Memahami Ulang Dosa, Neraka dan… Surga

KDBrx4RCTNXsVSpKHNfXOleh Reza A.A Wattimena

Sebagai orang Indonesia, saya lahir dalam keluarga yang beragama. Tidak ada pilihan lain. Sejak kecil, saya akrab dengan tradisi agama yang diturunkan oleh keluarga saya. Banyak dibicarakan soal dosa, dan jika itu dilakukan, maka saya akan masuk neraka, disiksa oleh api panas yang abadi.

Hasilnya, saya jadi takut. Selama belasan tahun, saya beragama dan bertuhan, karena takut masuk neraka. Saya berdoa, juga karena takut. Ini pengalaman serupa yang dialami oleh ratusan juta orang lainnya di Indonesia: beragama karena paksaan dan rasa takut.

Namun, saya juga sering berbuat dosa. Saya berpikiran jelek tentang orang lain. Saya juga sering marah melihat perilaku orang lain. Karena dicuci otak oleh keluarga dan bangsa yang agamis, saya pun sering merasa bersalah.

Pencerahan Filsafat

Berkat filsafat, saya terbebas dari cuci otak tersebut. Saya sadar, bahwa konsep dosa tidak datang dari Tuhan. Itu adalah ciptaan para pemuka agama dan politikus untuk mengontrol masyarakat. Mereka menginginkan warga negara yang patuh, sehingga mereka bisa tetap kaya dan berkuasa di atas kebodohan serta kemiskinan rakyat.

Konsep dosa dan neraka juga membuat rakyat terjebak dalam agama. Mereka pun tetap setia beragama, karena rasa takut yang tidak masuk akal tersebut. Agama lalu menjadi komoditi politik dan kekuasaan. Agama menjadi alat pengumpul massa dan pemecah belah, terutama ketika pemilihan umum berlangsung, seperti yang sudah berulang kali terjadi di Indonesia.

Tak heran, banyak pemikir melihat agama sebagai penghambat kemajuan manusia. Karl Marx, pemikir Jerman, misalnya, melihat agama sebagai opium dari rakyat (Opium des Volkes). Agama membuat rakyat hidup tenang dan damai di tengah penindasan total serta brutal dari penguasa kapitalistik yang kerap kali didukung oleh pemuka agama. Agama pun menjadi penghambat dari terwujudnya keadilan sosial yang bersifat universal.

Tuhan, yang merupakan konsep terpenting di dalam agama, juga dipertanyakan. Ludwig Feuerbach, pemikir Jerman, melihat Tuhan sebagai proyeksi dari pikiran manusia. Tuhan adalah konsep hasil tumpahan harapan manusia tentang dirinya sendiri, yakni mahakuasa, mahacinta dan sebagainya. Dalam arti ini, memuja Tuhan membuat manusia teralihkan dari usaha yang lebih penting, yakni mengembangkan dirinya sendiri secara utuh dan penuh.

Yang tercipta kemudian adalah manusia dengan moralitas budak (Sklavenmoral). Inilah kritik tajam dari Friedrich Nietzsche, pemikir Jerman lainnya. Moral budak mengutamakan sikap jinak di hadapan kehidupan. Orang kehilangan gairah akan warna warni kehidupan, dan berfokus untuk bersikap rendah hati, lemah serta jinak, sehingga mudah dimanfaatkan oleh para penguasa dan pemuka agama busuk untuk memperoleh serta mempertahankan kekuasaan.

Inilah yang saya sebut sebagai agama kematian. Di dalam teori tipologi agama yang saya rumuskan, ada dua bentuk agama, yakni agama kehidupan dan agama kematian. (Wattimena, 2023) Secara sederhana, agama kematian adalah agama yang membunuh warna warni dan gairah kehidupan, serta terpaku pada segala ilusi maupun imajinasi tentang kematian yang tak masuk akal. Keindahan dan kecerdasan pun dirusak atas nama agama kematian tersebut.

Dari sudut teori transformasi kesadaran yang saya rumuskan, pola beragama semacam ini berada di tingkat kesadaran paling rendah. Inilah kesadaran yang bersifat distingtif-dualistik.  (Wattimena, 2023) Ia amat sempit, sehingga menciptakan penderitaan di tingkat pribadi, maupun konflik di tingkat sosial. Semua pemahaman tentang dosa, neraka dan agama ini haruslah dipikirkan ulang dalam konteks yang lebih tercerahkan.

Dekonstruksi dan Rekonstruksi Dosa

Dekonstruksi adalah upaya untuk menunda kepastian makna. Konsep ini dirumuskan oleh Jacques Derrida, seorang pemikir Prancis. Setelah kepastian tertunda, maka makna tetap dibiarkan ambigu. Pemahaman baru yang tak terduga pun bisa muncul dari ketertundaan kepastian tersebut.

