Jurnal Ilmiah Terbaru: Memahami Pergulatan Dua Kutub Dunia

Cruises to AntarcticaKajian Stratejik atas Konflik Sumber Daya

di Kawasan Antarktika dan Arktik

Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini ini memetakan keadaan di Antarktika (Kutub Selatan) dan Arktik (Kutub Utara). Keadaan terkini beserta peluang konflik akan dijabarkan secara umum. Kedua kutub dunia itu kini dipenuhi ketidakpastian, akibatnya melimpahnya sumber daya alam, tegangan militer dan aturan yang tidak jelas. Peluang konflik yang lebih besar pun terbuka lebar. Beberapa jalan keluar juga akan dirumuskan, seperti peningkatan kerja sama ekonomi dan ilmu pengetahuan antara negara-negara terkait.

Kata-kata Kunci: Konflik Sumber Daya, Perjanjian Antarktika, Antarktika Baru, Jalur Sutera Polar

Abstract

This paper maps the situation in Antarctica (South Pole) and Arctic (North Pole). The current situation and opportunities for conflict will be described in general terms. The two poles of the world are now filled with uncertainty, especially because of the abundance of natural resources, military tensions and unclear international policies. Opportunities for greater conflict with global impact are wide open. Some solutions will also be formulated, such as increasing economic and scientific cooperation between related countries in both areas.

Keywords: Resource Conflict, Antarctic Agreement, New Antarctica, Polar Silk Road

Diterbitkan di Jurnal ASC Series, Jakarta Oktober 2020 Volume 51

Versi lengkap bisa dilihat di Jurnal Reza, Antartika

Kawasan Antarktika (Kutub Selatan) dan Arktik (Kutub Utara) adalah kawasan tanpa tuan selama jutaan tahun. Kehadiran negara bangsa di masa modern tidak mengubah keadaan tersebut. Ini terjadi, karena kedua daerah tersebut ditutupi es tebal. Manusia tak punya kesempatan untuk pergi kesana, kecuali untuk beberapa daerah kecil di kedua kawasan tersebut. Keduanya tetap menjadi misteri, sampai akhir abad 20 lalu.

Berkembangnya teknologi, industri dan perubahan gaya hidup manusia menciptakan banyak sampah dan polusi. Ini menciptakan perubahan iklim di tingkat global. Dunia memanas, dan es tebal di kawasan Antarktika dan Arktik mencair. Semua ini menciptakan banyak masalah, sekaligus peluang baru. Salah satu yang menjadi ajang tegangan politik adalah persoalan tata kelola sumber daya di kedua kawasan tersebut.

Sumber daya, baik alam maupun non-alam, memang menjadi ajang perebutan berbagai pihak dewasa ini. Di kawasan Antarktika dan Arktik, tegangan politik dan militer sudah berkembang di abad 21 ini. Sebabnya beragam, mulai dari melimpahnya sumber daya alam, kepentingan militer-stratejik sampai dengan industri perikanan. Tanpa pengaturan yang tepat, tegangan yang ada bisa berkembang menjadi konflik terbuka yang merugikan semua pihak. Tulisan ini hendak memahami pola tegangan di dua kawasan tersebut, dan mengajukan beberapa kemungkinan jalan keluar.

Awalnya, peta tegangan di kawasan Arktik akan dibahas secara menyeluruh. Pembahasan lalu dilanjutkan dengan beragam persoalan yang muncul di kawasan Arktik. Berdasarkan analisis yang sudah ada, beberapa kemungkinan jalan keluar akan ditawarkan. Tulisan ini ditutup dengan kesimpulan.

1.Antarktika dalam Ketidakpastian

Sampai detik tulisan ini dibuat, Antarktika adalah benua tanpa pemerintah. Satu-satunya yang mirip dengan otoritas politik Antarktika adalah kantor kecil di Buenos Aires. Namanya adalah Secretariat of the Antartic Treaty. Isinya hanya sekitar 10 pegawai. Tugas utamanya adalah memastikan hubungan yang lancar antara 53 negara yang kini bersama-sama berada di benua tersebut.[1]

Antarktika adalah benua yang amat besar. Ukurannya dua kali benua Australia. Di dalamnya terdapat beragam sumber daya alam yang amat berguna untuk manusia. Yang cukup menarik adalah, bahwa Antarktika adalah satu-satunya tempat di dunia, dimana 53 negara hadir bersama secara damai. Tidak hanya itu, mereka bahkan bekerja sama untuk melakukan penelitian ilmiah.

