Inspirasi dari STF Driyarkara: Sinyal dari Dunia Bawah

Technorati Tags: ,,

Sinyal dari Dunia Bawah
Politik Arcanum di Era Keterbukaan

Oleh: F Budi Hardiman

Pengajar di STF Driyarkara, Jakarta

APA yang hilang dengan rontoknya imperium komunisme Eropa? Kapitalisme dan liberalisme bukan hanya kehilangan pembanding. Rancangan-rancangan agung tentang masyarakat dan sejarah juga perlahan kehilangan plausibilitasnya. Tapivacuum utopianisme dalam "masyarakat tanpa musuh" (U Beck) ini hanyalah efek di permukaan. Efek mendasar yang mungkin masih kurang disadari adalah kaburnya skema waktu yang selama ini diandaikan begitu saja. Dengan suatu rancangan, kita dipukau oleh fiksi tentang sekuensi momen-momen yang datang dan lewat. Ada awal, tahap-tahap, dan tujuan yang terkalkulasi. Fiksi itu perlahan sirna dengan berakhirnya rancangan. Dan, manakala kesahihannya ditarik dari keseharian politik global, proses-proses sosial menjadi lebih tak terduga, penuh kejutan dan improvisasi. Tampaknya pengalaman dunia sedang bergeser dari great designs ke events, dari keajekan sekuensi waktu ke denyut moods.

Dunia sedang terbenam dalam keseharian saat menara kembar WTC dirontokkan lewat aksi terorisme pada 11 September 2001. Indonesia sedang tertidur ketika bom menggelegar di Bali setahun satu hari setelahnya. Tak ada prabayang untuk peristiwa semi-apokaliptis itu. Dunia juga kehilangan pola dalam reaksinya. Tragedi itu merupakan "patahan" dari sekuensi momen-momen dalam keseharian kita. Namun, ada sesuatu yang instruktif dari prahara global ini. Melaluinya orang dapat "mengintip" situasi politik global dengan lebih transparan.

Politik arcanum (kata Latin yang berarti "rahasia") kaum teroris dan perang melawan terorisme meningkatkan intensitas panik massa. Jam dan kalender tetap ada, tetapi manakala ancaman kekerasan merata secara global, kecemasanlah (Angst) yang mengembalikan waktu pada makna aslinya sebagai "yang datang tak terduga". Waktu adalah kemungkinan untuk mati (Heidegger). Waktuku habis dengan kematianku. Dalam arti ini, teror tidak bergerak "dalam waktu", melainkan melekat pada waktu. Dia datang dalam kebungkaman dan ketakterdugaan seperti maut dan menghalau fiksi keseharian.

Slavoj Žižek tentang Manusia sebagai Subyek Dialektis, Bagian 2

zizek Reza A.A Wattimena[i]

“Filsafat dimulai pada saat kita tidak lagi menerima

apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan.”

Slavoj Žižek

Abstract

What or who is human? This is one of the oldest questions in history. Philosopher and scientist from various disciplines try to answer it based on their research and theories. What is unique in Žižek approach is his effort to combine two different schools of thought as an intellectual instrument to answer this question, namely German Idealism and Jacques Lacan’s Psychoanalysis. Inspired by the philosophy of German Idealism, he argued that the essence of human is not inside his or her self, but outside, namely the symbolic order that determine their self. And inspired by Lacan, he argued that the self always embedded in the symbolic order, and constantly disrupted by the Real. In this context, we can say that human is a dialectical subject.

Kata Kunci: subyek, manusia, subyek dialektis, fantasi, the Real, tata simbolik.

Aku bermimpi. Mimpiku indah. Aku terbang di angkasa, bertemu putri cantik, lalu kita berdua terbang mengelilingi langit malam penuh bintang. Tiba-tiba aku merasa ingin jatuh. Aku pun terbangun. Ah, ternyata aku jatuh dari tempat tidur. Aku pun bergegas kembali naik ke kasur, guna melanjutkan mimpi indahku tadi. Tetapi apa daya mimpi itu tidak berlanjut. Aku justru terjebak dalam mimpi lain yang nyaris tak kuingat lagi.

Mungkin anda pernah mengalami hal yang sama dengan saya. Pandangan umum akan mengatakan, bahwa mimpi itu ilusi (terbang bersama putri cantik), dan terbangun itu nyata (jatuh dari tempat tidur). Melihat fenomena ini Žižek berpendapat lain. Baginya peristiwa jatuh dari tempat tidur adalah the Real yang mengganggu stabilitas tata simbolik manusia, ketika ia terhanyut di dalam mimpinya. The Real itu menyakitkan, traumatis, dan tidak ada orang yang menginginkannya. Namun orang niscaya mengalaminya, tanpa ada tawar menawar. Sementara mimpi indah adalah tata simbolik (symbolic order) yang membuat nyaman dan terlena. Orang tidak ingin lepas darinya. Tetapi kehidupan memaksa orang melepas diri dari keterlenaan tata simbolik tersebut. Orang ingin bermimpi karena mereka tidak tahan dengan realitas. Jika sudah begitu mana sebenarnya yang bisa disebut realitas? Terbang bersama putri atau jatuh dari tempat tidur?

Inilah khas gaya analisis Žižek. Ia menantang dan membalik pandangan umum. Ia pun melakukannya dengan penjelasan rasional, dan bukan sekedar argumen tanpa dasar. Begitu pula ketika ia mencoba mengajukan pandangannya soal manusia. Pada hemat saya argumen Žižek tentang manusia dapat ditempatkan untuk menanggapi perdebatan filosofis tentang manusia, yakni antara konsep subyek Cartesian di satu sisi, dan konsep subyek posmodernisme di sisi lain.

Yang pertama berpendapat bahwa subyek, manusia, adalah mahluk yang rasional, otonom, atomistik, dan bebas dalam berhadapan dengan dunia. Para filsuf modernis dan pencerahan berada di barisan ini. Kelompok kedua melihat bahwa subyek adalah semata bentukan dari kekuatan-kekuatan eksternal di luar kesadaran dirinya, seperti pengaruh ekonomi, struktur, politik, teks, ketidaksadaran, dan sebagainya. Konsep manusia sebagai subyek dialektis yang dirumuskan Žižek tepat ingin mengajukan kontribusi di dalam perdebatan tersebut.[ii]

Untuk menjelaskan argumen Žižek tersebut, saya akan membagi tulisan ini ke dalam tiga bagian. Awalnya saya akan menjelaskan dulu sosok pribadi maupun pemikiran Žižek (1). Pada bagian ini saya banyak terbantu oleh uraian Tony Myers di dalam bukunya tentang Žižek. Lalu saya akan menjelaskan pandangan Žižek tentang manusia, terutama yang termuat di dalam buku utamanya The Sublime Object of Ideology (2). Bagian ini merupakan penelusuran saya terhadap teks-teks asli tulisan Žižek tentang manusia, terutama melihat pengaruh filsafat Hegel dan Lacan pada perkembangan pemikiran Žižek tentang manusia. Pada akhirnya saya akan mengajukan kesimpulan dari seluruh tulisan ini (3).

Untuk membaca lebih jauh, anda bisa menghubungi Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.


[i] Reza Alexander Antonius Wattimena lahir 22 Juli 1983. Kini bekerja menjadi dosen dan Sekretaris Fakultas di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, redaktur Media Budaya On Line untuk Kolom Filsafat www.dapunta.com, anggota Komunitas Diskusi Lintas Ilmu COGITO (dalam kerja sama dengan Universitas Airlangga) di UNIKA Widya Mandala, Surabaya, dan anggota komunitas System Thinking di universitas yang sama. Ia adalah alumnus program Sarjana dan Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Telah menulis beberapa buku yakni Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Filsafat dan Sains (2008), Filsafat Kritis Immanuel Kant (2010), Bangsa Pengumbar Hasrat (2010), Menebar Garam di Atas Pelangi (artikel dalam buku, 2010), Ruang Publik (artikel dalam buku, 2010), menjadi editor untuk satu buku tentang Filsafat Manusia (Membongkar Rahasia Manusia: Telaah Lintas Peradaban Filsafat Timur dan Filsafat Barat, Kanisius, Yogyakarta, 2010), serta beberapa artikel ilmiah di jurnal ilmiah, maupun artikel filsafat populer di media massa. Kini sedang menyunting naskah Metodologi Penelitian Filsafat dalam kerja sama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan menulis buku tentang pemikiran Slavoj Žižek terkait dengan konsep manusia dan ideologi. Bidang peminatan adalah Filsafat Politik, Multikulturalisme, dan Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dapat dihubungi di reza.antonius@gmail.com atau dilihat di

Rumah Filsafat https://rezaantonius.wordpress.com/

[ii] Tere Vadén, “Žižek’s phenomenology of the subject: transcendental or materialist?,” International Journal of Žižek Studies, vol. 2, no. 2, 2010, hal. 2.

Slavoj Žižek dan Fenomena “Kesurupan Otak”, Bagian 1

slavoj_zizek Oleh: REZA A.A WATTIMENA

“Lihat teman saya Peter Sloterdijk. Saya sangat menyukai dia. Tapi jelas ia harus dikirim ke kamp kerja paksa. Ia akan memperoleh posisi lebih bagus disana. Mungkin ia bisa bekerja sebagai koki,” demikian kata Žižek.

Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi. Žižek sudah siap menuju ke Konferensi Komunis di Berlin. Ia tinggal di Ljubljana, Slovenia, dan bekerja sebagai professor filsafat disana. Ia sebal karena harus mendengarkan pidato Alan Badiou di acara pembukaan.

