Mengapa Perlu Belajar Filsafat?

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Pernahkah anda bertanya dalam hati, apa tujuan hidup ini? Atau mengajukan pertanyaan, mengapa saya ada? Memang, agama memberikan jawaban. Namun, apakah anda puas dengan jawaban yang diberikan agama? (1)

Jika anda tidak puas dengan jawaban dari agama, ataupun dari tradisi anda, maka belajar filsafat adalah sesuatu yang mesti anda lakukan. Setidaknya dengan mempelajari filsafat, anda bisa menemukan metode yang lebih tepat untuk memahami dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut.

Berpikir

Filsafat, pada hemat saya, bukan sekedar merupakan mata kuliah. Filsafat adalah suatu tindakan, suatu aktivitas. Filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia (apa tujuan hidup, apakah Tuhan ada, bagaimana menata organisasi dan masyarakat, serta bagaimana hidup yang baik), dan mencoba menjawabnya secara rasional, kritis, dan sistematis.

Untuk catatan, filsafat sudah ada lebih dari 2000 tahun, dan belum bisa (tidak akan pernah bisa) memberikan jawaban yang pasti dan mutlak, karena filsafat tidak memberikan jawaban mutlak, melainkan menawarkan alternatif cara berpikir.

Ketika belajar filsafat, anda akan berjumpa dengan pemikiran para filsuf besar sepanjang sejarah manusia. Sebut saja nama-nama pemikir besar itu, seperti Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, Thomas Aquinas, dan Jacques Derrida. Pemikiran mereka telah membentuk dunia, sebagaimana kita pahami sekarang ini.

Beberapa mata kuliah yang diajarkan adalah filsafat moral, filsafat ilmu pengetahuan, filsafat budaya, filsafat politik, filsafat sejarah, logika, eksistensialisme, dan sebagainya. Anda juga akan diajak memikirkan soal keadilan global, teori-teori demokrasi, dan etika biomedis. Untuk para profesional, filsafat juga amat berguna untuk memperluas wawasan berpikir.

Kemampuan-kemampuan Penting

Dengan belajar filsafat, anda akan mendapatkan beberapa ketrampilan berikut; memikirkan suatu masalah secara mendalam dan kritis, membentuk argumen dalam bentuk lisan maupun tulisan secara sistematis dan kritis, mengkomunikasikan ide secara efektif, dan mampu berpikir secara logis dalam menangani masalah-masalah kehidupan yang selalu tak terduga.

            Dengan belajar filsafat, anda akan dilatih menjadi manusia yang utuh, yakni yang mampu berpikir mendalam, rasional, komunikatif. Apapun profesi anda, kemampuan-kemampuan ini amat dibutuhkan. Di sisi lain, dengan belajar filsafat, anda juga akan memiliki pengetahuan yang luas, yang merentang lebih dari 2000 tahun sejarah manusia.

Kemampuan berpikir logis dan abstrak, kemampuan untuk membentuk argumen secara rasional dan kritis, serta kemampuan untuk menyampaikan ide secara efektif, kritis, dan rasional, akan membuat anda mampu berkarya di berbagai bidang, mulai dari bidang informasi-komunikasi, jurnalistik, penerbitan, konsultan, pendidikan, agamawan, ataupun menjadi wirausaha.

Para pengacara, praktisi hukum, praktisi pendidikan, pemuka agama, maupun praktisi bisnis akan mendapatkan wawasan yang amat luas, yang amat berguna untuk mengembangkan diri dan profesi mereka. Jika anda sungguh ingin mendalami filsafat, anda bisa melanjutkan studi sampai pada level master dan doktoral, dan kemudian mengajar di bidang filsafat.

Kemampuan-kemampuan Khusus

Dengan belajar filsafat, anda akan mampu melihat masalah dari berbagai sisi, berpikir kreatif, kritis, dan independen, mampu mengatur waktu dan diri, serta mampu berpikir fleksibel di dalam menata hidup yang terus berubah.

Filsafat mengajak anda untuk memahami dan mempertanyakan ide-ide tentang kehidupan, tentang nilai-nilai hidup, dan tentang pengalaman kita sebagai manusia. Berbagai konsep yang akrab dengan hidup kita, seperti tentang kebenaran, akal budi, dan keberadaan kita sebagai manusia, juga dibahas dengan kritis, rasional, serta mendalam.