Namun, seperti semua hubungan antar manusia, konflik dan tegangan pun seringkali tak terhindarkan. Dua masalah terbesar adalah persoalan perubahan iklim dan persaingan industri perikanan disana.  Masalah-masalah lain pun juga menajam. Persoalan penggunaan drone untuk kepentingan militer juga menjadi perdebatan. Begitu pula persoalan tentang tempat-tempat bersejarah yang menuntut tangung jawab bersama di dalam perawatannya. Pertanyaan kecil yang selalu muncul adalah, jika ada pihak yang melanggar, apa yang mesti dilakukan?

Pertanyaan ini hampir tak pernah diajukan. Asumsi, bahwa semua pihak akan bekerja sama dengan baik, selalu menjadi panduan di dalam pembuatan kebijakan. Namun, dengan perubahan cepat di dalam politik global, terutama dalam konteks perebutan sumber daya, berbagai pelanggaran akan dengan mudah terjadi. Bagaimanapun juga, Antarktika  merupakan sumber air bersih terbesar di dunia. Antarktika  juga memiliki sumber minyak mentah dan gas alam yang melimpah.

Sampai 2018, pihak-pihak yang terlibat di Antarktika  juga belum menunjukkan sikap aktif. Perjanjian terakhir terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu. Dengan berbagai perubahan yang terjadi, perjanjian baru tentu diperlukan. Tujuan utamanya adalah penegasan aturan yang sudah ada, serta menanggapi kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa terjadi. Tanpa perjanjian baru yang lebih sesuai, konflik kepentingan bisa terjadi yang bisa menciptakan kemungkinan konflik yang lebih besar.

Ketegangan terbesar terjadi di dua bidang yang amat berkembang sekarang ini, yakni pariwisata dan industri perikanan. Sampai detik tulisan ini dibuat, industri pertambangan masih dilarang di Antarktika . Pada 1958, sebuah perjanjian disepakati, bahwa tidak ada satu negara pun yang bisa memiliki sejengkal tanah di Antarktika. Inilah benua untuk semua, dan digunakan untuk sepenuhnya kepentingan perdamaian. Namun, keadaan ternyata semakin rumit, karena semakin banyak negara yang memilih untuk terlibat di Antarktika .

Pada 1980, ada 13 negara yang terlibat di dalam pengelolaan Antarktika. Namun, jumlah kini meningkat sampai 54. Sampai 2018, ada 75 penelitian ilmiah yang berlangsung disana dengan dukungan berbagai pihak. Cina merupakan salah satu negara yang paling banyak melakukan penelitian ilmiah disana, sejak mereka bergabung di 1983 lalu. Namun, fokus kegiatan di Antarktika kini telah banyak mengalami pergeseran.

Awalnya, fokus adalah penelitian ilmiah. Namun, penggalian sumber daya kini mulai menjadi yang utama. Semua terkait dengan sumber daya pasti membawa dilema.[4] Ini mengancam hubungan baik yang telah terjalin selama ini di dalam pengelolaan Antarktika. Konflik sumber daya pun menjadi kemungkinan yang sangat besar terjadi, tanpa kesepakatan baru yang harus segera dibuat.

Jelaslah, Antarktika  kini memiliki arti penting bagi politik dan ekonomi global. Tidak hanya itu, perubahan iklim juga amat tampak jelas di Antarktika. Es yang berusia jutaan tahun kini meleleh, akibat kenaikan suhu udara global. Akibatnya jelas, bahwa tingkat permukaan air laut akan naik. Banyak pulau di dunia yang akan tenggelam. Penelitian ilmiah dan tindakan politik yang tegas jelas amat diperlukan disini.

Seperti sudah sedikit disinggung sebelumnya, Antarktika  juga memiliki industri perikanan yang besar. Ini menjadi semakin penting, karena di banyak tempat, industri yang sama mengalami krisis. Banyak negara dan perusahaan yang kemudian datang ke Antarktika untuk mengembangkan industri. Jumlah penduduk yang menetap, ataupun hanya berkunjung, juga bertambah pesat. Perubahan di Antarktika  kini menjadi semakin nyata.