Yang juga menarik adalah, bahwa Antonio Negri, yang merupakan musuh besar teoritis Alan Badiou, juga akan datang. Apa yang kiranya akan menjadi tema pembicaraan Negri? Hmm..

Tentu saja Žižek tidak bisa menghabiskan waktunya berpikir seperti ini. Ini menggelisahkan. Ia pun mengambil catatan kecilnya, dan mulai berpikir untuk berbicara apa di dalam presentasi yang akan ia lakukan selama lebih dari satu jam nanti. Mungkin.. ia akan berbicara soal Marx. Juga soal Hegel, dan tentu saja ia akan mengajukan kritik tajam pada pemikiran Badiou maupun Negri.

Ternyata catatan kecilnya hilang. Ia sulit menemukannya kembali. Tapi tenang saja, Žižek penuh dengan ide yang siap untuk dilontarkan. Di dalam tasnya ia hanya membawa satu kaos. Cuaca panas. Žižek sudah berkeringat. Sebentar lagi konferensi komunis internasional akan segera dimulai.

Lanjutkan membaca Slavoj Žižek dan Fenomena “Kesurupan Otak”, Bagian 1

Inspirasi dari STF Driyarkara: Menggugat Arti Ekonomi

economic-recovery

Menggugat Arti Ekonomi

B Herry Priyono

Ketika dongeng pengurangan angka kemiskinan dan rancangan agresif pertumbuhan ekonomi coba mengembuskan optimisme pada awal tahun 2011, seorang teman mengirim pesan singkat: ”Apakah penjualan mobil yang melonjak 54 persen tanda pertumbuhan ekonomi yang baik?”

Daripada menjawab dengan mengandaikan banyak penjelasan, saya kirim pertanyaan itu kepada keponakan yang duduk pada tahun pertama SMA. Beberapa menit kemudian, ia kirim balasan: ”Kalau penjualan mobil naik 54 persen, so what gitu lho, Om!” Tentu ia belum paham kerumitan soalnya, tetapi ungkapan ”so what gitu lho” terasa kena ke jantung masalah. Soalnya, tak menyangkut pertumbuhan, tetapi kualitas pertumbuhan. Di Indonesia, kualitas pertumbuhan merupakan masalah yang sudah lama membara.

Dilucuti dari slogan akademis, masalahnya adalah tidak terkaitnya pertambahan kekayaan secara keseluruhan dengan perbaikan kualitas hidup warga Indonesia yang miskin dan hampir miskin. Itulah 108,8 juta warga yang bertahan hidup dengan kurang dari Rp 18.000 per hari pada tahun 2006 dan telah mencapai sekitar 121,7 juta warga pada 2010. Ini bukan cerita baru, kita telah lama menghabiskan waktu bersitegang tentang itu. Namun, ada perkara jauh lebih sederhana yang tersembunyi dari sengketa luasnya kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi. Andai yang tersembunyi itu dimunculkan dengan bahasa biasa, siapa tahu kita boleh menemukan ilham bagi harapan.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari STF Driyarkara: Menggugat Arti Ekonomi

Buletin Cogito Maret 2011: Apakah Segalanya Perlu Dinilai?

Image0727

Diskusi tentang Positivisme dalam Pendidikan

Ruangannya redup. Banyak lukisan bergambar wajah para filsuf besar di dalamnya. Cahayanya mirip seperti di galeri lukisan. Itulah ruangan Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Jika masuk ke dalamnya, anda akan merasakan aura yang berbeda. Aura tersebut melambangkan pergulatan pemikiran, refleksi, diskusi, dan karya yang memperkaya semua orang di dalamnya. Di depan pintu masuk fakultas, anda akan diajak untuk melihat hasil karya para dosen maupun mahasiswa Fakultas Filsafat yang pernah dipublikasikan. Semboyannya satu: publish or perish, publikasi atau mati.

Kali ini Fakultas Filsafat kembali menerbitkan buletin Cogito edisi Maret 2011 dengan tema Sistem Poin di UNIKA Widya Mandala Surabaya. Buletin tersebut terdiri dari tiga tulisan. Tulisan pertama dirumuskan oleh Agustinus Hermawan, mahasiswa tingkat pertama Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia berpendapat bahwa segala sesuatu harus dapat dinilai dengan model penilaian yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Sistem poin di UKWMS adalah bentuk dari penilaian semacam itu.

Tulisan kedua dari David Jones Simanungkalit, mahasiswa tingkat dua Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia tidak setuju dengan pendapat Agustinus. Baginya manusia tidak dapat dinilai secara obyektif. Manusia bukanlah benda yang bisa dipahami dengan statistik. Ia mengajukan beberapa argumen untuk menolak sistem penilaian obyektif semacam itu di dalam pendidikan.

Mereka berdua berdebat di dalam tulisan tentang sisi positif maupun negatif dari positivisme, yakni paham yang berpendapat, bahwa pengetahuan manusia haruslah didasarkan pada pengalaman inderawi. Segala sesuatu yang tidak memiliki dimensi inderawi tidaklah layak untuk dijadikan dasar bagi pengetahuan. Bagi Agustinus positivisme cukup sah untuk diterapkan, guna membuat penilaian di dalam bidang pendidikan. Sementara bagi David positivisme bertentangan dengan kodrat manusia, sehingga tidak pernah bisa diterapkan untuk memahami manusia, apalagi untuk pendidikan.

Tulisan ketiga dirumuskan oleh Benny Suwito, dosen di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia memaparkan riwayat hidup sekaligus beberapa butir pemikiran Konfusius. Baginya ajaran Konfusius bisa membantu kita untuk hidup lebih beradab di dunia sekarang ini. Buletin Cogito terbit setiap bulannya. Anda bisa mendapatkannya di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. (Reza A.A Wattimena)

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Tujuh Penyakit Bangsa

heart_disease

Tujuh Penyakit Bangsa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Bangsa Indonesia sedang sakit. Itu tidak dapat diragukan. Beragam krisis menghantam tanpa ada upaya untuk melawan. Kita terjebak di dalam lingkaran setan.

Saya melihat setidaknya ada tujuh penyakit bangsa. Semua dimulai dari tiadanya kepastian hukum. Penyakit ini begitu sistemik dan mengakar. Langkah pertama adalah menyadari dan mengakui keberadaan penyakit-penyakit ini.

Hukum yang Korup

Penyakit pertama adalah sistem hukum yang korup. Menurut Habermas seorang filsuf Jerman kontemporer, hukum adalah penyangga masyarakat majemuk. Di dalam masyarakat yang memiliki beragam kriteria nilai hidup, hukum menjadi sabuk yang menyatukan semuanya, sehingga tidak terjadi perpecahan. Syaratnya adalah hukum itu merupakan hasil dari kesepakatan bebas dari pihak-pihak yang nantinya terkena dampak dari hukum itu, baik langsung ataupun tidak.

Di Indonesia sistem hukum jelas kacau. Perangkat hukumnya bias dan diskriminatif dalam beberapa aspek. Aparat penegak hukumnya pun amatlah bermasalah. Begitu mudah suap dilakukan untuk mempermulus proses hukum pihak-pihak yang berkuasa. Rakyat yang tidak berpunya pun sulit untuk mendapatkan keadilan.

Inilah penyakit utama bangsa kita. Sistem hukum yang seharusnya menjadi pengikat di dalam masyarakat majemuk justru korup dan merusak semuanya. Orang hidup dalam ketidakpastian. Keadilan hanya cita-cita yang tak kunjung datang.

Maka reformasi hukum adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Pranata hukum harus dibuat sebebas mungkin dari bias dan kepentingan-kepentingan partikular yang tidak adil. Aparat penegak hukum juga perlu dilakukan seleksi ulang. Kriteria utama bukanlah kedekatan pribadi, melainkan kompetensi untuk menjamin penerapan hukum yang sedekat mungkin dengan ide keadilan.

Lanjutkan membaca Tujuh Penyakit Bangsa

Parapsikologi dan Paranormal

maramis

Parapsikologi dan Paranormal

Oleh: Muliady Tanu Djaja

Prof. W.F. Maramis, Sp KJ pada Sabtu, 26 Februari 2011, mulai pukul 10 pagi kembali tampil sebagai nara sumber dalam diskusi terbuka bioetika bulanan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Kali ini diskusi yang berlangsung di ruang kelas D-101, kampus Dinoyo ini mengusung tema “Parapsikologi dan Paranormal”.

Pada bagian awal Prof. Maramis, yang berprofesi sebagai dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) dan berpengalaman sebagai dekan Fakultas Psikologi di Universitas Airlangga dan di UKWMS, menjelaskan perbedaan arti paranormal dan parapsikologi. Kemudian dikemukakan beberapa teori yang disertai dengan contoh-contoh mengenai kenyataan paranormal dan parapsikologi di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini menjadikan para peserta diskusi yang terdiri dari para dosen, karyawan dan mahasiswa menjadi semakin jelas dan bertambah pengetahuannya.

Fenomena paranormal secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yakni gejala parapsikik dan gejala parafisik. Yang tergolong gejala parapsikik adalah “guna-guna”, telepati, dan komunikasi dengan para arwah. Sedangkan yang termasuk fenomena paranormal bergejala parafisik, yakni levitasi, kebal luka, santet, dan kesurupan. Dari hasil penelitian parapsikologi seperti yang dilakukan oleh Dr. J.B. Rhine di Amerika Serikat, diantaranya dengan memakai kartu Zener, diketahui bahwa kesadaran atau masa kini tiap manusia tidak sama. Rata-rata manusia yang tergolong normal kesadaran masa kininya antara 0,8 detik sampai dengan dua detik. Namun demikian ada perkecualian untuk orang-orang tertentu yang tergolong ESP. Bagi mereka kesadaran atas masa kininya bisa berpuluh menit, bahkan mungkin lebih dari itu.

