Menuju Keadilan dan Kebahagiaan​

wikimedia.org
wikimedia.org

Filsafat Politik Plato di dalam buku Politeia

Oleh Reza A.A Wattimena

Sedang Penelitian Filsafat Politik di München, Jerman

All we need is love, kata The Beatles, band Inggris di dekade 1960-an. Suara John Lennon yang khas dengan indah melantunkan lagu tersebut. Petikan bas dari Paul McCartney dan ketukan drum dari Ringo Star yang unik menjadi dasar dari lagu tersebut. Namun, apakah isi lirik tersebut benar, bahwa all we need is love: yang kita butuhkan hanya cinta?

Jika cinta disamakan dengan emosi sesaat atau dorongan seks belaka, maka jawabannya pasti “tidak”. Namun, saya merasa, kata “cinta” mesti diberikan makna baru yang lebih mendalam disini. Belajar dari Plato, terutama dalam bukunya yang berjudul Politeia, cinta haruslah ditafsirkan sebagai keadilan dan kebenaran. Perpaduan dua hal itu lalu akan menghasilkan kebahagiaan.

Adalah penting bagi kita di Indonesia untuk memikirkan hal ini secara mendalam, terutama menyambut pemilu 2014 yang akan menghasilkan tata politik baru di Indonesia. Pemahaman tentang keadilan, kebenaran dan kebahagiaan adalah kunci dari politik yang bersih, yang bisa memberikan kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Ia juga adalah kunci untuk mencapai hidup yang bahagia dan bermutu. Tentang hal ini, kita bisa belajar banyak dari buku Politeia. Lanjutkan membaca Menuju Keadilan dan Kebahagiaan​

Apakah Kita Abadi?

wikimedia.org
wikimedia.org

Plato di dalam buku Phaidon

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala, Surabaya

Hubungan antara tubuh dan jiwa adalah salah satu hal yang paling banyak dibicarakan di dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Para filsuf dan ilmuwan dari berbagai bidang mencoba merumuskan teori tentang hal ini. Pertanyaan yang biasa muncul adalah, apakah tubuh kita adalah satu-satunya yang ada? Apa yang dimaksud dengan jiwa, jika kita menggunakan kata ini?

Di dalam bukunya yang berjudul Phaidon (380 SM), Plato mencoba menjawab pertanyaan ini. Latar dari buku ini adalah dialog Sokrates dengan murid-muridnya, menjelang kematiannya. Ini adalah peristiwa yang amat menyedihkan untuk Plato. Setidaknya, empat buku tulisan Plato berisi tentang cerita Sokrates, mulai dari pengadilan sampai dengan penghukuman matinya.1

Seperti buku-buku Plato lainnya, Phaidon juga memiliki jalan cerita. Phaidon adalah nama seorang murid Sokrates. Di dalam buku itu, ia seolah menjadi saksi dari semua peristiwa yang ada. Ia sendiri tidak ambil bagian langsung di dalam dialog yang ada. Menurut kesaksiannya, Plato juga tidak hadir di dalam peristiwa itu, karena ia sedang sakit. Lanjutkan membaca Apakah Kita Abadi?

Revolusi Doa dan Revolusi Mental

sesawi.net
sesawi.net

oleh Sindhunata (Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta) dan Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta, Calon Presiden PDI Perjuangan 2014)

KITA memerlukan pemimpin yang taat beragama, yang bisa membawa perbaikan moral bangsa. Begitu dikatakan mantan Wakil Presiden Hamzah Haz baru-baru ini. Hamzah Haz juga menyarankan perlunya dibangun lebih banyak tempat ibadah, agar semakin banyak orang berdoa sehingga semakin banyak pula orang yang memiliki moral yang baik.

Hamzah Haz tidak keliru jika ia menghubungkan doa dan moral yang baik. Hanya masalahnya, doa manakah yang bisa membuahkan moral yang baik? Pertanyaan ini kebetulan juga sedang digeluti sejumlah sarjana antropologi dan teologi Islam maupun Kristen. Pergulatan mereka dikumpulkan di bawah tema ”Prayer, Power, and Politics” dalam jurnal Interpretation, Januari 2014.

Para antropolog kultural memahami doa sebagai aktivitas ritual. Dari sudut kultural, ritus adalah kesempatan, di mana orang menjalin hubungan baik dengan kelompoknya, maupun realitas sosialnya, termasuk kekuasaan. Sementara karena pada hakikatnya kekuasaan selalu relasional, kekuasaan mau tak mau juga memengaruhi ritus dan dirasakan secara riil oleh mereka yang menjalankan aktivitas ritual itu. Di situlah terletak hubungan antara doa dan kekuasaan. Dengan pendekatan di atas, Rodney A Werline, profesor studi agama-agama di Barton College, North Carolina, meneliti bagaimana doa-doa dihidupi tokoh-tokoh Kitab Suci Perjanjian Lama, seperti Hannah, Ruth, Salomo, dan Daniel. Dari penelitiannya terlihat doa terjadi dalam cakupan relasi sosial dan historis yang amat luas.

biografi.blogspot.de
biografi.blogspot.de

Doa bisa berfungsi sebagai dinamika keluarga, sebagai ekspresi cinta di antara sahabat, sebagai ratapan orang jujur yang tidak bersalah tetapi menjadi korban, sebagai teguran pemuka agama terhadap umatnya dan sebagai upaya bagaimana mengobati luka sosial umatnya, sebagai jalan bagi para pemimpin untuk menjalankan kepemimpinannya, juga sebagai jalan menentang kekuasaan represif. Lanjutkan membaca Revolusi Doa dan Revolusi Mental

Ekonomi Kesejahteraan Publik untuk Indonesia

ltkcdn.net
ltkcdn.net

Beberapa Butir Pemikiran

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Jantung hati dari ekonomi kesejahteraan publik, sebagaimana dirumuskan oleh Felber, adalah kerja sama antar warga, guna mewujudkan tata politik dan ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi semua, tanpa kecuali. Pandangan ini berakar dalam sekali di pemahaman filosofis tentang ekonomi, sebagaimana dirumuskan oleh Aristoteles. Kerja sama mengandaikan adanya dorongan hati dari rakyat untuk ikut ambil bagian di dalam semua bentuk proses sosial-masyarakat, walaupun kerap kali keadaan sulit, dan kebijakan yang ada tidak sesuai dengan kepentingan dan kehendaknya. Namun, mentalitas semacam ini, yakni kerja sama dan ikut ambil bagian, bukanlah hal asing bagi Indonesia, karena sudah selalu tertanam di dalam bentuk kerja sama yang sudah ada, yakni gotong royong.

Di dalam pemahaman tentang gotong royong, kesejahteraan bersama menjadi tujuan utama, dan bukan kesejahteraan sebagian orang, walaupun mereka adalah mayoritas. Kepentingan individu diperbolehkan, sejauh itu bisa ambil bagian di dalam kesejahteraan bersama suatu masyarakat. Sekali lagi perlu ditegaskan, “bersama” bukan berarti mayoritas, melainkan sungguh-sungguh semua orang yang ada. Di dalam terpaan neoliberalisme (uang dan keuntungan menjadi tolok ukur semua bagian kehidupan masyarakat) dan fundamentalisme agama (menjadikan satu tafsiran agama tertentu sebagai cara untuk mengatur hidup semua orang), budaya gotong royong di Indonesia terkikis, nyaris hilang. Namun, kemungkinan untuk menghidupkannya kembali selalu ada, dan kini, belajar dari Felber, budaya itu digabungkan dengan tata ekonomi kesejahteraan publik yang berpijak lebih kuat pada demokrasi dan martabat manusia, yang dijaga keberlangsungannya oleh sistem hukum dan perjanjian yang bersifat mengikat, namun terbuka.

Tolok Ukur Baru

Ekonomi kesejahteraan publik tidak melihat pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama. Uang, keuntungan, dan pertumbuhan ekonomi hanya dilihat berguna, sejauh ia mengembangkan kesejahteraan bersama seluruh warga. Jika uang, keuntungan dan pertumbuhan hanya menghasilkan kesenjangan yang besar antara yang kaya dan yang miskin, maka ia harus diatur lebih ketat, misalnya dengan kebijakan pajak, ataupun bentuk-bentuk lainnya. Tata ekonomi semacam ini, menurut saya, amat sangat cocok untuk konteks Indonesia. Lanjutkan membaca Ekonomi Kesejahteraan Publik untuk Indonesia

Apa yang Kita Cari dalam Hidup?

personal.psu.edu
personal.psu.edu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Grup band Dream Theater terkenal dengan salah satu lagunya yang berjudul Spirit Carries On. Kalimat-kalimat pertama di dalam lagu itu amatlah menyentuh. Bunyinya begini: darimana kita berasal? Mengapa kita ada disini? Kemana kita pergi, setelah kita mati?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan dasar yang dimiliki setiap orang. Agama berusaha menjawabnya. Terkadang, jawaban itu tidak cukup, karena manusia berubah, dan ia membutuhkan jawaban baru atas situasi hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut saya, bisa dikerucutkan ke dalam dua pertanyaan dasar, yakni apa yang kita cari dalam hidup kita, dan bagaimana kita berusaha mendapatkannya?

Di dalam bukunya yang berjudul Symposion, atau perjamuan, Plato berusaha menjawab pertanyaan ini secara tidak langsung. Ia berbicara soal Eros, dewa cinta di dalam tradisi Yunani Kuno.1 Buku ini terdiri dari sekitar 80 halaman, dan terdiri dari dialog-dialog indah dan terkesan ironis. Latar belakang dari isi buku ini adalah pesta dari Agathon, seorang penyair, yang berhasil memenangkan perlombaan. Lanjutkan membaca Apa yang Kita Cari dalam Hidup?