Kesadaran Geopolitik di Indonesia

Lukisan Mihai Criste

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

Banyak orang tidak suka berbicara soal politik. Bagi mereka, politik itu kotor. Banyak instrik, tipu menipu, dan permainan busuk lainnya. Orang berubah, jika mereka masuk ke dalam dunia politik. Pribadi yang jujur dan sederhana, ketika masuk dunia politik, berubah menjadi rakus dan suka menjilat penguasa.

Ini terjadi, karena di Indonesia, makna politik sudah bergeser, akibat tindakan-tindakan dari para politikus busuk yang biadab. Mereka mengubah kejujuran semata menjadi kata-kata manis tanpa aksi. Mereka mengubah konsep luhur perwakilan rakyat menjadi kesempatan untuk mengeruk keuntungan ekonomis. Tanggung jawab politis pun diubah menjadi sekedar kesempatan untuk menikmati “fasilitas” sebagai penguasa yang berhak untuk menindas rakyatnya.

Padahal, politik adalah panggilan luhur. Politikus dipanggil sebagai pemimpin masyarakat untuk menciptakan hidup yang lebih baik, tidak hanya bagi dirinya, tetapi bagi rakyat yang dipimpinnya. Dalam arti ini, politik adalah tata kelola manusia-manusia yang berpijak pada seperangkat nilai tertentu yang dianggap luhur di dalam suatu masyarakat. Tanda keberhasilan politik adalah rapinya pengelolaan masyarakat, dan orang-orang yang ada di dalamnya semakin merasa manusiawi dan bermartabat.

Sebagai tata kelola yang berpijak pada seperangkat nilai yang dianggap berharga oleh masyarakat tertentu, politik jelas harus memperhatikan aspek geografis dan geologis yang ada. Tata kelola yang dilakukan harus memperhatikan letak tempat tinggal suatu masyarakat, iklim, serta situasi tanah maupun lingkungan yang ada secara keseluruhan. Di dalam kajian politik kontemporer, analisis semacam ini disebut juga sebagai geopolitik. Secara singkat, geopolitik adalah kajian atas kebijakan politik suatu negara dengan melihat pengaruh dari situasi geografis maupun geologis dari negara tersebut.

Kajian Geopolitik

Salah satu negara yang cukup maju di dalam kajian geopolitik adalah Jerman. Dalam kajian geopolitik mereka, negara disamakan seperti manusia dan hewan, yang cara hidupnya amat ditentukan oleh keadaan geografis maupun geologis sekitarnya. Secara normatif, dalam konteks ini, tata kelola politik haruslah terkait erat dengan situasi geografis maupun geologis alamiah yang ada. Hanya dengan begitu, kehidupan suatu negara bisa berkembang.

Friedrich Ratzel, pemikir Jerman, mencoba untuk memberi rumusan yang lebih jelas tentang geopolitik. Belajar dari Darwin dan Ernst Heinrich Häckel, seorang zoolog (ilmu yang mempelajari perilaku binatang) asal Jerman, ia berpendapat, bahwa negara adalah suatu entitas organik yang bertumbuh, sama seperti mahluk hidup. Sehat atau tidaknya suatu negara amat ditentukan dari sejauh mana ia memiliki hubungan yang baik dengan ekosistem sekitarnya, yakni dengan keadaan geografis dan geologis sekitarnya.

Ada hubungan yang bersifat mendalam dan spiritual antara negara dengan tanah tempatnya berpijak. Negara yang berkembang melampaui batas-batas teritorinya adalah negara yang sehat, yakni negara yang mampu menciptakan hubungan yang erat, bahkan spiritual, dengan tanah tempatnya berpijak. Sementara, negara yang statis dan anarkis, yakni yang gagal membangun hubungan yang mendalam dan spiritual dengan ekosistemnya, adalah negara gagal.

Pada 1869, Karl Haushofer, ilmuwan geopolitik Jerman, mendirikan jurnal khusus ilmu geopolitik, yakni Zeitschrift für Geopolitik, atau Jurnal untuk Geopolitik. Geopolitik pun berkembang sebagai kajian ilmiah. Sayangnya, pada perang dunia kedua, geopolitik kerap dijadikan dasar ideologis bagi kebijakan-kebijakan politik NAZI Jerman. Argumennya begini, setelah sebuah negara bertaut erat dengan ekosistem sekitarnya, maka ia juga berhak untuk mengembangkan ekosistemnya. Ekspansi militer untuk mendirikan imperium dunia pun, dengan demikian, juga bisa dibenarkan. Hubungan antara NAZI Jerman dan geopolitik pun sampai sekarang masih menjadi pertanyaan banyak ilmuwan.