Diskusi terbuka menjadi semakin menarik, sehingga perlu dilakukan tambahan waktu setengah jam, hingga berakhir pukul setengah satu siang, ketika ditampilkan beberapa gambar, antara lain: foto X-ray korban santet, pertunjukan ilmu kebal luka di pelbagai daerah, pertandingan levitasi di Amerika Serikat, dan patung bunda Maria yang mengeluarkan air mata darah manusia bergolongan darah AB yang pernah menghebohkan warga kota Surabaya sekitar dua puluh tahun yang lalu. (Mul)

Facebook: Pencetus Gerakan Massa atau Pencipta Anarki?

Image0720

Facebook: Pencetus Gerakan Massa

atau Pencipta Anarki?

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

 

Fakultas Filsafat kembali membuka ruang diskusi pada 25 Februari 2011 pk. 08.50-10.30 di kampus UNIKA Widya Mandala Dinoyo. Kali ini temanya adalah tentang pro kontra keberadaan facebook dalam kaitannya dengan gerakan massa. Pertanyaannya sederhana apakah facebook dapat membawa dampak positif dengan menggalang gerakan massa menuju perubahan yang lebih baik, atau facebook justru mendorong terciptanya anarki yang mengacaukan keadaan?

Peserta diskusi adalah mahasiswa Fakultas Filsafat, beberapa dosen, baik dari Fakultas Filsafat UKWMS ataupun Universitas Airlangga, dan mahasiswa dari Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya. Diskusi berjalan hangat. Ada tiga butir kesimpulan yang kiranya bisa ditarik dari diskusi ini. Yang pertama facebook pada hakekatnya adalah alat. Tujuan dan arahnya ditentukan sepenuhnya oleh penggunanya, yakni manusia. Manusia hidup dengan facebook, namun selalu memiliki dorongan ataupun kemampuan untuk melampaui, termasuk melampaui facebook itu sendiri.

Yang kedua namun facebook tidak pernah sungguh netral. Sejak awalnya berdirinya facebook telah membawa kepentingan dari ideologi tertentu. Ideologi itu adalah kapitalisme yang selalu membawa kepentingan untuk memperbesar modal. Dengan cara itu facebook menciptakan kebutuhan palsu untuk manusia, yakni kebutuhan yang tampaknya ada, tetapi tidak sungguh-sungguh benar dibutuhkan.

Yang ketiga perilaku orang Indonesia yang gemar facebook-an ternyata juga dipengaruhi fakta historis bangsa ini yang hidup dalam penjajahan dan tekanan rezim Orde Baru. Mental bangsa inferior membuat bangsa ini latah, dan mudah sekali terpikat segala sesuatu buatan Eropa ataupun Amerika. Argumen ini kontroversial dan tentu saja masih perlu penelitian lebih jauh untuk membuktikannya.

Diskusi Cogito fakultas Filsafat bertujuan untuk membantu para penulis buletin Cogito setiap bulannya untuk merumuskan pemikiran mereka. Pada bulan April 2011, penulisnya adalah Kristo yang akan menanggapi secara kritis fenomena facebook dan gerakan massa, serta Aris yang lebih melihat sisi positif facebook dalam kaitannya dengan gerakan massa. Nantikan terbitnya buletin Cogito tersebut, dan sampai jumpa di diskusi berikutnya yang akan dilaksanakan bulan depan.***

Menyingkap Fenomena Perbudakan Modern

 

1099 

Menyingkap Fenomena

Perbudakan Modern

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Apakah demokrasi hanya bisa berdiri dengan adanya perbudakan? Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Aristoteles, salah seorang filsuf Yunani Kuno terbesar, mungkin akan menjawab ya. Prinsip kesetaraan hanya berlaku bagi warga negara. Selain mereka yang ada hanya budak yang tidak bermakna, dan tidak bisa disebut manusia.

Kita hidup di era demokrasi. Banyak negara di dunia beranggapan, inilah sistem politik yang paling ideal. Revolusi politik dilancarkan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat demokratis yang sejahtera. Namun tanpa perbudakan bisakah demokrasi sungguh tercipta?

Hirarki Alami

Alam semesta tersusun atas elemen-elemen yang tidak setara. Yang satu lebih tinggi daripada yang lainnya. Begitu pula dunia manusia. Beberapa manusia lebih luhur daripada yang lainnya.

Konsep perbudakan berdiri di atas pengandaian, bahwa ada tingkatan manusia. Kelompok manusia tertentu dianggap lebih unggul daripada kelompok manusia lainnya. Maka kelompok yang lebih kuat punya hak untuk menindas kelompok yang lebih tak berdaya. Perbudakan tidak hanya menjadi biasa, tetapi menjadi keharusan alamiah.

Lanjutkan membaca Menyingkap Fenomena Perbudakan Modern

Undangan Diskusi Cogito: Facebook, Pencipta Gerakan Massa atau Pendorong Anarki?

 

diskusi facebook1

Undangan Diskusi Terbuka Bioetika: Parapsikologi dan Paranormal

 

Diskusi bioetika 2

Terperangkap di dalam Ruang-ruang Pornografi, Membedah “Tritunggal” Pornografi: Tubuh, Pikiran, dan Kebiasaan.

noodlechair
Google Images

Membedah “Tritunggal” Pornografi:

Tubuh, Pikiran, dan Kebiasaan.

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Akan dipresentasikan di dalam Diskusi Terbuka Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya, Tubuh dan Pornografi, 2 April 2011. (Kepastian Tanggal masih dalam konfirmasi panitia)

Andi di rumah sendirian. Orang tuanya pergi. Pembantunya pulang kampung. Ia mulai melirik laci video koleksi orang tuanya. Hmm…

Ada beberapa koleksi film. Namun yang menariknya adalah tumpukan DVD dengan lambang kelinci putih di bungkusnya. Ia sudah tahu itu adalah video porno. Ia melihat kiri-kanan, ternyata tidak ada orang.

Mulailah ia menyetel video tersebut. Pikirannya melayang melampaui batas-batas kenyataan. Ah ternyata banyak hal yang belum dicobanya. Ia pun bertanya-tanya di dalam hatinya, apa yang sesungguhnya terjadi?

Sejak hari itu Andi penasaran. Ia ingin mencari lagi video itu, dan memutarnya, ketika orang tuanya tidak ada di rumah. Ia tahu ini tindakan salah, namun ia terus melakukannya. Ia terperangkap di dalam ruang-ruang pornografi.

Fenomena

Pornografi adalah gejala umum di masyarakat kita. Banyak yang suka mulai dari yang muda, remaja, bahkan yang tua. Ini gejala yang cukup universal di dunia. Kita diminta untuk menanggapinya secara bijaksana.

Di dalam tulisan ini, saya ingin mengajukan dua argumen. Yang pertama adalah pornografi bisa ada dan menyebar, karena kita salah berpikir tentang makna tubuh. Yang kedua walaupun kita sudah memahami argumen pertama, bahwa pornografi lahir dari kesalahan berpikir tentang tubuh, namun kita tetap tidak bisa melepaskan kecenderungan melihat pornografi, karena itu sudah menjadi kebiasaan. Maka yang diperlukan adalah kemampuan untuk memaknai kebiasaan.

Tubuh Fisik

Tubuh manusia itu adalah sesuatu yang amat rumit. Ia memiliki fungsi biologis yang kompleks, mulai dari sistem pernafasan, syaraf, sistem pencernaan, dan sebagainya. Dengan tubuhnya manusia bisa hidup dan mengembangkan dirinya. Dengan tubuhnya manusia bisa mencapai aktualisasi diri sepenuhnya, dan merasa bahagia.

Di dalam hidup sehari-hari, kita melihat orang tidak mampu merawat tubuhnya. Mereka tenggelam dalam pencarian kenikmatan yang merusak tubuh. Dengan pola hidup seperti itu, mereka juga menujukkan kesalahan berpikir tentang tubuh. Mereka menganggap tubuh sekedar alat untuk mencapai pemuasaan diri belaka, yang pada akhirnya justru menghancurkan satu-satunya tubuh yang mereka punya.

Maka amatlah penting bagi kita untuk merawat tubuh. Caranya adalah dengan menjaga kesehatan, seperti tidak merokok, makan makanan dengan gizi seimbang, tidak terlalu lelah dalam bekerja/belajar, dan berolahraga secukupnya. Tanpa tubuh yang sehat, maka kita tidak akan bisa mengembangkan diri seutuhnya. Kita pun tidak akan pernah merasa bahagia.

Tubuh Metafisik

Namun tubuh manusia bukanlah fisik semata. Tubuh manusia memiliki dimensi yang lebih tinggi, yakni dimensi metafisik. Dimensi ini tidak terlihat mata, namun mempengaruhi perilaku manusia. Dimensi inilah yang kerap terlupakan, ketika orang berbicara soal manusia dan hidupnya.

Di dalam filsafat manusia, dimensi metafisik ini dibahas secara mendalam. Ada beberapa yang disebutkan. Yang pertama adalah tubuh sebagai alat manusia untuk mendunia. Artinya tubuh merupakan alat bagi manusia untuk menyentuh dan terhubung dengan dunia.

