Jean-Jacques Rousseau

stephenhicks.org

Oleh Reza A.A Wattimena,

Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Rousseau lahir dia Geneva pada 28 Juni 1712.[1] Ia adalah anak kedua dari Isaac Rousseau. Ibu Rousseau adalah seorang perempuan kaya bernama Suzanne. Pada 4 Juli 1712, Rousseau dibabtis sebagai seorang pengikut Kalvinisme. Namun, sayangnya, dua hari kemudian, ibunya meninggal. Pada waktu itu, ibunya masih berumur 40 tahun. Menurut Dent, salah satu komentator Rousseau, peristiwa ini amat mempengaruhi hidup Rousseau. Gaya reflektif dan pemahamannya soal hubungan antar manusia amat diwarnai oleh peristiwa ini.[2] Ayah Rousseau adalah seorang tokoh ternama di Geneva. Sebagaimana dicatat oleh Dent, pada masa itu, Geneva memiliki tiga jenis penduduk. Ayah Rousseau adalah warga kota penuh. Maka, ia memiliki hak untuk aktif di dalam politik. Penting juga untuk dicatat, bahwa jumlah warga negara penuh di Geneva pada masa itu kurang dari sepuluh persen dari jumlah total penduduk.

Sebagai seorang filsuf, Rousseau bertumbuh dalam suasana akademik yang baik. Ayahnya adalah orang yang berpendidikan tinggi. Di satu sisi, ia adalah seorang pembuat jam. Di sisi lain, ia adalah orang yang memiliki minat membaca amat tinggi. Dari ayahnyalah, Rousseau tertarik membaca tulisan-tulisan klasik, seperti karya Plutarch, seorang sejarahwan Yunani ternama. Bahkan, di dalam buku autobiografinya yang berjudul The Confessions, Rousseau menyatakan, bahwa karena membaca Plutarch, ia sering melihat dirinya sendiri sebagai orang Yunani, atau orang Romawi. Namun, dalam perjalanan waktu, kekayaan ayahnya mulai berkurang. Mereka pun terpaksa pindah pada 1722. Rousseau kemudian tinggal bersama pama dan sepupunya yang bernama Abraham. Seperti ditulis di The Confession, sebagaimana dicatat oleh Dent, Rousseau mengingat masa-masa itu dengan penuh kebahagiaan, sekaligus kepahitan.[3] Namun, dalam perjalanan waktu, ia akhirnya berpisah jalan dengan Abraham, sepupunya.

Pada Maret 1728, sebagaimana dicatat oleh Dent, Rousseau mengalami peristiwa yang mengejutkan. Pada waktu itu, ia sedang berjalan-jalan di luar gerbang kota. Namun, ketika ia pulang, ia melihat pintu gerbang kota telah tertutup. Ia pun membuat keputusan ganjil, yakni memutuskan untuk pergi meninggalkan kotanya saat itu juga, tanpa pertimbangan, dan tanpa persiapan apapun. Ia “ingin mencoba kesempatannya di dunia yang lebih luas”.[4] Selama beberapa waktu, ia menggelandang, hingga akhirnya berjumpa dengan Françoise-Louise de la Tour, Baronne de Warens, yang juga dikenal sebagai Madam de Warens. Setelah itu, ia sempat pergi ke Turin, namun kembali lagi tinggal bersama Madam de Warens. Pada 1731, mereka pindah ke Chambery, dan tinggal bersama selama sepuluh tahun ke depan. Sebagaimana dinyatakan oleh Dent, hubungan mereka dua amat istimewa, penuh trauma, sekaligus penuh dengan kasih sayang. Rousseau tidak hanya menjadi kekasih untuk Madam de Warens, tetapi juga pengelola urusan-urusan rumah tangganya. Bersamanya, Rousseau membaca beragam karya klasik, dan mulai berani menulis. Namun, pada 1738, hubungan mereka retak. Rousseua mulai menjalin hubungan dengan Wintzenfried, asistennya.

