Defisit Rasa

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat, Unika Widya Mandala Surabaya

Pengalaman manusia adalah sesuatu yang amat kaya. Ketika kita melihat sebuah gunung, berbagai unsur dalam diri kita bekerja, dan menghasilkan pengalaman yang amat kaya atas gunung tersebut. Gunung tidak dilihat semata sebagai tumpukan tanah dan batuan, tetapi juga sebagai inspirasi yang membuat kita merasa kagum, tenang, dan damai.

Ketika kita mengalami sesuatu, ada tiga unsur yang secara otomatis dan simultan bergerak dalam diri kita, yakni pikiran, perasaan, dan merangsang tanggapan kita atas sesuatu itu dalam bentuk perilaku. Kekayaan dan kerumitan realitas ditangkap langsung oleh panca indera, akal budi, dan rasa yang sudah selalu ada dalam diri kita. Dari proses campuran ketiga unsur kita, kita menanggapi realitas yang ada.

Namun, di Indonesia, sistem pendidikan yang ada memangkas kemampuan kita untuk menangkap dan menghayati kekayaan realitas yang ada. Pedagogi dan metode pembelajaran yang memusatkan pada kemampuan akal budi sebagian, yakni kemampuan untuk menghafal, tetapi tidak untuk berpikir kritis, pada akhirnya melibas kemampuan untuk merasa.

Akhirnya, realitas yang dipahami manusia pun hanya sebagian, yakni realitas rasional yang sebenarnya hanyalah bagian kecil dari kekayaan dan kerumitan dunia itu sendiri. Yang hilang dari Indonesia bukanlah kecerdasan, melainkan kemampuan untuk merasa. Ketika rasa hilang dari kehidupan manusia, yang tersisa adalah kekejaman, kekumuhan, dan kedangkalan hidup.

Rasa

Perlu juga diperhatikan, bahwa rasa itu bukanlah semata emosi. Emosi adalah bagian dari rasa, namun lebih kecil dan lebih sempit ruang lingkupnya. Sementara, rasa itu selalu mengandung emosi, namun lebih kaya dan lebih luas jangkauannya. Ketika orang menyamakan keduanya, mereka bagaikan menyamakan bukit di kaki gunung Semeru dengan gunung Semeru itu sendiri.

Sebagaimana diutarakan oleh filsuf asal Bandung, Ignatius Bambang Sugiharto, rasa di dalam diri manusia mampu menangkap totalitas dari realitas, dan kemudian mengekspresikannya secara indah dengan cara-cara estetik maupun puitik yang seringkali melampaui rasionalitas dan kesempitan bahasa itu sendiri. Oleh karena itu, menurutnya, setiap orang perlu untuk mendalami estetika, supaya ia mampu memahami kerumitan serta kekayaan dunia, menghargainya, dan mengekspresikan penghargaan itu dengan cara-cara yang indah.

Di sisi lain, emosi, seperti sudah saya tulis sebelumnya, adalah bagian dari rasa, namun mempersempit kekayaan realitas pada satu sisi, dan menguncinya secara berlebihan. Emosi mengunci pada satu hal yang ada dalam realitas, misalnya hal negatifnya, lalu melebih-lebihkannya, sampai tak terkontrol. Emosi menolak untuk menghargai kekayaan realitas, dan memilih untuk secara sempit menafsirkan realitas, dan mendorong perilaku-perilaku manusia yang tak seimbang.

Pada hemat saya, rasa adalah unsur yang kurang dari begitu banyak bidang kehidupan di Indonesia. Ketika rasa tidak ada, yang kemudian tersisa, kekumuhan, kejahatan, dan kedangkalan hidup yang menjangkiti berbagai bidang kehidupan kita di Indonesia. Situasi ketanpa-rasa-an, atau krisis rasa, inilah yang perlu untuk kita hadapi bersama.

Krisis Rasa

Di dalam bidang politik, para politisi dan pemerintah negara kita kurang memiliki rasa dalam memimpin dan mengeluarkan kebijakan. Kemampuan mengambil posisi orang lain, dan berusaha merasakan apa yang dirasakannya, tidak tumbuh. Akibatnya, banyak kebijakan politik justru melukai hati rakyat, dan memperbesar masalah yang sudah ada.

