Indonesia dan Revolusi Paradigma

 

Indonesia_flag

Indonesia dan Revolusi Paradigma

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Hidup itu penuh tantangan. Semuanya bisa dihadapi, asal kita hidup dengan harapan. Tantangan bisa dilampaui jika orang memiliki paradigma yang tepat. Yang sulit adalah mengubah paradigma yang telah kita pegang erat-erat.

Paradigma itu bagaikan udara yang kita hirup sehari-hari. Ia ada namun tak terasa. Namun kita bisa mengambil jarak, dan menyadari keberadaannya. Kita bisa mempertanyakan sekaligus mengubahnya. Inilah yang sekarang ini perlu dilakukan.

Kebingungan

Paradigma adalah cara berpikir yang telah berurat akar pada satu komunitas tertentu, dan secara langsung mempengaruhi cara berpikir orang-orang yang tinggal di dalamnya. Paradigma itu hidup namun tak terlihat keberadaannya. Paradigma berpikir adalah alasan yang mendorong setiap perilaku maupun tindakan tiap orang dalam hidupnya. Perubahan paradigma adalah kunci utama bagi kita untuk berubah ke arah yang lebih bijaksana.

Tanpa perubahan paradigma yang tepat, orang tidak akan melihat masalah sebagai masalah. Masalah hanya dilihat sebagai sesuatu yang wajar, sehingga tak perlu diubah. Masalah adalah sesuatu yang biasa. Seolah orang hanya perlu memejamkan mata, guna menyelesaikannya.

Inilah yang kita hadapi di Indonesia. Banyak orang tidak melihat masalah sebagai masalah, melainkan hanya sebagai sesuatu yang biasa. Ini terjadi karena orang masih menggunakan paradigma yang lama, guna melihat dunia yang terus berubah ke arah yang tak terduga. Masalah yang ada pun tak terselesaikan, dan kita terjebak terus di dalam nestapa.

Fundamentalisme agama tidak dilihat sebagai masalah, tetapi sebagai sesuatu yang biasa. Kerakusan uang dalam bentuk fundamentalisme ekonomi tidak dilihat sebagai masalah, namun justru dilihat sebagai sesuatu yang wajar, bahkan bijaksana. Tanpa perubahan paradigma kita tidak akan melihat masalah sebagai masalah. Akibatnya masalah itu bertambah besar, dan nantinya akan membuat bangsa kita terpecah belah.

Perubahan paradigma adalah sesuatu yang mendesak. Dengan mengubah paradigma kita akan lebih aktif membongkar akar masalah, dan melenyapkannya. Kita akan lebih mudah hidup bersama, apapun perbedaannya. Masalah-masalah bangsa pun mulai ditanggapi dengan cara berpikir serta tindakan nyata yang sepantasnya.

Miskin Inovasi

Tanpa perubahan paradigma kita tidak akan pernah berjuang untuk menciptakan perubahan. Tidak hanya itu perubahan seringkali dianggap sebagai tabu yang mesti dilawan. Ide-ide baru tidak dilihat sebagai peluang, melainkan sebagai hambatan yang mesti dilenyapkan. Orang-orang berpikiran maju pun dikucilkan.

Jika orang masih hidup dalam paradigma lama, ia akan merasa nyaman, dan merasa tak perlu mengubah dirinya. Akibatnya ia akan menjadi konservatif, dan menghambat setiap perubahan yang datang di depannya, meskipun faktanya, perubahan itu amat diperlukan di dalam masyarakat tempat tinggalnya. Ia akan menjadi batu penghalang bagi sekitarnya. Ia akan menjadi fosil yang membuat hidup semua orang terasa di neraka.

Kita bisa menemukan banyak orang seperti itu di Indonesia. Atas nama tradisi mereka melenyapkan ide-ide cemerlang. Akibatnya masyarakat akan menjadi miskin, dalam arti miskin materi, sekaligus miskin inovasi yang brilian. Tak heran kita sulit sekali untuk menciptakan ide-ide baru yang berguna untuk kehidupan bersama.

Inovasi hanya mungkin jika paradigma masyarakat di tempat terkait telah mengalami perubahan. Tanpa perubahan paradigma ide-ide brilian dianggap sebagai tabu yang mesti dihancurkan. Jika Indonesia ingin maju, maka kita, masyarakat yang hidup di dalamnya, harus segera melakukan perubahan paradigma. Tanpa paradigma yang mendorong lahirnya ide-ide brilian bagi kehidupan bersama, kita akan ditinggal kereta peradaban, dan menjadi bangsa primitif yang tanpa harapan.

