Taoisme dan Zen: Dasar Filsafat Timur

463px-Tao_symbol.svg_
tao.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Tulisan tentang Zen lainnya bisa dililihat di link berikut: Zen dan Substansi Manusia

Untuk memahami Zen, kita perlu memahami latar belakang yang melahirkannya, yakni Taoisme di Cina. Zen dan Taoisme bukanlah agama yang bersifat formal, sebagaimana kita memahami arti kata agama saat ini. Zen dan Taoisme juga tidak bisa dilihat sebagai filsafat atau sebagai ilmu pengetahuan murni. Keduanya lebih tepat dipahami sebagai sebuah jalan, yakni jalan pembebasan, atau jalan menuju kebebasan. Ciri yang sama juga dimiliki oleh tradisi Yoga di India. Di dalam sejarahnya, Zen adalah perkawinan antara Taoisme dari Cina dan Buddhisme dari India. Namun, pengaruh Cina lebih kuat di dalam Zen. Tradisi Jepang juga memberikan warna pada Zen di abad ke 12. Sebagai sebentuk jalan menuju kebebasan, dan campuran budaya maupun tradisi dari tiga peradaban besar, yakni Cina, India dan Jepang, Zen adalah salah satu sumbangan terbesar peradaban Asia bagi perkembangan peradaban manusia.

Karena berkembang di dalam cara berpikir Asia kuno, Taoisme sulit untuk dimengerti dengan cara berpikir orang modern, terutama kita yang hidup di abad 21 ini. Yang berbeda bukan hanya isi teori, tetapi juga pengandaian-pengandaian dasar dalam bentuk cara berpikir. Jika kita mengabaikan ini, maka kita akan memaksakan Taoisme ke dalam alam pikir kita, dan akhirnya salah memahaminya. Inilah salah satu ciri Orientalisme, yakni mencoba memahami cara berpikir Asia dengan menggunakan cara berpikir Eropa. Yang tercipta kemudian tidak hanya kesalahpahaman, tetapi juga ketakutan, kecurigaan dan prasangka.

Perbedaan bahasa juga menjadi tantangan tersendiri. Proses penerjemahan dari bahasa asing selalu mengundang tafsir baru yang berbeda dari yang dimaksud sebelumnya. Karya-karya dalam bahasa India, Cina dan Jepang jelas tidak akan pernah bisa sepenuhnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ataupun bahasa-bahasa lainnya. Namun, kesulitan yang mendasar sebenarnya bukan terletak pada bahasa, tetapi pada pola pikir yang mendasari bahasa tersebut.  Bahasa-bahasa yang digunakan di dalam Taoisme, dan juga Zen, seringkali bersifat simbolik. Ia tidak dapat secara mentah diterjemahkan dan diartikan begitu saja. Banyak orang Eropa yang mengira, bahwa karena menggunakan bahasa simbolik semacam ini, pemikiran Asia itu irasional dan mistik. Ia tidak dapat dipahami dengan akal sehat. Namun, jika ditelaah lebih dalam melalui praksis dan proses, maka orang akan menemukan, bahwa ide dasar dari Taoisme dan Zen adalah sesuatu yang universal. Ia tidak terjebak pada satu bahasa ataupun budaya berpikir tertentu.

Ilmu pengetahuan modern dan filsafat Barat bergerak di tingkat yang berbeda, jika dibandingkan dengan Zen dan Taoisme. Ilmu pengetahuan modern dan filsafat Barat berfokus pada pengetahuan konvensional, yakni pengetahuan yang berpijak pada kata dan konsep. Kata dan konsep itu sendiri bukan sesuatu yang alamiah atau nyata, melainkan hasil dari kesepakatan. Artinya, di dalam ilmu pengetahuan modern dan filsafat Barat, orang tidak dapat dianggap mengetahui sesuatu, sebelum ia bisa merumuskan konsep dan kata atas apa yang ia ketahui. Kata dan konsep itu bisa berupa bahasa, atau simbol matematik. Dasar dari semua ini adalah kesepakatan bersama untuk merumuskan simbol. Semua itu dianggap berguna sebagai alat bantu komunikasi. Kata dan konsep ini tidak hanya mewakili maksud atau pikiran, tetapi juga makna sebuah tindakan.

Proses pendidikan, dalam arti ini, berarti mengajarkan anak tentang beragam kata, konsep dan simbol yang digunakan di suatu masyarakat. Namun tetaplah harus diingat, bahwa kata, konsep dan simbol hanyalah kesepakatan bersama yang bisa terus berubah sesuai keperluan. Ia bukanlah kenyataan pada dirinya sendiri. Apa dasar dari kesepakatan itu? Tidak ada dasarnya. Kesepakatan sosial yang menjadi dasar dari arti sebuah konsep, kata, simbol atau tindakan tidak memiliki dasar. Ia terjadi secara acak. Di dalam bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris, kita bisa membedakan dengan jelas antara kata kerja dan kata benda. Misalnya, makan adalah kata kerja, dan makanan adalah kata benda. Namun, perbedaan ini tidak selalu ada di semua bahasa. Banyak kata di dalam bahasa Cina yang mengaburkan perbedaan antara keduanya. Hasilnya adalah orang bisa melihat sebuah benda sebagai sebuah proses yang bekerja. Artinya, benda adalah sebuah peristiwa yang terus berubah. Jika dipahami seperti ini, maka orang sudah secara alami selalu melihat benda-benda yang ada di dunia sebagai sebuah proses yang terus berubah, dan bukan sebagai sebuah benda yang tetap.

Kesepakatan sosial juga menghasilkan peran sosial, yakni peran yang kita jalani di dalam kehidupan sosial sehari-hari. Misalnya, saya adalah seorang dosen, sekaligus mahasiswa, karena sedang melanjutkan tugas studi. Saya juga seorang pria dan warga negara Indonesia. Namun, apakah peran-peran sosial itu adalah diri saya yang sesungguhnya? Jika ya, yang mana, karena ada beragam peran sosial? Semua peran sosial tersebut mengandaikan adanya satu hal, yakni “diri” pribadi yang menjadi dasar untuk semuanya. Inilah yang disebut sebagai identitas pribadi, yakni identitas diriku sebagai individu. Namun, “diri” pribadi ini sejatinya juga merupakan kesepakatan sosial juga. Setiap orang memiliki konsep “diri” yang berkembang dari pola asuh dan pengalaman masa lalunya. Ini semua merupakan bagian dari lingkungan sosial. Jadi dapatlah dikatakan, bahwa “diri” merupakan sebongkah ingatan atas sejarah hidup pribadi yang melibatkan lingkungan sosial. Ia bukanlah sesuatu yang alamiah dan nyata, melainkan hasil kesepakatan yang terus berubah dan mengundang beragam tafsiran.

Misalnya, di dalam konteks kesepakatan sosial, diriku bukan hanya apa yang ada sekarang ini, melainkan apa yang telah aku lakukan di masa lalu. Bahkan, dalam banyak hal, apa yang telah kulakukan di masa lalu jauh dianggap lebih penting, daripada apa yang kulakukan sekarang. “Diri”-ku saat ini seolah tak terjangkau untuk dipahami dan diartikan. Sementara, “diri”-ku di masa lalu adalah sesuatu yang tetap dan tak bisa diubah sedikitpun. Bahkan, konsep “diri”-ku di masa lalu itu kerap kali digunakan untuk memberikan ramalan tentang hidupku di masa depan. Dengan kata lain, “diri” adalah konsep yang seringkali dipahami lepas dari kenyataan yang ada, dan lebih mengacu pada apa yang sudah lewat. Bukankah ini aneh? Kenyataannya, kita sehari-hari berpikir dengan gaya semacam ini, terutama kita yang telah belajar ilmu pengetahuan modern dan filsafat Barat. Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, “aku” yang nyata adalah aku yang ada disini dan saat ini. “Aku” di masa lalu dan di masa depan hanyalah abstraksi konseptual yang berpijak pada ingatan dan spekulasi semata.

