Filsafat Yahudi: Saadiah ben Joseph Gaon

Technorati Tags: ,,,

Filsafat Saadiah ben Joseph Gaon

Reza A.A Wattimena

Dengan mengacu pada tulisan Dan Chon-Sherbok (selanjutnya saya singkat menjadi Chon-Sherbok), saya ingin memperkenalkan pemikiran Saadiah Ben Joseph Gaon (selanjutnya saya singkat menjadi Saadiah).[1]

Latar Belakang

Seperti sudah beberapa kali disebut sebelumnya, para filsuf Yahudi hendak melakukan sintesis antara filsafat Yunani Kuno di satu sisi, dan ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Kitab Suci Yahudi di sisi lainnya. Filsuf yang secara jelas melakukan hal ini adalah Philo. Ia menerapkan metode filsafat Yunani Kuno yang rasional dan sistematis untuk menjelaskan konsep Tuhan, manusia, dan dunia di dalam tradisi Yahudi. Dalam arti ini Philo adalah filsuf Yahudi yang pertama.

Pada abad ke-9 pandangan Yahudi ditantang oleh pandangan Karaite, terutama pandangan tentang sifat-sifat Tuhan yang menyerupai manusia. Ini disebut juga sebagai pandangan Tuhan yang sifatnya antropomorfis. Selain itu pandangan Yahudi ditantang oleh para pemikir Zoroaster dan Manikean. Mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin satu. Mereka menolak monoteisme yang ditawarkan oleh tradisi Yahudi. Di sisi lain para filsuf Yunani Kuno pasca Aristoteles mengajukan argumen, bahwa awal mula alam semesta dapat dijelaskan tanpa perlu mengacu pada konsep Tuhan. Tradisi Yahudi mendapatkan tantangan dari berbagai pihak.

Untuk menanggapi berbagai kritik ini, para pemikir Yahudi belajar dari para pemikir Islam pada abad ke 8 dan 9, terutama para pemikir Mutazilite Kalam. Bagi para pemikir Islam, argumentasi yang masuk akal sangatlah penting bagi kehidupan beragama, dan filsafat Yunani Kuno sangat penting untuk dipelajari, guna memberikan dasar yang kokoh pada iman. Dengan demikian para pemikir Yahudi berhutang sangat besar kepada para pemikir Islam untuk mempertahankan iman dan tradisi mereka.

Filsuf Yahudi pertama di abad pertengahan adalah Saadiah ben Joseph al-Fayyumi. Ia lahir di Pithom, Mesir, pada 882 AD. Pada usia 20 ia menerbitkan sebuah Kamus Yahudi. Tiga tahun kemudian ia melakukan debat polemik dengan Karaisme yang merupakan sekte Yahudi yang menolak tradisi Yahudi. Setelah itu ia kemudian tinggal di Babilonia. Di sana ia terlibat di dalam penentuan tanggal hari-hari suci Yahudi. Kemudian ia ditunjuk sebagai gaon (seorang ahli di dalam tradisi Yahudi) di akademi Babilonia di Sura. Pada waktu itu akademi Babilonia memang sedang mengalami penurunan kualitas.

Di bawah kepemimpinan Saadiah, Sura berkembang pesat. Ratusan pemikir Yahudi dari seluruh penjuru dunia datang dan belajar di sana. Saadiah sempat mengalami polemik dengan para tetua Yahudi di Bagdad. Polemik itu memecah orang-orang Yahudi di Baghdad menjadi dua. Namun setelah beberapa waktu, dua kelompok tersebut melakukan rekonsiliasi. Saadiah kembali menduduki posisi sebagai kepala akademi secara mantap.

Ketika menjadi kepala akademi, Saadiah menulis tentang berbagai hal. Misalnya ia menulis tentang gramatikal bahasa Yahudi, menterjemahkan seluruh kitab suci Yahudi ke dalam bahasa Arab, membuat buku tentang doa, menafsirkan Talmud secara baru, merumuskan metode bagi penelitian ilmiah, menggabungkan dan menjelaskan hukum-hukum Yahudi, membuat kalendar yang sesuai dengan tradisi Yahudi, dan merumuskan suatu teologi rasional yang berpijak pada tradisi dan agama Yahudi. Ia melakukan itu semua, sampai meninggal pada 942 AD.

