Metamorfosis Demokrasi

Metamorphosis_I.jpg (403×504)

Metamorfosis Demokrasi

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Ada dua peristiwa yang menjadi tanda meningkatnya gerakan demokrasi di Indonesia. Yang pertama adalah demonstrasi damai anti korupsi di beberapa daerah di Indonesia, dengan perkecualian konflik di Makassar. Yang kedua adalah partisipasi ratusan ribu warga untuk mengumpulkan uang koin, guna membantu Prita dalam kaitannya dengan tuntutan Rumah Sakit OMNI. Pengumpulan koin yang dilakukan oleh masyarakat hampir menyentuh angka 200 juta rupiah.

Dua hal ini merupakan bentuk nyata dari metamorfosis demokrasi. Metamorfosis demokrasi tidak hanya mengandaikan perubahan struktur pemerintahan menjadi lebih demokratis, misalnya dengan pemilu berkala, tetapi juga perubahan konsepsi manusia di dalamnya, yakni dari manusia Indonesia menjadi warga negara Indonesia yang aktif dan partisipatif di dalam setiap peristiwa politis, serta perubahan konsep sosiologis dari masyarakat yang pasif menjadi komunitas politis yang aktif.

Di dalam konsep warga negara sebagai pembentuk komunitas politis terkandung kemampuan manusia untuk menjadi subyek politik yang bebas dan rasional. Dengan menjadi warga negara dari suatu komunitas politis, orang akan terlibat secara aktif untuk menunjukkan kepeduliannya pada persoalan bersama.

Apatisme yang Terkikis

Sudah lama masyarakat merasa tidak peduli dengan persoalan politis. Bagi banyak orang politik adalah hal yang kotor. Banyak pula orang yang sebelumnya dengan tegar memperjuangkan kepentingan rakyat menjadi berubah sama sekali, ketika ia terlibat di dalam politik praktis. Jabatan politis yang membuahkan harta dan takhta mengikis hati nurani yang dimilikinya. Ia pun berubah menjadi sosok pribadi yang dibenci oleh rakyat.

Semua itu membuat masyarakat apatis terhadap politik. Mereka pun menjauhkan diri dari politik, dan sibuk dengan urusan pribadi. Ruang publik menjadi sepi, karena hanya beberapa orang yang peduli. Sementara banyak orang lainnya terhisap oleh upaya untuk memuaskan kepentingan pribadi.

Namun apatisme pun bisa pecah. Ketidakpedulian pun ada batasnya. Dua hal itu akan hancur, jika masyarakat sudah tidak tahan lagi dengan perilaku para elit politik dan bisnis yang jauh dari rasa keadilan masyarakat. Kontroversi KPK dan kasus Prita sungguh mengusik hati nurani masyarakat. Mereka pun tidak lagi diam, melainkan mulai berteriak untuk mewujudkan keinginannya, yakni pemerintahan yang adil dan berpihak pada kesejahteraan rakyat. Manusia Indonesia mulai mengalami metamorfosis dari manusia yang pasif dan apatis menjadi warga negara yang kritis, aktif, dan partisipatif di dalam persoalan-persoalan politis.

Metamorfosis demokrasi mengandaikan perubahan mentalitas manusia. Di dalam proses perubahan mentalitas itu, apatisme yang selama ini begitu kuat tertanam di masyarakat mulai terkikis. Hal ini terjadi akibat pendidikan demokrasi yang semakin kuat di masyarakat, walaupun tidak menempuh jalur formal. Tulisan-tulisan di media massa dan diskusi-diskusi publik semakin membuka mata banyak orang tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki bangsa ini. Tidak boleh ada tindakan, baik oleh pemerintah ataupun oleh perusahaan bisnis, yang lolos dari mata publik.

Metamorfosis Kekuasaan

Di dalam biologi metamorfosis merupakan proses perubahan bentuk fisik yang terjadi, karena pertumbuhan ataupun diferensiasi sel yang secara radikal berbeda. Hal yang sama yang sekarang ini terjadi di dalam politik Indonesia. Pertumbuhan sel dapat dibayangkan sebagai pertumbuhan berbagai kelompok demokrasi di masyarakat yang aktif berdiskusi dan menyoroti berbagai tindakan pemerintahan ataupun perusahaan bisnis. Di dalam proses pertumbuhan itu, perbedaan argumen muncul dan mengalir di dalam ruang publik dalam bentuk opini.

Opini tersebut bertarung. Argumen yang paling masuk akal akan menang dan memperoleh dukungan publik. Inilah dinamika ruang publik yang sehat. Memang faktor kekuasaan masih sangat dominan. Namun di masyarakat sekarang ini, tidak ada kekuasaan tunggal yang dominan. Yang ada adalah beberapa kelompok yang memiliki kekuasaan besar, dan saling mengerem satu sama lain.

Di dalam masyarakat demokratis, kekuasaan tetap ada. Namun semua kekuasaan yang ada saling mengontrol satu sama lain, sehingga menciptakan sintesis politis, yakni politik yang didasarkan pada kepentingan rakyat yang mampu diartikulasikan secara rasional, dan memperoleh persetujuan publik berdasarkan konstitusi dasar Indonesia. Semua ini adalah bagian dari metamorfosis demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia sekarang ini.

Metamorfosis Demokrasi

Sekarang ini manusia Indonesia mulai menunjukkan sosoknya sebagai warga negara yang aktif dan kritis di dalam arena politik. Namun juga diperlukan adanya metamorfosis sosiologis, yakni perubahan konsep dari masyarakat menjadi komunitas politis. Komunitas politis bukan hanya sekumpulan manusia, tetapi juga kumpulan ingatan yang membentuk identitas, dan kumpulan harapan tentang hidup bersama yang baik.

Indonesia tidak boleh  menjadi hanya sekedar masyarakat, melainkan juga harus menjadi komunitas politis. Oleh karena itu metamorfosis demokrasi tidak boleh berhenti. Proses metamorfosis akan semakin lancar, jika tercipta momen-momen yang mampu menggerakan warga. Maka momen politis harus diciptakan untuk mengajak warga masyarakat berpartisipasi secara aktif di dalam persoalan bersama. Peran media massa dan kelompok-kelompok independen di masyarakat sangat besar untuk menciptakan momen politis tersebut.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s