Setelah dekonstruksi, rekonstruksi tentu dibutuhkan. Rupert Spira, pemikir Amerika Serikat, mencoba menafsirkan ulang makna dosa. Ia melihat, bahwa dosa memiliki kesamaan makna dengan konsep “ketidaktahuan” di dalam filsafat Asia, terutama tradisi Advaita Vedanta. Akar katanya adalah chata’ah yang berarti “tidak tepat mengenai sasaran”.

Artinya, orang tidak memahami secara tepat. Orang terpaku pada obyek-obyek pengalaman di luar diri, seperti keindahan dan kenikmatan yang sementara. Ia lalu lupa, darimana semua pengalaman itu berasal. Ia tidak memahami sumber dari semua pengalaman itu sendiri, yakni Tuhan yang terwujud nyata di dalam kesadaran murni di dalam diri manusia yang sepenuhnya murni, disini dan saat ini.

Maka, berdosa adalah menjauh dari Tuhan. Artinya, berdosa adalah menjauh dari kesadaran murni itu sendiri yang terdapat di dalam diri manusia. Orang lalu melihat keluar, mendekati dunia dengan segala pesonanya yang sangat sementara. Ketika pesona itu lenyap berganti dengan hal lain, rasa derita pun tak terhindarkan.

Neraka dan Surga

Neraka adalah derita yang tak terkira. Orang yang sibuk melihat keluar diri, mengejar segala bentuk kenikmatan dan kekuasaan yang sementara, akan berakhir pada ketidakpuasan. Depresi dan frustasi pun datang. Neraka adalah keadaan batin yang penuh kerakusan, kemarahan, depresi dan frustasi semacam itu.

Sebaliknya, surga adalah keadaan batin, ketika orang melihat ke dalam dirinya. Ia kembali ke sumber segala yang ada, yakni kesadaran murni (pure consciousness). Inilah esensi dari Tuhan. Surga, dengan demikian, adalah keadaan, ketika manusia kembali ke dalam pelukan Tuhan (kesadaran murni di dalam diri). Yang dirasakan kemudian adalah perasaan utuh, damai dan bahagia secara mendalam.

Neraka kiranya bisa disamakan dengan kondisi kelupaan akan ada (Seinsvergessenheit), sebagaimana diungkapkan oleh Martin Heidegger, pemikir Jerman. Orang lupa akan esensi kenyataan, dan terjebak pada hal-hal kulit yang sementara serta terus berubah. Di dalam filsafat Asia, pola serupa disebut juga sebagai Avidya, atau ketidaktahuan-kesalahpahaman. Orang memiliki pemahaman yang salah tentang kehidupan.

Mereka sibuk pada benda-benda ciptaan, termasuk pikiran dan perasaannya sendiri yang amat sementara, serta lupa pada sang pencipta yang bercokol di dalam diri manusia. Orang tidak menyadari kesadarannya. Mereka tidak menghidupi sumber kehidupan itu sendiri. Akibatnya, mereka hidup di neraka, yakni dalam keadaan batin yang penuh derita, serta saling berkonflik satu sama lain.

Surga adalah keadaan batin di dalam pelukan Tuhan, Sang Pencipta. Sang pencipta adalah kesadaran murni di dalam diri setiap kehidupan. Ia tak pernah lahir, dan tak pernah mati. Kita tak perlu buang-buang uang jauh ke tanah gersang untuk mencari Tuhan, dan ditipu habis-habisan oleh para pemuka agama serta politisi busuk.

Bagaimana Caranya?

Surga adalah pencerahan, yakni ketika manusia mengalami jati diri sejatinya, sebelum pikiran dan emosi muncul. Ketika manusia mengalami jati diri aslinya, ia menyatu dengan Tuhannya. Ia menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang dirindukannya. Di dalam tradisi Zen, jalan tercepat untuk mencapai ini disebut juga sebagai Hwadu , yakni pertanyaan-pertanyaan yang menggiring manusia melepaskan obyek-obyek di luar diri, dan kembali ke kesadaran murni, yang adalah Tuhan, di dalam dirinya.

Siapa saya di luar nama dan segala identitas sosial yang diberikan oleh masyarakat? Siapa saya, sebelum saya lahir? Kemana saya pergi, setelah saya mati? Tinggalkan jawaban-jawaban dogmatis dari agama yang menciptakan kebodohan. Biarkan pertanyaan-pertanyaan itu meresap ke dalam diri.

Jawaban sejujurnya adalah, “saya tidak tahu”. Lalu, pikiran konseptual berhenti. Pertanyaan-pertanyaan pun padam. Orang lalu menjadi terbuka seutuhnya, tanpa pikiran konseptual.