Tanpa Tindakan

Jika masalah tidak dilihat sebagai masalah, maka tidak akan ada tindakan untuk menyelesaikannya. Tanpa tindakan nyata masalah akan menjadi semakin besar. Dampak kerusakannya pun akan semakin luas bagi semua. Ketika orang sadar akan hal ini, semuanya sudah terlambat, dan ia terhanyut di dalamnya.

Inilah yang banyak terjadi di Indonesia. Masalah datang bertubi-tubi, namun sedikit sekali tindakan nyata untuk menanggapinya. Ini terjadi mulai dari bencana Lumpur Lapindo, korupsi, pembiaran fundamentalisme religius, dan pembiaran fundamentalisme ekonomi yang terus membesar skalanya. Seperti layaknya penyakit kanker, masalah-masalah tersebut akan menjadi semakin ganas, dan akhirnya menghancurkan bangsa.

Ini terjadi karena kita masih menggunakan paradigma lama, guna melihat serta memahami masalah-masalah baru. Cara berpikir kita tidak cukup jeli untuk melihat akar masalahnya. Akibatnya tindakan kita pun tampak setengah-setengah, dan tak berdaya. Maka sekali lagi kita perlu mengubah paradigma yang kita punya! Hanya dengan begitu kita bisa mulai peka pada masalah yang sungguh ada, dan mengambil langkah-langkah tepat dalam menanggapinya.

Ketinggalan Kereta

Tanpa perubahan paradigma kita akan semakin terpuruk di dalam tikaman masalah bangsa. Cara berpikir kita ketinggalan jaman. Pola perilaku maupun tindakan kita pun tidak mencerminkan kerumitan serta kemajuan peradaban. Semakin hari kita semakin menjadi bangsa yang kampungan.

Kereta peradaban tidak menunggu mereka yang tak memeluk perubahan. Dunia semakin maju namun kita justru semakin menjadi fosil purba yang tak signifikan. Tanpa perubahan paradigma yang mengakar, ini semua akan terjadi pada bangsa kita. Indonesia mendekam menjadi fosil di dalam museum dunia.

Gejala ini banyak terasa di Indonesia. Pola berpikir fundamentalis-fanatik sempit di dalam kehidupan beragama masih luas menggejala. Orang sulit untuk mengekspresikan iman dan kepercayaan mereka secara terbuka. Ini terjadi karena kita masih beragama dengan paradigma yang lama. Akibatnya kita beragama secara kampungan.

Kerakusan akan uang dan kuasa tidak diredam, namun justru diberikan fasilitas sebesar-besarnya. Pemerintah tidak lagi menjadi pembawa amanat rakyat, tetapi hanya menjadi centeng para penguasa ekonomi raksasa. Rasa keadilan diinjak oleh gerak rupiah yang semakin tak ada harganya di mata rakyat. Kehidupan berbangsa kita menjadi semakin kampungan, karena para pimpinannya masih hidup dalam paradigma lama yang tak lagi sesuai dengan keadaan.

Jelas kita sebagai bangsa membutuhkan perubahan paradigma. Kita perlu melihat dunia dengan cara baru, yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan. Hanya begitu kita bisa melihat masalah sebagai masalah, dan tak mengabaikannya. Hanya dengan begitu kita bisa melakukan tindakan nyata, guna melampaui masalah yang ada.

Namun bagaimana cara mengubah paradigma?

Kita Perlu Mendengar

Langkah pertama adalah dengan membuka telinga. Telinga yang terbuka akan lebih mudah untuk mendengar derap perubahan yang terus terjadi di dalam kehidupan nyata. Jika orang hidup dalam paradigma lama, telinganya tertutup dari suara jaman. Ia pun menjadi tuli, dan secara perlahan namun pasti berubah menjadi fosil yang tanpa faedah.

Di Indonesia banyak orang memiliki telinga, namun tak mendengar. Mereka sibuk menilai dan berbicara, serta lupa untuk mencermati dengan mendengar. Tak heran mereka tidak mengerti. Mereka mengutuk apa yang berbeda dari mereka.

Tak heran juga paradigma mereka tidak berubah. Mereka tetap berpikir dengan gaya lama, padahal dunia telah berubah arah. Telinga hanya dipakai untuk mendengar apa yang mereka ingin dengar, yakni yang sesuai dengan paradigma yang telah mereka pegang erat. Perlahan namun pasti mereka akan ketinggalan kereta peradaban.

Maka kita perlu lebih peka pada telinga yang kita punya. Kita perlu memakainya secara cermat untuk mendengar gerak jaman. Kita perlu menggunakannya untuk mendengar hal-hal yang berbeda dari keyakinan kita, dan bahkan yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Dengan mendengar secara cermat, cara berpikir kita bisa berubah ke arah yang lebih bijaksana. Itulah awal dari perubahan paradigma.

