Pendidikan dan Standar Kelulusan yang Manusiawi

Technorati Tags: ,

Merumuskan Standar Kelulusan

yang Manusiawi

Reza A.A Wattimena

Standar penilaian untuk kelulusan di dalam bidang pendidikan tetaplah diperlukan. Yang perlu diperhatikan adalah kriteria standar penilaian dan kelulusan tersebut.

Standar kelulusan yang ideal berpijak pada penilaian kuantitatif dan kualitatif. Penilaian kuantitatif melibatkan data numerik tentang prestasi peserta didik, seperti nilai ujian, absensi, jumlah aktivitas di dalam organisasi. Sementara penilaian kualitatif melibatkan deskripsi naratif yang menggambarkan penghayatan terdalam peserta didik, seperti arti pendidikan baginya, motivasinya mengikuti pendidikan, dan apa harapan-harapan terdalamnya bagi sekolah secara khusus, ataupun bagi institusi pendidikan secara umum.

Kemalasan Para Birokrat

Perdebatan tentang masih diperlukannya Ujian Nasional (UN) juga dapat dilihat dengan kerangka berpikir kuantitatif-kualitatif di atas. Seorang peserta didik tidak boleh dinyatakan tidak lulus, hanya karena prestasi akademiknya (kuantitatif) buruk. Ada begitu banyak variabel lainnya yang mesti diperhatikan, dan variabel tersebut biasanya bersifat naratif-kualitatif, sehingga membutuhkan kerja keras untuk memahaminya.

Masalah pendidikan di Indonesia mayoritas berpijak pada kemalasan para birokrat pendidikan untuk memahami variabel kualitatif tersebut. Bagi mereka para peserta didik hanyalah angka yang tersebar ke seluruh Indonesia. Para peserta didik hanyalah angka pucat tanpa kepribadian. Padahal para peserta didik adalah manusia yang memiliki latar belakang sejarah, kepribadian, dan harapan-harapan dalam hidupnya.

Ketidakmampuan para birokrat pendidikan memahami ini akan berujung pada hancurnya kepribadian dan harapan para peserta didik, karena mereka merasa ‘dibendakan’. Selama para birokrat pendidikan masih memandang para peserta didik dengan gaya ‘pembendaan’ semacam ini, selama itu pula dunia pendidikan di Indonesia akan berjalan di tempat.

Intelektual Satu Dimensi

Standar kelulusan yang hanya melihat peserta didik dari nilai-nilai akademiknya semata akan menghasilkan intelektual-intelektual satu dimensi. Ciri dari intelektual seperti ini ketidakmampuannya untuk menghargai nilai-nilai lain di dalam kehidupan manusia, selain nilai yang dapat diukur secara matematis. Maka seringkali uang menjadi tujuan utama. Pola pendidikan yang mengabdi pada bisnis adalah hasil cara berpikir para intelektual satu dimensi ini.

Seorang pemikir Sekolah Frankfurt, Herbert Marcuse, pernah menulis buku yang berjudul One Dimensional Man. Di dalam buku itu, ia ingin mengungkap krisis masyarakat modern yang diakibatkan oleh keberadaan manusia satu dimensi, yakni manusia yang segala orientasi pikiran ataupun pilihan hidupnya hanya berpijak pada untuk mengkonsumsi barang-barang secara berlebih. Mereka tidak mampu menghargai nilai-nilai kehidupan lainnya, seperti solidaritas, cinta, dan pengorbanan.

Manusia semacam inilah yang akan menjadi warga negara Indonesia di masa depan, jika proses pendidikan masih berpijak pada standar kuantitatif dan memiliki kecenderungan untuk membendakan para peserta didik, seperti yang terjadi sekarang ini. Manusia satu dimensi adalah manusia yang terorientasi untuk mengkonsumsi. Mereka tidak lagi memiliki kesadaran kritis di dalam melihat dunia, walaupun bergelar intelektual publik.

Pendidikan yang Manusiawi

Wacana tentang pendidikan yang memanusiakan, yang tidak hanya berorientasi pada lapangan kerja teknis guna menghasilkan nilai ekonomis sebesar-besarnya, baru dapat terwujud, jika standar penilaian terhadap peserta didik juga mencerminkan kemanusiaannya. Artinya standar penilaian tersebut tidak mereduksi para peserta didik menjadi angka dan data numerik semata, tetapi juga mampu menangkap kerumitan jiwanya sebagai manusia yang memiliki sejarah, kepribadian, dan harapan.

Hal ini berlaku bukan hanya di level Ujian Nasional, tetapi juga bagi standar penilaian di dalam pendidikan sebagai keseluruhan. Peserta didik bukanlah produk material yang menjadi output dari sekolah ataupun institusi pendidikan lainnya. Kosa kata tersebut mencerminkan paradigma pendidikan yang bercokol di belakangnya. Para peserta didik adalah manusia yang memiliki martabat dan persona, maka semua kriteria penilaian terhadapnya harus juga mencerminkan martabat dan kerumitan persona tersebut.

Rekonstruksi dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dimulai dengan membuat kebijakan yang reaktif (Koesoma, 2009), seperti dengan memperbanyak SMK untuk memenuhi tenaga kerja praktis yang murah, tetapi dengan mengubah cara berpikir di dalam memandang apa dan siapa itu manusia. Kebijakan politik yang berpijak dengan konsep manusia yang tepat akan mengantarkan manusia-manusia Indonesia menjadi unggul, kompetitif, dan, yang paling penting, bermartabat. ***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s