Filsafat itu bersifat terbuka. Sekali lagi, filsafat tidak memberikan jawaban mutlak yang berlaku sepanjang masa. Filsafat menggugat, mempertanyakan, dan mengubah dirinya sendiri. Ini semua sesuai dengan semangat pendidikan yang sejati.

Filsafat mengajarkan kita untuk melakukan analisis, dan mengemukakan ide dengan jelas serta rasional. Filsafat mengajarkan kita untuk mengembangkan serta mempertahankan pendapat secara sehat, bukan dengan kekuatan otot, atau kekuatan otoritas politik semata.

Filsafat adalah komponen penting kepemimpinan. Dengan belajar berpikir secara logis, seimbang, kritis, sistematis, dan komunikatif, anda akan menjadi seorang pemimpin ideal, yang amat dibutuhkan oleh berbagai bidang di Indonesia sekarang ini. Jadi tunggu apa lagi? Mari belajar filsafat!


[1] Diolah dan dikembangkan dengan pemikiran saya sendiri dari http://www.guardian.co.uk/education/2008/may/01/universityguide.philosophy?INTCMP=SRCH 20 April 2012. 14.68.

81 thoughts on “Mengapa Perlu Belajar Filsafat?

  1. Saya suka filsafat untuk belajar introspeksi,, merespon segala sesuatu ‘secara’ bijak..
    Trimakasih Reza.. saya sudah ‘lebih’ tercerahkan berada di rumah filsafat ini,,karena :
    “Beranilah untuk menggunakan pemahamanmu sendiri! Itulah semboyan Pencerahan.” (Immanuel Kant)
    Kadang kadang saya terlalu ‘berani’ menggunakan pemahaman sendiri,,sambil mawas diri.
    Ternyata pemahaman-pemahaman saya sendiri,’telah ada’ pada tulisan-tulisan Reza di rumah filsafat ini.
    Ternyata saya sedang mengamati,memahami segala sesuatu dari berbagai s i s i
    Cherish every moments Reza.. sukses dan sehat di segala sisi

  2. @A. Magfi Nugroho. Dulu saya kuliah akuntansi, menjadi auditor bertahun-tahun. Setelah belajar filsafat saya merambah ke komputer, psikologi, sosiologi, politik, fisika dll. Kini saya jadi pembicara yang mencampuradukkan semuanya sambil menikmati hidup dengan melukis dan membuat aplikasi yang berbau simulasi dan AI. Fisaafat sepertinya tidak menjadikan kita bekerja atau berprofesi tertentu, tapi membuka kita untuk lebih berkembang. Tahukah anda bahwa sebagian besar sebutan gelar akademis tertinggi adalah “Philosophic” Doctor?.

  3. Sepertinya saya hampir membaca keseluruhan artikel di blog Mas. dan ini membuatku semakin menyenangi filsafat. terimakasih mas Reza. langsung saya bookmark. salam.

  4. saya mahasiswa ITB di bidang teknik sipil dan sangat menyukai kajian filsafat karena daya pikir inilah yang saya butuhkan dalam bidang saya.trims atas artikelnya pak.

    • setuju.. berfilsafat adlaah kemampuan alami manusia, yang kemudian terlupakan karena.. pendidikan formal… yang mengajarkan orang untuk jadi budak otoritas, dan hanya bisa menghafal seperti mesin.. bahkan mesin lebih baik menghafalnya…

  5. saya bukan siapa-siapa… murid abadi…seseorang yang penasaran akan berbagai hal… dan ini terjadi bertahun-tahun..
    membaca blog ini saya merasa ini yang saya cari… “gue bangetttt”…

  6. saya merasakan sendiri manfaatnya setelah saya belajar filsafat di pend. non formal….
    ketika kulia, saya bisa dikatakan mahasiswa yg tak beda dgn mahasiswa kebanyakan di kampus saya..yang jarang bertanya n berargumen ketika belajar salah satu matu kuia yang diterangkan oleh dosen..bisa dibilang ketika dosen bertanya””apakah sudah paham”..saya hanya bisa menganggukan kepala..hanya bisa nerima apa adanya yg diajarkan oleh dosen… tetapi setelah saya belajar filsafat…alhamdulillah saya sekarng berani banyak bertanya ttg sesuatu yg bagi saya tidak rasional n belum bisa saya terima begitu saja…n tak jarang juga saya sering debat dengan dosen untuk mempertahankan argumen saya..dalam arti debat untuk mencari jawaban yg sesungguhnya yg bisa saya terima baik itu secara rasional ataupun yg dpt saya rasakan dengan panca indra..
    filsafat merupakan ilmu penting bagi saya,,karena filsafat dpt merubah seseorang menjadi lebih baik

