Motivasi Hidup Manusia

Manusia dan Motivasi Hidupnya

Reza A.A Wattimena

Untuk menjadi otentik orang perlu untuk mengenal dirinya sendiri. Proses pengenalan itu adalah proses belajar. Proses belajar yang tertinggi bukanlah mengetahui hal-hal baru di dunia luar, tetapi justru mengenal dan memahami diri sendiri secara penuh. Itulah proses belajar tertinggi. Jika orang tidak mengenal dirinya sendiri, maka ia tidak akan pernah merasa bahagia. Ia juga tidak akan pernah menjadi orang yang bijaksana. Semua pengetahuan akan dunia luar akan menjadi percuma, jika orang tidak memahami dirinya sendiri. Bisa juga dibilang bahwa pengetahuan yang penuh akan dirinya sendiri adalah pengetahuan tertinggi yang bisa dimiliki manusia, dan cara terpenting untuk mencapai hidup yang otentik.

Salah satu aspek mendasar yang mendorong setiap orang untuk hidup dan beraktivitas adalah motivasi. Motivasi mendasari tindakan orang, apapun tindakannya, dan siapapun orang itu. Untuk memiliki pengetahuan yang utuh tentang diri, orang perlu untuk memahami motivasi yang mendorong tindakan. Menurut Laming[1] motivasi adalah “perubahan dari beberapa pola perilaku dari suatu program tindakan yang ditentukan secara spesifik internal oleh individu.”[2] Jika dibahasakan secara lugas, motivasi adalah program internal yang ada di dalam diri seorang, yang mendorong orang itu untuk melakukan tindakan tertentu. Program internal itu bisa bersifat bawaan, yakni sudah ada di dalam diri orang sejak ia lahir, atau dibentuk melalui pengalaman.

Laming juga berpendapat bahwa setiap mahluk biologis pasti memiliki insting yang bersifat repetitif. Insting ini adalah semacam pola tetap yang bisa diabstraksi dari perilakunya. Manusia pun juga sama. Tanpa pola perilaku yang tetap ini, orang tidak akan bisa beraktivitas, ataupun untuk hidup. “Diberikan rangsangan yang tepat”, demikian Laming, “maka pola perilaku terkait akan tergerak.”[3] Motif tindakan dipandang sebagai sumber energi, yang memungkinkan orang bisa melakukan sesuatu. Rangsangan dari luar itu bukanlah sumber perilaku, melainkan suatu cara untuk membebaskan energi internal, yakni motivasi, yang sudah ada di dalam diri orang. Inilah yang disebut Laming sebagai pola instingtif, yang juga disebutnya sebagai “perilaku semi mekanis” dari manusia.

Menggaruk kulit ketika gatal adalah perilaku instingtif. Perilaku semacam ini juga bisa direkayasa. Di dalam psikologi rekayasa perilaku ini disebut juga sebagai conditioning, atau pengkondisian. Ketika pola perilaku yang ada mulai tampak dan menjadi rutin, maka lama-kelamaan, pola itu akan menjadi instingtif. Di dalam filsafat ini disebut juga sebagai behaviorisme. Mahluk hidup, termasuk manusia, jika diberikan rangsangan yang tepat, maka mereka akan bertindak sesuai dengan pola tertentu yang tetap. Sebaliknya tanpa rangsangan yang tepat, mahluk hidup tidak akan mampu bertindak sesuai dengan yang diharapkan. Pada beberapa kasus rangsangan yang salah justru dapat membuat orang bertindak aneh, seperti orang yang biasanya sabar tiba-tiba berubah menjadi pelaku kekerasan yang mengerikan.[4]

Untuk memahami dinamika motivasi dan perilaku manusia, seorang ilmuwan memiliki tugas untuk mengajukan teori yang mampu memberi penjelasan rasional dan ilmiah terhadap dua kategori itu. Tujuannya adalah supaya orang semakin memperoleh pengetahuan sistematis tentang diri dan dunianya, sekaligus untuk mendorong penelitian lebih jauh. Pada titik ini peran teori di dalam mengamati fakta sangatlah penting. Menurut Laming teori, walaupun masih merupakan pernyataan yang belum teruji secara metodis, dapat membantu orang untuk mengaitkan berbagai kejadian faktual yang terjadi, sehingga bisa dipahami secara sistematis.[5]