Untuk berwisata ke Antarktika, orang harus membayar 10.000 sampai 100.000.000 Dollar AS per kedatangan. Hanya ada beberapa tempat resmi yang boleh dikunjungi disana. Ada celah disini, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi, seperti Yacht. Mereka bisa melakukan apapun, tanpa adanya pemantauan dari pihak penegak hukum. Ini salah satu masalah yang muncul, karena lemahnya otoritas politik dan hukum di Antarktika .

Antarktika  seolah menjadi tempat petualangan bagi para wisatawan. Tidak ada aturan ataupun hukum yang mengikat. Orang bisa melakukan apapun yang ia mau. Pesawat dan kapal mewah berdatangan, tanpa pengaturan yang memadai. Pengunjung terbanyak Antarktika  adalah wisatawan dari Amerika Serikat dan Cina.

Seperti dalam banyak bidang lainnya, mulai dari ekonomi sampai dengan seni, Cina melakukan investasi besar-besaran di Antarktika . Tujuan mereka adalah untuk menciptakan “kekuatan besar di Polar”, yakni kekuatan politik, ekonomi dan militer raksasa di Antarktika. Hal ini tentu mengundang banyak kecemasan dari berbagai pihak. Cina bahkan menawarkan sebuah peraturan baru di Antarktika, terutama sekitar tempat penelitian yang telah mereka bangun. Tujuan peraturan ini adalah untuk mengontrol segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya, supaya selalu dalam kendali kepentingan politik Cina.

Masalah lingkungan juga muncul. Banyak pusat penelitian dan industri di Antarktika  dibangun, tanpa memperhatikan analisis lingkungan sebelumnya. Ini terjadi, persis karena tidak ada otoritas yang cukup kuat untuk menegakkan hukum maupun aturan disana. Berbagai pelanggaran, baik dalam bidang penelitian maupun wisata, tidak ditanggapi dengan tepat. Sampai saat ini, Cina memang salah satu negara yang terus meningkatkan pengaruh mereka di Antarktika.

Ini terjadi, karena dua hal. Pertama, Antarktika  jelas memiliki sumber daya alam yang melimpah. Industri perikanan maupun turisme juga memiliki kemungkinan amat besar untuk dikembangkan. Dua, Kutub Selatan merupakan tempat yang sangat strategis bagi sistem satelit navigasi. Sistem ini berperan besar di dalam perkembangan industri maupun bisnis telekomunikasi global.[8] Dua hal ini merupakan dasar bagi Antarktika  untuk diperebutkan.

Ada tiga negara dengan kepentingan politik dan ekonomi amat besar di Antarktika . Mereka adalah Amerika Serikat, Cina dan Russia. Sampai detik tulisan ini dibuat, belum ada perjanjian yang mengikat soal pengaturan Antarktika, terutama di antara ketiga negara tersebut. Bahkan, dalam beberapa hal, ketiga negara tersebut cenderung mengabaikan perjanjian yang sudah ada sebelumnya di Antarktika. Secara resmi, perjanjian tersebut akan ditelaah kembali pada 2048 nanti.

Tentu saja, perjanjian semacam ini pasti akan jauh lebih kompleks. Proses pembuatannya juga akan jauh lebih rumit. Ini terjadi, karena tema yang dibicarakan akan jauh lebih luas. Peserta yang ikut terlibat juga akan semakin banyak. Namun, tema utama yang pasti menjadi penting dan sulit adalah tema sumber daya.

Sumber daya air juga akan menjadi tema pembicaraan yang alot. Di Afrika Selatan, terutama di Cape Town, krisis air seringkali terjadi. Ada wacana untuk menimba air langsung dari gunung es di Antarktika. Ini belum mendapat tanggapan resmi dari negara-negara lainnya di Antarktika. Persoalan serupa juga akan muncul, ketika pembicaraan tentang sumber daya ikan dan industrinya terjadi.

Selama ini, dalam banyak perjanjian, Cina dan Russia selalu bersuara keras soal sumber daya. Ini membuat banyak kesepakatan menjadi mentah. Banyak hal yang belum selesai dibicarakan. Pertanyaan mendesak lainnya terkait dengan pertanyaan seputar kekayaan intelektual. Beragam penelitian di Antarktika bisa menghasilkan banyak penemuan baru yang berguna bagi manusia. Ini merupakan potensi ekonomi dan bisnis yang luar biasa besar.