Dengan tubuhnya manusia mencipta. Dengan tubuhnya manusia terlibat dengan manusia lainnya. Dengan tubuhnya manusia terlibat di dalam penciptaan ulang semesta. Manusia mendunia dengan tubuhnya. Di dalam proses itu, ia menjadi dirinya yang seutuhnya.

Tubuh dan Kebebasan

Yang kedua adalah tubuh sebagai simbol kebebasan. Tubuh hewan sudah jadi, semenjak mereka lahir. Fungsi-fungsi organ tubuhnya sudah jelas dengan sendirinya. Hal ini tidak terjadi pada manusia.

Sejak awal tubuh manusia selalu bersifat umum. Tubuh manusia bisa dibentuk seturut pilihan yang memilikinya. Jika mau jadi artis, orang bisa memperindah tubuhnya. Jika ingin menjadi atlit, orang juga bisa melatih tubuhnya. Tubuh adalah simbol dari kebebasan manusia.

Yang ketiga adalah tubuh manusia sebagai simbol hak milik. Artinya orang memiliki dengan tubuhnya. Ia memiliki baju, rumah, buku, dan semua itu bisa bermakna, karena ia memiliki tubuh. Tubuh adalah simbol dari otoritas manusia atas diri dan dunianya.

Yang keempat adalah tubuh sebagai simbol dari kemampuan manusia untuk mencapai kesucian. Setiap orang ingin merasa dekat dengan Tuhannya. Untuk itu ia beriman dan berdoa seturut imannya. Selain itu orang juga melakukan mati raga untuk mencapai kesucian dan ketenangan jiwa.

Tubuh adalah alat manusia untuk mencapai kesucian. Tidak hanya itu tubuh merupakan simbol dari kemampuan manusia untuk sungguh mencapai keabadian jiwa. Dengan menata dorongan-dorongan tubuhnya, manusia menjadi mahluk yang luhur. Ia menampakan martabatnya yang jauh lebih tinggi dari hewan ataupun tumbuhan.

Jadi tubuh tidak hanya memiliki dimensi fisik, tetapi juga dimensi metafisik. Tubuh manusia merupakan simbol bagi keterhubungan manusia dengan dunia, kebebasannya, otoritasnya untuk memiliki, dan kemampuan untuk sampai pada kesucian. Orang bisa terjebak ke dalam ruang pornografi, karena ia tidak memahami beragam dimensi tubuh ini. Dapat pula dikatakan bahwa pornografi adalah tanda kesalahan berpikir tentang tubuh manusia.

Namun begitu mengapa banyak orang, dan mungkin juga kita, begitu sulit melepasnya?

Di dalam tulisan ini, seperti sudah saya tulis sebelumnya, saya ingin mengajukan argumen, bahwa pornografi sulit lenyap, karena kekuatan kebiasaan dari orang-orang yang terpikat dengannya. Maka masalahnya bukan hanya mengubah cara berpikir orang tentang tubuh, yang memang merupakan obyek utama pornografi, tetapi memaknai kebiasaan. Bagaimana caranya? Mari kita simak analisis berikutnya.

Pornografi

Saya ingin kita sepakat dulu soal definisi dari pornografi. Secara singkat pornografi adalah tampilan yang diberikan kepada manusia, dan bertujuan untuk menciptakan fantasi seksual, ataupun kepuasan erotis. Fantasi seksual dan kepuasan erotis adalah sesuatu yang alami. Namun pornografi bisa berlangsung bukan karena obyek tampilannya semata, tetapi juga karena pikiran orang yang melihatnya.

Singkat kata pornografi menjadi mungkin, bukan hanya karena ada obyek pemicunya, seperti gambar ataupun suara, tetapi terlebih karena kesalahan berpikir orang yang mempersepsinya. Kesalahan berpikir itu diulang, dan menjadi bagian dari kebiasaan. Akibatnya kesalahan berpikir itu sulit diubah. Tantangan kemudian adalah bagaimana merombak kebiasaan yang telah ada?

Melampaui Kebiasaan

Kebiasaan adalah sesuatu yang spontan dilakukan, seringkali tanpa disadari, namun terus berulang di dalam keseharian manusia. Bentuknya bisa beragam mulai dari ngupil, sampai masturbasi sambil menonton tampilan pornografi. Kebiasaan begitu kuat pengaruhnya di dalam perilaku manusia. Bahkan Aristoteles pernah menyatakan, bahwa kebiasaan merupakan kekuatan terbesar di dunia.

Pornografi tidak bisa lenyap, karena orang terbiasa mengkonsumsinya. Bahkan kecintaan pada pornografi menjadi kebiasaan yang melekat begitu kuat, tanpa bisa diubah. Banyak orang terjebak di dalamnya. Pornografi menjadi spontan dan terjadi di luar kesadaran orang-orang yang melakukannya.

Jika kekuatan kebiasaan begitu besar, bagaimana kita bisa lepas darinya? Saya merasa tidak ada jalan keluar dari kebiasaan tersebut. Sekali kebiasaan terbentuk maka selamanya ia akan ada. Yang penting adalah kita menyadari, bahwa kita hidup dalam kepungan kebiasaan yang tak mungkin dapat dilenyapkan. Kesadaran membuat kita berjarak dari kebiasaan, tetapi tak akan pernah melenyapkannya secara keseluruhan.

Maka kekuatan kita perlu difokuskan untuk mencipta kebiasaan baru yang lebih menguntungkan. Dalam arti minat pada pornografi mungkin tak pernah lenyap seutuhnya. Namun kehadirannya bisa diimbangi dengan lahirnya kebiasaan baru, misalnya kebiasaan menulis, olah raga, membaca, atau berkesenian. Dalam arti ini kebiasaan baru, yang dianggap lebih baik, bisa mengimbangi kebiasaan lama yang kurang menguntungkan.

Normalitas bukan berarti orang melenyapkan sama sekali kebiasaan buruk dari hidupnya. Normalitas berarti orang memasuki situasi harmoni, di mana kebiasaan baik dan buruk melebur, serta saling mengimbangi. Kesempurnaan diri bukanlah diri yang tanpa cacat, melainkan diri yang tetap indah dan harmonis, walaupun cacat bertebaran. Sebagai kebiasaan pornografi tetap tak bisa lenyap, namun bisa diimbangi secara harmonis dengan kebiasaan lain yang lebih baik.

Ruang-ruang yang Lebih Luas

Ruang-ruang pornografi adalah tubuh, pikiran, dan kebiasaan. Pornografi lahir karena adanya kesalahan berpikir tentang tubuh. Tubuh manusia yang kompleks disempitkan sebagai pemuas kenikmatan seksual belaka. Itu semua menjadi lestari, ketika cinta pada pornografi berubah menjadi kebiasaan.

Andi memang menyukai pornografi. Itu terjadi karena ia tidak memahami kompleksitas tubuh manusia. Mungkin juga ia tidak diajarkan filsafat manusia di sekolahnya. Namun ia bisa mengimbangi kebiasaan itu dengan kebiasaan lain yang lebih kreatif dan produktif. Dengan begitu hidupnya bisa lebih seimbang.

Bukan begitu ndi?


Filsafat: Tunas Baru Surabaya

Copy of Image0693

Filsafat: Tunas Baru Surabaya

Oleh: SUHARTOYO

Mahasiswa Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

7 Desember 2009 merupakan hari yang bersejarah bagi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya(UKWMS). Berdasarkan SK Dikti Nomor 2334/D/T/2009 telah lahir Fakultas Filsafat. Inilah satu-satunya Fakultas Filsafat yang ada di Surabaya.

Awal perkuliahan mahasiswa berjumlah sembilan orang. Angkatan kedua berjumlah tiga belas orang sebagai mahasiswa regular. Juga ada dari beberapa mereka ikut serta sebagai mahasiswa pendengar.

Kehadiran Fakultas Filsafat sangat dipandang perlu. Karena “Kehidupan kita, semakin lama banyak kehilangan jati diri yang sesungguhnya. Semakin banyak orang yang hidup dalam kebohongan. Mereka perlu pengarahan diri ke arah yang baik, atau untuk pembinaan diri. Dengan kritis reflektif dan kreatif, kita diajak untuk mampu juga membuka selubung-selubung dan topeng kebohongan-kebohongan yang semakin lama semakin menyesatkan kehidupan manusia.” tutur Andreas Ideanov, Mahasiswa Fakultas Filasafat semester dua.

Tentunya, kehadiran Fakultas Filsafat hendak membangun karekteristik manusia. Ada dua tujuan dasar yang diemban. Hal ini telah tertuang jelas di Pedoman Akademik 2010-2011 Fakultas Filsafat Progam Ilmu Filsafat, UKWMS. “Yang pertama adalah kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, rasional, membangun konsep yang jelas, memiliki pengetahuan yang mendalam serta kepekaan pada kemanusiaan, mampu menuangkan itu dalam bentuk strategi, dan mampu melaksanakan semua itu secara arif di dalam perilaku hidup sehari-hari.”

Tujuan mendasar kedua adalah, “…Filsafat dibutuhkan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan menyeluruh sekaligus mendalam tentang kehidupan manusia.”

Di UKWMS, Fakultas Filsafat memiliki keunikan tersendiri. Fakultas ini memiliki dua konsentrasi: Filsafat Agama dan Bisnis. Konsentrasi ini bertujuan membantu masyarakat untuk menganalisa permasalahan global, menggali potensi-potensi lokal guna menghadapi tantangan zaman, mengabdikan diri pada masyarakat, dan bersikap solider terhadap yang lemah dan berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Yosef Eko, mahasiswa semester empat, mendapatkan pengalaman menarik, ketika belajar di Fakultas Filsafat. Bagi dia kuliahnya ”Mengasikkan dalam hal otak. Segala sesuatu dirasionalkan termasuk Tuhan. Karena bagaimana mengimani kalau tidak berakal budi. Dengan akal budi kita bisa mempertanggunjawabkan iman. Bahkan sesuatu yang tak kelihatan, Tuhan, bisa dijelaskan secara rasional”.