Kesadaran Geopolitik

Ilmu geopolitik mengajarkan pada kita, bahwa sebuah masyarakat dan negara harus memiliki hubungan spiritual yang mendalam dengan ekosistem tempat ia hidup. Inilah yang saya sebut sebagai kesadaran geopolitik (Geopolitik Bewußtsein). Dengan kesadaran geopolitik semacam ini, sebuah masyarakat dan negara akan hidup dalam harmoni erat dengan lingkungannya, baik itu lingkungan sosial (budaya, tradisi), maupun lingkungan alam natural (geografis dan geologis). Inilah yang, menurut saya, menjadi kunci kemajuan sebuah negara.

Dari kesadaran geopolitik yang ada, sistem pun dibangun, mulai dari sistem pendidikan, sistem tata kota, sistem ekonomi, sistem agama, sampai dengan sistem politik. Karena berjalan sesuai dengan ekosistem yang ada, maka sistem-sistem tersebut akan cocok dengan masyarakat, sehingga semuanya berjalan lancar dan nyaman. Kehidupan bersama pun akan berjalan lancar, tanpa konflik yang mengguncang. Salah satu pendorong utama kemajuan sebuah negara adalah cocoknya sistem-sistem yang dibangun dengan ekosistem masyarakat tersebut.

Saya ambil contoh di Jerman. Sebagai negara subtropis, dengan iklim yang dingin, terutama pada musim dingin, orang tidak banyak bisa beraktivitas di luar ruangan, kecuali pada saat musim panas. Sistem yang ada pun dibuat dengan menyesuaikan iklim tersebut, misalnya pendidikan di dalam ruangan, perpustakaan raksasa dengan jutaan buku yang berada dalam ruang dengan penghangat raksasa, serta gedung-gedung pelayanan publik yang besar dan hangat untuk menunjang berbagai aktivitas politik. Dengan kata lain, semua sistem yang ada dibuat efektif, mekanis, otomatis, dan efisien dengan memaksimalkan aktivitas di dalam ruangan, sesuai (kompatibel) dengan situasi ekosistem dingin yang ada.

Kesadaran geopolitik pun juga melahirkan kultur dan perilaku yang khas. Di Jerman, misalnya, situasi ekosistem yang dingin melahirkan beberapa kebiasaan yang khas, seperti berjalan cepat (karena menghindari dingin), tepat waktu (tidak mau membuang-buang waktu di luar ruangan), suka membaca buku di rumah atau di kamar (juga karena cuaca yang amat mendukung untuk itu, daripada ngerumpi di luar), dan sebagainya. Ekosistem yang khas melahirkan cara yang khas untuk menanggapi ekosistem tersebut, terbentuklah kultur, lalu menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang menjadi gerak badan, seperti jalan cepat, bekerja cepat, disebut oleh Pierre Bourdieu, seorang pemikir Prancis, sebagai Hexis.

Situasi Indonesia

Lalu bagaimana dengan situasi Indonesia? Indonesia jelas memiliki ekosistem yang khas, yakni iklim tropis, dengan mayoritas wilayahnya adalah laut. Sudahkah bangsa kita memiliki kesadaran geopolitik? Sudahkah kebijakan-kebijakan yang kita buat sebagai bangsa sudah bertaut erat dengan ekosistem tropis dan wilayah laut kita? Saya rasa tidak.

Alih-alih memahami keadaan ekosistem bangsa sendiri, Indonesia justru meniru negara Barat, misalnya dengan membangun gedung-gedung yang minim jendela (sehingga harus menggunakan AC dan listrik yang berlebih), kelas-kelas pendidikan yang tertutup, serta sistem transportasi laut yang amat tak layak dan mahal (kita adalah negara kelautan; sebagian besar wilayah kita adalah laut). Padahal, jelas sekali, bahwa ekosistem Indonesia berbeda jauh dengan negara-negara Barat yang mayoritas adalah negara subtropis. Seluruh paradigma pembangunan di Indonesia tidak berpijak pada kesadaran geopolitik yang kokoh, sehingga semuanya tidak cocok dengan situasi masyarakat dan alam yang nyata.

