Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya.
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/
Ciuman itu tak tulus. Seolah, ia melambangkan cinta. Namun, khianat bersembunyi dibaliknya. Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yudas Iskariot mencium gurunya, Yesus, persis setelah ia mengkhianatinya.
Tak lama, Yesus ditangkap oleh tentara Romawi, difitnah, disiksa lalu mati di kayu salib. Konon, Yudas menyesali perbuatannya. Ia pun memilih untuk bunuh diri. Kini, kata “ciuman Yudas” menjadi identik dengan pengkhianatan yang diselubungi kehangatan. Lanjutkan membaca Ciuman Yudas
Sudanese refugee children press up against a fence in Djabal refugee camp near Gozbeida southern Chad on March 15, 2009. United Nations forces took over command from European Union peacekeepers here Sunday to protect refugees and displaced people in Chad and the Central African Republic.
Oleh Reza A.A Wattimena,Pendiri Rumah Filsafat, Pengembang Teori Transformasi Kesadaran dan Teori Tipologi Agama
Tulisan ini merupakan sebuah upaya untuk memahami konflik di Darfur, dan melihat kemungkinan Uni Afrika, sebagai lembaga regional, untuk membantu mewujudkan perdamaian di sana. Untuk itu, tulisan ini akan dibagi ke dalam tiga bagian. Awalnya, tulisan ini akan memetakan konflik di Darfur. (1) Setelah itu, tulisan ini akan mencoba melihat kemungkinan peran Uni Afrika di dalam menciptakan perdamaian di Darfur. Beberapa hal terkait dengan misi PBB dan Uni Afrika di Darfur juga akan disinggung. (2) Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan. (3)
Tulisan ini ingin menjabarkan pemikiran David Chalmers tentang kesadaran. Chalmers adalah seorang neurosaintis sekaligus filsuf. Ia merumuskan beberapa prinsip penting di dalam kajian tentang kesadaran. Ia membedakan antara kesadaran dan keawasan, serta merumuskan beberapa prinsip penting di dalam memahami kesadaran. Dalam konteks yang lebih luas, Chalmers merumuskan problematik sulit tentang kesadaran yang masih terus menjadi kajian para ilmuwan dan filsuf sampai sekarang ini.
Kata Kunci: Kesadaran, Keawasan, Problematik Sulit tentang Kesadaran.
Afganistan. Irak. Amerika Serikat. Suriah. Sudan. Ukraina. Russia. Israel. Palestina. Indonesia. Mereka semua terlibat konflik berdarah. Ingatan dan trauma dimainkan. Dendam dan amarah diumbar lewat roket, bom dan peluru. Nyawa hilang. Harta benda hancur berantakan. Agama dijadikan alat untuk pembenaran kekerasan dan nafsu berkuasa yang busuk.
Inilah keadaan geopolitik dunia abad 21. Hubungan antar negara bersifat paradoksal. Kerja sama internasional makin erat. Namun, perang, konflik dan beragam bentuk kekerasan justru menjadi semakin rumit. Lanjutkan membaca Filsafat dan Spiritualitas Geopolitik
Apakah kamu percaya Tuhan? Sudah berulang kali, pertanyaan itu diajukan ke saya. Jawaban saya sederhana. Hanya orang bodoh dan keras kepala yang tak percaya Tuhan.
Tuhan adalah kecerdasan tak berhingga. Ia tampil di dalam setiap jengkal kehidupan. Ia hadir di setiap detak jantung, aliran darah dan denyut paru setiap mahluk. Kita hanya perlu sungguh menyadarinya disini dan saat ini. Lanjutkan membaca Tuhan, Ruang Hampa dan Pandemik yang Sunyi
Sekali lagi, cerita seram itu menghampiri telinga. Seorang teman yang terjebak dalam agama kematian dari tanah gersang. Begitu banyak larangan yang mencekik jiwa. Begitu banyak aturan yang tak masuk akal.