Yuventius Devi Gawa menambahkan. “Kalau di Surabaya memang cocok dan harus ada (Fakultas Filsafat). Meskipun masyarakat industri, tapi industri harus juga ada Filsafat, maka ada Filsafat Bisnis. Filsafat akan membentuk pemikiran yang lebih modern, terlebih terhadap gaya hidup, yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tapi mengandalkan manusia atau mesin. Manusia yang utama.” ungkap mahasiswa Fakultas Filsafat tersebut.

Hal di atas dialami sungguh oleh Devi, selaku Mahasiswa Fakultas Filsafat, 2010. ”Adanya acara-acara diskusi mengispirasi banyak orang. Terutama diskusi bioetik yang nyambung (berhubungan) dengan hidup sehari-hari. Simposium (Seminar Nasional), meskipun sekali tapi Filsafat sangat dekat dengan masalah sehari-hari, contoh, masalah lapindo.” selain itu, ”Filsafat mengembangkan budaya kritis. Berani berbicara, mengungkapkan pendapat tentang diskusi-diskusi yang ada, ketika diperkuliahan.”

Maka Fakultas Filsafat akan membangun iklim akademik yang kritis di UKWMS dan Masyarakat. Besar harapan, fakultas ini akan melahirkan pemikir-pemikir bangsa yang kritis, pengambil keputusan strategis, dan individu professional di dalam bidang-bidang kehidupan yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Tulisan ini diolah dari wawancara dengan beberapa mahasiswa Fakultas Filsafat dan buku “Pedoman Akdemik 2010-2011 Fakultas Filsafat Progam Ilmu Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandala.”

Agama, Kebebasan, dan Perdamaian Dunia

worldpeace2 

Agama, Kebebasan, dan Perdamaian Dunia

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tragedi itu terjadi lagi. Rumah-rumah ibadah di Temanggung dihancurkan. Orang-orang hidup dalam suasana penuh ketegangan. Bangsa kita terperosok lagi di dalam lubang masalah yang sama.

Di dalam pola konflik yang berulang tersebut, kita perlu bertanya, bagaimana ini supaya tidak berulang lagi? Yang kita perlukan adalah kebebasan beragama. Setiap orang memiliki hak asasi untuk memilih jalan hidup dan agamanya. Yang harus melindungi hak ini bukan hanya pemerintah, tetapi juga kita semua.

Panggilan Hati

Setiap orang memiliki panggilan hati. Panggilan hati tersebut mengetuk dari dalam, dan mengarahkan hidupnya. Salah satu panggilan hati terdalam adalah panggilan hati keimanan dan agamanya. Orang tidak bisa dipaksa memeluk suatu agama. Itu harus muncul dari lubuk hatinya yang terdalam.

Di dalam masyarakat yang sudah dewasa, kebebasan beragama amat dihargai. Setiap orang diminta untuk merefleksikan pengalaman hidupnya, melihat ke dalam dirinya, lalu menentukan agamanya. Jika ia sudah memilih, maka ia akan mengikatkan diri pada nilai-nilai luhur yang diajarkan agamanya. Ia akan beragama secara otentik, bukan ikut-ikutan.

Di Indonesia kebebasan beragama masih langka. Orang tidak memilih agama, karena itu merupakan panggilan nuraninya, melainkan karena tekanan dari masyarakat tempat hidupnya. Agama seseorang bukanlah cerminan keyakinan dirinya yang utuh, melainkan simbol konformitas terhadap komunitas tempat tinggalnya. Akibatnya orang beriman dan beragama secara setengah-setengah dan dangkal.

Maka kebebasan beragama adalah sesuatu yang amat penting, supaya orang bisa sungguh beriman dan beragama secara utuh dan sempurna. Kebebasan beragama adalah prasyarat bagi terciptanya masyarakat religius yang bijaksana. Indonesia harus menempatkan kembali kebebasan beragama sebagai hak asasi yang utama. Jika kebebasan beragama ini telah menjadi kenyataan, maka konflik yang terkait dengan agama pun akan berkurang.

Belajar dari Masa Lalu

Kita perlu belajar dari masa lalu. Tanpa kebebasan beragama yang akan terjadi adalah perang antara agama yang berkepanjangan. Jutaan manusia menjadi korban. Trauma kolektif pun diwariskan ke generasi berikutnya, dan menjadi peluang untuk terciptanya konflik baru di masa depan.

Di Indonesia kita seolah tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu. Berbagai perbuatan tercela terulang tanpa ada refleksi dan pemikiran. Korupsi berulang tanpa bisa ditahan. Konflik atas nama agama bagaikan lingkaran setan yang tidak bisa diputuskan.

Maka sudah saatnya kita belajar kembali dari masa lalu kita. Kita lihat dan telaah, apa yang telah terjadi sebelumnya, dan apa sebabnya. Lalu kita gunakan pelajaran itu di dalam membuat kebijakan, supaya hal buruk yang sama tidak lagi terulang. Dengan belajar dari masa lalu, kita tidak perlu jatuh ke dalam lubang permasalahan yang sama.

Perdamaian Dunia

Kunci dari perdamaian dunia adalah perdamaian antar agama. Inilah argumentasi yang berulang kali dikatakan dan ditulis oleh seorang teolog dan fisuf asal Jerman, Hans Kueng. Perdamaian antar agama berarti orang siap menghormat hak setiap orang untuk memeluk agama yang sesuai dengannya. Bisa dengan tegas dinyatakan, bahwa esensi dari perdamaian dunia adalah kebebasan beragama.

Di Indonesia perdamaian tidak akan pernah tercipta, karena agama minoritas terus mengalami diskriminasi dari agama mayoritas. Orang-orang yang berasal dari agama minoritas terbatas di dalam mendapatkan sumber daya maupun fasilitas yang ada. Akibatnya mereka memutuskan berpindah agama. Yang tercipta kemudian adalah orang-orang yang beragama dan beriman secara palsu, karena iman dan agama yang mereka peluk tidak muncul dari panggilan hati nurani yang terdalam, melainkan dari rasa terpaksa.

Situasi semacam ini tidak bisa dibiarkan. Konflik antar kelompok akan terjadi, jika situasi ini diabaikan. Diskriminasi di berbagai bidang kehidupan haruslah dilenyapkan. Kebebasan beragama haruslah dipertahankan dan terus diperjuangkan. Hanya begitu perdamaian yang sesungguhnya bisa tercipta.

Kesejahteraan Bersama

Untuk bisa menciptakan kesejahteraan bersama, kita perlu menciptakan perdamaian dunia. Dan perdamaian dunia hanya bisa tercipta, hanya bila tercipta perdamaian antar agama. Perdamaian antar agama yang sejati hanya dapat tercipta, jika prinsip kebebasan beragama terus dipertahankan dan diperjuangkan. Semua hal ini saling terkait, tanpa bisa terpisahkan.

Di Indonesia kita ingin menciptakan masyarakat yang sejahtera. Namun kebebasan beragama yang merupakan esensi dari perdamaian antar agama tidak diperjuangkan dengan sepenuh hati. Akibatnya kesejahteraan bersama juga tidak akan tercipta. Bangsa kita akan terus hidup dalam kemiskinan material maupun jiwa. Rakyatnya hidup dalam kecemasan dan ketakutan akan konflik yang seolah akan berulang selamanya.

Maka kita perlu mengingat kembali, betapa pentingnya prinsip kebebasan beragama itu bagi masyarakat Indonesia. Hanya dengan melihat arti penting dari prinsip ini, dan menerapkannya di dalam setiap pembuatan kebijakan, bangsa kita bisa merangkak dari kemiskinan materi maupun jiwanya. Pada akhirnya surga tidak harus diperoleh setelah kematian. Kita bisa menciptakannya disini, di dunia, selama kita berjuang untuk mewujudkan kebebasan beragama, mendorong terciptanya perdamaian antar agama, berjuang untuk perdamaian dunia, dan hidup di dalam keadilan serta kesejahteraan bersama.***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Indonesia dan Revolusi Paradigma

 

Indonesia_flag

Indonesia dan Revolusi Paradigma

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Hidup itu penuh tantangan. Semuanya bisa dihadapi, asal kita hidup dengan harapan. Tantangan bisa dilampaui jika orang memiliki paradigma yang tepat. Yang sulit adalah mengubah paradigma yang telah kita pegang erat-erat.

Paradigma itu bagaikan udara yang kita hirup sehari-hari. Ia ada namun tak terasa. Namun kita bisa mengambil jarak, dan menyadari keberadaannya. Kita bisa mempertanyakan sekaligus mengubahnya. Inilah yang sekarang ini perlu dilakukan.

Kebingungan

Paradigma adalah cara berpikir yang telah berurat akar pada satu komunitas tertentu, dan secara langsung mempengaruhi cara berpikir orang-orang yang tinggal di dalamnya. Paradigma itu hidup namun tak terlihat keberadaannya. Paradigma berpikir adalah alasan yang mendorong setiap perilaku maupun tindakan tiap orang dalam hidupnya. Perubahan paradigma adalah kunci utama bagi kita untuk berubah ke arah yang lebih bijaksana.