Siapa yang memperoleh hak atas kekayaan intektual dari semua ini? Bagaimana pola pembagian dan perlindungannya? Sampai detik tulisan ini dibuat, belum ada pengaturan yang jelas soal ini. Banyaknya pihak yang terlibat membuat semua proses menjadi semakin rumit. Berbagai perkembangan terbaru, tanpa adanya hukum dan aturan baru yang disepakati bersama, membuat hukum dan aturan yang telah ada menjadi sia-sia.

Perlu diketahui, Perjanjian Antarktika dibuat pada 1959. Pada masa itu, perang dingin antara Amerika Serika dan Uni Soviet masih terjadi. Fokus dari perjanjian itu adalah mencegah penggunaan sumber daya di Antarktika untuk kepentingan militer, terutama kepentingan senjata nuklir. Ada 12 negara yang terlibat. Semuanya sepakat untuk tidak mengklaim Antarktika sebagai bagian dari wilayah mereka. Antarktika lalu menjadi benua internasional.

Seperti sedikit disinggung sebelumnya, tema utama perjanjian Antartika adalah terkait pengolahan tambang dan perikanan. Sampai detik ini, pertambangan di Antartika masih dilarang keras. Sementara, perikanan diatur sesuai dengan keperluan negara-negara terkait. Dalam banyak hal, perjanjian Antartika amatlah baik. Ia diacu oleh banyak ahli sebagai bentuk kerja sama internasional yang patut dijadikan contoh.

Perjanjian Antarktika juga menjadi acuan bagi perjanjian antariksa. Di angkasa, tidak ada satu negara pun yang memiliki hak. Semuanya adalah milik dari komunitas internasional. Sekarang ini, banyak ahli yang melihat pentingnya membuat perjanjian di Kutub Utara, yakni kawasan Arktik, dengan mengacu pada perjanjian Antarktika. Di sana juga terjadi tegangan serupa, yakni melimpahnya sumber daya alam, dan perubahan iklim yang membawa bencana global.

Perjanjian Antarktika juga menjadi hal yang menarik. Negara-negara yang saling berkonflik di berbagai bidang di ranah internasional bisa menemukan titik kesepakatan di Antarktika. Di sana, semua orang sadar, bahwa manusia saling membutuhkan. Cuaca dan kondisi alam yang kejam membuat manusia sadar akan pentingnya kerja sama yang sesungguhnya. Kerja sama ini paling terlihat di dalam bidang penelitian ilmiah yang berkembang pesat di Antarktika.

Penelitian ilmiah selalu memerlukan kerja sama lintas bidang.[9] Keberagaman tidak bisa dihindari. Ini menjadi sangat penting, terutama di tempat penelitian ilmiah yang sulit dan terpencil, seperti Antarktika. Dengan adanya kepentingan bersama ini, kerja sama lintas bangsa yang tulus dan jujur pun bisa terlaksana. Sampai detik ini, lepas dari beragam tantangan yang ada, perjanjian Antarktika, beserta tata politik disana, masih menjadi contoh yang baik bagi semua perjanjian internasional di dunia.

Tegangan Baru di Kutub Utara

Di Kutub Utara, tepatnya di Arktik, perang dingin rupanya belum selesai. Namun, kali ini, pelakunya lebih luas, yakni Russia, Amerika Serikat dan Cina. Mereka berlomba untuk memperoleh kontrol di Arktik. Russia memiliki dorongan paling besar. Lebih dari setengah garis pantai Russia berada di Kutub Utara. Mereka memiliki dorongan besar untuk melakukan kontrol militer maupun ekonomi disana.[10]

Di kawasan Arktik, ada cadangan minyak sekitar 35 triliun Dollar AS yang belum diolah. Ada juga cadangan gas alam yang amat besar disana. Cina kini memiliki dorongan serupa. Mereka merumuskan jalur Sutra di kawasan Polar (polar silk road). Dengan adanya pemanasan global, kawasan Arktik menjadi hangat, sehingga jalur transportasi pun terbuka. Ini adalah potensi ekonomi sekaligus stratejik yang besar untuk digunakan.