  7. Salam kenal,
    saya belajar sistem pajak, kemudian tersimpulkan pajak menjadi upeti bagi rakyat bukan seperti suatu kontrak sosail ( seperti dalam tulisan pak Reza, bagaimana memahami masalah pajak dari perspektif filsafat

    supomo

  8. Pak Reza, saya baru baca tulisan anda ini, dan isinya sangat menarik, karena sangat mengundang orang untuk belajar filsafat. Gaya bahasa dan pilihan kata yang anda gunakan mudah dipahami & alurnya sangat jelas. Saya punya masalah membaca buku-buku filsafat karena gaya bahasa yang digunakan sangat berat buat saya, ya tentunya saya harus belajar terus agar bisa memahami tulisan2 filsafat. Seringkali, buku2 filsafat terjemahan dari bahasa original ke bahasa Indonesia juga aneh untuk dipahami, karena buat saya tampak seperti tanpa alur cerita dalam novel, lompat2, dan menggunakan terminologi yang sangat asing. Apakah Pak Reza ada saran buat saya dalam mengatasi kendala membaca buku2 yang “berat” ini? (bukan “berat” dalam arti berat bukunya dalam satuan kilogram :D, tapi berat untuk dipahami)

    Teruslah semangat untuk menulis & berbagi dengan orang lain. Saya salut dengan anda. Terima kasih karena telah mencerahkan pikiran saya.

  9. salam kenal pak, saya Ferianta. semenjak saya kuliah, ada makul filsafat, nah saya sangat tertarik dengan filsafat. bagaimana saya belajar filsafat pak? saya masih awam sekali dalam hal tersebut

  10. saya ini agak sedikit kesulitan belajar filsafat, karena kata per kata nya banyak yang asing di telinga saya. jadi saya harus belajar memahami dulu kata per kata, supaya saya dapat memahami kandungan dari kalimat nya… apakah mas reza bisa membantu membuatkan postingan metode belajar filsafat. karena jujur saja, perjalanan akademis saya tidak saya gunakan dengan baik. terima kasih

  11. Salam, Pak. Saya menggeluti bidang atau ranah ilmu informasi dan perpustakaan, apakah kajian filsafat Bapak juga pernah menyinggung bidang tersebut?

    NB: Buku Filsafat Anti Korupsi nya sudah lama saya koleksi, akhirnya bertemu langsung dengan penulisnya disini :)

      • ane jadi ragu sama jenengan pak. segitu mudahnya kah menyuruh orang pindah jurusan, hanya karena berbeda dengan ilmu yang bapak tekuni????

        belajar filsafat gak perlu di bangku kuliah. baca bukunya, ikuti kajiannya, dll bisa

      • hehehe…. saya kemarin baru nyuruh teman sayang yang belajar filsafat untuk pindah jurusan, karena dia sukanya melukis. Intinya, jangan setengah2. Kalo suka filsafat, tekuni dan dalami. Setengah2 cuma membawa kebingungan.

  12. Pak Reza, saya baru saja lulus dari Studienkolleg Jerman. Saya berencana mengambil Philosophy di sini, tapi saya masih banyak pertimbangan mengenai hal ini karena saya tahu kalau filsafat disini sangatlah berat, ditambah lagi bahasa Jerman saya yang masih belum baik. Apa pendapat bapak untuk orang Indonesia yang akan mengambil Bachelor Filsafat di Jerman? Kalau Bapak berkenan, mungkin kita bisa berdiskusi (tepatnya saya minta pencerahan) melalui email.:D

  13. luar biasa …dengan belajar filsafat saya menemukan hidup yang saya cari dan berkarya dengan mudah…perkenalkan pak reza saya seorang seniman muda di surabaya ..saya membuat karya2 lukisan dan instalasi yang cocok dengan karakter saya yang selalu mencari tentang hal2 yang baru…ternyata sebagian orang menilai karya saya mengandung nilai filsafat …semoga saya tidak salah dalam proses berfikir saya…saya juga salut dengan anda yang bersedia berbagi tentang filosofi …terimakasih….