Tanpa perubahan paradigma yang tepat, orang tidak akan melihat masalah sebagai masalah. Masalah hanya dilihat sebagai sesuatu yang wajar, sehingga tak perlu diubah. Masalah adalah sesuatu yang biasa. Seolah orang hanya perlu memejamkan mata, guna menyelesaikannya.

Inilah yang kita hadapi di Indonesia. Banyak orang tidak melihat masalah sebagai masalah, melainkan hanya sebagai sesuatu yang biasa. Ini terjadi karena orang masih menggunakan paradigma yang lama, guna melihat dunia yang terus berubah ke arah yang tak terduga. Masalah yang ada pun tak terselesaikan, dan kita terjebak terus di dalam nestapa.

Fundamentalisme agama tidak dilihat sebagai masalah, tetapi sebagai sesuatu yang biasa. Kerakusan uang dalam bentuk fundamentalisme ekonomi tidak dilihat sebagai masalah, namun justru dilihat sebagai sesuatu yang wajar, bahkan bijaksana. Tanpa perubahan paradigma kita tidak akan melihat masalah sebagai masalah. Akibatnya masalah itu bertambah besar, dan nantinya akan membuat bangsa kita terpecah belah.

Perubahan paradigma adalah sesuatu yang mendesak. Dengan mengubah paradigma kita akan lebih aktif membongkar akar masalah, dan melenyapkannya. Kita akan lebih mudah hidup bersama, apapun perbedaannya. Masalah-masalah bangsa pun mulai ditanggapi dengan cara berpikir serta tindakan nyata yang sepantasnya.

Miskin Inovasi

Tanpa perubahan paradigma kita tidak akan pernah berjuang untuk menciptakan perubahan. Tidak hanya itu perubahan seringkali dianggap sebagai tabu yang mesti dilawan. Ide-ide baru tidak dilihat sebagai peluang, melainkan sebagai hambatan yang mesti dilenyapkan. Orang-orang berpikiran maju pun dikucilkan.

Jika orang masih hidup dalam paradigma lama, ia akan merasa nyaman, dan merasa tak perlu mengubah dirinya. Akibatnya ia akan menjadi konservatif, dan menghambat setiap perubahan yang datang di depannya, meskipun faktanya, perubahan itu amat diperlukan di dalam masyarakat tempat tinggalnya. Ia akan menjadi batu penghalang bagi sekitarnya. Ia akan menjadi fosil yang membuat hidup semua orang terasa di neraka.

Kita bisa menemukan banyak orang seperti itu di Indonesia. Atas nama tradisi mereka melenyapkan ide-ide cemerlang. Akibatnya masyarakat akan menjadi miskin, dalam arti miskin materi, sekaligus miskin inovasi yang brilian. Tak heran kita sulit sekali untuk menciptakan ide-ide baru yang berguna untuk kehidupan bersama.

Inovasi hanya mungkin jika paradigma masyarakat di tempat terkait telah mengalami perubahan. Tanpa perubahan paradigma ide-ide brilian dianggap sebagai tabu yang mesti dihancurkan. Jika Indonesia ingin maju, maka kita, masyarakat yang hidup di dalamnya, harus segera melakukan perubahan paradigma. Tanpa paradigma yang mendorong lahirnya ide-ide brilian bagi kehidupan bersama, kita akan ditinggal kereta peradaban, dan menjadi bangsa primitif yang tanpa harapan.

Tanpa Tindakan

Jika masalah tidak dilihat sebagai masalah, maka tidak akan ada tindakan untuk menyelesaikannya. Tanpa tindakan nyata masalah akan menjadi semakin besar. Dampak kerusakannya pun akan semakin luas bagi semua. Ketika orang sadar akan hal ini, semuanya sudah terlambat, dan ia terhanyut di dalamnya.

Inilah yang banyak terjadi di Indonesia. Masalah datang bertubi-tubi, namun sedikit sekali tindakan nyata untuk menanggapinya. Ini terjadi mulai dari bencana Lumpur Lapindo, korupsi, pembiaran fundamentalisme religius, dan pembiaran fundamentalisme ekonomi yang terus membesar skalanya. Seperti layaknya penyakit kanker, masalah-masalah tersebut akan menjadi semakin ganas, dan akhirnya menghancurkan bangsa.

Ini terjadi karena kita masih menggunakan paradigma lama, guna melihat serta memahami masalah-masalah baru. Cara berpikir kita tidak cukup jeli untuk melihat akar masalahnya. Akibatnya tindakan kita pun tampak setengah-setengah, dan tak berdaya. Maka sekali lagi kita perlu mengubah paradigma yang kita punya! Hanya dengan begitu kita bisa mulai peka pada masalah yang sungguh ada, dan mengambil langkah-langkah tepat dalam menanggapinya.

Ketinggalan Kereta

Tanpa perubahan paradigma kita akan semakin terpuruk di dalam tikaman masalah bangsa. Cara berpikir kita ketinggalan jaman. Pola perilaku maupun tindakan kita pun tidak mencerminkan kerumitan serta kemajuan peradaban. Semakin hari kita semakin menjadi bangsa yang kampungan.

Kereta peradaban tidak menunggu mereka yang tak memeluk perubahan. Dunia semakin maju namun kita justru semakin menjadi fosil purba yang tak signifikan. Tanpa perubahan paradigma yang mengakar, ini semua akan terjadi pada bangsa kita. Indonesia mendekam menjadi fosil di dalam museum dunia.

Gejala ini banyak terasa di Indonesia. Pola berpikir fundamentalis-fanatik sempit di dalam kehidupan beragama masih luas menggejala. Orang sulit untuk mengekspresikan iman dan kepercayaan mereka secara terbuka. Ini terjadi karena kita masih beragama dengan paradigma yang lama. Akibatnya kita beragama secara kampungan.

Kerakusan akan uang dan kuasa tidak diredam, namun justru diberikan fasilitas sebesar-besarnya. Pemerintah tidak lagi menjadi pembawa amanat rakyat, tetapi hanya menjadi centeng para penguasa ekonomi raksasa. Rasa keadilan diinjak oleh gerak rupiah yang semakin tak ada harganya di mata rakyat. Kehidupan berbangsa kita menjadi semakin kampungan, karena para pimpinannya masih hidup dalam paradigma lama yang tak lagi sesuai dengan keadaan.

Jelas kita sebagai bangsa membutuhkan perubahan paradigma. Kita perlu melihat dunia dengan cara baru, yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan. Hanya begitu kita bisa melihat masalah sebagai masalah, dan tak mengabaikannya. Hanya dengan begitu kita bisa melakukan tindakan nyata, guna melampaui masalah yang ada.

Namun bagaimana cara mengubah paradigma?

Kita Perlu Mendengar

Langkah pertama adalah dengan membuka telinga. Telinga yang terbuka akan lebih mudah untuk mendengar derap perubahan yang terus terjadi di dalam kehidupan nyata. Jika orang hidup dalam paradigma lama, telinganya tertutup dari suara jaman. Ia pun menjadi tuli, dan secara perlahan namun pasti berubah menjadi fosil yang tanpa faedah.

Di Indonesia banyak orang memiliki telinga, namun tak mendengar. Mereka sibuk menilai dan berbicara, serta lupa untuk mencermati dengan mendengar. Tak heran mereka tidak mengerti. Mereka mengutuk apa yang berbeda dari mereka.

Tak heran juga paradigma mereka tidak berubah. Mereka tetap berpikir dengan gaya lama, padahal dunia telah berubah arah. Telinga hanya dipakai untuk mendengar apa yang mereka ingin dengar, yakni yang sesuai dengan paradigma yang telah mereka pegang erat. Perlahan namun pasti mereka akan ketinggalan kereta peradaban.

Maka kita perlu lebih peka pada telinga yang kita punya. Kita perlu memakainya secara cermat untuk mendengar gerak jaman. Kita perlu menggunakannya untuk mendengar hal-hal yang berbeda dari keyakinan kita, dan bahkan yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Dengan mendengar secara cermat, cara berpikir kita bisa berubah ke arah yang lebih bijaksana. Itulah awal dari perubahan paradigma.

Kita Perlu Membaca

Selain telinga kita juga perlu memakai mata kita untuk membaca. Kita perlu membaca buku-buku baru yang melukiskan perubahan jaman. Kita perlu membaca hal-hal yang sebelumnya tak pernah kita baca. Kita perlu untuk mengembangkan horison berpikir melalui telinga dan mata.

Di Indonesia orang malas membaca. Mereka belum melihat kegiatan membaca sebagai kebutuhan manusia. Bagi mereka membaca adalah kegiatan yang membuang-buang waktu dan tenaga. Tak heran pola berpikir mereka tidak berkembang dan ketinggalan jaman.

Tanpa membaca orang tidak akan bisa mengubah dan mengembangkan paradigmanya. Bahkan tanpa membaca orang tidak akan sadar, bahwa tindakannya ditentukan oleh paradigmanya. Jelas orang semacam ini sulit sekali untuk berubah. Mereka akan menjadi fosil-fosil yang menghalangi perubahan peradaban.

Mengolah

Selain mendengar dan membaca, orang juga perlu mengolah apa yang mereka dengar dan baca tersebut. Orang perlu memahami, mengunyah, lalu menentukan sikap mereka secara kritis atas apa yang diterimanya. Inilah yang akan membuat orang mampu mengembangkan paradigmanya. Tanpa sikap mengolah secara kritis tersebut, orang akan dengan mudah jatuh mendewakan apa yang didengar dan dibacanya secara buta.