Para pelaku bisnis dan pembuat kebijakan ekonomi di Indonesia juga miskin akan rasa. Mereka terpaku pada upaya mencari dan menumpuk keuntungan, dan dengan proses itu menginjak martabat manusia, dan merusak alam. Para pembuat kebijakan ekonomi terpaku pada data statistik, dan lupa, bahwa statistik adalah abstraksi dari realitas, dan tak pernah bisa menangkap apa yang sesungguhnya terjadi di dalam dunia.

Dunia pendidikan di Indonesia juga miskin akan rasa. Pendidikan berpusat pada pengembangan ketrampilan menghafal semata. Ujian juga hanya mengukur satu aspek dari diri manusia, yakni aspek kemampuan menghafal dan memuntahkan kembali ke dalam ujian, yang sebenarnya tak terlalu penting dalam menjalani kehidupan. Pendidikan rasa berusaha mengajak orang untuk jujur pada apa yang dirasakannya, ketika melihat dunia, dan berani mengekspresikan perasaan tersebut dengan cara-cara yang indah.

Di Indonesia, banyak kota-kota besar mengalami permasalahan tata kota. Banyak bangunan berdiri di tempat-tempat yang tidak pas, sehingga menciptakan kemacetan yang parah. Kebersihan pun menjadi masalah besar kota-kota di Indonesia, yang nantinya berujung pada bencana banjir yang jadi langganan tiap tahunnya. Ini semua terjadi, karena pemerintah daerah di kota-kota Indonesia tidak menggunakan rasa di dalam kerja-kerja mereka.

Rasa dan Karya

Di dalam setiap karyanya, orang harus selalu menggunakan rasa. Perhitungan untung rugi memang penting, tetapi rasa di dalam karya pun tak kalah pentingnya. Rasa menjamin, bahwa setiap karya manusia akan bisa menghasilkan keindahannya masing-masing, mulai dari tukang sapu, sampai dengan presiden. Jika setiap orang menggunakan rasa di dalam hidup dan karyanya, maka dunia ini, saya yakin, akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Banyak konflik antar kelompok, bangsa, dan individu terjadi, karena hubungan antar mereka tidak menggunakan rasa. Untung dan rugi menjadi dasar dari hubungan antar manusia. Ketika rugi lebih besar dari pada untung, hubungan pun terputus, serta potensi untuk terjadinya konflik pun semakin besar. Jika setiap orang menggunakan rasa dalam membangun hubungan dengan orang lainnya, perhitungan untung rugi pun menjadi relatif, dan kita bisa sungguh menemukan makna di dalam hubungan kita dengan orang lain.

Situasi krisis rasa tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi oleh seluruh dunia. Situasi ini telah menyiksa hidup banyak orang, menciptakan perang antar tetangga, dan membuat alam menjadi tempat yang semakin tak layak untuk ditinggali. Sudah saatnya, kita bergerak melampaui krisis rasa ini. Hidup manusia tidak akan pernah utuh dan bermakna, jika ia tidak mengasah rasanya untuk memahami kekayaan realitas, dan menggunakan rasa untuk menghargai keindahan hidup bersama orang lain.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 thoughts on “Defisit Rasa”

  1. TOP BGT pak reza! saya suka kalimat ini:”Pendidikan berpusat pada pengembangan ketrampilan menghafal semata. Ujian juga hanya mengukur satu aspek dari diri manusia, yakni aspek kemampuan menghafal dan memuntahkan kembali ke dalam ujian, yang sebenarnya tak terlalu penting dalam menjalani kehidupan.”

    hal itu yg membuat SDM di Indonesia kehilangan rasa sebagai manusia yang hakiki. dan sekolah gagal untuk menjadi sarana mencetak SDM yang mampu memiliki rasa yang pas itu pak. benar nggak sich????

    Suka

  2. Emang rasa ga pernah bisa bohong –> sperti iklan’y mie sedap.
    Ini PR aku sekarang: “olah rasa” tuk myeimbangkan dgn dominasi pikiran yg udah merajalela di diriku. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s