Pola beribadah yang merusak ketenangan bersama. Sikap politik yang ketinggalan jaman dan merusak. Kesombongan yang berakar pada kedunguan. Dia ingin meninggalkan agama kematian warisan keluarganya tersebut. Namun, banyak hal yang menjadi taruhan, termasuk dilepaskan selamanya dari keluarga yang amat dicintainya. Lanjutkan membaca Melampaui Moderasi Beragama, Menuju Peradaban Ilmiah-Spiritual
Seorang sahabat bertanya pada saya, “Apakah ada kebenaran mutlak di hidup ini?”. Jawab saya spontan, “Selama sesuatu masih bisa dibahasakan, ia bersifat relatif.” Pertanyaan dan jawaban ini membuka salah satu persoalan penting tidak hanya di dalam filsafat, tetapi juga di dalam kehidupan. Hidup yang berarti adalah hidup yang didasari pada kebenaran. Tidak lebih dan tidak kurang.
Jawaban saya sederhana. Saya cukup yakin dengan jawaban itu. Selama sesuatu itu masih hidup dalam bahasa, maka ia tidak mutlak. Kata dan bahasa, menurut Gadamer, pemikir Jerman, hidup dalam horison hidup manusia yang bersifat relatif, beragam dan terus berubah. Lanjutkan membaca Ilmu Hidup: Menghargai “Yang Relatif”, Menyelami “Yang Mutlak”
2024, tanah yang sedang mengalami krisis identitas akan mengalami pertarungan tiga bandit. Uang akan dikucurkan. Kebohongan akan dihembuskan. Mungkin juga, darah akan tertumpah, akibat hasrat berkuasa yang berkobar liar.
Pertarungan tersebut melibatkan tiga bandit. Mereka ingin merebut pucuk kekuasaan tanah ini. Di tengah kepungan radikalisme agama kematian dari tanah gersang, permasalahan ketimpangan sosial ekonomi yang meradang serta kerusakan alam yang terus mengancam, para bandit akan bertempur. Kita, rakyat, bisa menonton, bahkan bisa menjadi korban perang berdarah tersebut. Lanjutkan membaca Pertarungan Tiga Bandit
Di email, saya menerima pertanyaan yang menarik. “Bang Reza, apa beda filsuf, ilmuwan dan mistikus?” Begitu tanya dari seseorang di dunia digital. Pertanyaan itu menggelitik saya untuk menulis soal ini.
Sebagai orang Indonesia, saya lahir dalam keluarga yang beragama. Tidak ada pilihan lain. Sejak kecil, saya akrab dengan tradisi agama yang diturunkan oleh keluarga saya. Banyak dibicarakan soal dosa, dan jika itu dilakukan, maka saya akan masuk neraka, disiksa oleh api panas yang abadi.
Hasilnya, saya jadi takut. Selama belasan tahun, saya beragama dan bertuhan, karena takut masuk neraka. Saya berdoa, juga karena takut. Ini pengalaman serupa yang dialami oleh ratusan juta orang lainnya di Indonesia: beragama karena paksaan dan rasa takut.Lanjutkan membaca Memahami Ulang Dosa, Neraka dan… Surga
Di dunia ini, tak banyak masalah. Kita hanya punya satu masalah, yakni “manusia”. Manusia merusak alam. Manusia membunuh hewan sembarangan.
Hutan dibabat untuk sumber dayanya. Laut dirusak demi pariwisata. Alam dihancurkan demi energi yang merusak. Semua demi memuaskan kerakusan “manusia”. Lanjutkan membaca Mari Membunuh “Manusia”
Mungkin, karena cuaca sedang panas. Jakarta tidak hanya dihantui polusi suara dari knalpot motor dan lolongan rumah ibadah agama kematian, tetapi juga oleh polusi udara yang parah. Hampir setiap hari, Jakarta menempati peringkat pertama sebagai kota paling jorok udaranya di dunia. Luar biasa. Begitulah dampak dari memilih kepala daerah sembarangan.
