang ganjil dialami oleh mereka yang terlibat pengerubungan korban itu. Para penonton, massa yang meratap, itu melihat korban tidak melulu dengan perasaan sedih, melainkan juga bergairah. Pemuda Ansor dan prajurit yang melakukan eksekusi massal di Purwodadi terhadap mereka-mereka yang dituduh PKI juga merasakan hal yang sama. Momen penembakan serta penguburan korban tidak hanya diikuti dengan perasaan sedih serta takut, tapi juga bergairah, suatu sensasi adrenalin melihat manusia dibantai oleh manusia lain. Kita pun juga mengalaminya, terutama ketika melihat korban kecelakaan lalu lintas tergelepar di pinggir jalan menanti pertolongan yang tak kunjung datang. Kita pun seringkali hanya asyik menonton, juga bersedih, tetapi sekaligus bergairah.

Memang, Canetti cenderung melihat manusia tidak dalam keluhurannya untuk berempati dan bersimpati dalam situasi itu, tetapi melihat kegembiraan hewani manusia melihat sesamanya dibantai. Hemat saya, tesis ini juga memiliki kebenaran, seperti yang sudah dicontohkan diatas. Kita selalu bergairah melihat kematian, apalagi para wartawan yang langsung mengerubungi Lady Diana ketika ia mengalamai kecelakan yang mengakibatkan kematiannya. “Semua kegairahan itu muncul”, demikian Canetti, “ketika terdengar berita bahwa kematian berada di dekat kita.”[11] Semakin parah korban mengalami lukanya, semakin bergairah juga kita mengamatinya. Sekali lagi, kegairahan itu tidak murni, ia bercampur baur dengan rasa jijik, rasa takut, sedih. Canetti berpendapat bahwa kecampurbauran perasaan ketika berhadapan dengan mayat yang berdarah tersebut merupakan insting alamiah manusia. Kematian yang tenang terlalu membosankan bagi massa yang meratap.

Lalu, dimana letak kaitannya dengan fenomena trauma? Sejauh saya menangkap intensi Canetti, traumanya terletak rasa bergairah atas darah dan penderitaan orang lain, yang mungkin juga akan terjadi kepada kita, ketika kita berada di posisi korban. Bayangkan bagaimana rasanya ketika kita tergelepar di pinggir jalan karena tabrakan dasyat di jalan tol, dan ketika kita tergelepar, massa yang meratap mengerubungi kita. Alih-alih memberikan pertolongan, mereka hanya menonton, “menikmati” darah yang tertumpah di depan mata mereka. Memang, ada ketakutan, ada juga kesedihan, tetapi yang paling menonjol, hemat Canetti, adalah gairahnya, sensasinya. “Esensi dari massa yang meratap adalah kemampuanya memahami orang yang terkapar di depan matanya, selama kematian belum menjemput orang yang terkapar itu.”[12] Pengetahuan akan kemungkinan kita, sebagai korban, diperlakukan seperti itu menciptakan trauma tersendiri. Peristiwa dimana orang beramai-ramai menonton korban yang terkapar membekas di kepala kita. Secara tanpa sadar, kita mengulang-ulang peristiwa itu di dalam kepala kita, sehingga menancapkan semacam diktum di kepala kita: jangan menjadi korban!

Penembakan anggota PKI di Purwodadi juga mencetak trauma yang sama bagi mereka yang menyaksikannya. Kejadian itu terulang-ulang di kepala massa yang meratap, sehingga mereka menegaskan ke dalam diri mereka sendiri: aku bukan PKI! Semua PKI harus dibunuh! Canetti menambahkan berbagai contoh keadaan, yang mungkin dialami seorang korban yang terkapar. “Tubuhnya pun dipindahkan secara kasar. Setiap jejak yang menggambarkan dirinya dihapus, peralatannya, kamarnya dan semua yang menjadi miliknya, bahkan pondok tempat ia tinggal selama hidupnya juga dihancurkan dan dibakar. Dalam sekejap mata, semua orang telah menjadi musuhnya. Ia telah menjadi berbahaya…”[13] Apa yang dilukiskan Canetti disini sungguh-sungguh terjadi. Letnan Kolonel Heru Admojo, seorang perwira AU pada tahun 1965, dituduh terlibat dengan PKI, dan langsung dipindahkan ke Pulau Buru. Ia dituduh sebagai PKI karena tidak mau bekerja sama dengan Suharto, pada waktu itu, untuk menjatuhkan Sukarno. Prinsip kejujurannya telah membuat dia menjadi tahanan politik selama lima belas tahun di Pulau Buru. Sebulan setelah ia dipindahkan ke Pulau Buru, rumahnya ditimpuki batu oleh tetangganya sendiri. Anak-anaknya diteror oleh teman-teman sekolahnya. Hanya dalam waktu sebulan, semua orang menjadi musuhnya. “Semua tanda dan bekas kebaikannya,” demikian Canetti, “tidak dapat menyelamatkannya”.[14]