Biarkan “ketidaktahuan” ini meresap lebih dalam. Beristirahatlah di dalam “ketidaktahuan”. Yang tercipta kemudian adalah batin yang selalu terbuka pada kehidupan dan kenyataan seutuhnya, lepas dari jawaban-jawaban dogmatis bodoh dari agama maupun tradisi. Shunryu Suzuki, seorang Zen Master asal Jepang, menyebutnya sebagai batin seorang pemula (beginner’s mind). Orang lalu memiliki kejernihan untuk menanggapi semua keadaan hidup yang terus berubah.

“Ketidaktahuan” ini adalah keterbukaan total pada kehidupan. Ia adalah perasaan kemeruangan (spaciousness), dimana batin kita mampu menampung segala bentuk pikiran dan emosi yang ada. Di dalam tradisi Zen, ini disebut sebagai hakekat Buddha (Buddha Nature) di dalam diri manusia. Sebagai manusia, tugas asli kita adalah menyadari hakekat Buddha tersebut, lalu menolong semua mahluk. 

Atma Vichara

Dalam hal ini, tradisi Advaita Vedanta memiliki metode yang unik. Di dalam bahasa Sanskrit, metode ini disebut sebagai Atma Vichara, atau penyelidikan tentang hakekat dari diri. Penyelidikan dilakukan, sampai orang mampu menciptakan jarak dengan identitas sosialnya (social self). Setelah semua identitas sosial tertunda, orang lalu beristirahat di dalam kesadaran diri yang ada (self-resting). Ia bersandar pada kesadaran dirinya (self abidance).

Penyelidikan diri lalu berakhir pada keadaan istirahat di dalam kesadaran diri. Pencarian berakhir di dalam keheningan yang mendalam. Orang menyatu dengan inti dirinya yang adalah Tuhannya sendiri. Kata revelation (pewahyuan) kiranya menunjuk hal ini dengan tepat. Kata ini berasal dari kata Latin revelare yang berarti kembali ke yang asli.

Orang lalu kembali ke dirinya yang asli yang juga adalah Tuhannya, sang pencipta dari segala yang ada. Ia melepaskan selubung kebodohan dan kesalahpahaman yang menghantuinya selama ini. Ia keluar dari dosa dan neraka, yakni mengejar obyek-obyek di luar diri dan pikirannya sendiri, lalu kembali ke surga bersama Tuhannya. Tradisi Dzogchen di dalam Buddhisme Tibet menyebutnya sebagai Rigpa, yakni esensi terdalam dari batin (nature of mind) yang adalah kekosongan yang sadar (empty awareness) itu sendiri.

Orang hanya perlu berhenti mencari, dan beristirahat disini dan saat ini. Ia tidak perlu mencari keluar. Ia tidak perlu mencari ke dalam. Tidak perlu bermeditasi. Tidak perlu Yoga.

Tidak perlu berdoa. Tidak perlu ritual. Hanya beristirahat disini dan saat ini di dalam kesadaran diri. Ia berada di surga. Ia berada di dalam pelukan Tuhan, Sang Pencipta.

Dekonstruksi Doa dan Meditasi

Doa pun perlu ditunda kepastian maknanya. Ia bukan meminta tanpa henti. Ia bukan memuja dengan segala cara, termasuk menciptakan polusi suara. Doa adalah kembali ke yang sejati, yakni sang pencipta di dalam kesadaran diri setiap mahluk. Doa adalah beristirahat di dalam kesadaran diri disini dan saat ini. Tidak lebih dan tidak kurang.

Dalam arti ini, doa adalah meditasi. Keduanya tidaklah berbeda. Tidak perlu kata ataupun ritual yang rumit. Cukup beristirahat di dalam diri, dimana Tuhan berada secara abadi.

Doa dan meditasi lalu menjadi keadaan batin. Keduanya adalah kehidupan yang berdenyut dari saat ke saat, tanpa henti. Doa dan meditasi adalah diri sejati manusia. Keduanya bukanlah aktivitas yang hanya dilakukan sesekali semata.

Doa, meditasi, hidup, surga, Buddha, Tuhan dan kesadaran diri adalah sama. Semuanya menunjuk hal yang serupa. Perbedaan rumusan hanyalah ekspresi akal budi yang berakar pada ruang dan waktu tertentu. Kita perlu menggunakannya, lalu melampauinya.

Pepatah Sufi Islam ini kiranya menjelaskan lebih jauh. “Saya mencari Tuhan dan menemukan hanya Diri saya. Saya mencari Diri saya yang sejati dan menemukan Tuhan.” Di titik ini, hanya ada cinta seluas semesta terhadap segala yang ada. Tidak ada rasa takut akan dosa dan api neraka. Semua sudah cukup dan sempurna sebagaimana adanya (suchness as it is).

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.