Kawasan Arktik juga sangat kaya dengan cadangan mineral, seperti emas, perak, berlian, titanium, uranium dan timah. Dahulu kala, karena lapisan es yang tebal, berbagai sumber daya alam tersebut tidak dapat diolah. Namun, karena pemanasan global, mereka kini berada dalam jangkauan manusia. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan, bahwa kawasan Arktik kini tidak lagi bisa seperti dahulu. Lapisan es akan terus menipis, dan kawasan tersebut seluruhnya akan bisa diolah oleh manusia.

Tidak hanya negara yang berlomba mengelola kawasan Arktik. Perusahaan-perusahaan multinasional pun juga memanfaatkan peluang yang sama. Pembangunan infrastruktur pun semakin sering dilakukan, mulai dari pelabuhan, pipa pertambangan, jalan raya, jalur kereta sampai dengan bandara. Sampai detik tulisan ini dibuat, sudah ada kurang lebih 900 proyek pembangunan infrastruktur di kawasan Arktik. Total investasi sudah mencapai 1 triliun Dollar Amerika Serikat.[13]

Sampai sekarang, 2020, sudah lebih dari 300 milliar Dollar AS dikembangkan menjadi proyek nyata. Russia menjadi pemimpin dalam hal ini. Mereka telah membangun berbagai infrastruktur militer, rangkaian pelabuhan dan bandara udara di kawasan Arktik. Perusahaan-perusahaan energi negara milik Russia, seperti Rosneft dan Gazprom, sudah membangun pertambangan minyak di kawasan Arktik. Lebih dari satu juta barrel minyak sudah diolah disana oleh kedua perusahaan tersebut.

Negara-negara Skandinavia dan Amerika juga terlibat di dalam perlombaan ini. Finlandia, Canada dan Amerika Serikat juga merencanakan untuk membangun beberapa infrastruktur di kawasan Arktik. Norwegia juga melakukan investasi besar untuk mengolah sumber daya disana. Mereka tetap melakukan pencarian sumber daya minyak baru. Walaupun, secara keseluruhan, negara-negara Skandinavia melakukan banyak penelitian tentang sumber energi terbarukan.

Campur tangan Cina adalah yang paling menarik perhatian. Cina tidak memiliki wilayah di kawasan Arktik. Namun, dengan visinya untuk membangun Jalur Sutra di Utara, Cina menjadi salah satu pesaing terkuat di kawasan Arktik dalam soal pengolahan sumber daya. Di abad 21 ini, ekonomi dan militer Cina menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Pengaruh politiknya pun tak lagi bisa diabaikan. Cina melakukan investasi besar di kawasan Arktik dalam bentuk infrastruktur pengolahan sumber daya.

Dari semua yang berlomba menguasai Antartika, Russia masih menjadi pemimpin terdepan. Beberapa data kiranya bisa membantu. Untuk menguasai kawasan Arktik, yang sebagian besar ditutupi es, sebuah negara atau perusahaan memerlukan kapal pemecah es yang kuat. Sampai sekarang, Russia memiliki 45 kapal pemecah es, dan jumlahnya akan terus bertambah. Finlandia masih memiliki 7, dan Kanada serta Swedia memiliki 6 masing-masing.

Pertarungan di kawasan Arktik adalah pertarungan energi. Gas, minyak dan infrastruktur masih menjadi ajang investasi utama. Namun, investasi dan pengembangan teknologi tinggi juga dilakukan dengan giat. Norwegia membangun pusat data di kawasan Arktik. Finlandia membangun pabrik enthanol dan biomassa.

Lepas dari semua itu, industri yang berkembang pesat adalah industri transportasi. Potensinya amat besar, tidak hanya di antara kawasan Arktik, tetapi juga jalur transportasi yang melewati kawasan tersebut. Kawasan Arktik bisa menjadi kawasan perantara yang sangat potensial, baik bagi ekonomi maupun militer. Lapisan es yang terus menipis, akibat pemanasan global, adalah penyebab utama dari semua ini. Jalur penghubung antara Asia Timur dan Eropa Utara bahkan kini sudah digunakan oleh kapal laut pada waktu-waktu tertentu.