Hukum dan Tradisi Yahudi

Buku utama Saadiah adalah The Book of Beliefs and Opinions. Di dalam buku itu ia hendak menantang klaim religius para pemikir Kristen, Islam, Zoroaster. Bagi Saadiah ada empat sumber pengetahuan manusia, yakni panca indera, intuisi atas kebenaran, dan tradisi masyarakat yang masuk akal. Sumber keempat yakni tradisi masyarakat yang masuk akal, menurut Saadiah, adalah pemberian Tuhan kepada manusia untuk menjadi panduan hidupnya. Tanpa panduan itu manusia akan tersesat di dalam ketidakpastian hidup.[2]

Panduan yang dimaksud Saadiah adalah Torah. Torah diyakini sebagai sesuatu yang diberikan oleh Tuhan melalui nabi-nabi Yahudi, dan kemudian diturunkan ke generasi selanjutnya melalui tulisan. Torah menjadi dasar bagi agama dan tradisi Yahudi. Saadiah lebih jauh berpendapat, bahwa akal budi dan iman di dalam tradisi Yahudi saling melengkapi dan tak terpisahkan. Misalnya ia berpendapat bahwa alam semesta, secara logis, haruslah memiliki titik awal. Konsep waktu menurutnya baru dapat diterima dengan akal sehat, jika memiliki awal. Sang Pencipta Agung (yang adalah Tuhan) adalah Entitas Abadi yang utuh dan menciptakan alam semesta dari kekosongan.

Saadiah lebih jauh melanjutkan, Tuhan adalah satu, namun selalu memiliki atribut yang banyak. Misalnya Tuhan adalah agung, maha kuasa, pencipta maha agung, namun ia tetap Tuhan yang sama, yang satu. Berbagai atribut tentang Tuhan muncul, karena bahasa manusia tidak mampu secara utuh memahami konsep Tuhan. Maka dari itu semua konsep tentang Tuhan di dalam kitab suci, yang memang sangat mirip manusia, tidak boleh diartikan secara harafiah. Misalnya jika dikatakan di kitab suci, bahwa Tuhan marah, bahwa Tuhan memiliki mata, tangan, telinga, ataupun wajah, maka semua itu harus diartikan sebagai simbol yang harus ditafsirkan lebih jauh. Tidak hanya itu semua yang tertulis di dalam kitab suci Yahudi haruslah dibaca secara cerdas sebagai simbol untuk menyampaikan maksud tertentu. Tugas pembaca adalah menafsirkan maksud tersebut secara masuk akal sesuai dengan konteks jamannya.[3]

Tentang Manusia

Saadiah juga banyak menulis tentang inti terdalam dari manusia. Baginya setiap manusia memiliki jiwa. Jiwa tersebut diciptakan oleh Tuhan bersamaan dengan tubuh manusia. Jiwa tidak ada sebelum adanya tubuh. Jiwa adalah entitas yang diciptakan bersamaan dengan tubuh. Dalam arti ini tubuh adalah alat dari jiwa. Untuk bisa berfungsi jiwa manusia memerlukan tubuh. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Saadiah melanjutkan bahwa jiwa memiliki tiga fungsi, yakni fungsi akal budi, roh, dan hasrat. Ketiganya hanya berfungsi jika jiwa selalu berada dalam kaitan dengan tubuh. Jika tubuh rusak maka jiwa juga rusak.

Tujuan hidup manusia menurut Saadiah adalah menjadi bahagia. Dalam arti ini bahagia berarti orang mampu menjalani hidup secara penuh. Untuk bisa mencapai itu, Tuhan telah menyediakan aturan dan larangan untuk dipatuhi oleh manusia. Menurut Chon-Sherbok aturan dan larangan yang dirumuskan Saadiah itu melingkupi dua aspek. Aspek pertama adalah tipe larangan dan aturan yang memiliki akar pada hati nurani manusia. Jika manusia melanggarnya maka ia akan merasa bersalah. Hati nurani dan perasaan bersalah itu sudah selalu ada di dalam jiwa manusia. Misalnya orang tidak boleh membunuh, karena membunuh adalah tindakan penghancuran terhadap manusia lain, dan menghancurkan karya Tuhan.

