Filsafat Yahudi: Moses Maimonides

Technorati Tags: ,,,

Filsafat Moses Maimonides

Reza A.A Wattimena

Saya ingin memperkenalkan anda dengan sosok dan pemikiran salah satu filsuf Yahudi abad pertengahan yang terbesar, Moses Maimonides. Sebagai acuan utama saya menggunakan tulisan Howard Kreisel yang berjudul Moses Maimonides.[1] Di dalam kajian filsafat Yahudi seringkali muncul ungkapan berikut, “Dari Musa sang Nabi sampai Musa (Moses Maimonides), tidak ada orang seperti Musa (Moses Maimonides).”[2] Ungkapan itu menunjukkan arti penting Maimonides di dalam kajian filsafat Yahudi.

Sosok Hidup

Ia lahir pada 1135 dan meninggal pada 1204. Ia menulis The Mishneh Torah yang berisi tafsirannya tentang hukum Yahudi. Tulisan itu nantinya akan mengobarkan ‘revolusi’ di dalam pemahaman masyarakat Yahudi tentang hukum. Sampai sekarang karya tersebut dipandang sebagai kajian terbesar tentang pemikiran Yahudi. Di samping itu Maimonides juga menulis buku berjudul The Guide of the Perplexed. Sampai sekarang buku tersebut masih mempengaruhi gaya berpikir para filsuf Yahudi. Yang juga mengagumkan adalah kemampuan Maimonides untuk menulis secara sederhana argumen-argumen yang sebenarnya sangat rumit.

Tulisan-tulisan Maimonides juga banyak. Ia menulis sebuah komentar tentang hukum-hukum Yahudi yang terdapat di dalam Torah. Ia bahkan menulis tentang kedokteran. Ia pernah menjadi dokter di Mesir sekaligus menjadi tokoh di komunitas Yahudi di sana. Reputasinya tidak hanya terkenal di Mesir, tetapi juga membentang sampai ke daerah-daerah di luarnya. Banyak orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia datang untuk menimba ilmu dari Maimonides.

Kehidupan Maimonides sangatlah kaya dan beragam. Ia adalah sekaligus seorang ahli yang membaktikan dirinya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun pada saat yang sama, ia adalah seorang pemimpin politik di masyarakat Yahudi yang aktif terlibat di dalam urusan politik komunitasnya. Juga di satu sisi, ia adalah orang yang sangat memahami hukum dan tradisi Yahudi. Ia dianggap ahli tulisan-tulisan Rabinis yang sangat penting bagi tradisi Yahudi. Di sisi lain ia adalah seorang filsuf yang sangat menggemari metafisika Aristotelian dan tradisi Filsafat Islam.

Rupanya kehebatan Maimonides juga ternyata menjadi titik lemahnya. Kemampuannya untuk menguasai dua bidang sekaligus, hukum-tradisi Yahudi dan filsafat, rupanya mengundang banyak kritik dari komunitasnya. Bagi kaum tradisional Yahudi, kecintaan Maimonides pada filsafat Aristoteles adalah bukti bahwa pikirannya telah tersesat. Pertanyaan mereka adalah bagaimana mungkin orang mampu memahami tradisi dan hukum Yahudi secara mendalam, sekaligus juga mencintai refleksi-refleksi “sesat”, seperti yang terdapat di dalam filsafat Aristoteles?

Di sisi lain para filsuf Yahudi berpendapat, bahwa tradisi dan hukum adalah prioritas kedua, setelah pencarian kebenaran melalui filsafat. Kualitas kepribadian seseorang dapatlah diukur dari sejauh mana ia mampu dan mau mencari kebenaran di dalam filsafat. Di dalam tulisan-tulisannya, menurut Kreisel, Maimonides juga berpendapat serupa dengan para filsuf Yahudi tersebut. Di dalam sejarah dualisme Maimonides ini juga memberi pengaruh besar pada para pemikir Yahudi selanjutnya. Banyak kelompok pemikir yang menafsirkan ajaran Maimonides seturut dengan keinginannya sendiri yang juga berbeda secara kontras dengan tafsiran kelompok lainnya. Maka ada beragam karya filsafat yang berpijak pada filsafat Maimonides yang memiliki isi berbeda satu sama lain.[3]

Filsafat Politik dan Hukum

Ia juga banyak menulis tentang filsafat politik. Menurut Maimonides politik adalah tata masyarakat oleh satu individu yang memiliki keunggulan intelektual. Tujuan politik adalah untuk menata masyarakat guna menciptakan kesempurnaan. Politik adalah panggilan tertinggi manusia. Filsafat menyediakan pengetahuan tentang kebahagiaan sejati bagi setiap orang yang hidup dalam suatu negara. Filsafat juga menyediakan dasar moral yang memadai untuk mencapai kebahagiaan itu. Dalam bentuk konkret filsafat menyediakan perspektif tentang keadilan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin masyarakat.

Maimonides lebih jauh berpendapat, bahwa setiap hukum yang ada di masyarakat berasal dari hukum ilahi. Tujuan adanya hukum tersebut adalah untuk membantu manusia mencapai kebahagiaan, baik secara personal maupun secara sosial di dalam masyarakat dalam bentuk terciptanya masyarakat yang harmonis. Di dalam masyarakat yang harmonis, setiap orang bisa mewujudkan harapan dan bakat-bakatnya semaksimal mungkin. Hanya di dalam masyarakatlah manusia mampu mencapai kesempurnaan dirinya. Kesempurnaan itu hanya dapat dicapai, jika manusia hidup bermasyarakat, dan mematuhi hukum-hukum yang diberikan Tuhan kepada Musa.

Hukum-hukum Musa berisi larangan dan perintah. Jika masyarakat mematuhinya maka setiap warganya akan mampu mencapai kesempurnaan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Hukum-hukum Musa memang tidak detil, dan hanya berisi ringkasan yang harus ditafsirkan secara bijaksana oleh pembacanya.[4] Di dalam hukum-hukum itu terkandung perintah bagi setiap orang Yahudi untuk menekuni filsafat dan ilmu pengetahuan, karena di dalam keduanyalah pengetahuan yang sesungguhnya tentang Tuhan dapat diperoleh.

Maimonides juga banyak menulis dalam bentuk perumpamaan, terutama argumen yang menurutnya akan mengundang kontroversi dari banyak orang. Dalam konteks filsafat politik, ia pernah menulis, bahwa Tuhan akan marah pada mereka yang tidak patuh pada hukum. Tentu saja Tuhan tidak akan secara harafiah marah. Maimonides hanya ingin menekankan arti penting hukum dan tradisi Yahudi yang diturunkan oleh Musa bagi masyarakat Yahudi secara khusus, dan bagi dunia pada umumnya.

Hukum Musa bagi Maimonides adalah hukum yang abadi. Hukum tersebut tidak dapat digantikan. Namun perubahan di dalam sejarah manusia membutuhkan tafsiran segar atas hukum-hukum Musa tersebut, supaya tetap relevan. Oleh karena itu dibutuhkan otoritas hukum Yahudi yang memang bertugas untuk menafsirkan hukum-hukum Musa secara kontekstual. Musa adalah tokoh yang sangat penting bagi Maimonides. Ia adalah sosok raja filsuf yang pernah diharapkan oleh Plato untuk memimpin suatu masyarakat. Maka walaupun jaman berubah, hukum-hukum Musa tetap dapat relevan, walaupun harus selalu ditafsirkan secara kontekstual.[5]

Menurut Kreisel seluruh karya Maimonides ditujukan untuk memahami dan mengajarkan Talmud secara kontekstual. Di dalam proses memahami Talmud, ia sangat dipengaruhi oleh filsafat Plato, al-Fārābī, dan Aristoteles. Ketiga filsuf itu memberikan perangkat filosofis yang memadai bagi Maimonides untuk menafsirkan hukum-hukum Musa secara rasional, sehingga bisa diterima oleh akal budi para pendengarnya. Di dalam proses itu, pemahaman tentang Tuhan adalah sesuatu yang sangat esensial. Ia mengambil teori tentang penyebab pertama yang dirumuskan oleh Aristoteles. Penyebab pertama adalah pikiran murni yang memikirkan dirinya sendiri dan tidak memiliki entitas material.

Maimonides lalu menarik kesimpulan, bahwa penyebab pertama itu identik dengan Tuhan di dalam tradisi Yahudi. Dalam arti ini fungsi pengetahuan adalah untuk semakin memahami dan mencintai Tuhan. Pengetahuan tersebut bisa diperoleh, jika manusia mau menyentuh bidang metafisika dan fisika. Metafisika adalah ilmu tentang benda-benda yang melampaui dunia pengalaman manusia. Sementara fisika adalah ilmu tentang alam natural yang dapat diketahui oleh panca indera. Kedua ilmu tersebut penting, supaya manusia semakin memahami dan mencintai Tuhan.

Dalam konteks politik Maimonides banyak terinspirasi dari etika Aristoteles. Dengan kata lain ia ingin menerapkan etika Aristotelian bagi masyarakat Yahudi secara keseluruhan. Tugas setiap orang selain untuk memahami dan mencintai Tuhan adalah hidup seturut dengan ajaranNya. Tuhan adalah kebaikan. Kebaikan menarik manusia ke arahnya. Dengan mengarah pada Tuhan, hidup manusia akan mencapai kesempurnaan. “Dari perspektif ini”, demikian tulis Kreisel, “aturan Maimonides adalah puncak prestasinya, adaptasi praktis dari filsafat politik teoritis kepada hukum Yahudi.”[6]

Guide of The Perplexed

Menurut Kreisel karya Maimonides yang paling menggambarkan filsafatnya adalah Guide of the Perplexed. Di dalam buku ini, ia menggunakan argumen rasional untuk mengajak orang hidup sesuai dengan jalan yang ia tunjukkan, yakni jalan Abraham. Abraham menemukan Tuhan melalui akal budinya. Ia pun mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa. Buku Guide of the Perplexed ditujukan untuk mereka yang hendak mencari Tuhan dengan berpijak pada akal budinya. Bertentangan dengan pandangan banyak orang pada jamannya, akal budi dan iman tidak harus selalu dipisahkan. Kreisel bahkan berpendapat bahwa buku Guide menggambarkan kepribadian Maimonides yang sekaligus sangat mencintai pencarian rasional di dalam filsafat, dan memiliki iman yang kuat terhadap tradisi Yahudi.

Menurut Kreisel buku Guide of the Perplexed dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama berisi tentang konsep material dari Tuhan, yakni “tubuh” Tuhan. Bagi Maimonides konsep tersebut janganlah diartikan secara harafiah. Dalam arti ini ‘tubuh’ merupakan sesuatu yang sifatnya simbolik. Untuk menjelaskan hal itu, ia menempuh beberapa langkah filosofis, yakni menjelaskan atribut-atribut Tuhan, beragam nama Tuhan, esensi dari Tuhan, dan hubungan antara Tuhan dengan seluruh eksistensi realitas. Maimonides menegaskan bahwa Tuhan adalah entitas yang tidak memiliki materi, utuh, dan abadi. Hal ini didapatkannya dari para pemikir Islam. Di seluruh buku itu, ia mengkombinasikan ajaran Yahudi dengan pembuktian-pembuktian filosofis Aristotelian.[7]

Para filsuf Yahudi sekarang ini masih menjadikan tulisan Guide sebagai bahan kajian, terutama tentang konsep Tuhan, kehendak, kejahatan, kebebasan, determinisme, dan etika.[8] Tafsiran lama ditantang. Tafsiran baru dikembangkan. Metode baru untuk membaca dan memahami filsafat Maimonides dirumuskan terus menerus. Salah seorang ahli Maimonides adalah Abraham Nuriel. Ia berpendapat bahwa filsafat Maimonides mengandung ajaran mistik. Hal itu bisa diketahui secara utuh, jika orang mau melihat akar kata dari konsep-konsep yang digunakannya, terutama akar kata bahasa Arab.

Tujuan utama dari Guide adalah untuk melenyapkan keraguan kaum beriman untuk mempelajari filsafat secara mendalam. Namun seperti yang ditulis oleh Kreisel, tujuan tersebut sulit sekali terwujud, karena sulit sekali untuk memahami Guide yang memang memiliki tingkat abstraksi sangat tinggi. Salah satu gaya Maimonides adalah dengan mengajukan argumen-argumen yang berseberangan, lalu ia memberikan sintesis untuk melampaui pertentangan itu. Sintesis yang diajukannya terkait erat dengan ajaran Yahudi yang dipahami dan dijelaskannya dengan menggunakan akal budi.

Dengan tulisan-tulisannya Maimonides menegaskan berulang kali, bahwa Tuhan adalah entitas yang utuh dan tidak memiliki materi (tubuh). Argumen tersebut dibuktikannya dengan menggunakan jalan filsafat (rasionalitas) sekaligus teologi (dengan menggunakan tradisi Yahudi). Yang cukup pasti adalah ia sangat dipengaruhi oleh Aristoteles, terutama pemikirannya tentang penyebab pertama, atau penyebab yang tidak disebabkan. Argumen Aristoteles tersebut akan dikombinasikan dengan teologi Yahudi dan Islam, guna menjelaskan keberadaan Tuhan melalui filsafat.[9]

Hukum Yahudi dan Akal Budi

Menurut Maimonides setiap hukum di dalam tradisi Yahudi memiliki tujuan yang masuk akal. Tidak ada hukum yang tidak berguna. “Setiap tindakan yang dilakukan Tuhan”, demikian Kreisel tentang Maimonides, “bertujuan untuk sesuatu yang mulia…”[10] Tujuan dari hukum-hukum Tuhan di dalam tradisi Yahudi bukanlah untuk memuliakan diriNya, melainkan justru untuk kebaikan manusia. Ada dua tujuan dari hukum-hukum di dalam tradisi Yahudi. Yang pertama adalah mengajarkan manusia untuk mencapai kesempurnaan fisikal (physical perfection), terutama kesempurnaan di dalam hidup bersama. Dalam hal ini Maimonides mendapatkan inspirasi dari pandangan yang Aristoteles yang mengatakan, bahwa manusia adalah mahluk sosial. Manusia hanya dapat hidup, jika ia bekerja sama dan membentuk komunitas. Tujuan kedua adalah membantu manusia mencapai kesempurnaan intelektual. Ini adalah tujuan tertinggi dari keberadaan hukum-hukum Tuhan di dalam tradisi Yahudi. Jika untuk mencapai kesempurnaan fisik ditawarkan pelajaran mengenai hukum, maka untuk mencapai kesempurnaan intelektual, setiap orang diminta untuk memahami metafisika dan fisika.

Ada dua prinsip yang mendasari filsafat hukum Maimonides, yakni prinsip keheningan dan prinsip keberanian untuk mengutarakan kebenaran. Untuk beberapa hal keheningan adalah jalan yang paling bijak untuk menyingkapi masalah. Sementara pada hal-hal lainnya, orang perlu untuk mengutarakan kebenaran, walaupun kebenaran itu menyakitkan. Seluruh pandangan Maimonides tentang hukum dan akal budi, menurut Kreisel, berpijak pada keseimbangan di antara dua prinsip tersebut. Dengan hidup didasarkan pada keutamaan keheningan dan keberanian menyatakan kebenaran, orang bisa mencapai kesempurnaan intelektual, dan kesempurnaan itulah yang menjadi dekatnya seseorang dengan Tuhan.

Bangsa Yahudi pernah terlibat di dalam penyembahan berhala. Mereka mengingkari Tuhan yang satu, dan menyembah beragam dewa yang hidup di benda-benda. Sikap penyembahan berhala semacam itu, menurut Maimonides, merupakan halangan terbesar manusia untuk mendekati dan memahami Tuhan. Torah Yahudi memiliki bagian yang cukup panjang untuk melawan berbagai bentuk penyembahan berhala semacam itu. Penyembahan berhala akan menghalangi manusia untuk mencapai kesempurnaan intelektual. Hukum-hukum di dalam tradisi Yahudi membantu manusia untuk melepaskan diri dari penyembahan berhala, dan mencapai kesempurnaan diri, yakni kesempurnaan dalam kesatuannya dengan Tuhan.

Kesempurnaan Manusia

Maimonides menawarkan beberapa resep untuk mencapai kesempurnaan diri. Ia sangat menekankan pentingnya bagi orang untuk menjauhkan dirinya dari masyarakat, atau apa yang disebutnya sebagai isolasi sosial (social isolation). Ia juga menekankan pentingnya orang untuk melepaskan diri dari benda-benda inderawi ataupun material. Dengan mencapai kesempurnaan orang akan dapat semakin dekat dengan Tuhan. Persentuhan dengan materi membuat manusia jauh dari Tuhan. Oleh karena itu persentuhan dengan materi, dalam arti bekerja, hanya dilakukan seperlunya saja untuk membantu manusia memenuhi kebutuhannya.

Dalam hal ini Maimonides memiliki pandangan yang unik tentang konsep manusia dan konsep kerja. Baginya kedua hal itu tidak bisa dipisahkan. Untuk mencapai kesempurnaan setiap orang haruslah “memandang Tuhan sambil ia beraktivitas dengan tubuhnya.”[11] Artinya sambil ia bekerja dengan tubuh untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, ia tetap terhubung dengan Tuhan secara intelektual. Ini adalah cara berpikir seorang pemimpin. Para pemimpin menjaga terus keseimbangan dua bentuk identitas di dalam kehidupannya. Di satu sisi ia tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Dan di sisi lain, ia tetap terhubung dengan Tuhan melalui akal budinya, bahkan ketika tubuhnya bekerja.

Orang perlu mati secara fisik, sehingga jiwanya bisa bertemu dan menyentuh Tuhan. Hal ini hanya dapat dicapai, jika orang bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk melakukan kontemplasi intelektual. Kontemplasi semacam ini sebenarnya bukan hanya kegiatan akal budi semata, tetapi terlebih merupakan tindakan cinta yang penuh hasrat (passionate love). Maimonides menyebutnya sebagai “ciuman Tuhan” (God’s kiss). Orang yang mengalami kematian tubuh sebenarnya tidak mati dalam arti sebenarnya. Sebaliknya ia justru diselamatkan dari kematian, dan mengalami hidup yang sebenarnya. Ia akan mengalami kenikmatan dan kebahagiaan sejati, yang sangat berbeda dari kebahagiaan badaniah yang sifatnya sementara.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan, bahwa bagi Maimonides, kesempurnaan tertinggi manusia adalah kesempurnaan intelektual. Kesempurnaan ini tidak dapat diperoleh secara kolektif, melainkan hanya secara individual. Dengan kata lain hanya individulah yang bisa memperolehnya, berkat usahanya sendiri. Hukum-hukum di dalam tradisi Yahudi mengajarkan orang untuk mencapai kesempurnaan etis. Kesempurnaan etis ini bisa diperoleh, jika manusia hidup aktif dalam masyarakat. Namun kesempurnaan etis itu bukanlah tujuan, melainkan hanya alat untuk mencapai kesempurnaan intelektual. Tujuan hidup manusia menurut Maimonides, sebagaimana ditafsirkan oleh Kreisel, adalah untuk mengenali dan semakin serupa dengan Tuhan. Itu semua dapat terjadi, jika manusia menjalankan hukum-hukum Tuhan. Secara singkat Kreisel menjabarkan dua inti hukum Yahudi, yakni keadilan dan kebaikan hati.

Tujuan hidup manusia adalah mencapai kesempurnaan, dan kesempurnaan itu hanya dapat dicapai, jika manusia semakin menyerupai sifat-sifat Tuhan yang baik hati sekaligus adil. Kesempurnaan intelektual juga merupakan perwujudan dari Tuhan. Maka usaha manusia untuk mendekati Tuhan dan untuk mencapai kesempurnaan intelektual adalah dua hal yang saling terkait. Dapat pula disimpulkan bahwa manusia yang sempurna mampu memancarkan keadilan dan kebaikan hati Tuhan di dalam aktivitas kesehariannya menghadapi masalah-masalah dunia. Manusia yang sempurna mampu menjalankan kehidupan dunia yang imanen dengan keutamaan ilahi yang transenden.***


[1] Lihat, Daniel Frank, 1997, 195.

[2] Ibid.

[3] Lihat, ibid, 196.

[4] Lihat, ibid, 197.

[5] Lihat, ibid.

[6] Ibid.

[7] Lihat, ibid, 198.

[8] LIhat, ibid, 219.

[9] Lihat, ibid, 207.

[10] Ibid, 216.

[11] Ibid, 218.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s