Secara perhitungan, jalur ini sekitar 40% lebih cepat dari jalur terusan Suez yang selama ini digunakan. Tentu saja, Russia memimpin pula dalam soal pengembangan jalur transportasi ini. Mereka telah membangun lebih dari selusin pelabuhan di kawasan Arktik, terutama di Murmansk dan Arkhangelsk. Potensi ekonomi dan strategis militer dari semua ini tidaklah terbatas di masa depan. Perubahan iklim tidak akan berhenti, selama manusia masih hidup dengan cara-cara yang merusak, seperti sekarang ini.

Yuval Harari, pemikir asal Israel, melihat, bahwa data telah menjadi sumber daya yang berharga di abad 21, dan seterusnya. Data adalah “minyak” di abad 21.[15] Kawasan Arktik juga memiliki kemungkinan besar di dalam pengolahan data. Kabel bawah laut antara Asia, Eropa dan Amerika bisa dibuat dengan jarak yang jauh lebih kecil. Ini membuat pertukaran informasi menjadi sangat efisien dan efektif.

Transaksi keuangan, misalnya antara Tokyo dan London, menjadi jauh lebih cepat dan aman dengan melewati kawasan Arktik. Jalur transportasi yang menunjang ekonomi global juga menjadi jauh lebih cepat. Globalisasi menekankan internasionalisasi. Dalam hal ini, peran perkembangan teknologi informasi, transportasi dan komunikasi amatlah penting.[16] Perkembangan kawasan Arktik dewasa ini juga amat menunjang hal tersebut.

Kawasan Arktik pun kini mendapat nama baru, yakni Arktik Baru (The New Arctic). Ini untuk menggambarkan kawasan yang semakin menghangat, karena pemanasan global. Walaupun menghangat, kawasan tersebut, sebenarnya, masih memberikan tantangan besar bagi manusia. Jumlah es masih sangat banyak, dan bentuknya sangat tebal. Kawasan Arktik yang mudah dilalui oleh kapal laut masih merupakan impian yang jauh di masa depan.

Potensi masa depan kawasan ini adalah transportasi kapal, industri perikanan, energi dan bahan mineral. Tidak hanya Russia dan negara-negara Skandinavia dan Amerika Utara yang terlibat di sana. Cina pun juga sangat gesit melakukan investasi. Memang, mereka tidak punya wilayah politik disana. Namun, dengan sumber daya uang yang nyaris tak terbatas, Cina melakukan investasi yang amat besar di bidang industri gas alam, sehingga mereka ikut memiliki keuntungan di proyek gas alam yang ada.[17]

Cina melihat dirinya sebagai negara yang memiliki kekuasaan di Arktik. Dalam kosa kata bisnis, Cina adalah salah satu pemegang saham besar di kawasan tersebut. Dengan investasi besar yang mereka lakukan, Cina hendak memastikan, bahwa pendapat mereka didengar, ketika masa depan kawasan Arktik sedang dibicarakan. Dengan kekuatan ekonomi yang besar, pengaruh politik pun akan meningkat. Inilah yang dilakukan Cina di abad 21, tidak hanya di kawasan Arktik, tetapi juga di seluruh dunia.

Yang perlu sungguh diperhatikan adalah, bahwa kegiatan militer juga meningkat tajam. Tentu saja, yang paling menonjol dalam hal ini adalah Russia. Mereka kini melihat kawasan Arktik sebagai tempat pelabuhan penting untuk militer laut mereka. Maka dari itu, yang memanas bukan hanya iklim, tetapi juga keadaan politik di Arktik.

Seluruh kawasan tersebut kini dipenuh angkatan perang, terutama kapal dan pesawat tempur milik Russia. Tentu saja, ini menciptakan ancaman bagi negara-negara sekitarnya, seperti Skandinavia dan Amerika Utara. Tegangan perang dingin antara Uni Soviet dengan Amerika Serikat (serta sekutunya) seperti terulang kembali. Tegangan yang membangkitkan trauma hampir terjadinya perang nuklir yang akan menghancurkan seluruh dunia, jika kedua pihak tersebut bertempur.

Kehadiran angkatan tempur yang besar di kawasan Arktik membuang peluang konflik dan kesalahpahaman semakin besar. Konflik bersenjata pun juga sangat mungkin terjadi. Ini semua hanya dapat dibendung dengan meningkatkan kerja sama internasional. Setiap konflik dan kesalahpahaman harus diselesaikan melalui dialog yang jernih dan masuk akal. Perdagangan dan kerja sama di bidang ilmiah pun harus ditingkatkan, guna meredam tegangan politik maupun militer yang ada.

Beberapa Kemungkinan Jalan Keluar  

Menanggapi kompleksitas keadaan di Antarktika dan Arktik, ada beberapa hal yang kiranya bisa dilakukan. Pertama, semua tata kelola sumber daya di kedua kawasan tersebut tidaklah boleh menguntungkan beberapa pihak semata. Kebaikan bersama harus menjadi acuan utama. Unsur kelestarian lingkungan tidak lagi menjadi acuan kedua. Ia justru harus menjadi salah satu yang terpenting.

Dua, kerakusan pihak-pihak tertentu haruslah dipantau sedekat mungkin. Komunitas internasional harus berani melakukan tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan main bersama di Antarktika maupun Arktik. Salah satu tindakan yang mungkin adalah dengan melakukan boikot. Semua produk yang diperoleh dengan tidak sesuai aturan di kedua kawasan tersebut tidak bisa dijual di pasar internasional.

Tiga, tegangan politik kiranya tak bisa dihindari. Dimana sumber daya melimpah, disana pasti terjadi tegangan yang bisa bermuara pada konflik.[20] Untuk mengurangi tegangan yang ada, kerja sama di bidang-bidang yang lain perlu untuk dilakukan. Bidang yang paling mungkin adalah bidang penelitian ilmiah dan kerja sama ekonomi. Keduanya akan menguntungkan pihak-pihak yang terkait, sehingga bisa mengurangi tegangan politik maupun militer yang tengah terjadi.

Empat, komunitas internasional harus terus melakukan pengawasan atas apa yang terjadi di kawasan Antarktika dan Arktik. Setiap pelanggaran harus ditanggapi sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Tidak boleh ada kesan, bahwa negara-negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang besar bisa bertindak seenaknya. Tanpa pantauan semacam itu, kedua kawasan tersebut akan dijalankan dengan hukum rimba, dimana yang kuat dan besar akan menguasai semuanya. Itu berarti kekacauan dan konflik yang bisa berdampak merusak di tingkat global.

Lima, teori-teori sosial politik klasik hanya melihat manusia sebagai acuan utama. Kebutuhan manusia dilihat sebagai kebutuhan utama, sambil mengabaikan kebutuhan mahluk hidup lainnya. Alam pun dikorbankan, supaya manusia bisa memenuhi kebutuhannya secara berlebihan. Pandangan ini tidak bisa dibiarkan tetap ada. Alam, dan keseimbangan ekologis, harus menjadi acuan yang tertinggi, terutama dalam pengaturan di kawasan Antarktika dan Arktik. Taruhannya terlalu besar.

Kesimpulan

Perubahan iklim memang mengancam dunia. Dunia semakin memanas, akibat sampah dan polusi yang dibuang oleh gaya hidup manusia yang tak bertanggungjawab. Di kawasan Antarktika dan Arktik, perubahan iklim tidak hanya membawa bencana, tetapi juga peluang. Kedua kawasan tersebut terbuka untuk pengolahan sumber daya alam, perikanan dan transportasi. Ini merupakan peluang ekonomi dan militer yang besar. Masalah yang muncul lalu terkait dengan tata kelola sumber daya. Negara-negara, yang memiliki sumber daya ekonomi maupun militer yang kuat, hendak menggunakan kedua kawasan tersebut untuk mengeruk sumber daya secara tidak adil. Kerakusan adalah daya dorong utama mereka. Maka dari itu, kontrol dari komunitas internasional harus terus dilakukan, supaya sumber daya yang ada bisa digunakan untuk kebaikan bersama, dan tetap memperhatikan kelestarian ekologis. Kerja sama lintas bidang, seperti ekonomi dan keilmuan, kiranya bisa dilakukan, supaya bisa meredam ketegangan militer dan politik yang mungkin muncul.

Daftar Acuan

t.thn. Diakses 2020. http://www.mapsnworld.com/antarctica/where-is-antarctica-bigger-size-map.html.

t.thn. Diakses 2020. https://www.vectorstock.com/royalty-free-vector/antarctic-map-vector-23959864.