Aspek kedua adalah aturan dan larangan yang secara intrinsik tidak baik ataupun buruk, melainkan menjadi baik ataupun buruk, karena Tuhan telah mengatakan seperti itu. Saadiah menyebutnya sebagai hukum tradisional. Jika manusia mematuhinya maka ia akan mendapatkan kebaikan dari Tuhan. Dan sebaliknya jika manusia melanggarnya, maka ia akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Walaupun terdengar dogmatis namun aturan dan larangan semacam ini memiliki rasionalitas dibaliknya. Misalnya ajakan untuk bersikap rendah hati (humility) sebenarnya membantu untuk menciptakan kehidupan bersama yang harmonis.

Hukum-hukum Tuhan yang terdapat di dalam agama dan tradisi seringkali tidak sepenuhnya bisa dipahami manusia. Maka ia membutuhkan pewahyuan dari Tuhan. “…Legislasi dari Tuhan”, demikian tulis Chon-Sherbok, “dibutuhkan untuk menjernihkan prinsip-prinsip moral yang diketahui oleh akal budi.”[4] Saadiah lebih jauh berpendapat, bahwa hukum-hukum Yahudi berlaku untuk sepanjang masa. Namun memang hukum-hukum tersebut perlu untuk ditafsirkan secara rasional, supaya bisa mengikuti perkembangan kehidupan manusia. Tuhan memang memberikan perintah, bahwa semua orang yang melanggar hukum-hukumnya haruslah dihukum. Walapun begitu ruang kebebasan bagi manusia tetap ada. Manusia tetap bisa memutuskan, apakah ia akan mematuhi hukum Tuhan, atau tidak.

Manusia dan Kehidupan Setelah Mati

Saadiah juga menulis soal kehidupan setelah mati di dalam tradisi dan agama Yahudi. Ia mengajukan pertanyaan yang sebenarnya juga menjadi pertanyaan banyak orang sekarang ini, mengapa orang-orang baik hidup susah dan menderita, sementara orang-orang jahat hidup berkelimpahan? Bagi Saadiah orang-orang baik mendapatkan pencobaan dari Tuhan. Mereka mengalami proses pemurnian yang berlangsung di dunia. Orang baik mengalami lebih banyak penderitaan di muka bumi ini. Namun Tuhan itu adil, maka setelah mereka meninggal, mereka akan mendapatkan imbalan dari Tuhan dalam bentuk kehidupan abadi yang bahagia. Inilah surga menurut Saadiah. Di dalam surga tubuh dan jiwa akan bersatu kembali. “Bagi Saadiah”, demikian tulis Chon-Sherbok, “karena Tuhan menciptakan dunia dari kekosongan, maka tidak ada kesulitan logis untuk percaya bahwa Tuhan dapat menciptakan tubuh dari orang-orang yang telah meninggal.”[5]

Menurut Saadiah ada dua bentuk berakhirnya peradaban manusia. Yang pertama adalah apa yang disebutnya sebagai periode messianik. Di dalam periode ini, kerajaan Israel akan mencapai puncak kejayaannya. Pada masa ini semua bentuk penindasan, kemiskinan, dan konflik sosial akan menghilang. Surga akan tercipta di dunia. Orang-orang baik akan mendapatkan imbalan yang sesuai. Orang-orang jahat akan mengalami penderitaan di dalam api. Di dalam tulisan-tulisannya, Saadiah adalah pemikir pertama yang secara sistematis memberikan pendasaran rasional bagi ajaran-ajaran yang terdapat di dalam agama maupun tradisi Yahudi, baik tentang manusia, hukum, ataupun kehidupan setelah mati. Akal budi digunakan untuk memahami dan menegaskan ajaran-ajaran di dalam tradisi dan agama Yahudi.


[1] Pada bab ini saya diinspirasikan dari pembacaan terhadap Chon-Sherbok, Dan, Fifty Key Jewish Thinkers, London: Routledge, 1997.

[2] Lihat, ibid, 181.

[3] Lihat, ibid, 182.

[4] Ibid, 183.

[5] Ibid.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s