Pada 1762, sekitar tiga puluh tahun kemudian, Rousseau menulis salah satu karya terbesarnya, yakni The Social Contract. Buku itulah yang menjadi acuan saya di dalam tulisan ini. Buku itu disambut dengan meriah oleh berbagai kalangan. Ia bahkan diminta untuk menuliskan konstitusi untuk Corsica pada 1764 dan Polandia pada 1771.[5] “Jika Corsica tidak diinvasi, dan Polandia tidak pecah”, demikian tulis Wokler, “mungkin saja, di akhir abad 18, kita bisa melihat penerapan prinsip-prinsip Kontrak Sosial di konstitusi negara yang nyata.”[6] Sebenarnya, inilah cita-cita Rousseau, yakni mengawinkan teori dan praktek politik praktis. Ini jugalah yang membuatnya amat dikagumi oleh para pemikir lainnya, terutama oleh para pemikir Pencerahan. Berbeda dengan Filsafat Politik Plato, yang berbicara tentang praktek-praktek ideal suatu negara, filsafat politik Rousseau berbicara tentang situasi konkret tempat tinggalnya, dan bagaimana sebaiknya tempat itu dikelola dengan prinsip-prinsip yang tepat.

Di sisi lain, banyak juga pihak yang marah dengan tulisan Rousseau tersebut, terutama pada bagian yang membicarakan agama. Di dalam buku itu, sebagaimana ditegaskan oleh Wokler,  Rousseau menegaskan kaitan antara agama dan politik.[7] Artinya, orang berpolitik haruslah menggunakan semangat yang sama, seperti orang beragama, yakni melihat tugas-tugas politik sama sucinya dengan tugas-tugas suci agama yang melibatkan keberadaan Tuhan. Pandangan ini menuai banyak kritik, baik dari kalangan agama, maupun dari kalangan para pemikir sekular. Di mata para filsuf Pencerahan, Rousseau dianggap sebagai penjilat yang masih berpihak pada tradisi kuno, yakni agama. Di mata kaum agamawan, ia dianggap sebagai pemikir bejat yang menyamakan agama dengan kekotoran dunia politik. Namun, posisinya sebenarnya adalah pada komitmen pencerahan itu sendiri, yakni penggunaan akal budi dalam kehidupan pribadi, maupun kehidupan publik. Karya-karyanya terus mengalami sensor. Di Paris, buku-buku Rousseau dilarang terbit. Bahkan, buku-buku itu dibakar di jalan-jalan kota Geneva. Pada 1762, ia menjadi buronan para penegak hukum. Ia dibenci, baik oleh kaum agamawan, maupun oleh para pemikir Pencerahan. Dua kelompok yang pada masa-masa itu juga saling bertentangan.

Pada 1763, Rousseau mendapatkan perlindungan dari Frederick, penguasa Prussia (Jerman) pada masa itu. Pada saat yang sama, ia pun melepaskan kewarganegaraannya di Geneva. Di Prussia, ia seringkali harus menggelandang, karena tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Sebagaimana dicatat oleh Wokler, Rousseau pada masa-masa itu seringkali mengalami ketakutan berlebihan atas niat-niat orang-orang di sekitarnya. Ia merasa, bahwa semua orang memiliki niat jahat padanya. Pada 1766, ia menemukan pelindung baru, yakni David Hume di Inggris. Di sana, Rousseau tinggal lebih dari 18 bulan, terutama di Wootton, Staffordshire, Inggris. Namun, kecemasan dan ketakutannya terus ada, dan semakin bertambah. Ia selalu merasa, semua teman-temannya, termasuk Hume dan para pemikir Pencerahan di Prancis lainnya, bersekongkol untuk menjatuhkannya. Kecemasan dan ketakutan ini sungguh membuat hidup Rousseau menderita. Pada masa-masa yang sama, berbagai tulisan lahir dari tangannya, mulai dari tentang musik, botani, puisi, sampai karya-karya tentang pendidikan. Ia juga menulis autobiografi perjalanan hidupnya sendiri.[8] Perasaan cemas, takut, dan kebencian pada orang-orang yang mengejarnya membuatnya harus kembali melarikan diri ke Paris bagian Utara, yakni di Ermenonville. Di tempat inilah, ia mengalami pendarahan, dan meninggal dalam diam. Namun, sebagaimana dicatat oleh Wokler, banyak orang menduga, Rousseau membunuh dirinya sendiri.