  14. Salam sejahtera Bapak Reza A.A Wattimena,

    saya tertarik belajar filsafat dan bangga dengan kemampuan Bapak dalam berbahasa Jerman. Yang saya ingin tanyakan
    1. Hal-hal mendasar apa perlu saya persiapkan sebelum belajar filsafat?
    2. Bagaimana menjadi manusia yang kritis terhadap diri sendiri, individu, masyarakat dan masalah yang selalu bervariatif dalam kehidupan?
    2. Bagaimana belajar bahasa Jerman dengan efektif? Mohon diberikan masukan.

    Terimakasih…

    • Salam kenal ya. Bahasa itu hanya alat untuk berpikir. Coba belajar untuk mempertanyakan segala hal secara sistematis dan kritis. Itu kunci belajar filsafat. Ini proses yang berlangsung seumur hidup dan membutuhkan ketekunan. Coba menulis setiap hari dalam bahasa Jerman.

  15. salam kenal pak reza saya uti masih di bangku SMA . Saya berencana masuk jurusan filsafat :)
    mau tanya nih pak , sebenarnya belajar filsafat itu gmana sih ? apa yang harus kita kuasai untuk belajar filsafat ? prospek kerja untuk kedepanya gmana ?
    saya masih bingung , mohon pencerahannya pak :)

  16. saya sudah membaca artikel ini, dan saya masih bingung ttg ilmu filsafat. Karena di artikel lain saya menemukan kalimat spt ini:
    “Bahkan dalam lingkup kehidupan beragama, beberapa kalangan ulama ada pula yang menganggap filsafat sebagai ilmu yang menyesatkan keimanan umat Islam, dan telah memperpuruk peradaban fiqhiyah Islam. (JH. Rapar, 1996)”
    bgmn menurut anda pendapat ulama diatas? mohon penjelasannya lagi dg metode ‘dalam pandangan Islam’ terima kasih.

    • Saya kurang tau soal Islam. Filsafat itu, sama seperti sains, penuh dengan pemikiran kritis dan rasional. Agama seringkali tidak mampu menanggapinya. Tapi, agama dan filsafat bisa saling belajar masing-masing, supaya bisa memberi makna dan kebahagiaan pada hidup manusia.

  17. Salam sejahtera Pak Reza, sy perempuan kecil dgn segudang pertanyaan dikepala sy, dari sekian byk buku yg sy baca, semua menuntun sy kembali utk membaca dan mempelajari ilmu filsafat. Thx God sy menemukan blog ini, dan sy mulai bisa menjabarkan satu persatu pertanyaan2 tsb dgn berfilsafat dan berdialektika dgn org yg tepat. Melihat pentingnya filsafat, idealnya setiap manusia hrs mempelajari filsafat, tp pada kenyataannya tdk semua org melakukan itu, yg ingin sy tanyakan adalah apa alasan org2 tidak berfilsafat dlm segala hal? Apa mereka tdk tahu? Atau mereka tahu tapi mereka tdk mau mengambil resiko (melihat sistem pemerintahan Indonesia yg anomali)? Lalu bagaimana cara menanganinya?
    Terimakasih, dangke lai sebelumnya, semoga blog ini dpt menuntun sy utk memantaskan diri mencapai nilai tertinggi dlm hidup. Amin.

    • Filsafat adalah kecenderungan alamiah manusia. Namun, tak semua orang mendalaminya. Itu saja. Berfilsafat berarti berpikir secara mendalam dan sistematik. Tidak semua orang mempelajarinya. Namun, semua orang bisa melakukannya, jika ia mau. Di Indonesia, filsafat ditakuti. Akibatnya, banyak orang berpikir secara cetek dan kacau. Bagaimana menurutmu?

      • Menurut sy mengapa filsafat ditakuti di Indonesia adalah karna tdk adanya karakter kuat yg dimiliki oleh (kebanyakan) masyarakat Indonesia. Mereka hidup dgn ketakutan2 yg ada pd pikirannya, sehingga cenderung oportunis, takut akan perubahan2, anti kemapanan, mereka tdk tahu kalau mereka tdk tahu, mudah dipengaruhi oleh budaya2 luar tanpa tahu makna sebenarnya. Sehingga terbentuklah bangsa tanpa jati diri, bangsa permisif yg sdh terbiasa dgn budaya korupsi. Sistem pemerintahan demokrasi hanya ilusi.
        Ya, sy tahu Pak Reza pasti sdh bisa menilai dari semiotika tulisan sy ini, bahwa sy agak emosi. Hehe tapi, iya terkadang sy emosi hidup ditengah2 masyarakat pembunuh. Mereka mengatakan sy org aneh hanya karna sudut pandang kami yg berbeda.
        Yg saya ingin tanyakan, bagaimana cara yg bijak utk mengahadapi org2 yg selalu mengatakan sy aneh?
        Dangke lai Pak.