Di dalam berbagai kajian, konsep “diri” dilihat sebagai hasil dari ingatan pribadi. Namun, apakah ingatan itu merupakan kenyataan? Jawabannya jelas tidak. Ingatan dihasilkan dari proses seleksi. Artinya, kita memilih, apa yang ingin kita ingat dari berbagai peristiwa yang terjadi. Pilihan kita pun tidak obyektif, melainkan sangat tergantung dari kepentingan pribadi kita untuk mengingat, ataupun dari kemampuan kita sendiri untuk mengingat. Di samping itu, nilai-nilai sosial juga mempengaruhi apa yang kita ingat, serta apa yang kita anggap penting dari semua yang kita alami dan kita ingat. Semua ini adalah abstraksi dan kesepakatan sosial semata. Ini bukanlah kenyataan pada dirinya sendiri, atau kenyataan apa adanya. Kita tersesat, ketika kita mengira, bahwa kata, konsep, simbol dan bahasa adalah kenyataan itu sendiri. Sayangnya, inilah yang banyak terjadi, baik dalam konteks penelitian ilmu pengetahuan modern, filsafat Barat, maupun dalam kehidupan sehari-hari kita.    

Kata dan konsep juga adalah sebentuk abstraksi. Setiap konsep menyiratkan seolah suatu benda mampu berdiri sendiri, tanpa lingkungan dan konteks yang membentuknya. Misalnya kata ikan. Dengan konsep “ikan”, kita melihat seekor mahluk hidup tertentu. Kita lalu berpikir, bahwa ikan ini berada sebagai substansi yang otonom. Ia adalah sesuatu yang mandiri. Namun, cara berpikir ini adalah ilusi. Ikan adalah bagian dari suatu ekosistem yang bernama lautan, atau sungai. Ia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya tersebut. Jadi, konsep “ikan” adalah sesuatu yang salah kaprah. Ini adalah akibat dari abstraksi yang selalu sudah ada di balik segala bentuk kata dan konsep. Seluruh filsafat Barat dan ilmu pengetahuan modern berpijak pada abstraksi semacam ini. Jika kita tidak kritis, maka kita akan terjebak pada ilusi, bahwa apa yang kita pikirkan adalah sebuah kenyataan yang mandiri dari lingkungannya.

Namun, selama kita berpikir, kita akan selalu menggunakan abstraksi. Ini tidak bisa dihindari. Abstraksi juga berguna untuk berkomunikasi. Ia menyediakan cara yang sederhana untuk menyampaikan ide tertentu kepada orang lain. Pikiran menjelaskan kenyataan satu per satu melalui konsep. Misalnya, kita ingin menjelaskan laut Atlantik. Maka, kita tidak bisa menyatakan semuanya ke dalam satu kata, melainkan satu per satu, misalnya mulai dengan kedalaman, ekosistem, dan sebagainya. Abstraksi, dengan demikian, membuat ide menjadi runut, sehingga bisa disampaikan dengan jelas kepada orang lain. Namun, sekali lagi, kenyataan sejatinya tidak terjadi secara runtut satu per satu, seperti ketika kita menjelaskannya dengan konsep dan kata yang merupakan hasil bentuk abstraksi. Kenyataan terjadi serentak di saat ini, tanpa pembedaan apapun. Tidak ada satu pun kata ataupun segala bentuk abstraksi yang bisa sungguh menjelaskannya. Misalnya, laut sekaligus ada bersama dengan langit, udara, air, ikan, tumbuhan dan segala yang ada di sekitarnya maupun di dalamnya. Ia adalah sebuah peristiwa.

Pola berpikir kita juga digunakan oleh bahasa yang kita gunakan. Bahasa Indonesia, juga bahasa Inggris dan Jerman, menggunakan huruf-huruf alfabet yang bersifat linear. Ia menjelaskan kenyataan atau peristiwa tidak dalam keserentakannya, yang justru merupakan bentuk asli dari kenyataan tersebut, tetapi satu per satu dengan menggunakan huruf dan kata. Kehidupan tidak terjadi satu per satu, sebagaimana digambarkan dalam huruf dan kata. Hidup tidak terjadi secara linear. Segala yang ada terjadi secara seretak, tanpa pembedaan apapun. Angin bertiup. Jantung berdetak. Darah mengalir. Semua terjadi serentak pada saat ini. Bagaimana menjelaskan keserentakan segala sesuatu ini dengan abstraksi konsep dan bahasa? Jelas tidak bisa. Kita perlu menggunakan sesuatu yang lain untuk memahami kenyataan apa adanya yang sudah selalu terjadi secara serentak setiap saatnya.

Ada analogi yang bagus untuk menjelaskan perbedaan antara kenyataan sebagai keserentakan dan kenyataan yang dipilah-pilah dengan kata, sebagaimana di dalam bahasa dan konsep. Setiap orang memiliki dua macam indera penglihatan, yakni penglihatan pusat dan penglihatan pinggir. Penglihatan pusat digunakan untuk melihat secara fokus ke satu titik, misalnya untuk membaca sesuatu. Penglihatan pinggir digunakan untuk mencerap keadaan tertentu secara menyeluruh, dan tidak berfokus pada titik apapun, melainkan pada keseluruhan ruangan ataupun keadaan yang ada. Penglihatan pusat bersifat sepenuhnya sadar. Sementara, penglihatan pinggir lebih bersifat tidak sadar, yakni pencerapan kita atas keadaan. Penglihatan pusat hanya bisa melihat satu titik setiap kalinya. Sementara, penglihatan pinggir bisa mencerap banyak hal setiap kalinya. Kata dan konsep adalah penglihatan fokus. Sementara, pencerapan adalah penglihatan pinggir, yakni intuisi. Penglihatan pinggir tidak memisahkan apa yang penting dan tidak. Ia mencerap semuanya secara serentak.

