Kota Orang Gila

Kota Orang Gila


Reza A.A Wattimena

Suara klakson kendaraan bermotor kini bagaikan paduan suara di Jakarta. Bedanya, suaranya tidaklah merdu.

Awalnya, klakson itu diciptakan untuk menginformasikan, bahwa saya akan mendahului anda di jalan dengan menggunakan kendaraan bermotor. Namun, fungsinya kini berubah. Klakson menjadi simbol agresivitas.

Daripada capek teriak memaki orang di jalan raya dengan kata-kata kotor, yang belum tentu juga terdengar, lebih baik saya menekan klakson sekeras dan sesering mungkin. Klakson adalah saluran kemarahan saya.

Terkadang menarik juga membuat penelitian untuk menjawab pertanyaan ini, siapakah sebenarnya yang hendak kita marahi, klaksonnya atau orang yang hendak kita klaksonkan, karena tampaknya yang kita pukul keras-keras adalah klakson di mobil ataupun motor kita?

Jika yang salah adalah pengendara lain, mengapa kita memukul klakson di mobil kita? Jangan-jangan, kita sudah menjadi orang gila. Perlahan tapi pasti, Jakarta sudah menjadi kota orang gila!

Manusia Berharga Murah

Jika anda jeli sedikit, anda tentunya menyadari, bahwa orang yang tinggal di Jakarta harganya murah. Orang bisa baku hantam sampai babak belur di jalan, hanya karena kendaraan mereka bersenggolan.

Manusia bisa dikorbankan untuk apapun, untuk efektivitas, ataupun untuk uang. Jika saya naik motor, pengendara lain menjadi tidak berarti buat saya. Jika mereka menantang, maka saya akan tantang balik, jika perlu bunuh-bunuhan! Itulah yang terjadi di Jakarta sehari-harinya.

Dalam kosa kata para teoritikus Marxis, manusia sudah dibendakan. Manusia dihilangkan status kemanusiaannya, dan diturunkan sampai ke level benda-benda mati.

Dalam pikiran saya, pengendara lain adalah benda mati. Kalau mereka menantang, saya hadapi. Kalo mereka menyulitkan, saya sikat habis.

Cara berpikir ini sederhana, yakni kita melihat orang sebagai barang. Akan tetapi, implikasi politisnya besar, mulai dari pemberian gaji karyawan, sampai sikap pemerintah terhadap warganya.

Jika manusia itu benda, yang tidak bisa merasa dan menderita, maka ia tidak perlu digaji besar-besar. Jika warga negara itu benda, maka ia tidak perlu dijamin kesejahteraannya.

Terkadang saya berpikir, pemerintah kita sebenarnya melihat kita lebih sebagai benda daripada sebagai warga. Benda yang diperlukan menjelang pemilu untuk didapatkan suaranya, dan ditelantarkan jika sudah habis dipakai.

Mungkin bukan Jakarta saja yang sudah menjadi kota orang gila, tetapi negara kita juga telah menjadi negara orang gila!

Kesenjangan sosial

Salah satu tanda sederhana kegilaan adalah impulsivitas. Wacana psikologi kontemporer sebenarnya banyak meneliti perihal impulsive buying, yakni sikap membeli barang-barang tanpa kontrol dan tanpa kebutuhan yang jelas.

Gejala ini sebenarnya juga dengan mudah ditemukan di Jakarta secara khusus, dan kota-kota besar di Indonesia secara umum. Setiap mobil mewah hasil pameran pasti laku terjual. Setiap film box office import dari luar negeri pasti tiketnya laku keras.

Mall berjejer dimana-mana. Pakaian rancangan designer yang harganya jutaan rupiah pun masih bisa terjual habis.

Ironisnya, keadaan tersebut berbarengan dengan meningkatnya jumlah pengemis yang berkeliaran di jalan-jalan besar Kota Jakarta. Mereka masih sibuk bergulat sehari-hari untuk mencari sesuap nasi.

Kesenjangan itu membuat pusing orang-orang yang melihatnya. Jaguar dan Mercedes seri terbaru berkeliaran berdampingan dengan para pengemis yang mengais-ngais rejeki sisa dari orang-orang berada.

Orang bisa gila hidup dan menyaksikan semua itu. Jika orang tenang-tenang saja melihat semua fenomena kesenjangan sosial ini, mungkin dia lebih gila daripada orang gila!

Kemiskinan Moril

Selain berakar pada kemiskinan material yang sudah begitu jelas di depan mata, kesenjangan sosial sebenarnya lebih berakar pada kemiskinan moral yang terjadi di bangsa kita. Kemiskinan moral yang terwujud dalam hampir tidak adanya solidaritas yang ditunjukkan sebagai sesama warga negara.

Mereka yang berpunya acuh tak acuh dengan mereka yang tidak berpunya. Tidak hanya tidak peduli, mereka bahkan saling menaruh ketidakpercayaan satu sama lain.

Mereka yang kaya takut hartanya dirampok oleh orang-orang miskin. Sementara, orang-orang miskin yakin, bahwa orang-orang kaya mendapatkan hartanya dengan cara yang tidak jujur.

Dalam situasi semacam itu, konsep negara dan konsep masyarakat tidak memiliki acuan empiris. Konsep-konsep tersebut kosong. Jangan-jangan, “Indonesia” dan “Jakarta” tinggal nama belaka, yang semangatnya tidak lagi dihidupi di dalam hati sanubari warganya.

Pada titik ini muncul paradoks, kita hidup bersama tetapi kita sendirian. Tepat itulah yang terjadi di Jakarta sekarang ini. Kota dengan jutaan penduduk, tetapi memiliki kasus bunuh diri akibat kesepian yang paling besar di Indonesia.

Kesepian yang begitu mencekik, sehingga begitu kuatnya mendorong orang untuk mengakhiri hidupnya. Jadi jika anda datang ke Jakarta, saya hanya bisa berkata: Selamat datang di Kota orang gila!

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s