Kita Perlu Membaca

Selain telinga kita juga perlu memakai mata kita untuk membaca. Kita perlu membaca buku-buku baru yang melukiskan perubahan jaman. Kita perlu membaca hal-hal yang sebelumnya tak pernah kita baca. Kita perlu untuk mengembangkan horison berpikir melalui telinga dan mata.

Di Indonesia orang malas membaca. Mereka belum melihat kegiatan membaca sebagai kebutuhan manusia. Bagi mereka membaca adalah kegiatan yang membuang-buang waktu dan tenaga. Tak heran pola berpikir mereka tidak berkembang dan ketinggalan jaman.

Tanpa membaca orang tidak akan bisa mengubah dan mengembangkan paradigmanya. Bahkan tanpa membaca orang tidak akan sadar, bahwa tindakannya ditentukan oleh paradigmanya. Jelas orang semacam ini sulit sekali untuk berubah. Mereka akan menjadi fosil-fosil yang menghalangi perubahan peradaban.

Mengolah

Selain mendengar dan membaca, orang juga perlu mengolah apa yang mereka dengar dan baca tersebut. Orang perlu memahami, mengunyah, lalu menentukan sikap mereka secara kritis atas apa yang diterimanya. Inilah yang akan membuat orang mampu mengembangkan paradigmanya. Tanpa sikap mengolah secara kritis tersebut, orang akan dengan mudah jatuh mendewakan apa yang didengar dan dibacanya secara buta.

Di Indonesia para pembaca dan pendengar wacana seringkali menelan mentah-mentah apa yang diterimanya. Akibatnya mereka menjadi fanatikus yang berpikir sempit, dan mendewakan apa yang dibacanya. Paradigma mereka berubah namun ke arah yang semakin sempit. Kebijaksanaan pun semakin jauh dari genggaman.

Maka orang perlu mengolah secara kritis apa yang diterimanya. Hanya dengan begitu mereka mampu memperluas cakrawala berpikir dan mengubah paradigma, tanpa terjatuh menjadi orang yang berpikiran sempit. Diperlukan kecerdasan sekaligus keberanian untuk mengolah apa yang didengar dan dibaca. Yang kemudian tercipta adalah manusia yang memiliki hati besar dan berpikiran terbuka.

Perubahan Berkelanjutan

Dengan mendengar gerak jaman, membaca buku-buku yang melukiskan perubahan cara berpikir, dan mengolah semua itu secara kritis dan cermat, orang akan mengalami perubahan di dalam dirinya. Perubahan individu adalah awal dari perubahan masyarakat yang sesungguhnya. Namun perubahan tidak boleh hanya datang sekejap mata. Perubahan haruslah berkelanjutan sampai nafas penghabisan.

Di Indonesia banyak orang mengalami euforia perubahan. Namun mereka terjebak pada perubahan sesaat belaka. Mereka lupa bahwa perubahan itu berkelanjutan. Mereka berteriak tentang perubahan, namun itu menjadi percuma, karena itu adalah teriakan tanpa kesadaran.

Padahal orang perlu terus berpegang pada nilai-nilai keutamaan, sambil terus mengikuti perubahan gerak jaman. Ia tidak boleh hanya sekali berubah. Ia harus terus menerus berubah, tanpa kehilangan sumbunya sebagai manusia yang berkeutamaan. Di dalam tegangan inilah orang bisa sampai pada kebijaksanaan.

Semua itu hanya mungkin, jika orang mampu melepaskan paradigma lama yang mereka punya, dan siap untuk memasuki dunia baru dengan paradigma yang baru pula. Tanpa perubahan paradigma perubahan di dalam kehidupan seringkali dipersepsi sebagai suatu kesalahan. Padahal jika dilihat dengan paradigma yang baru, kesalahan yang sama bisa dianggap sebagai titik awal dari suatu kemajuan yang signifikan.

Maka jangan ditunda lagi. Kita perlu mengubah paradigma. Sekarang atau tidak sama sekali.

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 thoughts on “Indonesia dan Revolusi Paradigma”

  1. Saya punya satu pertanyaan, Reza. Salah satu paradigma yang menjadi asumsi dasar tlisanmu ini adalah tentang adanya perspektif sebuah bangsa. Saya saat ini dalam suasana gamang kalau memikirkan ini. Yang saya lihat, masyarakat sepertinya lebih mengidentifikasi diri mereka melalui agama, aliran politik, status ekonomi, lifestyle dan sebagainya…..tapi jarang melihat diri merek sebagai sebuah bangsa.

    Bahkan, mereka yang menyebut dirinya kelompok nasionalis pun ternyata bertingkah lebih sebagai kelompok kepentingan yang punya agenda-agen sempit serta menggunakan nasionalisme sebagai pencitraan. Saya lihat trend ini begitu kuat, dan sangat boleh jadi di balik perilaku korupsi, penjualan aset2 negara dan sebagainya yang kita saksikan saat ini adalah semata akibat dari ada atau tidaknya paradigma sebagai bangsa.