      • halo.. thx atas sharingnya. Saya setuju denganmu. Ini bukan hanya penyakit Indonesia, tetapi juga banyak negara lainnya. Mereka hidup dalam delusi. Coba nanti kamu lihat tulisan terbaru saya. Cara menghadapi mereka? Kasihi dan cintai, karena mereka hidup dalam kebodohan dan penderitaan. Hanya itu jalan terbaik.

      • menurut saya, nilai tertinggi dalam kehidupan itu adalah proses pencarian makna dalam hidup. Maka dari itu kita akan menjadi jiwa yg bebas. Tetapi memang tidak mudah untuk melewati proses tersebut, butuh kekuatan dalam kesabaran. Tidak jarang kita temui, kendala terbesar itu adalah orang2 terdekat kita. Pikiran kita sudah dikotak kotakan dari kecil, sampai beranjak dewasa dimana pola pikir kita berkembang, mereka membatasi dgn dogma – dogma yang menurut saya sangat bodoh.Saya pemberontak, saya tidak pernah bisa mengikuti pola pikir mereka dalam menjalani hidup. Dan saya tidak pernah merubah apa yg ada dikepala saya untuk hidup menderita seperti mereka dan bahagia seperti diri saya. Sampai saat ini pun saya masih tetap bertahan untuk tetap hidup bahagia seperti diri saya. dan terus memperjuangkan untuk meraih sesuatu yg dikatakan IDEAL dalam hidup saya. Tetapi delusi yg mereka alami itu membuat saya stagnan, mereka membunuh jiwa saya. Semua itu hanya karna mereka memaksakan saya memiliki standard yg sama dengan mereka dalam memaknai KEBAHAGIAAN dan IDEALISME dalam hidup.Idealnya hidup saya adalah saat batin saya tenang dan tidak lagi terpenjara oleh ketakutan2. Bahagia saya adalah saat hati dan pikiran saya sudah bisa berdamai.
        Sementara standard mereka itu ABSTRAK yg dibatasi ruang dan waktu.
        Lalu jika demikian yg terjadi, bagaimana mungkin sy bisa mencintai dan mengasihi mereka dgn kondisi sy yg baru ingin memulai utk belajar? Sudah pasti emosi sy blm stabil. Dan yg timbul hanyalah rasa benci dan dendam yg mendalam atas kejahatan mereka yg sungguh luar biasa.
        Langkah apa yg harus saya ambil agar tidak stagnan seperti ini?

        Dangkelai Pak. GBU

      • halo. Thx atas analisisnya. Kuncinya begini: kita mencapai ketenangan jiwa, apapun kata masyarakat kita. INi hanya bisa diraih dengan menghancurkan delusi-delusi di dalam kepala. Coba pikirkan baik-baik, jangan2 makna dan tujuan hidupmu yang juga menjadi delusi, yang membuat kamu menderita? Jika makna dan tujuan hidupmu dirobohkan, kamu akan tenang. Lalu, kamu bisa hidup dengan rasa tenang dalam hati. Ada paradoks disini: ketika ketenangan jiwa dicapai, makna dan tujuan hidup pun tercapai, karena jauh di dalam hati setiap manusia, apapun latar belakangnya, tujuan kita cuma satu: kebahagiaan..