Di Indonesia para pembaca dan pendengar wacana seringkali menelan mentah-mentah apa yang diterimanya. Akibatnya mereka menjadi fanatikus yang berpikir sempit, dan mendewakan apa yang dibacanya. Paradigma mereka berubah namun ke arah yang semakin sempit. Kebijaksanaan pun semakin jauh dari genggaman.

Maka orang perlu mengolah secara kritis apa yang diterimanya. Hanya dengan begitu mereka mampu memperluas cakrawala berpikir dan mengubah paradigma, tanpa terjatuh menjadi orang yang berpikiran sempit. Diperlukan kecerdasan sekaligus keberanian untuk mengolah apa yang didengar dan dibaca. Yang kemudian tercipta adalah manusia yang memiliki hati besar dan berpikiran terbuka.

Perubahan Berkelanjutan

Dengan mendengar gerak jaman, membaca buku-buku yang melukiskan perubahan cara berpikir, dan mengolah semua itu secara kritis dan cermat, orang akan mengalami perubahan di dalam dirinya. Perubahan individu adalah awal dari perubahan masyarakat yang sesungguhnya. Namun perubahan tidak boleh hanya datang sekejap mata. Perubahan haruslah berkelanjutan sampai nafas penghabisan.

Di Indonesia banyak orang mengalami euforia perubahan. Namun mereka terjebak pada perubahan sesaat belaka. Mereka lupa bahwa perubahan itu berkelanjutan. Mereka berteriak tentang perubahan, namun itu menjadi percuma, karena itu adalah teriakan tanpa kesadaran.

Padahal orang perlu terus berpegang pada nilai-nilai keutamaan, sambil terus mengikuti perubahan gerak jaman. Ia tidak boleh hanya sekali berubah. Ia harus terus menerus berubah, tanpa kehilangan sumbunya sebagai manusia yang berkeutamaan. Di dalam tegangan inilah orang bisa sampai pada kebijaksanaan.

Semua itu hanya mungkin, jika orang mampu melepaskan paradigma lama yang mereka punya, dan siap untuk memasuki dunia baru dengan paradigma yang baru pula. Tanpa perubahan paradigma perubahan di dalam kehidupan seringkali dipersepsi sebagai suatu kesalahan. Padahal jika dilihat dengan paradigma yang baru, kesalahan yang sama bisa dianggap sebagai titik awal dari suatu kemajuan yang signifikan.

Maka jangan ditunda lagi. Kita perlu mengubah paradigma. Sekarang atau tidak sama sekali.

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

“Mafia” Gerakan Anti Mafia

1167607_Mafia--Gangster-Cartoon-Made-in-Photoshop-with-Vector-pen-tool_620

“Mafia” Gerakan Anti Mafia

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Indonesia boleh berbangga. Banyak warganya yang kini aktif turun ke jalan, guna menunjukkan rasa peduli mereka. Para pemuka agama menyuarakan suara hati rakyat jelata. Para akademisi dan aktivis politik yang menunjukkan rasa peduli pada penderitaan orang-orang yang digilas ketidakadilan dunia. Mereka ingin melawan mafia-mafia yang bercokol di dalam dunia politik Indonesia.

Namun jangan sampai itu semua hanya menjadi euforia semata. Kita juga perlu waspada terhadap mafia yang mungkin saja menyokong gerakan anti mafia ini. Gerakan moral memang bisa menjadi fungsi kontrol. Namun perlu juga kita sadar, bahwa kita juga memerlukan kontrol lapis dua, yakni pengontrol para fungsi kontrol.

Dilema Demokrasi

Kita hidup di dalam masyarakat demokratis. Memang sampai saat ini, inilah sistem terbaik yang memungkinkan setiap orang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan mereka. Untuk sementara belum ada pilihan lainnya yang tersedia. Namun demokrasi pun tak luput dari cacat cela.

Demokrasi mengedepankan kontrol terhadap kekuasaan dan penguasa. Namun siapa nantinya mengontrol para pengontrol? Jika rakyat adalah penguasa, maka sebenarnya siapa yang mengontrol rakyat yang notabene adalah penguasa “tunggal”? Inilah dilema yang selalu hidup di dalam sistem demokrasi.

Di Indonesia dilema ini juga seringkali ada. DPR bertugas menghasilkan kebijakan dan mengawasi jalannya pemerintahan. Namun siapa yang mengawasi kinerja DPR? Apakah rakyat? Namun konsep rakyat adalah suatu konsep yang abstrak. Retorika “kehendak rakyat” sering juga membuat kita terjebak.

Namun dilema itu haruslah ditempatkan sebagai kelemahan yang tak dapat dihindarkan di dalam demokrasi. Artinya walaupun memiliki kelemahan, demokrasi masih merupakan sistem yang paling mungkin, guna membuka ruang bagi keadilan dan pengembangan masyarakat yang sejati. Kata kuncinya adalah partisipasi rakyat yang aktif di dalam kehidupan bersama. Partisipasi rakyat yang luas dan kritis akan membuat demokrasi menjadi perkasa.

Partisipasi Rakyat

Gerakan anti mafia yang muncul belakangan ini adalah bentuk partisipasi rakyat yang amat baik. Mereka adalah warga yang peduli, dan ingin menyuarakan kepedulian itu ke publik. Mereka ingin mengajak masyarakat untuk turut peduli, dan ikut bergerak. Harapan mereka perubahan akan muncul dari aktivitas politik tersebut.

Di Indonesia gerakan-gerakan semacam itu amat jarang. Masih banyak orang tidak peduli pada isu-isu publik. Mereka mengurung diri di dalam kehidupan mereka yang amat nyaman. Tak heran gerakan moral semacam itu tidak bertahan.

Yang kita perlukan adalah partisipasi lebih banyak warga. Tunisia berhasil menjatuhkan rezim korup, akibat gerakan warga yang aktif dan peduli. Institusi-institusi yang masih steril dari isu-isu publik harus mulai mengubah visi. Tanpa gerakan politik yang kuat, yang didukung oleh partisipasi rakyat yang besar, Indonesia tidak akan pernah berubah ke arah yang lebih baik.

Sejatinya menjadi aktif secara politik itu mudah. Orang tidak perlu ikut mencalonkan diri di arena politik praktis secara penuh. Cukup mereka memikirkan cara untuk menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik, dan mencoba menerapkannya di lingkungan masing-masing. Aktivitas politik adalah aktivitas yang selalu terkait dengan upaya menciptakan kehidupan bersama yang bernilai.

Mafia Gerakan Anti Mafia

Namun itu semua bukan tanpa bahaya. Gerakan anti mafia bisa juga ditunggangi oleh mafia lainnya. Gerakan “kontrol sosial” tanpa kontrol sosial yang baik juga bisa membawa petaka. Adalah tugas kita bersama untuk menjamin, bahwa gerakan anti mafia tidak akan menjadi mafia baru yang kasat mata.

Sampai saat ini di Indonesia, itu belum terjadi. Gerakan anti mafia baru mulai, dan masih menarik untuk dicermati. Namun bukan berarti itu tidak akan pernah terjadi. Bangsa kita sudah terbukti mampu menciptakan mafia di bidang apapun.

Maka itu kehadiran gerakan anti mafia ini perlu kita sambut dengan meriah, sekaligus dengan sikap awas. Di alam demokrasi segala sesuatu, termasuk yang paling tampak baik sekalipun, perlu untuk dicermati. Hanya dengan begitu kekuasaan tidak akan pernah disalahgunakan. Hanya dengan begitu pula, masyarakat yang adil lebih mudah diciptakan.

Distorsi Kepentingan

Mafia gerakan anti mafia bisa lahir, karena adanya tekanan kepentingan diri. Gerakan anti mafia bisa tetap terbentuk, namun misinya tidak lagi murni. Gerakan tersebut bisa menggendong agenda politis tertentu untuk meningkatkan reputasi diri. Gerakan tersebut bisa dipelintir menjadi gerakan politis yang tanpa arti.

Mafia gerakan anti mafia juga bisa lahir, karena adanya tekanan kepentingan golongan tertentu. Sama seperti sebelumnya misinya tidak lagi untuk kebaikan bersama, melainkan untuk mempropagandakan kepentingan-kepentingan golongan yang sifatnya semu. Agenda politisnya juga tampak baik, namun bukan itu misi yang sebenarnya. Mereka memelintir misi yang sejati, yakni membongkar mafia di berbagai bidang kehidupan bersama di Indonesia, menjadi pertarungan politis untuk merebut pengaruh semata.

Kita hidup di era pragmatisme. Segala sesuatu berorientasi pada hasil, tanpa peduli pada proses. Padahal kesejatian selalu lahir dari proses sulit dan lama. Jangan sampai gerakan anti mafia yang sekarang ini bangkit juga digendong oleh pragmatisme dangkal, dan lupa pada esensinya. Kita semua perlu mendukung, dan mengawal prosesnya. ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Buku Filsafat Baru: Filsafat Perselingkuhan sampai Anorexia Kudus

201102010933276c60533b1edd4a3974edc346dafb6ef584ba2d964d4770f7d4fc9

Filsafat Perselingkuhan sampai Anorexia Kudus
Oleh: Reza Antonius Alexander Wattimena

Publisher : Evolitera

(ISBN: 978-602-8861-76-2)

Released : 1st Feb, 2011

Pages : 160

Category : Philosophy

SubCategory : General/Analytics

Language : Indonesia

Summary

Kumpulan artikel filsafat populer yang membahas mulai dari filsafat politik (penulis menyebut dengan “perselingkuhan”), filsafat pendidikan, hingga tentang individu.

Filsafat ini disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti!