Sudah dua kali, saya melihat pertikaian di jalan. Beberapa teman juga bercerita, betapa mereka emosi tinggi di jalan-jalan Jakarta yang macet, kacau dan panas. Ini mempengaruhi kinerja mereka di kantor. Di rumah pun, mereka banyak berkonflik dengan pasangan hidup, hanya karena hal-hal sepele. Lanjutkan membaca Sekali Lagi: Tentang Kemarahan
Suatu hari, saya naik kereta di Jakarta. Saya duduk, dan, seperti biasa, bermeditasi. Sesuatu menarik perhatian saya. Semua orang memegang ponsel cerdasnya, dan sedang menonton sesuatu.
Malam ini, angin kipas berhembus. Angin menyentuh wajah dan tubuhkku. Ada suara tukang nasi goreng lewat. Tetangga berkumpul bercengkerama, menyambut akhir pekan.
Sekitar 2017, saya memberikan seminar. Ada seorang mahasiswa yang mengajukan pertanyaan. Ia bercerita di depan umum, betapa ia takut dengan agamanya sendiri. Ia merasa, agamanya sudah menjadi sarang kebodohan, intoleransi, premanisme dan terorisme.
Namun, ia juga takut pindah agama. Apa kata keluarga dan tetangga? Orang tuanya bisa marah dan menangis, jika ia pindah agama. Apalagi, ia ditakuti-takukti dengan api neraka. Setelah seminar selesai, kami berdiskusi lebih mendalam tentang ini. Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Teori Tipologi Agama
Beberapa waktu lalu, saya merumuskan sebuah teori tentang kesadaran. Ini merupakan rangkuman sekaligus puncak dari penelitian saya selama kurang lebih 25 tahun. Saya menyebut rumusan ini sebagai “Teori Bentuk dan Tingkatan Kesadaran”. Ini merupakan bagian dari teori saya yang lebih luas, yakni “Teori Transformasi Kesadaran” yang saya paparkan di dalam buku ini.
Dengan teori ini, saya ingin memetakan keadaan batin dasar manusia (basic human state of mind) dalam kaitan dengan seluruh alam semesta. Teori ini juga bisa diterapkan di dalam berbagai bidang kehidupan manusia, mulai dari politik, agama ekonomi, budaya dan sains modern, sehingga bisa dirumuskan menjadi “Teori Transformasi Kesadaran Politik, Teori Transformasi Kesadaran Beragama, Teori Transformasi Kesadaran Ilmiah” dan sebagainya.[1]Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Teori Transformasi Kesadaran (Edisi Revisi 2)
Senyumnya sumringah. Gayanya dipoles habis oleh konsultan politik. Ia ingin tampil memikat. Ia ingin menarik simpati, guna menutupi borok masa lalunya.
Ia mengunjungi mantan korbannya. Dulu, ia menangkap dan menyiksa mahasiswa. Kini, untuk memikat suara rakyat, ia mengunjungi mereka. Semua adalah sandiwara yang dimainkan untuk merebut kekuasaan, lalu menindas semua musuh politiknya, maupun seluruh bangsa Indonesia itu sendiri. Lanjutkan membaca Membongkar Kepalsuan yang Memikat
Perempuan itu menangis tersedu-sedu. Saya terheran dibuatnya. Rupanya, ia sedang berdoa. Tapi, dilihat lebih dekat, ia seperti sedang berakting di sinetron murahan.
Ia berdoa di depan mikrofon. Suaranya keras sekaligus sedih. Air mata bercucuran deras keluar dari matanya. Semua keinginannya ia sampaikan kepada semua orang di ruangan. Lanjutkan membaca Berdoa itu Percuma?
Kita akan berdiskusi soal cara memilih presiden secara tepat dengan menggunakan sudut pandang filsafat dan teori transformasi kesadaran. Salam pencerahan.