Tiga Kerangka Teori

Laming kemudian mengajukan tiga kerangka teori yang bisa digunakan untuk memahami manusia. Yang pertama adalah apa yang disebutnya sebagai perilaku semi mekanis dari manusia. Manusia memiliki aspek instingtif yang bersifat mekanis di dalam dirinya. Aspek instingtif ini seringkali mempengaruhi perilaku manusia, dan bisa dipelajari melalui pendidikan, ataupun melalui pengaruh kultural secara rutin. Akan tetapi, perilaku manusia tidak sepenuhnya mekanis. Kita menyebut perilaku orang mekanis, karena kita terbiasa dengannya. Namun jika dipikirkan lebih jauh, tidak ada perilaku yang sungguh mekanis, dan sama sekali terlepas dari kesadaran pelakunya. “Perilaku kita sendiri”, demikian Laming, “tidak merasa mekanis sama sekali.”[6] Orang menyadari, bahwa mereka berbuat sesuatu, sehingga mereka menolak untuk disebut sebagai orang yang mekanis. Karena jika mekanis, maka manusia memiliki status yang kurang lebih sama seperti benda-benda.

Pandangan kedua berangkat dari kelemahan pandangan pertama. Laming menyebutnya sebagai teori tentang sudut pandang personal dan sudut pandang kamera (personal and camera view). Ia memberikan contoh tentang pertandingan sepak bola. David Beckham adalah seorang pemain bola yang terbiasa melakukan tentang sudut di pertandingan. Dalam satu pertandingan, ia bisa melakukannya lebih dari lima kali. Bagi para penonton, itu adalah hal yang biasa dan mudah ditebak. Namun bagi Beckham, tendangan itu sama sekali tidak bersifat mekanis. Ia harus memilih, kemana ia harus menendang bola, dan kepada siapa ia harus mengumpannya.

Menurut Laming dalam hal ini, Beckham adalah “sekaligus pada waktu yang sama mesin biologis kompleks yang berkemampuan tinggi yang menendang bola dan juga pengamat dari tindakan itu – sebuah mesin yang mengamati dirinya sendiri.”[7] Jika manusia adalah mesin yang bisa mengamati dirinya sendiri, seperti yang diajukan oleh Laming, maka ia lebih kompleks daripada mesin biasa, karena mesin biasa tidak menyadari dirinya sendiri adalah mesin. Mesin tidak menyadari bahwa dirinya bersifat mekanis. Mesin juga tidak bisa menggunakan dirinya sendiri. Harus ada orang yang menggunakannya, seperti orang yang menggunakan telepon untuk berkomunikasi, orang yang melihat jam untuk mengetahui waktu, dan sebagainya.

Dari sudut pandang orang luar, perilaku manusia terlihat mekanis. Jika ia lapar, maka ia makan. Ia akan minum, jika ia haus. Jika dipukul, maka ia akan mengeluh sakit. Itu semua terlihat mekanis. Itulah yang disebut Laming sebagai perilaku semi mekanis dari manusia. Disebut semi mekanis, karena sesungguhnya, tidak ada perilaku manusia yang sepenuhnya mekanis. Jika dilihat dari dalam, yakni dari sudut pandang pelaku yang menghayati suatu perilaku, maka unsur mekanisnya sangat kecil. Setiap orang memang akan makan, ketika ia lapar. Akan tetapi, tegangan perasaan yang ia alami ketika ia lapar berbeda-beda pada setiap orang. Dapat juga dibilang, orang menghayati laparnya dengan cara yang berbeda-beda. Inilah yang disebut Laming sebagai pandangan personal dari suatu perilaku yang sama sekali tidak mekanis. Setiap orang pergi bekerja. Itu adalah perilaku mekanis. Akan tetapi, setiap orang menghayati pekerjaannya secara berbeda. Itulah perilaku sadar yang hanya dapat dipahami dengan menggunakan sudut pandang personal.

Pandangan ketiga adalah apa yang disebut Laming sebagai teori pengaruh sosial. Perilaku dan motivasi manusia sangatlah dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat ia lahir dan berkembang. Lingkungan sosial yang satu membentuk individu yang berbeda dengan lingkungan sosial lainnya. Tidak hanya perilaku, konsep-konsep pun tertanam pada konteks sosial. Konteks sosial yang berbeda memberikan arti yang berbeda pula pada konsep-konsep yang digunakan. Misalnya konsep keluarga. Di Jakarta, konsep keluarga mengacu pada keluarga inti, yakni ayah, ibu, dan anak. Sementara di beberapa tempat di Papua, konsep keluarga mengacu pada klan, yakni keluarga besar yang memiliki satu nama. Konsep keluarga dimaknai berbeda di konteks sosial yang berbeda.