Silahkan download disini: Filsafat Perselingkuhan

Agama dan Perdamaian Dunia

World-Peace[1] Filsafat- Dua ahli Islam yang berasal dari Kairo, yakni Fr. Emilio Platti dan Fr. Jean-Jacques Perennes, datang ke Fakultas Filsafat pada Senin, 22 November 2010. Para mahasiswa, dosen, dan beberapa peserta dari luar universitas datang untuk berdiskusi dengannya.

Di dalam diskusi ini, ada dua poin yang penting untuk ditegaskan. Pertama, kita harus bersama mengusahakan perdamaian dunia, dan itu hanya dapat dilaksanakan melalui perdamaian antar agama. Untuk itu kita perlu menemukan titik tolak yang sama, dan titik tolak itu adalah kebaikan hati, kasih, kebahagiaan, dan kepenuhan hidup manusia yang merupakan cita-cita semua agama.

Fr. Platti juga menjelaskan isi buku terbarunya yang berjudul Islam: Kawan atau Lawan?. Sebelumnya buku itu telah diluncurkan di Universitas Islam Nasional Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Kedua, ia juga menjabarkan Wahabisme, yakni paham di dalam Islam yang ingin kembali menerapkan hukum-hukum secara harafiah tanpa tafsiran kontekstual, dan mengajak kita semua untuk menanggapinya secara kritis. Atmosfir akademik yang tinggi mewarnai diskusi yang bermutu ini. (RAW)

Diskusi Bioetika: Filsafat dan Kedokteran

 

AlperFilsafat- Prof. W.F Maramis Sp.Kj memberikan pemaparan soal masalah-masalah bioetika dewasa ini da-am diskusi terbuka yang dilaksanakan bersama Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya pada Sabtu 29 Januari 2011 Pk. 08.00-10.30. Ia memaparkan berbagai kemajuan di bidang kedokteran dewasa ini, mulai dari inseminasi buatan, penciptaan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, transplantasi organ, donor organ dari mayat, penjualan organ tubuh, euthanasia, problematik sel punca, kloning, aborsi dalam kasus-kasus cacat bawaan, terapi kanker pada wanita hamil, sampai permasalahan moral yang lahir dari semua kemajuan tersebut.

Pertanyaan penting yang perlu untuk dijawab adalah, apakah fakta bahwa dunia medis bisa melakukan itu semua, berarti semua itu boleh dan bisa dilakukan? Jika ya mengapa? Jika tidak mengapa? Fakultas Filsafat ditantang untuk bisa mengajukan pemikiran untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan berpijak pada penalaran rasional.

Reza A.A Wattimena dari Fakultas Filsafat mengajukan argumentasi dengan berpijak pada Filsafat Moral Kant. Bagi Reza prinsip utama bioetika adalah martabat manusia. Artinya manusia harus selalu menjadi tujuan pada dirinya sendiri, dan tidak boleh menjadi semata alat bagi tujuan-tujuan lain di luar dirinya sendiri. Seluruh kemajuan dan penerapan di dalam dunia kedokteran harus selalu berpijak pada prinsip tersebut. Jika tidak sesuai maka beragam kemajuan itu tidak pernah boleh diterapkan.

Peter Manoppo dari Rumah Sakit Darmo juga mengajukan pendapat. Baginya prinsip utama adalah keadilan. Setiap kemajuan boleh dilakukan, selama itu menjamin keadilan bagi setiap orang yang terkena dampaknya. Bagi Prof. Maramis walaupun kedua argumen itu berbobot, namun belum mampu mengajukan jawaban yang cukup tegas. Maka kita perlu berdiskusi lebih lanjut.

Diskusi berikutnya akan dilaksanakan pada Februari 2011 di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Tunggu tanggal mainnya! (RAW)

Tentang Guru yang Lupa

teacher-300x249

Tentang Guru yang Lupa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tidak ada tawa pada wajahnya. Yang ada hanya muka merengut nan menyiksa jiwa. Tatapannya membuat oarang terpana. Suasana suram yang diciptakannya.

Itulah figur guru dewasa ini. Ia tidak lagi menawarkan inspirasi. Yang ditawarkannya kepada murid hanyalah beban diri. Itu terbukti dari “dentuman” soal dan penilaian yang jauh dari kebijaksanaan nurani.

Keterpaksaan

Para guru sebenarnya sadar, bahwa mereka telah berubah menjadi birokrat pendidikan. Jika ditanya mengapa maka mereka akan menjawab; kami ditekan keadaan. Ciri birokrat yang administratif, teknis, dan kaku lebih ditonjolkan dari ciri guru yang menginspirasi kehidupan. Mereka sadar namun tetap berubah menjadi birokrat, karena keterpaksaan.

Sosok semacam ini banyak kita temukan di Indonesia. Guru melepaskan peran esensialnya, dan berubah menjadi birokrat tanpa jiwa. Mereka sadar namun keadaan memaksa. Yang menjadi korban adalah para murid yang tidak lagi mencicip pendidikan yang bermakna.

Yang para guru butuhkan adalah sedikit keberanian dan kecerdasan. Mereka perlu menginspirasi kehidupan dan tidak boleh terjebak pada rutinitas birokrasi yang menyesakkan. Kecerdasan diperlukan untuk bersikap lentur pada birokrasi, dan tetap menjalankan peran guru yang menghidupkan. Di tangan para gurulah masa depan bangsa ditentukan.

Krisis Visi

Di sisi lain banyak pula guru yang tidak memahami esensi pendidikan. Mereka menjadi guru bukan karena terpanggil, tetapi karena kebetulan yang tak direncanakan. Akibatnya mereka pun asal bekerja. Guru macam ini mudah sekali berubah menjadi birokrat yang mirip robot tanpa jiwa.

Di Indonesia kita juga banyak menemukan guru semacam ini. Mereka belajar tentang pendidikan, tetapi tidak sungguh memahami semangat di belakangnya. Mereka sekedar melanjutkan pendidikan, tanpa sungguh berpikir, apakah ini panggilan hidupnya. Mereka terjebak di dalam bidang yang tidak bermakna bagi hidupnya.

Ini salah satu kelemahan pendidikan kita. Orang tidak diajak untuk mengenali diri, dan mengikuti panggilan hidupnya. Akibatnya banyak orang terjebak pada bidang kehidupan yang tidak bermakna bagi dirinya. Mereka asal-asalan bekerja, dan semuanya menjadi percuma.

Namun tidak pernah ada terlambat untuk mereka. Pintu kehidupan selalu terbuka. Jika bukan panggilan orang bisa meninggalkan profesi pendidik, dan mencari jati dirinya. Hanya dengan begitu hidupnya menjadi penuh dan bermakna. Mungkin dengan begitu pula, ia bisa sungguh merasa bahagia.

Pengaruh Hegemoni

Manusia hidup dalam lingkaran hegemoni. Hegemoni membuat orang dikuasai, tanpa ia merasa tertindas, atau dikuasai. Hegemoni membuat suatu perintah menjadi wajar, dan tidak dipersepsi sebagai keterpaksaan diri. Hegemoni masuk ke dalam cara berpikir seseorang, sampai ia tidak sadarkan diri, bahkan ketika melakukan apa yang melanggar nurani.

Di Indonesia hegemoni cara berpikir instrumental sangatlah perkasa. Cara berpikir instrumental mencegah orang bersikap kritis, dan hanya terjebak pada permukaan teknis semata. Mereka melakukannya tetapi tidak sadar akan perbuatannya. Inilah kekuatan hegemoni yang menghipnotis jiwa.

Yang diperlukan untuk menantang hegemoni adalah cara berpikir kritis. Dengan kemampuan ini orang diajak untuk mempertanyakan cara berpikirnya sendiri secara sistematis. Ia diajak untuk mengolah dirinya sendiri, sehingga bisa keluar dari hegemoni, dan melakukan segala sesuatu dengan kesadaran diri yang utuh. Minimal cara berpikir kritis membuat orang sadar, bahwa dirinya hidup dalam hegemoni, sehingga bisa mengambil jarak darinya, walaupun tidak secara menyeluruh.

Konformitas

Jika para guru ditanya, mengapa mereka menjadi birokrat, kebanyakan mereka akan menjawab, karena semua guru melakukannya. Itulah ciri khas sikap konformis. Orang terjebak melakukan sesuatu, karena semua orang melakukannya. Ia tidak lagi berpikir, karena dikepung oleh mentalitas massa.

Kita bisa menemukan banyak orang semacam itu di Indonesia. Mereka bekerja dan tenggelam dalam rutinitas, tanpa dasar yang kokoh, kecuali sekedar ikut-ikutan semata. Kita menjadi latah dan kemudian tenggelam dalam keadaan. Korupsi dan segala bentuk kejahatan lainnya banyak lahir dari sikap konformis tanpa pikiran.

Konformitas tanpa dasar adalah gejala yang amat berbahaya. Tidak perlu orang jahat untuk melakukan kejahatan besar, cukup orang yang tidak berpikir, dan bermental konformis sejati. Sikap adaptif memang baik, namun tanpa sikap kritis dan reflektif, sikap adaptif akan berubah menjadi sikap konformis yang menjilat pada kekuataan massa semata. Tidak heran orang bisa berubah sekejap mata menjadi penyiksa, ketika ia berada di kepungan para penyiksa.

Guru adalah pelita hati bangsa. Mereka mengarahkan ketika kita semua tersesat di perjalanan. Mereka membawa terang bagi anak-anak masa depan bangsa. Peran yang amat manusiawi ini tidak boleh lenyap, karena guru lupa akan peran sejatinya.

Guru tidak pernah boleh menjadi birokrat pendidikan!

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya