Filsafat Yahudi: Gersonides

Technorati Tags: ,,

maimonides.jpg (216×283)

Filsafat Gersonides

(1288-1344)

Reza A.A Wattimena

Saya ingin memperkenalkan anda dengan sosok hidup dan pemikiran Gersonides, atau yang juga banyak dikenal sebagai Levi ben Gershon. Sebagai acuan utama saya menggunakan tulisan Don Chon-Sherbok yang berjudul Fifty Key Jewish Thinker.[1] Gersonides adalah seorang filsuf Prancis. Ia juga adalah seorang matematikus, astronomer, dan penafsiran Talmud di dalam tradisi Yahudi. Ia lahir pada 1288 dan kemudian tinggal di Bagnols-sur-Cèze di Languedoc. Kemudian ia pindah ke Avignon dan Orange. Menurut pendapat Chon-Sherbok, Gersonides, sama seperti Maimonides, adalah seorang filsuf dan pencinta ilmu pengetahuan.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah tentang astronomi. Ia mengomentari paradigma astronomi kuno. Ia bahkan bisa mengkalkulasi dengan ketepatan luar biasa berbagai peristiwa di langit, seperti layaknya seorang astronom modern yang telah menggunakan peralatan yang canggih. Di dalam prosesnya ia menggunakan metode Baculus Job untuk menghitung jarak antara bumi dengan planet-planet lainnya.[2] Menurut Chon-Sherbok pada 1325-1338, Gersonides menulis suatu tafsiran atas Kitab Suci Yahudi. Berbarengan dengan itu ia juga menulis tentang pemikiran Averroes dan tulisan tentang Talmud.

Wars of the Lord

Karya filosofis terbesar dari Gersonides berjudul Wars of the Lord. Ia menulis buku itu selamat 12 tahun, dan selesai pada 1329. Menurut penelitian Chon-Sherbok, Gersonides setidaknya memiliki enam tujuan utama dari penulisan buku itu, yakni ingin mengetahui apakah orang yang belum mencapai kesempurnaan mampu untuk memasuki kehidupan selanjutnya (1), apakah orang mampu mengetahui masa depan melalui mimpi, penampakan dari Tuhan, atau dari pewahyuan (2), apakah Tuhan mengetahui benda-benda yang ada di dunia (3), apakah ada campur tangan Tuhan di dalam benda-benda dunia (4), bagaimana sang penggerak utama dari berbagai ruang yang ada (Tuhan) bekerja (5), dan apakah dunia ini abadi atau diciptakan (6).[3]

Gersonides menolak pandangan Aristoteles, dan para pengikutnya, tentang Tuhan sebagai penggerak pertama di dalam realitas. Ia berpendapat bahwa keberadaan Tuhan hanya dapat dibuktikan, jika manusia mau secara jeli melihat dan memahami keteraturan realitas yang begitu indah. Chon-Sherbok menyebut argumen ini sebagai argumen berdasarkan desain (argument by design). Tata alam semesta yang begitu pas mengandaikan adanya intelegensi yang aktif berperan di dalamnya. Intelegensi itu mewujud di dalam proses penciptaan kehidupan di bumi. “Dengan demikian”, tulis Chon-Sherbok, “… dunia membentuk keseluruhan yang teratur membutuhkan keberadaan ada yang lebih tinggi (supreme being) yang mengetahui tatanannya.”[4]

Gersonides juga yakin bahwa orang mampu memahami Tuhan secara penuh. Hal ini tidak membuat Tuhan menjadi ‘kurang agung’. Tuhan dapat dipahami jika manusia mau melihat dirinya sendiri, dan kualitas-kualitas pribadinya, karena itu semua berasal dari kualitas-kualitas Tuhan itu sendiri. Dengan lugas dapatlah dikatakan, bahwa manusia dapat menemukan Tuhan dengan melihat dirinya sendiri.

Tuhan telah menciptakan hukum-hukum alam untuk membantu manusia menjalankan dan menyempurnakan hidupnya. Namun seperti yang ditulis oleh Chon-Sherbok, fakta ini sama sekali tidak membuat manusia kehilangan tanggung jawab moralnya. Tuhan juga memberikan kehendak bebas pada manusia. Dengan kehendak bebasnya manusia mampu menafsirkan wahyu dari Tuhan yang ada di kitab suci dan alam semesta. Di dalam proses itu, manusia pun mendapatkan mimpi dan pewahyuan yang membuatnya mampu mencapai kebenaran itu sendiri. Bentuk paling luhur dari kebebasan manusia adalah jiwanya yang tidak pernah mati. Dengan mengembangkan jiwanya manusia mampu mencapai kesempurnaan moral dan intelektual.

Gersonides lebih jauh berpendapat, bahwa dunia adalah sesuatu yang diciptakan. Dunia tidak abadi melainkan diciptakan untuk mewujudkan tujuan tertentu. Jika tujuan itu sudah tercapai, maka dunia akan hancur. Pola lahir dan mati adalah pola yang secara umum dapat ditemukan di dunia. Maka secara logis dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dunia pun memiliki pola yang serupa, yakni memiliki awal dan akhir. Di dalam dunia yang sementara itu, manusia memiliki status yang istimewa.

Baginya manusia adalah mahluk yang paling sempurna. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling unggul dibandingkan dengan yang lainnya. Dengan kemampuan akal budinya, manusia mampu merumuskan dan mencegah bahaya yang kemungkinan akan menimpanya. Juga dengan akal budinya, manusia mampu mencapai kebenaran. Akal budi manusia mampu merumuskan konsep-konsep abstrak tentang Tuhan dan dunia. Inilah yang membuat manusia istimewa. Kemampuan akal budi yang luar biasa mengandaikan keberadaan jiwa. Dan jiwa manusia menurut Gersonides adalah entitas yang abadi.

Gersonides juga berpendapat bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa terpilih. Tuhan mewahyukan dirinya kepada bangsa Yahudi. Dan ini tentu saja membuat bangsa Yahudi merasa spesial. Banyak juga orang yang terpilih menjadi nabi di dalam tradisi Yahudi. Bagi Gersonides para nabi adalah filsuf yang mendapat wahyu dari Tuhan, sehingga ia memiliki pengetahuan lebih tentang alam semesta. Mereka mampu menterjemahkan wahyu dari Tuhan untuk bisa diterapkan di dalam kehidupan individu ataupun masyarakat. Mereka adalah suara dan wakil Tuhan untuk berbicara pada umat manusia.[5]

Gersonides juga berpendapat bahwa para nabi mampu menebak tempat dan kapan terjadinya mukjizat. Dalam arti ini mukjizat adalah suatu kejadian yang melanggar semua hukum-hukum alam. Mukjizat memiliki hukum-hukumnya sendiri yang bertentangan dengan hukum-hukum alam. Salah satu bentuk mukjizat adalah keabadian jiwa manusia di tengah dunia yang tidak abadi. Keabadian tersebut dapat dicapai, jika manusia mau membaktikan hidupnya untuk mengikuti Torah Yahudi, sehingga mereka pada akhirnya mampu mencapai kesempurnaan moral dan intelektual. Hanya manusia yang telah berusaha mewujudkan kesempurnaan moral dan intelektual dalam hidupnyalah yang nantinya akan semakin cepat mencapai keabadian.

Kesimpulan

Searah dengan para filsuf Yahudi lainnya, Gersonides sangat mementingkan peran akal budi di dalam kehidupan beriman dan beragama. Ia mengajak setiap orang Yahudi untuk hidup seturut dengan aturan dasar Torah, dan kemudian mewujudkannya secara rasional. Dalam hal yang lebih teoritis, akal budi juga dapat digunakan untuk mencapai kebenaran tentang dunia, manusia, dan Tuhan. Semua ini menegaskan kembali argumen dasar buku ini, bahwa filsafat Yahudi adalah suatu upaya untuk merumuskan sintesis antara akal budi dan iman di dalam tradisi Yahudi. Iman tanpa akal budi hanya akan menjadi buta dan destruktir, itulah kiranya yang ingin ditegaskan oleh Gersonides.


[1] Lihat, Don Chon-Sherbok, 1997, 76-77.

[2] Lihat, ibid, 76.

[3] Lihat, ibid, 77.

[4] Ibid.

[5] Lihat, ibid, 78.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 thoughts on “Filsafat Yahudi: Gersonides”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s