Interaksi kita dengan orang lain tampak bersifat instingtif-mekanis. Namun, seringkali apa yang tampak instingtif-mekanis itu mengalami hambatan. Interaksi kita dengan orang lain menjadi menurun kualitasnya. Contoh ekstrem yang diajukan oleh Laming adalah pelaku kejahatan yang anti sosial akan ditempatkan di lembaga pemasyarakatan. Hal yang sama kurang lebih terjadi dengan orang-orang yang mengalami gangguan mental. Mereka ditempatkan di rumah sakit jiwa. Dengan demikian, masyarakat mempertahankan tradisi sistem dan kulturnya dengan menciptakan institusi-institusi yang mampu “mengembalikan orang ke kondisi yang sesuai dengan kelompok dominan di dalam masyarakat”, seperti lembaga pemasyarakatan, rumah sakit jiwa, dan bahkan sekolah. Perilaku dan motivasi manusia dalam bertindak seringkali dipengaruhi oleh institusi-institusi sosial tersebut.

Tiga kerangka teori di atas, yakni teori perilaku semi-mekanis manusia, teori tentang cara pandang kamera dan personal, serta teori tentang pengaruh sosial, dapat membantu kita memahami mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan. “Apa yang orang lakukan”, demikian tulis Laming, “adalah mengekspresikan pola bawaan dari perilaku yang diperoleh secara kultural dengan cara menyesuaikan diri dengan tuntutan dan konvensi yang ada di masyarakat di mana mereka hidup.”[8]

Pemadatan Kerangka Teori

Kita memiliki emosi-emosi dan perasaan-perasaan internal di dalam diri kita. Kita menghayati hasrat, kecemasan, dan pikiran-pikiran bergejolak. Tidak ada orang lain yang mampu memahami perasaan-perasaan kita, selain kita sendiri. Perasaan-perasan itu bersifat privat. Bahkan seorang dokter atau psikiater paling ahli sekalipun hanya bisa berspekulasi tentang apa yang sesungguhnya kita rasakan. Laming menyebut ini sebagai pandangan personal (personal view). Di sisi lain, ada sisi obyektif dari manusia yang bisa dilihat oleh orang banyak. Orang berjalan, dan orang lain bisa melihatnya. Inilah yang disebut Laming sebagai pandangan kamera (camera view). Hal yang sama berlaku sebaliknya. Kita tidak dapat melihat orang lain sebagaimana mereka melihat dirinya sendiri.[9] Kita tidak memiliki akses untuk langsung memahami pikiran, perasaan, dan kegelisahan dari orang lain. Yang dapat kita lakukan adalah melakukan spekulasi terhadapnya untuk sampai pada pengetahuan yang bersifat probabel.

Di dalam melakukan penelitian dan pengamatan mendalam terhadap perilaku manusia, setidaknya ada dua sudut pandang yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah pengamatan perilaku kita sendiri melalui sudut pandang pertama, yakni sudut pandang kita sendiri. Yang kedua adalah pengamatan terhadap perilaku kita sendiri, tetapi dengan menggunakan sudut pandang orang kedua, yakni sudut pandang orang lain. Yang pertama disebut Laming sebagai sudut pandang personal. Dan yang kedua disebutnya sebagai sudut pandang kamera.[10]

Dari sudut pandang personal, orang memiliki kebebasan. Mereka memiliki pergulatan emosional, perasaan, dan kecemasan-kecemasan. Ciri-ciri itulah yang membuat manusia menjadi manusiawi. Di sisi lain, jika dilihat dari sudut pandang kamera, perilaku manusia tampak mekanis. Ia diberi rangsangan, dan kemudian memberikan respons yang kurang lebih tetap terhadap rangsangan tersebut. “Pertanyaan tentang perilaku manusia ditandai oleh kehendak bebas atau sepenuhnya ditentukan”, demikian tulis Laming, “bukanlah bagian dari perilaku, tetapi dari titik tolak dari mana perilaku tersebut diamati”.[11] Jika kedua sudut pandang ini tidak dibedakan, maka yang terjadi adalah kebuntuan intelektual (intellectual impasse), di mana suatu tindakan tampak melulu ditentukan sekaligus bebas dalam waktu yang sama.

Dari sudut pandang kamera, perilaku manusia tampak sepenuhnya ditentukan. Perilaku manusia seolah berlangsung secara mekanis. Manusia dikenal juga sebagai mesin biologis. Walaupun memiliki unsur biologis, tetapi tetap saja, manusia itu mesin. Mesin biologis itu bereaksi terhadap berbagai rangsangan yang muncul dari luar dirinya. Laming menyebut aspek perilaku ini sebagai perilaku semi mekanis. Jika ada seorang wanita cantik berpakaian seksi berjalan di terminal bis kota pada siang hari, maka semua pria yang duduk di terminal, baik itu supir maupun penumpang, akan terkesima melihat wanita tersebut. Memang secara personal, masing-masing orang yang menyaksikan wanita seksi berjalan menghayati peristiwa itu secara berbeda-beda. Namun dilihat dari sudut pandang kamera, perilaku mereka tampak mekanis.

Dengan demikian dari sudut pandang personal, tidak ada perilaku manusia yang mekanis. Namun dari sudut pandang kamera, yakni sudut pandang pengamat, perilaku manusia tampak mekanis. Namun seringkali, orang tidak menyadari dirinya sendiri adalah mesin yang mekanis. Pada saat memandang wanita cantik tadi, saya berpikir, “Dia cantik sekali, saya ingin berkenalan dengannya”. Pada saat itu, saya tidak menyadari, bahwa kepala saya ternyata sedang menghadap wanita itu, dan menatapnya langsung. Dari sudut pandang kamera, itu adalah tindakan yang khas pria, yakni menatap wanita cantik yang sedang berjalan. Isi dari pikirannya memang berbeda-beda, tetapi tindakannya serupa. Laming menyatakan dengan jelas, bahwa tidak mungkin orang bisa mengamati perilakunya sendiri secara akurat.

Masyarakat dibentuk oleh interaksi antar manusia. Interaksi tersebut memiliki pola yang kurang lebih tetap. Namun di dalam perjalanan waktu, interaksi antar manusia tersebut semakin diwarnai oleh kekuasaan. Interaksi pun jatuh ke titik negatif ekstrem, seperti terjadinya perkelahian antar kampung, pencurian, pembunuhan, dan bahkan pemerkosaan. Sebagai antitesisnya, masyarakat kemudian mendirikan berbagai institusi sosial dan kelompok kepentingan yang berpihak pada perwujudan kepentingan umum. Keberadaan organisasi-organisasi itu bertujuan menghadapi krisis interaksi yang terjadi di dalam masyarakat.

Pertanyaan dasarnya adalah, mengapa pada akhirnya orang melakukan “kejahatan” pada orang lainnya, sehingga merusak interaksi sosial yang merupakan inti dari keberadaan masyarakat? Menurut Laming, suatu perilaku didefinisikan sebagai suatu kejahatan, jika perilaku tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Sedari kecil, setiap orang selalu dibentuk dalam suatu konteks kultural tertentu yang memilik norma-norma spesifik. Tuntutan masyarakat merupakan suatu tuntutan yang harus dipatuhi oleh orang-orang yang hidup di dalamnya. Apa yang baik oleh masyarakat harus juga dianggap sebagai yang baik oleh individu. Namun dalam perjalanan, banyak orang tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial tersebut. Mereka memiliki dorongan personal yang berbeda dengan tuntutan kultural dibebankan masyarakat. Mereka bertindak dengan motivas personal yang tidak memerlukan justifikasi dari dunia sosial. Akibatnya, mereka dianggap jahat, asing, aneh, eksentrik, dan sebagainya. Dengan kata lain, Laming mengajukan argumen menarik, yakni bahwa kejahatan muncul justru karena adanya aturan. Keberadaan aturan dan norma tidak memusnahkan kejahatan, tetapi justru melahirkannya.[12]

Dunia sosial memilki kekuatan yang luar biasa, sehingga bisa memaksakan norma-normanya kepada individu. Norma-norma ini diperpanjang oleh institusi-instusi pendidikan, penjara, dan rumah sakit jiwa yang menyatakan inilah yang benar, dan yang lain adalah salah. Moral dan agama pun membantu di dalam pelestarian tata sosial tersebut. Moral, agama, pendidikan, penjara, hukum, dan rumah sakit jiwa adalah elemen-elemen dunia sosial yang memiliki fungsi kontrol kuat terhadap individu. Jika individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang terdapat di dalam institusi-institusi tersebut, maka ia bisa dipenjara, rehabiliitasi, ataupun dimasukan ke dalam rumah sakit jiwa. Keberadaan institusi ini tidaklah melulu buruk, karena mereka menjaga stabilitas sosial, sekaligus mewariskan nilai-nilai kultural ke generasi berikutnya. Dalam kerangka ini, motivasi manusia, terutama yang mekanis, haruslah tunduk pada norma-norma kultural dan hukum positif yang ada.



[1] Tulisan ini diinspirasikan dari pemikiran Donald Laming, Understanding Human Motivation, Oxford, Blackwell, 2004.

[2] Ibid, hal. 2.

[3] Ibid.

[4] Lihat, Laming, 2004, hal. 3.

[5] Lihat, ibid, hal. 6.

[6] Ibid.

[7] Ibid, hal. 7.

[8] Laming, 2004, hal. 8.

[9] Lihat, Ibid, hal. 278.

[10] Lihat, ibid, hal. 279.

[11] Ibid, hal. 279.

[12] Bdk, Laming, 2004, hal. 281.


Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Motivasi Hidup Manusia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s