Menurut Nicholas Dent, di dalam bukunya tentang Rousseau, perjalanan hidup Rousseau dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah 1712-1749. Ini adalah masa-masa penempaan awal Rousseau sebagai seorang pemikir. Pada masa-masa ini, ia banyak menulis soal musik. Bagian kedua adalah masa pendewasaan, yakni 1750-1764. Pada masa-masa ini, banyak karya-karya terbaik Rousseau terbit. Diantaranya adalah Discourses, La Nouvelle Héloïse, Émile, The Social Contract, dan Letter to d’Alembert. Bagian ketiga adalah 1764-1768. Di masa ini, ia mengalami banyak gangguan mental. Pada masa ini pulalah ia menulis The Confession, autobiografinya yang terkenal.[9] Pembagian ini, pada hemat saya, dapat membantu kita untuk memahami berbagai konteks peristiwa yang mempengaruhi hidup serta pemikiran Rousseau.


[1] Untuk selanjutnya, saya terinspirasi dari tulisan Dent, Nicholas, Rousseau, Routledge, London, 2005, hal. 8.

[2] Ibid, “Many have seen in this loss of his mother a profoundly formative influence on not only Rousseau’s personality but also on what he identified, in his reflective writings, as the best form of human relationship, involving a directness and immediacy he never experienced.”

[3] Ibid, hal. 9. Here Rousseau spent some idyllic years recalled with great beauty in The Confessions, but also experienced the distresses of injustice and the erotic arousal that pain can bring.”

[4] Ibid, hal. 10. and take his chance in the wider world”

[5] Untuk selanjutnya, saya terinspirasi dari Wokler, Robert, Rousseau, Oxford University Press, Oxford, 2001, hal. 18. After the publication of his Social Contract, Rousseau drafted a Constitution for Corsica in 1765 and an essay on The Government of Poland around 1771, in both instances on the invitation of leading citizens of those fledgling regimes, who invited him to serve as their legislator.”

[6] Ibid, “If Corsica had escaped invasion, and Poland its partitions, it might have been possible, in the late eighteenth century, to witness how the principles of the Social Contract could be applied to the constitutions of actual states.”

[7] Ibid, hal. 19. “The feature of his Social Contract which, in his lifetime, aroused the deepest public fury, however, was its penultimate chapter on the civil religion. Rousseau there stresses the significance of a religious as well as political foundation for our civic responsibilities, according to which citizens perform and love their duty as a matter of patriotic faith, joining them together in common devotion to an almighty, benign, and tolerant Divinity.”

[8] Ibid, hal. 20. “Having returned to France on an undertaking to desist from publishing his writings, he found respite only in solitude, the study of botany, and a romantically lyrical communion with Nature, as recounted in his last major work, for some readers his greatest masterpiece, the Reveries, which would appear posthumously with the first part of his Confessions.”

[9] Dent, Nicholas, Rousseau, hal. 19. To take an overview of Rousseau’s life, one could say that it falls into roughly three parts: his ‘apprentice’ years, 1712–1749, in which most of his work is on music, and which ends with his ‘illumination’ on his way to Vincennes; his years of maturity, 1750–1764 from which date his greatest works, the three Discourses, La Nouvelle Héloïse, Émile, The Social Contract, the Letter to d’Alembert; and the years of decline, 1764–1778, marked by periods of acute mental disturbance and great self-absorption. His wonderful The Confessions comes from this period, but much of his writing is prolix and uneven.”

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Jean-Jacques Rousseau”

  1. Trima kasih untuk tulisan ini pak Reza. Apa ada tulisan tentang Konsep pendidikan John Dewey, saya ingin lebih tahu tentangnya.. terima kasih…

    Suka

      1. saya Eko Pompang, Mahasiswa Filsafat UKWMS, rencana Skripsi saya adalah Konsep Pendidikan jean Jacques Rousseau dalam bukunya EMILE, apakah mungkin ada buku yang sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia pak?

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s