Antarctica, Cool. t.thn. Diakses 2020. https://www.coolantarctica.com/Antarctica%20fact%20file/science/threats_tourism.php.

t.thn. Astronomy. Diakses 2020. http://astronomy.swin.edu.au/cosmos/A/Arctic+Circle.

Dillow, Clay. 2018. CNBC. https://www.cnbc.com/2018/02/06/russia-and-china-battle-us-in-race-to-control-arctic.html.

Government, US State. t.thn. Diakses 2020. https://www.state.gov/antarctic-treaty/.

t.thn. Grida. https://www.grida.no/resources/7845.

Harari, Yuval Noah. 2018. 21 Lessons for the 21st Century. Spiegel & Grau; 1st Edition edition.

Hook, Leslio. 2018. Financial Times. Diakses 2020. https://www.ft.com/content/2fab8e58-59b4-11e8-b8b2-d6ceb45fa9d0.

J.Scholte. 2005. Globalization: A Critical Introduction. New York: Palgrave.

Kessler, Johannes. 2016. Theorie und Empirie der Globalisierung: Grundlagen eines konsistenten Globalisierungsmodells. Mainz, Germany: Springer.

t.thn. New York Times. Diakses 2020. https://www.nytimes.com/2015/08/05/world/europe/kremlin-stakes-claim-to-arctic-expanse-and-its-resources.html?smid=tw-nytimesworld.

Reza A.A Wattimena, Anak Agung Banyu Perwita. 2017. “Globalization: Citizenship and its Challenges, Cosmopolitanism as an Alternative Paradigm in International Relations.” Borderless Nation and Nations with Borders. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

—. 2019. Memahami Hubungan Internasional Kontemporer. Jakarta: Salemba Humanika.

—. 2018. To Infinity and Beyond: Cosmopolitanism in International Relations. Jakarta: Ary Suta Center.

Rosenberg, J. 2000. The Follies of Globalisation Theory. London and New York: Verso.

Wattimena, Reza A.A. 2008. Filsafat dan Sains. Jakarta: Grasindo.

Wattimena, Reza A.A. 2020. “Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutuk? Sebuah Pertimbangan Kritis-Stratejik.” Ary Suta Center Series on Strategic Management.

Wattimena, Reza A.A. July 2018 Volume 42. “What are the Fundamental Pillars of Contemporary Globalization?” THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT.

[1] Kerangka mengikuti (Hook 2018)

[2] Gambar dari (20ht)

[3] Gambar dari (20ht1)

[4] (Wattimena, Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutuk? Sebuah Pertimbangan Kritis-Stratejik 2020)

[5] Lihat  (Government n.d.)

[6] (Antarctica n.d.)

[7] Hasil rumusan penulis

[8] Lihat (Hook 2018)

[9] Lihat (Wattimena, Filsafat dan Sains 2008)

[10] Kerangka mengikuti (Dillow 2018)

[11] (Grida n.d.)

[12] (Astronomy n.d.)

[13] Lihat (Dillow 2018)

[14] (New York Times n.d.)

[15] Lihat (Harari 2018)

[16] Lihat beberapa sumber: (Kessler 2016) (Reza A.A Wattimena, Globalization: Citizenship and its Challenges, Cosmopolitanism as an Alternative Paradigm in International Relations 2017) (Reza A.A Wattimena, Memahami Hubungan Internasional Kontemporer 2019) (Reza A.A Wattimena, To Infinity and Beyond: Cosmopolitanism in International Relations 2018) (Rosenberg 2000) (Wattimena, What are the Fundamental Pillars of Contemporary Globalization? July 2018 Volume 42) (J.Scholte 2005)

[17] Lihat (Dillow 2018)

[18] Bagan hasil rumusan penulis

[19] Hasil rumusan penulis

[20] (Wattimena, Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutuk? Sebuah Pertimbangan Kritis-Stratejik 2020)

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Jurnal Ilmiah Terbaru: Memahami Pergulatan Dua Kutub Dunia”

  1. Pak, semoga air bah gunung es tidak terjadi lagi untuk umat manusia. Sebab para Dewa sangat sayang akan manusia dan menghargai setiap karunia semacamkehidupan itu sendiri.

    Politik dan ekonomi terlalu baik serta ganas utk manusia
    apalagi disertai perkembangan ilmu pengetahuan yang sangatpesat mengangkat kekuasaan manusia. Kehendak untuk berkuasa disini mincul lagi….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.