    Apakah masyarakat kita masih melihat dirinya sebagai sebuah bangsa?

    Suka

    1. Hehehe… ini pertanyaan tepat menyerang asumsi dasar dari seluruh tulisan ini…

      Yang saya serang adalah pola berpikir lama yang kini secara faktual hidup di masyarakat kita. Boleh juga dikatakan bahwa paradigma kita sebagai bangsa sekarang ini adalah miskinnya nasionalisme, neoliberalisme, pragmatisme dangkal, dan fundamentalisme religius. Segala krisis lahir dari pola berpikir lama yang seolah tetap lestari ini. Tulisan ini mengajak kita untuk melihat dunia dengan pertama-tama meninggalkan pola berpikir lama ini yang sudah korup ini…

      Suka

      1. Betul. Itulah cara pikir lama yang berhasil memperbarui penampilannya. Tapi saya pikir disitu menariknya, yaitu bahwa yang kita sebut cara berpikir lama ini sebenarnya lebih instinktif, dan oleh karena itu selalu mudah mengemuka di saat manusia mengalam krisis.

        Kita lihat bahwa manusia sejatinya tidak punya konsep unit sosial selain dari keluarga dan lingkungan terdekatnya. Manusia juga secara mendasar cenderung melihat ekonomi sebatas praktek pragmatis dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Konsep negara dan masyarakat adalah bentukan perjalanan sejarah sosial manusia, dimana manusia belajar bahwa menjadi bagian dari sebuah bangsa dan masyarakat tertentu memberi jaminan bagi kehidupannya.

        Tampaknya, menilik perilaku masyarakat kita, menjadi sebuah negara-bangsa dan masyarakat sudah tidak begitu terasa manfaatnya. Jadi saya malah berpikir bahwa ini adalah sebuah lingkaran setan yang harus diubah. Hilangnya paradigma sebagai sebuah bangsa yang berkelanjutan merupakan akibat gagalnya pilar-pilar negara-bangsa dan masyarakat. Kegagalan pilar-pilar negara dan pimpinan masyarakat, yang ternyata bisa terjadi karena masyarakat umum sejatinya membuat itu terjadi.

        Maka, yang selalu bikin bingung, adalah sebaiknya dimulai dari mana proses pengubahan pada lingkaran setan ini.

        Suka

  2. Bourdieu menyebut pola pikir lama ini sebagai habitus, jadi dilakukan, walaupun tidak disadari. Aspek insting memang lebih berperan di dalamnya.

    Saya punya beberapa saran praktis untuk memulai perubahan:
    1. Perbaiki kinerja institusi publik (seleksi pegawai negeri, buat sistem pemecatan yang profesional di dalam institusi pegawai negeri, buat aturan yang menjamin profesionalitas, dan diterapkan secara tegas di dalamnya)

    2. Perluas pendidikan filsafat di Indonesia dalam arti filsafat sebagai seni berpikir kritis, mendalam, rasional, dan sistematis tentang segala aspek kehidupan manusia. Filsafat tidak boleh dicampur dengan ideologi religius tertentu, seperti yang banyak terjadi di Indonesia sekarang ini.

    Bagaimana menurutmu?

    Suka

    1. Saya sepakat.

      Poin pertama itu sebenarnya sudah secara teknis dicoba dilakukan dalam reformasi birokrasi. Tapi celakanya, tidak berhasil karena konsistensi pada tujuan reformasi birokrasi tergeser oleh agenda-agenda politik yang bermain secara sektoral. Saya rasa, pimpinan-pimpinan birokrasi harus diisi oleh orang-orang yang merupakan profesional di bidang manajemen sektor publik, bukan orang-orang yang naik semata karena anggota faksi2 tertentu tanpa kompetensi bidang sektor publik.

      Untuk poin kedua, memang itu masalah besar sekali di pendidikan kita, mulai dari level dasar. Yang ini saya tidak tahu bagaimana enaknya memulainya, karena di institusi pendidikan guru saja filsafat tidak mendapat porsi yang layak.

      Suka

      1. Ya. Dua argumen ini menunjukkan dengan jelas, betapa kita adalah bangsa yang selalu setengah2 dalam melakukan sesuatu. Mungkin yang bisa dilakukan bukanlah perubahan drastis, tetapi perubahan yang mengikis. Artinya kita mengikis terus karat yang menjangkiti mentalitas bangsa ini. SAmbil berharap di tengah perjalanan, perubahan yang dinantikan tiba, walaupun secara bertahap.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s