Orde baru bermain dengan trauma ini. Rasa bergairah yang timbul ketika mereka membantai dua juta anggota PKI tampak semakin memperkuat kedudukan dan status mereka sendiri. Orde baru membutuhkan rasa gairah akibat pembantaian itu, terutama untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Mereka mengulang-ulang peristiwa itu di dalam narasi bahaya laten komunisme, yang tertuang di dalam buku-buku, film-film, slogan-slogan yang mereka propagandakan. “Semuanya akan menjadi baru”, tulis Canetti, “dan dimulai dengan rasa bergairah kolektif (akibat pembantaian-Reza).”[15]

Konteks Indonesia

Tidak bisa dipungkiri lagi, bangsa Indonesia terbentuk di dalam trauma. Bukan hanya itu, dia pun hidup dengan trauma. Apa yang disebut Indonesia sebenarnya juga merupakan hasil dari berbagai bentuk peristiwa negatif. Trauma pertama dan terutama yang dialami bangsa Indonesia adalah kolonialisme. Institusi politis dan kultural kita telah mengalami begitu banyak peristiwa negatif yang traumatis akibat penjajahan. Penjajahan tersebut bukan sekedar eksploitasi sumber daya demi kepentingan ekonomi, melainkan juga pengerdilan mental dan intelektual. Akan tetapi, trauma tersebut pun yang juga membentuk identitas kita sebagai bangsa, yakni bangsa Indonesia. Menurut Budi Hardiman, bekas traumatis tersebut tidak tampak dalam kebencian terhadap bangsa kulit putih. Sebaliknya, orang kita justru lebih percaya terhadap orang kulit putih tersebut daripada bangsanya sendiri. Ketergantungan akibat penjajahan pun diperpanjang secara kultural. Salah satu bentuk pengerdilan intelektual adalah mitos bahwa si kulit putih memiliki kemampuan yang lebih daripada si kulit coklat, maka itu ia layak memegang posisi pimpinan. Itulah prasangka yang masih tersisa hingga kini. Prasangka, yang terwujud di dalam ketidakpercayaan diri, itupun tidak hanya tinggal prasangka, tetapi juga menjadi kenyataan. Yang traumatis adalah ketidakpercayaan diri itu. Ketidakpercayaan diri itu merupakan asal muasal dari sikap takut untuk bersungguh-sungguh. Pengerdilan mental semacam inilah yang merupakan bekas traumatis yang diciptakan oleh penjajahan ke dalam mental bangsa kita.

Rupanya, bekas traumatis itu tidak hanya berhenti di titik tersebut. Pengejaran atas oknum-oknum yang dituduh PKI adalah bentuk traumatis yang paling berdarah dan kejam setelah kolonialisme. Yang merupakan bentuk trauma sebenarnya bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan bekasnya yang tercetak di dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia, atau lebih tajamnya lagi pada kemungkinan akan terulangnya lagi peristiwa semacam itu. “Ketakutan akan ketakutan”, demikian Budi Hardiman, “lebih menakutkan dan melumpuhkan daripada ketakutan lainnya”.[16] Rezim orde baru mencoba mengulang-ngulang bekas traumatis tersebut dengan menekankan bahaya laten komunisme. Ketakutan rezim Orde Baru atas kebangkitan komunisme ditularkan melalui narasi kepada rakyatnya. Bekas traumatis yang ditinggalkan oleh peristiwa pengejaran dan pembantaian itu berupa ketidakyakinan diri bangsa ini untuk bisa menanggulangi sejarahnya sendiri. Ketidakyakinan inilah yang terus menerus diulang-ulang melalui narasi oleh rezim Orde Baru.

Ketidakmampuan untuk menerima sejarah mereka sendiri juga, pada akhirnya, akan membuat mereka didikte terus menerus oleh kekejaman masa silamnya. Didikte terus menerus oleh masa silamnya yang kejam itulah trauma. Memang, suatu peristiwa tidak akan pernah terulang lagi, karena ia adalah suatu keunikan tersendiri. Akan tetapi, adanya trauma kolektif justru memungkinkan peristiwa negatif tersebut terulang lagi. Keterulangan itu dapat dilihat pada kesamaan pola yang terdapat di dalam peristiwa-peristiwa negatif traumatis, seperti Peristiwa Priok, Dili, tragedi Juli 1996, pembantaian di Aceh, sampai pada kerusuhan Mei 1998. Melalui semua peristiwa negatif itu, orang-orang yang hidup di dalam masyarakat kita lagi dan lagi dibuat tidak mampu menerima perbedaan etnis maupun politis. Dengan kata lain dapatlah dikatakan bahwa trauma mengulang dirinya sendiri, jika ia tidak direlakan. Oleh karena itu, konflik-konflik etnis-separatis dan religius sesungguhnya berkaitan erat dengan bekas-bekas ingatan kolektif traumatis tersebut. Keterkaitannya terletak pada terciptanya semacam perilaku mekanis bangsa ini, yakni “musuh kelompok haruslah menjadi musuh individu, dan musuh pemimpin harus menjadi musuh kelompok”.[17] Ada dua hal traumatis yang berkaitan erat dengan bekas luka kolektif negatif bangsa ini, yakni ketidakmampuan menerima yang lain dalam keberlainannya, dan ketidakberdayaan individu dihadapan diktum kelompok. Kedua hal ini seakan menjadi sesuatu yang permanen dan mekanis di dalam kesadaran kolektif bangsa kita, sehingga ia mengulang-ulang terus trauma dan mereproduksinya terus menerus dalam realitas.

Prasangka yang timbul akibat trauma tidak bisa dilampaui dengan menghantamnya dengan prasangka yang baru. Prasangka adalah semacam perilaku mekanis di dalam kesadaran kolektif, yang hanya dapat dilampaui melalui komunikasi dengan yang berbeda dalam segala keberbedaannya. Keberanian untuk berkomunikasi ini hanya dipunyai oleh seseorang yang mampu berdiam di dalam keheningan, reflektif, dan mengambil jarak dari prasangka yang dirasakannya. “ Latihan mendengarkan di dalam kesunyuian,” demikian Budi Hardiman, “mengumpulkan diri dan membiarkan yang lewat”.[18] Itulah syarat utama dari pencairan trauma.

Langkah-langkah yang sama juga dapat dipergunakan untuk mencairkan trauma kolektif. Pendidikan dan pengasuhan sejak dini harus memampukan orang untuk bersikap dewasa dengan mampu mendengarkan suara hati sendiri, dan bukan melulu suara kelompok. Disini diperlukan keheningan melalui sikap diam, bukan membisu, karena orang membisu namum sesungguhnya berbicara di dalam hatinya, sehingga tidak pernah sungguh-sungguh diam. Berdiam mengandaikan pemahaman, kata Heidegger.[19] Belajar untuk diam dapat dimulai dengan belajar dari masa silam, yakni melawan proses kelupaan dan penglupaan sejarah. Ketidakmampuan untuk memahami biasanya ditandakan dengan sikap ribut dan gaduh. Terapi kolektif yang paling efektif untuk mencairkan trauma adalah membiarkan masyarakat bercerita di dalam ruang publik mereka tentang sejarahnya sendiri, sehingga mereka semakin memahami dan yakni atas dirinya sendiri. Identitas bersama yang sehat mengandaikan adanya kejujuran. Akhirnya, waktulah yang akan menyempurnakan prosesnya. Semua trauma akibat peristiwa negatif dapat dicairkan dengan menajamkan kemampuan untuk mendengarkan, pengungkapan diri seutuhnya, dan pengambilan jarak terhadap apa yang telah lalu, namun menyakitkan.

Tak terbayang kesulitan yang dipunyai korban, ketika ia berupaya membiarkan yang lewat namun menyakitkan itu lewat. Langkah pertama adalah pengakuan, yakni mengakui suatu peristiwa negatif sebagai peristiwa negatif, dan trauma sebagai trauma. Proses melepaskan yang menyakitkan namun menempel di dalam benak kolektif memang menyakitkan. Kendala yang paling kasat mata adalah bahwa pemerintah yang memimpin bangsa ini terus menerus menghalangi identifikasi luka-luka sejarah itu. Penghalangan tersebut mungkin sekarang tidak dalam bentuk langsung, namun dalam bentuk pembiaran dan penelantaran para survivor, sementara para perpetrator tetap dibiarkan bebas. Pemerintah yang eksis takut, jika proses identifikasi peristiwa-peristiwa negatif di dalam sejarah itu akan menggoyahkan kekuasaanya, sementara masyarakat juga takut untuk mengaduk-aduk masa silamnya. Dalam cengkraman ketakutan, yang lewat namun menyakitkan tidak akan pernah sungguh lewat.

Menggapai Keterbukaan Melalui Mendengarkan

Korban yang mengalami trauma terus mengulang mimpi buruknya tersebut bukan hanya karena ia mau terus mengulang, tapi karena ia tidak mampu untuk lepas dari mimpi buruk tersebut. Di dalam pikirannya, ada distorsi yang terus menerus mengganggu akal sehatnya, dan mencegahnya untuk berdiri utuh dan otonom sebagai individu. Trauma telah membuat seseorang menjadi cacat dalam hal memaafkan, dan memompa kesadaran seseorang untuk berpikir bahwa satu-satunya tindakan yang paling masuk akal adalah membalas dendam. Tindakan yang paling masuk akal itulah sebenarnya yang merupakan hambatan besar bagi proses memaafkan. Hannah Arendt menyebut dendam sebagai ketidakmampuan untuk memulai sesuatu yang baru.[20] Ketidakmampuan itu tentunya tidak mutlak. Dalam arti, selalu ada alternatif tersedia bagi mereka yang terjerat trauma, yakni membiarkan dirinya matang oleh tempaan waktu. Kematangan itu pun bukan sesuatu yang terberi begitu saja, melainkan lewat berbicara, bercerita, baik itu kepada diri sendiri, ataupun kepada orang lain.[21] Dengan berbicara atau bercerita kepada orang lain tentang pengalaman negatif itu, maka akan tercapai pemahaman. Pemahaman atas pengalaman negatif akan mengintegrasikan seluruh sisi negatif pengalaman itu ke dalam keseluruhan diri, sehingga akhirnya membentuk identitas. Budi Hardiman dengan baik sekali menulis, “bercerita dapat menjadi perjalanan menuju merelakan yang lewat”.[22]

Terapi mengkomunikasikan pengalaman negatif lewat percakapan itu dapat juga diterapkan di tataran kolektif. Berbagai bentuk prasangka terhadap etnis minortias, agama minoritas, ataupun segala elemen “yang lain” dalam masyarakat merupakan bentuk distorsi kesadaran, seperti sudah dijelaskan diatas. Distorsi tersebut ditambah lagi dengan proses globalisasi ekonomi pasar, demokrasi, serta berkembang pesatnya teknologi informasi. Manusia, yang kehilangan otonominya akibat hantaman peristiwa negatif, adalah korban, atau pihak yang kalah dari distorsi ini. Salah satu terapi yang cocok digunakan untuk mengupas duri-duri trauma itu adalah, seperti ditulis oleh Fritz Leist, diam, ketenangan hati, dan merelakan.[23] Yang dimaksud diam bukanlah membisu, melainkan mendengarkan di dalam kesunyian. Di dalam pengaruh distorsi trauma akibat pengalaman negatif, manusia tidak mendengarkan, melainkan dipaksa untuk mendengar hal-hal yang telah melukainya, kemudian dipaksa juga untuk percaya. Prasangka, yang adalah buah-buah dari distorsi semacam ini, dapat dikenali sebagai prasangka, ketika kita mendengarkan secara seksama. Oleh karena itu, agar dapat melepaskan diri dari jerat trauma dan prasangka, orang harus dapat mendengarkan secara seksama. Itulah perlunya diam. “Diam,” tulis Budi Hardiman, “tak lain daripada memuncaknya bahasa, kulminasi dari komunikasi”.[24] Diam itu mahal dan sulit didapat, terutama di dunia yang bising dengan hal-hal yang serba di permukaan.

Diam hanya dapat diraih bila hati telah menjadi tenang, dan rasa tenang di dalam hati hanya dapat diraih jika orang mau mendengarkan. Di dalam proses mendengarkan, orang melakukan pengumpulan dirinya yang telah terdistorsi oleh berbagai trauma peristiwa negatif, dan kegaduhan massa. Proses pengumpulan diri yang kontingen akan menciptakan ketenangan hati. Momen ketenangan hati itu adalah sesuatu yang pasif, ia tidak bisa dibuat, melainkan dibiarkan terjadi. Syarat utama dari ketenangan hati adalah keterbukaan. Di dalam momen ketenangan hati, survivor mengafirmasi sekaligus menegasi traumanya. Dia mengafirmasi, karena trauma tersebut ikut membentuk identitas dan jati dirinya. Dia menegasi, karena trauma tersebut dapat menghalangi perkembangan jati diri dan identitasnya. Proses negasi tersebut dapat dilakukan oleh seorang korban trauma dalam dua cara, pertama, ia mencari keheningan, mendengarkan dirinya secara seksama, menggapai ketenangan hati melalui sikap terbuka, dan mengintegrasikan trauma tersebut ke dalam keseluruhan dirinya. Kedua, ia melarikan diri ke dalam hiruk pikuknya dunia massa. Budi Hardiman menempuh langkah yang agak berbeda, tapi mirip dengan yang pertama. “Ketercerai-beraian”, demikian tulisnya, “hanya dapat dikumpulkan kembali lewat membiarkan yang telah lewat, lewat langkah-langkah panjang dari kesabaran”.[25]

Trauma memang menghasilkan dendam, dan dendam, sesungguhnya, adalah bentuk dari ketidakberdayaan. Bentuk ketidakberdayaan tersebut, katakanlah, hanya dapat dinetralisir dengan sikap merelakan. Merelakan adalah membiarkan yang telah terjadi itu lewat. Konteks dunia modern, dimana manusia selalu berambisi untuk menjadi tuan atas alam dan dirinya sendiri, justru sangat mempersulit proses “membiarkan yang telah terjadi itu lewat”. Yang harus diingat adalah bahwa merelakan bukanlah menyerah, melainkan suatu upaya untuk memutus dendam dan kekerasan. Proses penetralisiran trauma hanya dapat dimulai dengan momen mendengarkan. Artinya, komunikasi tidak dilakukan dengan membalas kata-kata dengan kata-kata, karena, selama orang masih dibenamkan di dalam prasangka kolektif, kata-kata akan keruh dengan dendam dan emosi, sehingga cenderung irasional. Cara yang sebaiknya ditempuh adalah mengambil sikap diam, dan mendengarkan di dalam kesunyian. Di dalam sikap mendengarkan, orang menjadi dekat dengan jati dirinya sendiri. Ia akan berhasil mengumpulkan diri, dan akhirnya memasuki ketenangan hati. Dengan ketenangan hati, distorsi hati nurani yang disebabkan oleh trauma dipecah, dan hubungan korban dengan prasangka-prasangkannya pun menjadi dingin.

Mencoba Menemukan Makna di Balik Trauma

Apakah trauma memiliki makna? Yang pertama-tama harus disadari adalah bahwa di dalam hantaman peristiwa negatif traumatis pun, manusia selalu bisa mencari makna di baliknya. Viktor Frankl adalah seorang filsuf-psikolog yang berupaya merumuskan dan menegaskan tesis semacam itu. Apakah benar bahwa di dalam penderitaan, di dalam situasi negatif sekalipun, seperti perang, bencana alam, teror, terdapat makna yang dapat dicecap oleh para survivor? Di dalam bukunya yang berjudul A Man Search for Meaning, Frankl berulang kali berbicara tentang makna sebuah penderitaan, nilai dan arti sebuah penderitaan, dan apa arti menderita secara bermakna. Akan tetapi, jika ia berbicara tentang “makna sebuah penderitaan”, itu tidak berarti bahwa penderitaan itu, pada dirinya sendiri, memiliki makna, melainkan sikap dan disposisi batin manusia terhadap penderitaan itulah yang memungkinkan terciptanya makna di tengah peristiwa negatif sekalipun. Penderitaan dan trauma akibat peristiwa negatif, jika dihadapi secara positif dan konstruktif, akan membuat jiwa seseorang menjadi matang tertempa. “Penderitaan,” demikian tulis Frankl, “ membuat manusia visioner dan membuat dunia transparan… terlempar ke dalam palung tanpa dasar manusia memandang ke kedalaman dan sesuatu yang menopangnya di dalam dasar tak berdasar itu. Itulah struktur tragis keberadaannya…”[26] Tesis Frankl tersebut dapat berbunyi nyaring, jika kita menempatkan penderitaan, peristiwa negatif, sebagai sarana bagi suatu tujuan, yakni jika pengalaman akan penderitaan dan peristiwa negatif itu sebagai pembentukan jati diri dan keutamaan. Akan tetapi, tak seorang pun, maupun ia sesungguhnya adalah orang yang paling kuat, yang mau mengalami penderitaan semata-mata karena penderitaan itu bermakna.

Peristiwa-peristiwa seperti keterpurukan ke dalam suatu penyakit yang belum ditemukan obatnya, kehilangan seseorang yang berarti bagi kita, jatuh ke dalam kemiskinan, adalah tidak masuk akal, jika kita memikirkan semuanya sebagai sesuatu yang bermakna. Di bawah dikte nasib buruk, kita juga sudah menemukan diri kesulitan untuk bersikap secara tepat terhadap nasib buruk tersebut. Dalam pelukan penderitaan, kita cenderung untuk menisbikan makna-makna kehidupan kita lainnya. Penderitaan, sebagai akibat dari berbagai peristiwa negatif, hampir tidak mungkin untuk dipandang sebagai sarana pembentukan jati diri dan keutamaan, melainkan lebih sebagai suatu momen kehidupan, dimana manusia kerap mengalami kejatuhan dan tidak berdaya. Dengan demikian, hampir tidak ada jalan yang memungkinkan untuk secara praktis memberi penderitaan unsur positif, ataupun makna.

Akan tetapi, dicelah kecil kemungkinan dibalik ketidakmungkinan itulah muncul harapan. Frankl cukup beralasan, ketika ia mengatakan bahwa sikap yang tepat terhadap penderitaan ternyata dapat menghadirkan makna. Sikap berani untuk menderita, yang disarankan oleh Frankl, memperoleh maknanya bukan dari penderitaan, melainkan “dari kehidupan sebagai keseluruhan yang memungkinkan sikap itu”.[27] Jika, dan hanya jika, kita menghargai kehidupan kita sebagai sebuah nilai tersendiri di dalam penderitaan, kita akan memperoleh kemampuan dan keberanian untuk menderita, dan juga meraih pemahaman baru, sehingga bidang-bidang kehidupan kita yang lainnya tidak didistorsi kejamnya suatu peristiwa negatif dalam bentuk trauma.

Penderitaan adalah suatu bentuk kehilangan makna. Pengalaman makna di dalam penderitaan hanya mungkin, jika orang mampu mengorientasikan dirinya pada fragmen-fragmen kehidupan lainnya. Dengan kata lain, di tengah situasi penderitaan, seseorang hanya mampu bersikap tepat, sehingga dapat memperoleh makna dan bertahan, jika ia mampu mempertahankan nilai dan orientasi utamanya pada kehidupan di dimensi lain yang dijalaninya. Namun, apa itu penderitaan tetap tak terjelaskan. “Keuntukan penderitaan”, demikian tulis Budi Hardiman, “tidak dapat begitu saja dijawab dengan ke-bagaimana-an penderitaan, karena kedua pertanyaan itu menyentuh di dataran yang berbeda: dataran metafisis dan etis-pragmatis.”[28] Mungkin, kita bisa semakin dewasa dan matang dengan ditempa oleh penderitaan, tapi makna imanen ontologis dari penderitaan tersebut tetap tak terbuktikan. Yang dapat dibuktikan adalah bahwa kita dapat bersikap etis secara lebih baik terhadap penderitaan-penderitaan yang kita alami.

Bagi Frankl, manusia adalah mahluk yang selalu mampu dan bersikap lain daripada yang diharapkan, ketika ia ditatapkan pada suatu kondisi tertentu. Pengandaian antropologis Frankl adalah manusia yang sangat terisolir, yang seakan-akan dapat menemukan makna hidup dari sumber eksistensialnya sendiri, dan kemudian menemukan makna dari sebuah penderitaan. Manusia tersebut juga adalah mahluk yang melalui kekuatan tekadnya mampu mengubah kondisi eksternal maupun internal dirinya. Dalam arti tertentu, pengandaian antropologis ini cukup berlebihan. Di dalam kehidupan nyata sangat sulitlah ditemukan tipe manusia seperti itu. Ada batas-batas tertentu, kondisi-kondisi internal eksternal tertentu, yang tidak dapat dilampaui oleh manusia. Kemampuan manusia untuk hidup dan terus bertahan hidup dapat dipangkas dalam sekejap mata di bawah tirani kesedihan yang mendalam, depresi jiwa, dan berbagai akibat peristiwa negatif lainnya.[29] Rasa bersalah yang bersarang di dalam jiwa dapat merusak jiwa seseorang, sehingga seakan-akan ia lumpuh secara mental. Seringkali, orang yang sedang menderita tidak membutuhkan seorang teman yang mampu menantangnya secara argumentatif logis rasional, melainkan mendampinginya secara tulus, menunjukkan solidaritas kepadanya. Dengan berselubung solidaritas dan perhatian yang tulus, seseorang yang menderita bisa didorong untuk terus menerus mencari dan menemukan sikap yang tepat terhadap penderitaan. Mungkin setelah itu, ia akan menemukan makna.

Alternatif : Dealing With Burdened Past

Tidak ada maaf tanpa janji dibaliknya bahwa perilaku negatif itu tidak akan terulang lagi. Proses detraumatisasi hanya dapat ditempuh melalui melampaui dengan merelakan, namun merelakan hanya dapat ditempuh, jika para perpetrators yang bertanggung jawab telah diadili, dan mendapat penghukuman yang sepantasnya atas tindakan mereka.

Dengan memahami penderitaan yang berkesinambungan menjadi trauma sebagai fakta hidup yang penuh misteri, ia juga perlu dihadapi dengan realistis, dan dengan sikap respek terhadap hidup. Artinya, penderitaan tidak perlu dicari-cari, melainkan diterima dengan lapang dada ketika ia datang menimpa. Sebagai sebuah fakta hidup, penderitaan, yang mengulang dirinya dalam bentuk trauma, pada dirinya sendiri tidaklah bernilai, maka sikap mencari-cari penderitaan adalah perversi terhadap hidup. Penderitaan tidak hanya ditanggung atau diterima, melainkan juga diperangi dan diatasi dengan sekuat tenaga yang ada pada kita. Panggilan dalam menanggapi penderitaan adalah panggilan manusia untuk berpraksis. Praksis tersebut dapat terwujud dalam upaya untuk mencari akar dan sumber dari penderitaan tersebut, baik pada level individual maupun level struktural, yang lalu ditangani secara konkret.

Pada satu titik, perjuangan menentang penderitaan dan ketidakadilan kerap menemui jalan buntu. Di titik inilah penderitaan dan ketidakadilan tidak hanya perlu diatasi atau diperangi, melainkan juga diolah dan diintegrasikan. Artinya, penderitaan tersebut dilihat dan dirangkum sebagai satu kesatuan menyeluruh menyangkut seluruh dimensiku. Dengan kata lain, “…penderitaan kuterima dan kuakui sebagai bagian faktual dari caraku menghayati hidup dengan segala misterinya, caraku melihat dunia, bekerja dan bertindak, entah sebagai syarat, entah sebagai konsekuensi dari, misalnya, perjuanganku demi sesuatu yang bersifat mutlak…”[30]

Manusia memerlukan kesabaran dan ketabahan hati untuk menerima dan menanggung penderitaan. Jika sudah seperti itu, ia akan tumbuh dan berkembang melalui penderitaan itu. Manusia yang selalu beruntung dalam hidupnya tidak akan pernah ditempa menjadi manusia yang kuat dan utuh. Tanpa tempaan, ia akan menjadi dangkal dan tidak bisa berkembang ke arah yang lebih baik. Bersama Karl Jaspers, penderitaan dilihat dan dimaknai sebagai situasi batas, yang membawa manusia kepada transendensi Tuhan. Dengan demikian, orang yang mengalami penderitaan bisa berkata, “…penderitaanku tidak lagi secara kebetulan merupakan nasib buruk belaka, melainkan mulai munculnya eksistensi melalui dasein…”[31]

Kiranya jelas pada tahap terakhir ini, bahwa pengalaman akan Tuhan, akan yang Transenden, memberikan sumbangan besar bagi manusia untuk memahami penderitaan dan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan hidupnya. Suatu kepercayaan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segala-galanya, bahwa masih ada harapan akan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik, juga bahwa “…kerinduan akan yang serba lain…”, seperti ditulis oleh Max Horkheimer, akan menemukan kepenuhannya.

Ada satu catatan kritis yang dapat saya berikan untuk tulisan-tulisan Budi Hardiman tentang trauma. Di dalam buku Memahami Negativitas ini, Budi Hardiman menekankan pentingnya peran “merelakan” sebagai proses pencairan trauma, atau dalam bahasa yang ia gunakan, detraumatisasi. Akan tetapi, konsep ‘merelakan’ tersebut sesungguhnya sesat dan ideologis, karena dapat sekali dengan mudah menjadi alasan pelarian diri dari proses peradilan, yang seharusnya dilakukan untuk para perpetrators. Disinilah pentingnya keadilan di masa transisi. Keadilan di masa transisi mau mencoba mengadili para perpetrators, yang dianggap bertanggung jawab sebagai aktor dari berbagai peristiwa negatif, seperti teror, pembantaian massal, pengejaran minoritas, dan sebagainya. Pengadilan bagi mereka itu penting, terutama untuk benar-benar melakukan proses pencairan trauma yang menjangkiti jiwa kolektif kelompok itu. Buku Budi Hardiman memang menekankan pentingnya ‘keadilan yang dilaksanakan’, akan tetapi pola dan tindakan yang perlu dilakukan untuk menegakkan keadilan tersebut sama sekali tidak disinggung. Proses merelakan yang sesungguhnya, tanpa paksaan, hanya dapat berlangsung, jika proses peradilan terhadap para perpetrators sungguh-sungguh sudah dilakukan seadil-adilnya. Tidak ada maaf tanpa janji dibaliknya bahwa perilaku negatif itu tidak akan terulang lagi. Proses detraumatisasi hanya dapat ditempuh melalui melampaui dengan merelakan, namun merelakan hanya dapat ditempuh, jika para perpetrators yang bertanggung jawab telah diadili, dan mendapat penghukuman yang sepantasnya atas tindakan mereka. Momen pencairan trauma dan perencanaan ke masa depan lebih baik itulah yang disebut sebagai momen transisi. Tidak soal berapa lama waktu yang harus diperlukan untuk menunaikan tugas rekonsiliasi atas kejahatan masa lalu tersebut. Tidak soal seberapa rumit proses yang harus dilakukan, karena mungkin proses itu sendirilah penyelesaiannya.


Daftar Acuan[32]

http://www.mer-c.org/mc/ina/rubrik/rb_ans02_pascatrauma.htm

http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/01/17/brk,20050117-02,id.html

Fransisco Budi Hardiman, terutama atas karya terbarunya, yakni Memahami Negativitas. Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2005

Tjahjadi, S.P Lilik, Diktat Ateisme Modern, Tidak dipublikasikan.


[1] Tulisan ini didedikasikan kepada Dr. Fransisco Budi Hardiman, terutama atas karya terbarunya, yakni Memahami Negativitas. Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2005.

[2] Lihat, http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/01/17/brk,20050117-02,id.html

[3] Lihat, http://www.mer-c.org/mc/ina/rubrik/rb_ans02_pascatrauma.htm

[4] Budi Hardiman, op.cit, hal. 171.

[5] Lihat, Hannah Arendt, Besuch in Deutschland, Rotbuch Verlag, Noerdiingen, 1993, dalam Hardiman, ibid

[6] Lihat, Martin Heidegger, Discourse on Thinking, New York, Harper Colophon Books, 1969, hal. 45, dalam Hardiman, ibid.

[7] Budi Hardiman, op.cit, hal. 173.

[8] Lihat Ellias Canetti, Crowds and Power, New York, Farrar, Straus and Giroux, 1960, hal. 103.

[9] Ibid, hal. 104.

[10] Ibid, hal. 105.

[11] Ibid.

[12] Ibid, hal. 106.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid, hal. 107.

[16] Ibid, hal. 178.

[17] Ibid, hal. 179.

[18] Ibid, hal. 180.

[19] Lihat, Martin Heidegger, Sein und Zeit, Tübingen, Max Niemeyer Verlag, 1953, hal. 164. Seperti dikutip oleh Budi Hardiman, op.cit.

[20] Bdk, Hannah Arendt, Vita Activa. Oder Vom tätigen Leben, Müchen, Piper, 1996, hal. 306. Seperti dikutip oleh Budi Hardiman, op.cit.

[21] Bdk, F. Budi Hardiman, op.cit, hal. 174.

[22] Ibid.

[23] Lihat F. Leist, “ Welthafte Askese und Psychische Epidemien”, hal. 272. Seperti dikutip oleh Budi Hardiman, op.cit.

[24] F. Budi Hardiman, op.cit, hal. 175.

[25] Ibid, hal. 176.

[26] Viktor Frankl, Logotherapie und Existenzanalyse. Texte aus fünf Jahrzenten, München, Piper, 1987, hal. 136-137. Seperti dikutip oleh Budi Hardiman, op.cit.

[27] F. Budi Hardiman, op.cit, hal. 164.

[28] Ibid, hal. 165.

[29] Lihat Bernhard Gromm (ed), Glück. Auf der Suche nach dem ‘guten Leben’, Frankfurt a.M, 1987, hal. 84. Seperti dikutip oleh Budi Hardiman, op.cit

[30] Simon P.L. Tjahjadi, Diktat Atheisme Modern, (Tidak dipublikasikan).

[31] Ibid.

[32] Semua buku acuan dalam bahasa Jerman, saya kutip dari tulisan Budi Hardiman.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 thoughts on “Mengupas Trauma Sosial”

    1. thx bang aip… masih idup loh? apa kabar? hahahaha.. kangen gua…

      itu pembantaian my lai di Vietnam oleh tentara amerika.

      “The My Lai Massacre (Vietnamese: thảm sát Mỹ Lai [mǐˀ lɐːj]; English pronunciation: /ˌmaɪˈleɪ, ˌmaɪˈlaɪ/ ( listen),[1] Vietnamese: [mǐˀlaːj]) was the mass murder conducted by a unit of the U.S. Army on March 16, 1968 of 347 to 504 unarmed citizens in South Vietnam, all of whom were civilians and a majority of whom were women, children (including babies) and elderly people.”

      Lihat di

      http://en.wikipedia.org/wiki/My_Lai_Massacre

      Suka

  1. terimakasih sudah menulis tentang hal ini. saya mencari bahasan tentang trauma pasca kerusuhan karena saya baru pindah ke kota yang pernah mengalami beberapa kali kerusuhan dalam 10 tahun terakhir.

    mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu saya untuk memahami lebih jauh mengenai trauma pascakerusuhan sehingga membantu saya saat berhadapan dengan para survivor.

    saya tinggal bersama dengan keluarga survivor kerusuhan tersebut, dari merekalah saya bisa merasakan betapa trauma itu bukan hal yang mudah disembuhkan…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s