Kultur pun juga demikian. Kita tidak memperhatikan ekosistem kita sendiri, tidak memiliki kesadaran geopolitik, akhirnya, kita pun meniru negara lain yang notabene memiliki ekosistem (geopolitik) yang berbeda. Misalnya, pada saat acara-acara penting, kita diharuskan menggunakan jas resmi. Bayangkan, kita harus memakai jas setebal itu di negara dengan iklim tropis yang panas? Jas cocok untuk negara-negara dingin, dan sama sekali tidak cocok untuk negara tropis.

Sistem pendidikan di kelas tertutup pun juga sebenarnya tidak cocok dengan ekosistem kita yang hangat. Angkutan umum kita juga mobil-mobil tertutup dengan sedikit jendela, padahal cuaca panas sekali. Di negara-negara tropis, menurut saya, dengan memperhatikan kesadaran geopolitik, kelas-kelas pendidikan harus dibuat semi terbuka, dengan udara terbuka yang segar. Mobil-mobil pun juga harus dibuat dengan jendela besar yang memungkinkan gerak udara secara leluasa.

Sebagai bangsa, kita tak memiliki kesadaran geopolitik. Akibatnya, kita pun latah ingin menjadi seperti negara lain. Identitas kita sebagai bangsa rapuh dan terbelah, karena kita tak memiliki kesadaran geopolitik yang kokoh. Akibatnya, hidup menjadi tak nyaman. Hidup bersama pun dipenuhi dengan gesekan konflik sosial yang tak perlu ada. Orang menderita hidup di tanah kelahirannya sendiri.

Langkah Ke Depan

Yang perlu dilakukan sekarang adalah memahami ekosistem tempat kita hidup dan berkembang. Kita perlu membangun dan mengembangkan kesadaran geopolitis yang kokoh di seluruh bidang kehidupan. Dengan kesadaran geopolitik tersebut, kita bisa mulai menata ulang sistem-sistem yang ada, supaya sesuai dengan keadaan ekosistem yang kita miliki. Kita pun bisa menata ulang kultur kita sebagai bangsa, supaya juga sejalan dengan keadaan geopolitik yang kita punya.

Orang bilang, kemajuan suatu bangsa diukur dari tingkat ekonominya. Menurut saya, itu pendapat yang amat salah. Kemajuan suatu bangsa diukur dari sejauh mana bangsa kita memiliki identitas yang jelas dan tegas terkait dengan ekosistemnya (alam maupun sosial), lalu membangun seluruh sistem tata kelola hidup bersama dan kultur yang sesuai (kompatibel) dengan keadaan ekosistem tersebut. Kemajuan ekonomi hanyalah konsekuensi logis dari kejelasan dan ketegasan identitas nasional suatu bangsa. Bagaimana menurut anda?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

30 thoughts on “Kesadaran Geopolitik di Indonesia”

  1. Aq sangat setuju “kemajuan suatu bangsa diukur dari tingkat ekonominya. Menurut saya, itu pendapat yang amat salah. Kemajuan suatu bangsa diukur dari sejauh mana bangsa kita memiliki identitas yang jelas dan tegas terkait dengan ekosistemnya (alam maupun sosial), lalu membangun seluruh sistem tata kelola hidup bersama dan kultur yang sesuai (kompatibel) dengan keadaan ekosistem tersebut.” Apa boleh saya copy n paste Pak?

    Suka

  2. saya pesimis negara kita akan maju,hal ini terlihat dr stigma yg muncul belakangan ini.politik dianggap monster yg menakutkan.ini terjadi karena pelaku politik yg hari ini tdk mencerminkan perilaku yg terpuji……..
    gimana solusinya untuk generasi penerus???

    Suka

      1. Makasih mas Reza, salam kenal juga…
        Maaf baru balas mas…
        Saya gatek, baru belajar bikin Blog..,
        Saya kagum dengan tulisan2 mas Reza, saya jg tertarik dgn Filsafat mas, baru baca buku2nya belum belajar secara langsung 🙂

        Suka

  3. Terima kasih atas pencerahannya.Dari anda saya mendapat ilmu dan ulasan yg kritis.Semoga anda terus menyebarkan pengetahuan dan pemahaman yg bermanfaat bagi sesama,terutama saya ini yg haus akan pengetahuan,apapun itu.Salam kenal.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s