Kita mengira, dunia ini rumit. Namun, kerumitan itu sebenarnya tidak terdapat di dunia, tetapi di dalam pikiran kita yang mencoba memahami dunia ini satu per satu dengan kata dan konsep. Dengan kata lain, kerumitan itu terletak di kepala kita, yakni di dalam pikiran kita. Ini seperti mencoba memahami keindahan gunung Semeru dengan menggunakan senter kecil, atau mencoba minum air dengan menggunakan garpu. Dalam arti ini, dapat dikatakan, bahwa bahasa Cina lebih menyerupai penglihatan pinggir. Sedangkan, bahasa Indonesia lebih menyerupai penglihatan pusat. Keduanya memiliki pola pikir yang berbeda. Huruf di dalam bahasa Cina lebih menyerupai gambar, daripada huruf alfabet di dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan tanda dari cara berpikir yang berbeda, yakni yang berusaha menangkap kenyataan di dalam keserentakannya, dan bukan sekedar mengabstraksinya menjadi sebentuk simbol tertentu. Dengan gambar, bahasa Cina hendak menunjukkan, dan bukan menjelaskan. Dan menunjukkan, dalam cara pikir Cina, bernilai seratus kali lebih tinggi daripada menjelaskan. Menjelaskan kenyataan dengan bahasa itu seperti mengajarkan orang cara mengikat sepatu dengan menggunakan kata-kata. Ini membuat seluruh proses menjadi jauh lebih rumit.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, ilmu pengetahuan modern dan filsafat Barat menekankan abstraksi dalam bentuk konsep dan bahasa untuk memahami kenyataan. Ini adalah cara berpikir linear. Ini seperti orang ingin belajar berenang dengan membaca instruksi tentang cara berenang. Ini juga seperti melihat pemandangan indah hanya dengan mengamati satu batu saja dengan penglihatan pusat. Kita dilatih di dalam filsafat Barat dan ilmu pengetahuan modern untuk melulu berpikir dengan penglihatan pusat. Akibatnya, kita tidak lagi mampu menggunakan penglihatan pinggir kita, atau intuisi kita. Kita belajar musik dengan menggunakan not yang harus ditepati seratus persen, dan, dengan begitu, kehilangan intuisi musik kita. Untuk bisa mendalami Zen, Taoisme dan pandangan filsafat Timur, kita perlu melepas keterpakuan kita pada pola pikir yang linear khas ilmu pengetahuan modern dan filsafat Barat. Kita perlu mulai menggunakan intuisi kita untuk memahami dunia, yakni melalui persentuhan langsung dengan keserentakan kenyataan yang ada itu sendiri.

Sebenarnya, banyak orang di Indonesia juga hidup dengan mengedepankan penglihatan pinggir, atau intuisinya. Para artis, atlit, dan orang-orang yang bekerja dengan berpijak pada kemampuan untuk menciptanya, mengembangkan intuisinya setiap saat untuk bekerja. Namun, di dalam dunia akademik, peran intuisi dipinggirkan. Padahal, untuk bisa sungguh mengalami kenyataan, dan bukan sekedar memahaminya secara konsep dengan menggunakan simbol dan bahasa, kita perlu menggunakan intuisi kita. Tanpa intuisi, kita justru tersesat di dalam kesalahpahaman dengan mengira simbol sebagai kenyataan. Ini seperti mengira menu makanan sebagai makanan itu sendiri.

Di dalam filsafat Timur yang berkembang di Cina kuno, ada dua aliran besar yang mempengaruhi pola pikir masyarakat Cina, yakni Konfusianisme dan Taoisme. Konfusianisme adalah sistem pemikiran yang mengatur kehidupan masyarakat melalui hukum, aturan, etika dan ritual, supaya bisa menyediakan stabilitas sosial. Fokus utama Konfusianisme adalah pengetahuan yang berpijak pada kesepakatan sosial. Pendidikan memiliki peran penting di dalam masyarakat, supaya orang memahami peran sosialnya di masyarakat, dan menjalankannya secara sempurna. Orang memahami dirinya melalui tempatnya di dalam masyarakat.

Sementara, Taoisme tidak menekankan kesesuaian kehidupan dengan masyarakat, melainkan dengan alam. Biasanya, Taoisme dipeluk oleh orang-orang yang telah “selesai” hidupnya di dalam masyarakat, misalnya orang-orang yang sudah pensiun. Mereka melepaskan diri dari segala bentuk kewajiban sosial, dan memasuki ranah pengetahuan langsung atas kehidupan. Mereka tidak lagi hidup dengan simbol, konsep dan bahasa yang ditentukan secara sosial, melainkan dengan persentuhan langsung dengan kenyataan itu sendiri.

Konfusianisme merumuskan seperangkat prinsip dan aturan yang harus dipatuhi demi keberlangsungan hidup masyarakat. Spontanitas kehidupan dikesampingkan dengan kesesuaian dengan aturan dan kesepakatan hidup sosial. Intuisi dan kreativitas dianggap sebagai musuh dari stabilitas hidup bersama. Taoisme bisa dilihat sebagai obat penawar dari Konfusianisme yang amat menekankan kepatuhan pada kewajiban sosial. Fokus Taoisme adalah mengembangkan spontanitas dan sikap alamiah yang sebenarnya sudah selalu ada di dalam diri manusia. Sikap alamiah tersebut terlupakan, karena kuatnya penekanan pada kepatuhan yang ditekankan oleh pendidikan dan masyarakat. Karena ditekan dan dilupakan, manusia lalu menjalani hidup yang tidak seimbang, yakni kepatuhan buta, tanpa spontanitas dan kreativitas sedikit pun. Yang kemudian tercipta adalah pelbagai pemberontakan yang kerap kali berujung pada kekerasan dan kegilaan.      

Namun, Taoisme tidaklah boleh dilihat sebagai sebentuk perlawanan keras terhadap segala bentuk kesepakatan dan kewajiban sosial. Ia lebih tepat dilihat sebagai jalan kebebasan dari segala bentuk kesepakatan dan kewajiban sosial. Di dalam revolusi, tata lama dihancurkan. Sementara di dalam Taoisme, tata lama dilihat bukan lagi sebagai kebenaran absolut, melainkan sebagai salah satu kemungkinan saja. Dengan kata lain, segala bentuk kelekatan pada kesepakatan dan kewajiban sosial dalam bentuk tata politik ataupun masyarakat tertentu dilepas. Orang lalu tidak lagi tertipu dengan pikiran, bahwa hanya ada satu bentuk jalan hidup yang harus ditempuh, yakni menyesuaikan diri dengan masyarakat. Ia lalu tidak lagi menjadi hamba sistem, melainkan menjadi tuan, yakni menggunakan segala sistem yang mungkin ada, demi kepentingan-kepentingan lainnya yang lebih tinggi.   

Di Eropa dan Timur Tengah, agama berisi setidaknya dua hal utama. Yang pertama adalah kepercayaan mutlak pada adanya entitas sebagai asal muasal dari segalanya, yakni Tuhan. Yang kedua adalah kepercayaan akan adanya seperangkat aturan moral dan hukum yang harus dipatuhi oleh manusia, karena aturan moral dan hukum tersebut berasal langsung dari entitas yang disebut sebagai Tuhan. Zen dan Taoisme tidak dapat dipahami di dalam masyarakat yang memiliki pemahaman tentang agama semacam ini. Di Eropa dan Timur Tengah, agama dianggap memiliki otoritas penuh atas hidup manusia. Bahkan, dalam banyak hal, otoritas ini amat berlebihan, karena hampir tidak memberi ruang untuk kebebasan dan spontanitas manusia. Ini jelas menimbulkan masalah sosial dan eksistensial di dalam hidup manusia. Begitu banyak revolusi dan perang dilakukan atas nama agama di Eropa dan Timur Tengah. Ateisme juga menjadi begitu ekstrem dan penuh dengan kekerasan. Ini semua terjadi, karena tekanan agama yang begitu mutlak, sehingga menimbulkan pemberontakan-pemberontakan, baik di tingkat sosial maupun pribadi. Ketika orang melanggar aturan moral ataupun hukum agama, orang dianggap bersalah tidak hanya terhadap masyarakat, tetapi juga terhadap Tuhan yang dianggap sebagai dasar dari seluruh kehidupan itu sendiri.

Rasa bersalah semacam ini sulit untuk ditanggulangi oleh banyak orang. Maka, pilihannya kerap kali hanya satu, yakni orang menolak seluruh agama dan keberadaan Tuhan secara keras. Revolusi terhadap agama dan terhadap Tuhan lalu menghasilkan alternatif yang tak kalah mengerikannya, yakni kerinduan untuk mendirikan kekuasaan mutlak yang berpijak pada dasar tanpa Tuhan, yakni kehadiran negara-negara otoriter yang berpijak pada militer dan kekerasan. Ini adalah semacam pelarian psikologis sekaligus sosial, ketika orang tidak lagi mampu hidup seturut dengan aturan moral dan hukum yang dibuat oleh agama. Namun, sejatinya, aturan moral dan hukum ini, baik dalam konteks agama ataupun negara otoriter, adalah hasil dari kesepakatan manusia. Ia tidak mutlak, dan bisa berubah. Ketika ia diperlakukan sebagai sesuatu yang mutlak, maka masalah dan penderitaan pun tercipta.

Dalam arti ini, bisa dikatakan, bahwa peradaban Eropa dan Timur Tengah jatuh ke dalam kelekatan pada konsep dan bahasa. Mereka mengira, keduanya adalah kebenaran dan kenyataan mutlak itu sendiri. Di dalam konsep dan bahasa, oposisi dan dikotomi selalu ada, yakni perbedaan antara baik-buruk, benar-salah, hitam-putih, indah-jelek, absolut-tidak absolut dan sebagainya. Semua oposisi semacam ini dianggap sebagai kenyataan itu sendiri, bahkan sebagai kebenaran mutlak. Namun, cara berpikir semacam ini tidak ada di dalam Taoisme. Segala bentuk oposisi adalah ilusi, karena sejatinya, mereka saling membutuhkan satu sama lain. Di ranah kenyataan yang sejati, yakn kenyataan sebagaimana adanya, tidak ada oposisi dan dikotomi. Keduanya adalah hasil dari pikiran dan kesepakatan sosial antar manusia.

Ilmu pengetahuan alam, seperti biologi dan anatomi misalnya, mencoba mengabstraksikan kenyataan alamiah, yakni alam dan tubuh manusia, ke dalam konsep dan simbol. Keduanya mengukur dan membuat klasifikasi berdasarkan konsep dan simbol tersebut, sesuai dengan kepentingan penelitian ataupun penerapannya. Misalnya, ilmu anatomi membuat klasifikasi struktur tubuh manusia untuk kepentingan pengobatan. Ilmu geologi membuat klasifikasi jenis-jenis tanah untuk kepentingan penggalian batu bara. Namun, klasifikasi ini masih di level abstraksi. Ia adalah konsep dan simbol. Ia bukanlah kenyataan itu sendiri. Sejatinya, setiap bagian tubuh saling terhubung satu sama lain. Menamainya berarti berpikir seolah bagian tertentu mampu berdiri sendiri, terpisah dari yang lainnya. Pola yang sama juga muncul, ketika kita mencoba membuat klasifikasi atas tanah. Ketika kita mengira, bahwa konsep dan klasifikasi yang dibuat oleh ilmu pengetahuan adalah kenyataan yang sebenarnya, maka kita justru tidak dapat memahami kenyataan itu sendiri. Kita terjebak pada konsep dan klasifikasi, serta lupa pada realitas dan kehidupan itu sendiri.

Taoisme dan Zen bergerak sebelum konsep dan bahasa yang dibentuk oleh pikiran kita. Keduanya bukanlah pengetahuan konvensional, yakni pengetahuan berdasarkan kesepakatan sosial. Keduanya bergerak sebelum abstraksi, yakni sebelum pikiran memberi label pada kenyataan dalam bentuk konsep ataupun abstraksi. Sebenarnya, ini adalah sesuatu yang sangat mudah. Kita tidak perlu berpikir rumit dan keras untuk memahami dan menjalankannya. Setiap saat, kita bernafas, tanpa menggunakan konsep apapun. Organ-organ tubuh kita bekerja, tanpa menggunakan kesadaran apapun. Kita menggerakan tangan, mata kita berkedip, semuanya dilakukan tanpa menggunakan abstraksi apapun. Kita bisa melakukannya, karena kita “sekedar melakukannya”. Taoisme dan Zen adalah adalah pengetahuan semacam ini, yakni pengetahuan langsung yang tidak membutuhkan media apapun, seperti konsep ataupun kesepakatan sosial. Keduanya melepaskan diri dari abstraksi dan dari konsep “diri” yang dibentuk oleh pengalaman pribadi dan nilai-nilai sosial.

Lao-Tzu dianggap sebagai pendiri Taoisme. Ia hidup sekitar tahun 480 sebelum Masehi. Menurut legenda, ia menulis buku dengan judul Tao Te Ching. Isinya adalah kumpulan pernyataan-pernyataan pendek yang menjadi ciri dasar dari Taoisme. Namun, para filsuf Taois di Cina menyatakan, bahwa Taoisme sebenarnya lebih tua dari Lao-Tzu sendiri. Ia hanya menuliskan gagasan-gagasan yang sudah lama ada sebelumnya tersebar di masyarakat Cina kuno, yakni dari sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Gagasan-gagasan kuno Taoisme juga dapat dilihat jejaknya pada buku yang lebih tua yang berjudul Buku Perubahan, atau I Ching.

Salah satu aspek penting dari buku ini adalah perihal upaya manusia untuk membuat keputusan. Biasanya, kita menggunakan akal budi untuk membuat keputusan. Kita mengumpulkan sebanyak mungkin data yang terkait dengan keputusan kita, mempertimbangkannya dan kemudian membuat keputusan. Akan tetapi, jika dipikirkan lebih dalam, keadaan nyatanya tidak sesederhana itu. Begitu banyak informasi terkait keputusan yang akan kita buat, yang tidak bisa dinilai begitu saja arti pentingnya. Begitu banyak faktor yang saling bersilangan dan mesti dipertimbangkan. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan, jika kita sungguh mengikuti langkah-langkah semacam ini?

Yang sesungguhnya terjadi adalah kita mengumpulkan informasi seadanya, dan kemudian membuat keputusan. Ini terjadi dalam tempo waktu yang cepat, terutama ketika kita harus membuat keputusan yang mendesak. Kita menggunakan firasat kita, atau intuisi kita, di tengah lautan data yang ada. Inilah yang di dalam Taoisme dan Zen disebut sebagai penglihatan pinggir. Sebagian besar keputusan kita dalam hidup dibuat di ranah intuisi semacam ini, entah kita sadari, atau tidak. Jika intuisi kita sudah terlatih, maka keputusan kita akan lebih banyak sesuai dengan keadaan yang ada. Artinya, keputusan kita pun akan semakin baik untuk menyingkapi keadaan yang ada.

Buku Perubahan, atau I Ching, bukanlah sebuah buku mistik ataupun buku ilmu pengetahuan. Ia adalah metode yang berguna untuk mengembangkan intuisi seseorang, yakni persentuhan langsung dengan kenyataan. Orang yang tajam mengembangkan intuisinya berarti orang yang hidup sejalan dengan Tao, yakni dengan seluruh alam semesta itu sendiri. Segala bentuk ritual dan aturan di dalam buku I Ching haruslah dilihat sebagai proses untuk membantu orang melepaskan segala bentuk pikiran, sehingga intuisinya lalu bisa bangkit, dan kemudian siap digunakan untuk membantunya. Pengandaian-pengandaian dasar di dalam buku I Ching tentang intuisi dapatlah dilihat sebagai dasar dari Taoisme di Cina. Intuisi adalah penglihatan pinggir yang secara alami sudah dimiliki setiap orang. Ia adalah kemampuan untuk mencerap kenyataan di dalam keseluruhannya disini dan saat ini. Ini juga bisa disebut sebagai kemampuan untuk mencerap Tao bukan dengan pikiran dan abstraksi, tetapi dengan intuisi.    

Tao adalah prinsip dasar dari Taoisme. Tidak ada kata ataupun konsep yang bisa menjelaskan sepenuhnya makna dari Tao. Namun, secara sederhana, Tao bisa dimengerti sebagai unsur kehidupan yang membentuk seluruh alam semesta, dan segala isinya. Di dalam bahasa Cina, kata Tao setidaknya memiliki dua arti, yakni Tao sebagai jalan, dan Tao sebagai berbicara. Kalimat pertama di dalam Tao Te Ching adalah sebagai berikut: Jalan (Tao) yang bisa dibicarakan (Tao) bukanlah jalan (Tao) sesungguhnya. Lao Tzu kemudian menegaskan, bahwa Tao sudah ada sebelum alam semesta ada. Ia tidak memiliki bentuk ataupun isi apapun. Ia kosong, abadi, dan ada di segala tempat. Ia bisa dilihat sebagai ibu dari segala sesuatu. Sejatinya, Ia tidak punya nama. Namun, ia juga bisa disebut sebagai Tao.

Karena tidak memiliki perbedaan dengan segala sesuatu, Tao tidak bisa secara positif didefinisikan. Ia berada sebelum segala konsep dan kata yang dirumuskan oleh pikiran manusia. Ia tidak spiritual dan tidak material. Ia tidak memiliki bentuk ataupun tanpa bentuk. Ia berada sebelum kategori-kategori tersebut. Ia tidak bisa dipahami oleh akal budi manusia, karena ia (Tao) adalah unsur dasar pembentuk akal budi tersebut. Ia juga tidak bisa dipahami dengan kesunyian atau diam semata. Lalu, bisakah Tao dimengerti sebagai Tuhan, sebagaimana dipahami di dalam agama-agama Timur Tengah?

Ada perbedaan yang amat mendasar penting antara konsep Tuhan di dalam agama-agama Timur Tengah dan konsep Tao. Di dalam agama-agama Timur Tengah, Tuhan secara aktif menciptakan dunia dan segala isinya. Sementara, Tao menciptakan dunia justru dengan bersikap pasif, yakni dengan non-tindakan. Pola penciptaan yang dilakukan oleh Tao tidak dapat secara persis disebut sebagai penciptaan, tetapi lebih tepat disebut sebagai “menumbuhkan”. Seperti merangkai mesin, konsep Tuhan dianggap menciptakan dunia dengan merangkainya dari berbagai unsur. Namun, Tao adalah energi yang menumbuhkan segala sesuatu di alam semesta ini dari dirinya sendiri, seperti pohon menumbuhkan daun, ketika musim semi tiba. Di dalam pandangan hidup Timur, terutama Filsafat Cina, dunia tidak dibentuk atau diciptakan, melainkan ditumbuhkan dari energi universal yang bisa disebut juga sebagai Tao. Pertanyaan tentang “bagaimana” dunia diciptakan, yang kerap kali muncul di dalam agama-agama Timur Tengah, juga tidak relevan di dalam ranah pandangan hidup Timur. Di dalam Taoisme, segala hal tumbuh dari Tao secara alami dan spontan.

Walaupun tumbuh secara spontan dan alami, ini tidak berarti, bahwa tidak ada pola di dalam pertumbuhan segala sesuatu. Pola tersebut berada sebelum segala bentuk pikiran dan konsep. Dengan kata lain, pikiran dan konsep manusia tidak dapat memahami atau menjelaskan pola pertumbuhan dari segala sesuatu tersebut secara persis. Tidak ada rencana dalam pertumbuhan, seperti sebagaimana kita memahami kata “rencana” di dalam, misalnya proses pembuatan mesin pabrik. Analogi yang mendekati mungkin adalah bagaimana kita menciptakan organ-organ di dalam tubuh kita, tanpa sadar. Jadi, Tao menumbuhkan segala sesuatu sama seperti kita menumbukan sel-sel yang rusak di dalam diri kita. Semua terjadi secara alami, terpola, namun tanpa rencana yang jelas. Ini juga terjadi pada segala sesuatu di sekitar kita. Begitu banyak hal tumbuh begitu saja, tanpa kita bisa sungguh mengerti mekanisme dan rencana dibaliknya.

Di dalam agama-agama Timur Tengah, Tuhan dilihat sebagai pencipta, dan alam semesta, termasuk manusia, dilihat sebagai ciptaan. Di titik ini, ada hubungan antara pengontrol dan yang dikontrol, yakni antara hubungan antara pencipta dan ciptaan. Ini juga seperti hubungan antara tuan dan bawahannya. Hubungan semacam ini tidak dikenal di dalam Taoisme. Tao berada sebelum segala bentuk ciptaan, dan kemudian menyebar ke dalamnya. Semuanya bergantung pada Tao. Namun, Tao tidaklah menyatakan, bahwa ia adalah pencipta segalanya. Ia menumbuhkan dan merawat segalanya, tanpa menjadi tuan atasnya.

Di dalam agama-agama Timur Tengah, konsep Tuhan juga dilihat sebagai entitas yang mahakuasa. Pendek kata, ia dilihat sebagai versi ideal dari manusia yang mampu menciptakan dan mengatur segalanya. Pemikiran semacam ini juga tidak dikenal di dalam tradisi Taoisme. Tao tidak pernah bisa dijelaskan dengan kata dan dipahami dengan akal budi. Ia berada sebelum kata dan sebelum akal budi. Ketika orang berusaha memahaminya dengan bahasa dan pikiran, maka ia terjebak, seperti ketika berusaha memahami apa yang terjadi, sebelum ia lahir. Ada semacam kekosongan yang menjadi latar belakang bagi jawabannya.

Orang-orang yang terbiasa di dalam pola pikir agama-agama Timur Tengah akan menganggap ini sebagai omong kosong. Mereka terbiasa dengan definisi yang jelas tentang Tuhan, yang sesungguhnya tidak pernah bisa dijelaskan dengan bahasa dan pikiran manusia. Untuk bisa sungguh memahami Tao, orang perlu kembali ke jati diri sejatinya. Ia perlu melepaskan segala bentuk pikiran dan konsep yang bercokol di kepalanya, dan menjadi sepenuhnya tidak tahu.

Selama pikiran masih mencoba memenjarakan kehidupan dan kenyataan ke dalam konsep dan bahasa, Tao akan tetap menjadi misteri. Selama orang masih mencoba memasukan kenyataan dan kehidupan ke dalam kategori-kategori akal budi, yang sebenarnya adalah ilusi, maka ia tidak akan pernah bisa mengalami Tao. Tao hanya bisa dialami, ketika orang sepenuhnya tenang dan lepas dari segala bentuk kategori dan konsep yang ia pegang erat dalam hidupnya. Pendek kata, Tao bisa dialami oleh orang yang sepenuhnya “bodoh”. Ini mirip dengan argumen Sokrates di dalam filsafat Yunani kuno, bahwa orang yang paling bijak adalah orang yang sadar, bahwa ia tidak tahu.

I Ching dan Tao Te Ching menekankan pola hidup yang sepenuhnya alami, yakni hidup dari titik sebelum segala bentuk konsep dan bahasa. Di dalam segala bentuk keputusan, orang diajak untuk melepaskan pikirannya, dan memasuki ranah sebelum pikiran, yakni intuisinya. Ia tidak aktif mengubah dunia seturut keinginannya, tetapi membiarkan semua mengalir apa adanya dari Tao. Di dalam Taoisme, ini disebut juga sebagai Wu Wei, yakni tanpa tindakan. Ini juga berarti hidup dengan menggunakan penglihatan pinggir. Kita tidak melihat obyek secara langsung, melainkan mencerapnya dengan menggunakan ujung mata kita, sehingga bisa mencerap keadaan sekitarnya secara menyeluruh pada waktu bersamaan.

Ini hanya dapat dilakukan, ketika kita tidak lagi berpikir tentang melihat, tetapi membiarkan mata melihat secara alami. Ketika kita membiarkan mata melihat secara alami, maka ia justru akan bisa melihat dengan lebih, tanpa terganggu oleh pikiran apapun. Hal yang sama juga berlaku untuk indera-indera manusia lainnya. Semua bisa bekerja secara alami dan maksimal, ketika ia tidak lagi terganggu oleh segala bentuk pertimbangan konseptual yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran tak teratur. Hidup manusia juga akan lebih alami dan optimal, jika dibiarkan mengalir sejalan dengan alam, tanpa diganggu oleh beragam bentuk pertimbangan konseptual yang dihasilkan oleh pikiran.

Ketika pikiran kita bekerja berlebihan, kita kehilangan spontanitas, sikap alamiah dan intuisi kita. Kita pun kehilangan ketenangan batin kita. Kita terjebak pada segala bentuk dan konsep yang diciptakan oleh pikiran kita. Kita pun tercabut dari kenyataan pada dirinya sendiri, dan masuk ke dalam ilusi. Namun, ketika kita melepas pikiran kita, kita memiliki hubungan langsung dengan intuisi dan sikap alami kita. Kita menjadi “bodoh”, dalam arti kita menjadi terbuka pada dunia apa adanya, dan tidak lagi terjebak pada pemahaman-pemahaman buatan kita sendiri. Ini bukan semata keadaan tenang, melainkan keadaan sepenuhnya terbuka dan sepenuhnya membiarkan kenyataan apa adanya. Di dalam Taoisme, ideal yang ingin dicapai adalah keberadaan diri seperti cermin. Ia tidak menolak apapun. Ia tidak merebut apapun. Ia menerima, tetapi tidak menyimpan. Ketika semua bentuk kecerdikan dan kecerdasan dilepas, orang lalu terbebas dari kecemasan. Sejatinya, manusia adalah mahluk yang berbahagia. Ia menjadi tidak bahagia, ketika berbagai pertimbangan konseptual dari pikirannya muncul secara berlebihan.

Ketika orang hidup di jalan Tao, juga di jalan Zen, segala tindakannya sungguh terlepas dari rasa takut dan rasa cemas. Segala pertimbangan baik dan buruk yang dibuat oleh orang lain atas dirinya juga tidak menjadi masalah. Ia menemukan kebahagiaan tidak dari luar dirinya, tetapi dari dalam dirinya sendiri. Ia makan dan minum secukupnya. Ia bekerja juga secukupnya untuk menopang dirinya dan membantu orang lain. Ia tidak berambisi untuk menjadi suci. Ia tidak berambisi untuk menjadi bijaksana. Ia tidak berambisi untuk menjadi manusiawi. Ia bahkan tidak ingin menjadi orang baik. Dunia boleh berubah terus di sekitarnya. Namun, ia tetap tak tergerak oleh perubahan tersebut. Ia hidup dalam ketenangan yang ia temukan dari dalam dirinya sendiri.

Taoisme dan Zen tidak mau membuat kita menjadi orang bodoh yang tidak punya kemampuan berpikir kritis dan analitis. Sebaliknya, Taoisme dan Zen mengajak kita menggali potensi diri kita yang terdalam, yang melampaui segala bentuk pikiran konseptual. Potensi ini adalah intuisi yang mendorong orang bertindak alami. Dengan kata lain, orang lalu jadi bisa menggunakan pikirannya secara leluasa, tanpa melekat atau justru diperbudak oleh pikirannya. Ketika orang hidup dari jati diri sejatinya, yakni dari intuisinya yang terletak sebelum pikiran, ia justru bisa berpikir dengan alami dan leluasa tentang segala hal. Ia tidak lagi diperbudak dan melekat pada pikirannya. Di balik pandangan ini, ada kepercayaan besar pada hakekat manusia. Manusia adalah mahluk yang pada hakekatnya berada harmonis dengan alam. Ia berbahagia secara alami, karena ia hidup senada dengan alam di dalam keadaan alamiahnya.

Di dalam peradaban Barat dan agama-agama Timur Tengah, keadaan alamiah manusia dilihat sebagai keadaan yang jahat. Manusia adalah mahluk yang secara alamiah jahat. Maka, ia harus diatur dan dikontrol dengan agama, moralitas dan teknologi. Pendek kata, manusia harus dibuat beradab dan dijinakkan dengan berbagai cara. Kunci dari cara mengatur keadaan alamiah manusia ini adalah akal budi. Akal budi merumuskan agama, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengatur hidup manusia. Inilah sebabnya mengapa peradaban Barat dan Timur Tengah terus hidup tidak hanya dalam konflik satu sama lain, tetapi juga terus dalam tegangan dengan dirinya sendiri. Ketika diri pribadi terpecah, maka hubungan dengan orang lain pun juga rusak. Segala sesuatu yang lahir dari pemahaman yang salah semacam ini justru akan semakin memperbanyak masalah manusia. Segala bentuk krisis di dunia sekarang ini dapat ditarik kembali pada kesalahpahaman akan hakekat manusia yang sesungguhnya, yang tertanam begitu dalam di peradaban Barat dan agama-agama Timur Tengah.

Di dalam tradisi Tao dan Zen, keadaan alamiah manusia sejatinya tidak mempunyai nama. Ia tidak baik dan tidak buruk. Ia tidak memiliki bentuk dan isi. Ia hanyalah ada, dan ia adalah sama dengan substansi seluruh alam semesta, termasuk matahari, bintang, bulan, planet dan gunung. Ilmu pengetahuan modern, filsafat Barat dan agama-agama Timur Tengah mengabaikan hal ini. Mereka merumuskan begitu saja, bahwa keadaan alamiah manusia adalah sesuatu yang perlu dijinakkan dan diatur. Perbedaan mendasar ini memisahkan Taoisme-Zen dan seluruh pendekatan peradaban Barat dan Timur Tengah. Di dalam Taoisme dan Zen, akal budi hanyalah salah satu bagian dari manusia. Segala yang dianggap penting di dalam hidup manusia muncul dari akal budi ini, dan manusia lalu melekat padanya. Kelekatan menciptakan kecanduan dan penderitaan. Jika kelekatan pada pikiran dan akal budi ini dilepas, maka  orang bisa kembali ke keadaan alamiahnya sebelum pikiran.

Ketika segala pikiran terlepas, orang menjadi sepenuhnya alami. Hidupnya bagaikan berjalan di atas air atau angin, karena semua terasa begitu ringan. Analogi ini banyak ditemukan di antara para penulis Taois dan Zen. Pikiran tidak lagi sibuk soal baik dan buruk. Hidup tidak lagi soal mencari untung dan menghindari kerugian ekonomis semata. Semua sebagaimana adanya. Namun, segala sesuatu di alam ini berubah, termasuk keadaan batin semacam ini. Pada satu titik, orang akan melepaskan egonya, dan hidup menjadi sepenuhnya seperti cermin, yakni memantulkan segalanya apa adanya. Baik dan buruk serta untung dan rugi digunakan, sejauh itu bisa membantu orang lain. Pikiran bisa menggunakan segalanya yang ada secara bebas untuk membantu semua yang membutuhkan. Tidak ada lagi perbedaan antara aku dan orang lain, serta antara aku dan alam semesta. Yang ada hanyalah kesatuan dari segala sesuatu. Di dalam Zen, ini disebut sebagai Satori, yakni pencerahan batin, ketika orang menyadari jadi diri sejatinya.

Keadaan ini mirip orang yang sedang mabuk, namun tanpa efek samping yang mengikutinya, seperti agresivitas dan mual. Orang yang sedang mabuk tidak lagi melihat perbedaan antara dirinya dengan orang lain, serta antara dirinya dengan seluruh dunia. Ia melihat dunia dengan kaca mata berbeda. Ia mengalami segalanya dengan cara yang berbeda. Ia selalu dalam keadaan tenang dan stabil, apapun yang terjadi. Segala bentuk ketakutan dan kecemasan yang biasanya dialami manusia tidak lagi dikenalnya. Dalam keadaan batin seperti itu, ia menjalani semuanya secara alami dan spontan. Semua keadaan ini bisa dicapai, jika pikiran dilepas. Ketika pikiran dilepas, maka pikiran justru bisa berfungsi secara bebas dan alami, tanpa tegangan sedikitpun. Orang pada umumnya memaksa pikirannya untuk menyelesaikan masalah-masalah tertentu. Orang yang menekuni jalan Tao membiarkan pikirannya bergerak secara alami, guna menyelesaikan masalah-masalah yang ia hadapi.

Salah konsep kunci di dalam Taoisme adalah “tanpa pikiran”. Ini berarti melepaskan segala usaha dan tegangan untuk berpikir, serta membiarkan pikiran bekerja dengan sendirinya secara alami. Ini seperti melihat sesuatu, tanpa menganalisis atau memberikan penilaian. Seorang anak kecil melihat sesuatu tanpa berkedip. Ia tidak berfokus pada satu titik, melainkan berusaha untuk mencerap secara keseluruhan apa yang ada. Ia berjalan, tanpa tahu arah kemana. Ia bertindak, tanpa tahu, apa yang sesungguhnya ia lakukan. Ia menyatu sepenuhnya dengan lingkungannya, dan bergerak bersamanya. Inilah inti dari prinsip tanpa pikiran di dalam Taoisme. Ketika semuanya dilakukan “tanpa pikiran”, maka semuanya akan berjalan secara harmonis dengan alam dan lingkungan sekitar. Kita akan melihat dunia secara jernih, sama seperti seorang anak bayi pertama kali melihat dunia. Pikiran yang melepas akan membuat seluruh indera bekerja secara alami dan optimal. Tidak ada halangan di dalam mendengar, melihat, merasa, mencecap dan sebagainya.

Ketika seluruh indera manusia berfungsi secara optimal, yakni tidak terhalang oleh beragam bentuk pikiran, maka orang telah mencapai tingkat hsin. Hsin memiliki arti penting di dalam tradisi Tao. Bahkan, beberapa ahli berpendapat, bahwa Hsin adalah inti dari Taoisme. Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai pikiran, atau perasaan. Namun, kedua kata ini tidak dapat menangkap maksud sesungguhnya dari Hsin. Ketika para pemikir Cina kuno diminta menjelaskan soal Hsin, mereka menunjuk ke bagian dari dadanya, tepat di bawah jantung. Di dalam bahasa Indonesia, kata pikiran tidak dapat menjelaskan Hsin, karena kata ini masih terlalu intelektual. Hsin juga tidak dapat diterjemahkan sebagai perasaan, karena kata ini terlalu emosional. Hsin bukanlah sesuatu yang intelektual, atau emosional.

Lebih dari itu, para pemikir Cina kuno menggunakan Hsin untuk beragam tujuan. Beberapa kali, kata ini digunakan untuk memberikan kesan penolakan pada kata di depannya, seperti Wu Hsin, yang bisa diterjemahkan sebagai tanpa pikiran. Di kesempatan lainnya, kata ini digunakan untuk menggantikan kata Tao. Di dalam tradisi Zen, kata ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan “pikiran Buddha” (fu hsin), “pikiran asali” (pen hsin) atau “kepercayaan pada pikiran” (hsin hsin). Dasar dari semua perbedaan maksud ini adalah satu prinsip, bahwa pikiran yang sejati adalah tanpa pikiran sama sekali. Jadi, pikiran manusia justru bisa berfungsi secara optimal dan alami, ketika ia bekerja, seolah-olah ia tidak ada. Dengan kata lain, pikiran bisa bekerja secara alami, jika ia tidak dipikirkan.

Hsin, dengan demikian, bisa dipahami sebagai keseluruhan fungsi diri manusia. Hsin yang memungkinkan seluruh aktivitas tubuh dan pikiran manusia menjadi ada. Namun, Hsin bukanlah ego yang dianggap oleh filsafat Barat dan ilmu pengetahuan modern sebagai pusat dari kehidupan manusia. Ia bukanlah pikiran intelektual. Hsin berada sebelum pikiran intelektual. Ketika orang telah belajar membiarkan pikirannya bebas secara alami, maka ia memiliki apa yang disebut di dalam tradisi Taoisme sebagai Te. Ini adalah keutamaan alamiah dari kehidupan, dan bukan keutamaan moral, seperti di dalam agama-agama Timur Tengah. Te adalah keutamaan yang mendorong tanaman untuk bertumbuh, ketika musim semi tiba. Te adalah keutamaan yang tubuh manusia menyembuhkan dirinya sendiri, ketika ia sakit. Ia adalah keutamaan alami kehidupan yang tidak dapat diperoleh dengan usaha maupun kehendak manusia. Ia tidak memiliki tindakan, dan tidak memiliki tujuan. Ia hanya sekedar ada, dan bertumbuh secara alami. Keutamaan yang tidak menyadari dirinya sebagai keutamaan adalah keutamaan yang sejati.

Di dalam Konfusianisme, seperti juga di dalam agama-agama Timur Tengah, keutamaan selalu dimengerti dalam konteks sosial. Artinya, apa yang baik dan buruk ditentukan oleh seperangkat ukuran tertentu yang dibuat secara sosial. Ukuran ini terus berubah, tergantung pada keadaan masyarakat. Bagi para pemikir Taoisme, keutamaan semacam ini tidaklah asli. Ia hanya merupakan kesepakatan rapuh yang akan segera berubah, ketika keadaan berubah. Misalnya, di dalam Konfusianisme, setiap orang memiliki kewajiban untuk merawat orang lain. Tindak merawat ini berpijak pada cinta universal, kemampuan untuk menemukan kebaikan di balik segala sesuatu, dan melepaskan segala bentuk konsep tentang diri serta kepentingan-kepentingannya. Namun, pandangan semacam ini tidaklah memadai dari sudut pandang Taoisme, dan juga Zen.   

Dari sudut pandang Taoisme, cinta yang universal adalah sebuah konsep yang mengalami kontradiksi pada dirinya sendiri. Apa yang berasal dari cinta tidaklah mungkin universal, karena cinta mengenali setiap orang di dalam partikularitasnya. Apa yang universal tidaklah mungkin menjadi cinta, karena yang universal memukul rata segalanya ke dalam satu ukuran. Inilah kelemahan dari segala bentuk keutamaan yang berpijak pada konsep dan kesepakatan sosial, yakni ia selalu jatuh ke dalam kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Konfusianisme juga menekankan pentingnya melepaskan segala bentuk konsep dan kepentingan diri. Namun, bukankah melepaskan konsep dan kepentingan diri berarti juga menciptakan konsep diri baru, yakni konsep diri yang tanpa kepentingan? Oleh karena itu, dari sudut pandang Taoisme, segala bentuk keutamaan yang berpijak pada kesepakatan sosial ini haruslah dilepas.

Keutamaan yang sejati berpijak pada alam semesta. Orang yang berkeutamaan belajar dari alam, yakni dari matahari, bulan, bintang, gunung dan burung-burung di udara. Ia melihat segalanya bertumbuh dan berubah secara alami, tanpa tujuan, kehendak dan ambisi sedikitpun. Apa tujuan matahari bersinar? Mengapa pohon bertumbuh, ketika musim semi tiba, dan berguguran, ketika musim gugur tiba? Apakah matahari hanya menyinari orang-orang yang dianggap baik dan bermoral saja? Apakah udara memisahkan antara orang berdosa dan orang suci? Inilah sumber dari keutamaan yang sejati. Dengan menjadi alamiah seperti ini, maka orang berjalan di jalan Tao. Keutamaan yang berpijak pada kesepakatan sosial, seperti yang dirumuskan oleh Konfusianisme dan agama-agama tradisional, seringkali hanya membuat orang bingung dan merasa bersalah, ketika tidak bisa melakukannya. Ini semua menciptakan tegangan dan penderitaan yang besar untuk peradaban manusia.   

Kritik para pemikir Taois terhadap segala bentuk kesepakatan sosial juga muncul di bidang seni. Seniman yang telah menghayati Te, yakni keutamaan alamiah yang muncul dari kesesuaian dengan Tao, tidak membutuhkan teknik apapun. Seniman ini meliputi pelukis, pemusik, penulis puisi dan sebagainya. Dari sudut pandang Taoisme, mereka tidak membutuhkan pembenaran apapun dari dunia sosial atas karya seni mereka. Tidak ada batas warna di dalam melukis, karena batas adalah ketentuan sosial yang bersifat semu. Tidak ada batas di dalam perumusan kata dan nada musik, karena batas semacam ini hanya merupakan kesepakatan sosial yang bersifat sementara. Para seniman Taois ini tidak sibuk untuk menyesuaikan diri dengan selera dan kesepakatan sosial. Mereka berkarya dari pengalaman nyata mereka bersentuhan dengan kenyataan dalam segala bentuknya.

Jenius yang sesungguhnya tidak lahir dari pikiran sadar dan kesesuaian dengan aturan maupun kesepakatan sosial, melainkan dari sikap alami di dalam menjalani hidup dan berkarya. Keutamaan yang sejati tidak lahir dari kesadaran untuk menjadi pribadi yang bermoral, melainkan dari sikap alami di dalam menyingkapi segala bentuk hubungan dengan orang lain, dan dengan alam. Ada kekuatan besar di dalam intuisi manusia yang menjaganya untuk selalu hidup secara alami dari saat ke saat. Analogi kaki seribu yang sedang berjalan pas untuk menjelaskan maksud ini. Kaki seribu bisa menggunakan ratusan kakinya untuk berjalan tanpa halangan. Ini bisa terjadi, karena sikap alami yang ia pegang terus di dalam setiap saat hidupnya. Suatu hari, seekor kodok bertanya kepadanya, kaki mana yang akan melangkah saat ini. Pada detik itu pula, sang kaki seribu tersandung, dan tidak lagi mampu berjalan. Ia kehilangan sikap alaminya, dan menjadi sadar atas jumlah kakinya. Kesadarannya membuat ia tidak lagi menjadi alami. Kesadarannya adalah halangannya.

Sikap alami setiap saat ini juga dapat disebut sebagai Te, yakni kesesuaian dengan Tao, yang berarti kesesuaian dengan alam semesta itu sendiri. Ini adalah sumber dari segala kehidupan dan kreativitas. Pandangan hidup Timur amat menghargai keutamaan semacam ini. Segala bentuk karya didasarkan pada ini. Segala bentuk teknik dan prinsip karya seni dianggap nomor dua, jika dibandingkan dengan keutamaan Te ini. Begitu pula segala aturan moral dan agama dianggap nomor dua, jika dibandingkan dengan Te. Segala bentuk kepura-puraan harus ditinggalkan. Ini bukan berarti orang hidup seenaknya, tanpa rencana sedikit pun. Te adalah sesuatu yang lebih dalam dari itu. Te adalah soal sikap batin manusia setiap saat dalam hidupnya yang hidupnya bagaikan “kecelakaan yang indah” yang tidak disadari. Ketika Buddhisme dari India berjumpa dengan pandangan semacam ini, Zen pun lahir.

Taoisme adalah jalan pembebasan dari segala bentuk aturan dan kesepakatan sosial. Taoisme sekaligus juga adalah jalan pembebasan menuju Te, yakni keutamaan hidup alamiah sesuai dengan Tao. Namun, segala upaya pikiran dengan menggunakan konsep dan bahasa untuk menjelaskan makna Tao akan mengalami kegagalan. Para filsuf dan ilmuwan yang lahir dan berkembang di dalam tradisi filsafat maupun ilmu pengetahuan Barat akan mengalami kesulitan untuk memahami jenis filsafat semacam ini. Mereka terjebak pada konseptualisasi dan abstraksi. Akhirnya, mereka pun mengalami kebuntuan, dan hanya mengulangi argumen-argumen lama yang sudah ada sebelumnya. Inilah salah satu sebab utama kebuntuan filsafat dan ilmu pengetahuan Barat. Agama-agama tradisional juga mengalami kebuntuan sekarang ini, karena ia masih terjebak pada kesepakatan sosial, dan melihat kesepakatan itu kerap kali sebagai sesuatu yang absolut di dalam mengatur hidup manusia. Taoisme dapat dimengerti sebagai jalan pembebasan dari kebuntuan filsafat, ilmu pengetahuan modern dan agama-agama tradisional. Taoisme, dan nantinya juga Zen, mengajak manusia kembali hidup seturut dengan Te, yakni keutamaan asali dan alaminya sebagai mahluk semesta.

Tulisan ini direfleksikan dari pemikiran Alan Watts di dalam The Way of Zen dan dari permenungan pribadi penulis di dalam menekuni jalan Zen. 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

13 tanggapan untuk “Taoisme dan Zen: Dasar Filsafat Timur”

  1. Saya ada pertanyaan pak:
    1. Apakah mungkin bagi seorang Katolik berfalsafah hidup Zen?
    2. Indonesia mempunyai banyak filsuf yang terkemuka dan pemikiran orisinil mereka tak kalah dengan Zen dan aliran filsafat Barat tapi mengapa bangsa ini tidak maju?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s