      • Astaga! Saya sangat berterimakasih sekali. Membaca balasan dari Bapak serasa tamparan utk saya, dan menyadarkan diri saya. Emosi menguasai diri, sehingga keegoisan dan kesombongan yg keluar. Dan ternyata saya lebih bodoh dari mereka. Atau malah sy yg mengidap delusi? Mengapa harus menyalahkan orang lain disaat introspesksi diri jauh lebih arif? Emosi hanya memperlihatkan kebodohan. Pada intinya sy hanya memperjuangkan hubungan pribadi sy, karna menurut sy memang pantas utk diperjuangkan. Itu pula yg membukakan jalan sampai sy bisa menemukan blog ini.
        Sepertinya saat ini saya hanya perlu melepaskan sejenak pikiran sy, dan berdamai dengan kenyataan.

        membaca ini semua saya tidak ada habisnya tertawa. Hahaha sumpah ini lucu, disaat sy merasa pendapat sy paling benar, panjang lebar dan terkesan sombong sekali, hanya dengan sedikit sentilan semua itu roboh. Hahaha
        Ya, sy akan lebih byk berkaca dan tidak menuntut org lain utk mengerti sy. Dan, ya, mencintai dan mengasihi mereka pun menjadi hal yg mudah skrg.

        Terimakasih sekali Pak Reza. GBU

      • Orang lain tidak pernah salah. Mereka yang berbuat jahat dan menindas kita juga hidup dalam delusi. Artinya, mereka menderita. Kita justru harus belajar untuk memahami dan mencintai mereka.

        Sadari saja, bahwa delusi juga hidup di kepala kita. Tandanya sederhana: bahwa kita merasa menderita. Ketika delusi runtuh, maka kita akan tenang dan damai. Keputusan pun bisa dibuat dengan jernih dan baik. Singkirkan semua delusi, dan belajar untuk mengampuni mereka yang menjahati kamu. Buatlah keputusan tidak dengan emosi (karena itu juga delusi), melainkan dengan ketenangan dan kejernihan. Sama2. Semoga terbantu ya.

      • Ya, seperti kutipan dari buku Sistematika Filsafat, drs Sidi Gazalba, buku 1 thn 1973, menjelaskan bahwa “Kepahaman akan bertambah, manakala kita kaji etimologi kata filsafat.”

        Melalui blog ini, saya tidak hanya merasa terbantu (dibukakan pintu) tetapi hal yg lebih penting adalah menyadarkan saya dari kelengahan saya. Hanya dengan memberikan tameng, utk mempertahankan jiwa saya dari serangan – serangan sekelompok jiwa pembunuh, yg menginginkan saya menjadi bagian dari mereka yg bersekutu dengan delusi.

        Seperti yg dikatakan oleh NIetzsche “apa yg tidak membunuhku membuatku lebih kuat” well, kecuali aku setan, yg dengan terbunuhpun akan lebih menguatkanku. Hehe, just improved!

        Dan seperti yg dikatakan Unknown author (saya lupa, lebih tepatnya) “Mereka yg berilmu akan lebih sedikit berbicara.”

        Thank a bunch for relieve and exciting discusion..

  18. saya diberi tahu guru bahasa indonesia saya,
    kalo belajar filsafat, bakal mudah jadi manusia bijak,

    tapi aku lebih seneng menanyakan masalah mengapa saya ada di dunia ini? nah, cabang apa yang harus saya pelajari? filsafat apa?
    apa moral, apa apa?
    sebelumnya makasih, gan!

      • Mengutip statement Bapak ” Kita bertindak seturut dengan apa yang terjadi di alam.” Saya jadi penasaran, dan ingin menanyakan seperti apa dan bagaimana cara bertindak seturut dengan apa yg terjadi di alam menurut Bapak sebagai orang yang mendalami sekaligus pengajar filsafat? Karena yang ada dipikiran saya, hal itu hanya akan terwujud dengan jiwa yang bebas. tapi kembali lagi, itu hanya isi kepala saya saja yang masih cetek sekali dalam filsafat.
        Dangke lai Pak.

      • Bertindak sesuai alam artinya bertindak sesuai dengan keadaan yang di depan mata kita, tidak lebih tidak kurang. Menjadi responsif terhadap tantangan yang ada di depan mata. Tidak pusing dengan emosi sendiri. Misalnya, ada kucing ketabrak mobil di jalan. Kita cuma perlu menolongnya, jika tidak, yah menguburnya. Ga usah pusing dengan emosi dan kata orang. Sami2..

  19. Banyak yang beranggapan saya orang Idealis dan saya tidak menyangkal itu, saya suka belajar filsafat.
    Tapi menurut mereka orang idealis kaya saya jangan belajar filsafat.
    kalaupun saya tetap ingin mempelajari filsafat, filsafat apa yang cocok untuk orang seperti saya?
    terimakasih banyak..

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s