Filsafat Fragmentaris, sebuah Kritik

Filsafat Fragmentaris atau
Fragmen-fragmen Filsafat?
Kritik Terhadap Filsafat Fragmentaris

Dunia filsafat memang ‘dunia pertanyaan’. Bahkan, sampai sekarang, definisi atas filsafat itu sendiri pun pun masih juga menjadi pertanyaan yang belum, dan tak akan pernah, selesai dijawab.

Buku Dr. F. Budi Hardiman yang berjudul Filsafat Fragmentaris ini dapat ditempatkan sebagai salah satu upaya untuk menjawab pertanyaan mendasar yang masih menghantui para filsuf tersebut, yakni apa sesungguhnya yang dimaksud dengan filsafat, dan mengapa artinya menjadi seperti itu.

“Menurut pengertian yang terkandung di dalamnya”, demikian tulis Budi Hardiman, “filsafat (philosophia) adalah cinta (philia) kebijaksanaan (sophia).” (hal. 13) Dan orang yang berfilsafat, atau filsuf, adalah orang yang mencintai kebijaksanaan, yakni orang yang belum memiliki kebijaksanaan, tetapi orang yang sedang berupaya mencari kebijaksanaan.

Artinya, filsafat adalah sebuah proses pencarian yang tidak pernah berakhir, yakni suatu fragmen yang pada dirinya sendiri tidak, dan tidak akan pernah, utuh. “Tugas filsafat’, demikian tulisnya lagi, “adalah menemukan hakekat segala sesuatu, namun apa yang disebut hakekat itu tidak pernah dapat dideskripsikan sebagaimana adanya.” (hal. 14)

Itulah argumen inti yang ingin ditawarkan Budi Hardiman melalui buku ini. Dengan penjabaran yang lugas, tajam, dan otoritatif, ia menjabarkan argumennya tersebut pada bagian pendahuluan.

Akan tetapi, apakah judul tersebut tepat untuk buku yang pada hakekatnya merupakan kumpulan tulisan pengarang yang pernah dimuat di berbagai media tersebut? Marilah kita uji argumen tersebut dihadapan ‘pengadilan akal budi’ yang bebas dan terbuka.

Fragmen-fragmen Filsafat?

Seperti dikatakan sebelumnya, buku Filsafat Fragmentaris adalah sebuah kumpulan tulisan pengarang yang pernah dipublikasikan di berbagai media (hal. 221-222). Budi Hardiman menulis berbagai tema, mulai dari tentang fenomenologi persepsi Maurice Merleau Ponty (hal. 35), pemikiran Hegel dan Kant tentang kesadaran (hal. 67), teori Estetika Walter Benjamin dan Adorno (hal.88), pemikiran Habermas tentang Demokrasi Deliberatif (hal 115), filsafat politik Carl Schmitt, filsafat politik Jacques Derrida, dan filsafat hukum.

Tentu saja, dengan gaya penulisan yang tajam, kuat, dan unik yang dimiliki Budi Hardiman, tema-tema penting di dalam filsafat tersebut digali, diolah, direfleksikan, dan dipaparkan dengan sangat baik dengan acuan pada teks-teks asli yang mungkin tidak perlu diragukan lagi kredibilitasnya. Penulis buku ini memang sangat ahli tentang tradisi filsafat Jerman, terbukti dari teks-teks asli filsuf tersebut yang digunakan sebagai acuan.

Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah, apakah dari kumpulan tulisan filsafat semacam itu, kita bisa merumuskan suatu argumen bahwa filsafat itu pada hakekatnya bersifat fragmentaris, seperti yang dilakukan oleh Budi Hardiman, pengarang buku ini? Memang, jika dipikirkan dalam-dalam, hakekat filsafat adalah fragmentaris, dan tepat itulah yang membedakan filsafat dari ideologi dan agama yang memiliki klaim absolut atas pernyataan-pernyataannya. Itulah argumen yang juga ditawarkan oleh Budi Hardiman.

Akan tetapi, argumen terakhir ini tidak akan pernah bisa didapatkan dari sebuah kumpulan tulisan filsafat yang kemudian didaur ulang menjadi sebuah buku. Pada hemat saya, tesis bahwa filsafat pada hakekatnya bersifat fragmentaris haruslah dijabarkan lebih jauh dengan mengolahnya dari bab per bab dengan mendetil, barulah kesimpulan atau argumen utama buku ini memperoleh keabsahannya, dan bukan dengan kumpulan tulisan-tulisan filsafat yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya.

Alasan inilah yang mendorong saya untuk berargumen, bahwa judul yang tepat untuk buku ini bukanlah Filsafat Fragmentaris, seperti yang diberikan oleh pengarang, melainkan Fragmen-fragmen Filsafat, yakni potongan-potongan refleksi filsafat yang menjangkau berbagai tema dan kemudian disatukan dalam satu buku. Rupanya, ketika berdiskusi di Teater Utan Kayu April 2007 lalu, Rm Sudarminta, kolega pengarang buku ini di STF Driyarkara, memiliki argumen yang serupa dengan saya, sehingga beliau menanyakan itu, ketika diskusi sedang berjalan.

Mengapa lebih tepat disebut sebagai fragmen-fragmen filsafat? Yah, fragmen itu sendiri adalah suatu potongan, suatu pecahan, dan tulisan di dalam buku ini sebenarnya merupakan potongan-potongan penting di dalam sejarah filsafat yang memang layak untuk disimak dan direfleksikan lebih jauh.

Akan tetapi, tesis bahwa filsafat itu pada hakekatnya bersifat fragmentaris adalah tesis yang, pada hemat saya, terburu-buru untuk dirumuskan, dan terkesan agak dipaksakan untuk buku ini. Jika dibahasakan secara ketat, dari potongan-potongan refleksi di dalam bidang filsafat, kita tidak akan pernah bisa mengambil kesimpulan yang bersifat ontologis, atau mendasar, tentang hakekat filsafat itu sendiri.

Suatu ‘Eksperimen’ Berpikif Filosofis


Saya sendiri berpendapat bahwa buku ini lebih tepat disebut sebagai sebuah ‘eksperimen’ di dalam berpikir filosofis, terutama karena memang yang disajikan di dalam buku ini adalah potongan dari ekperimen berpikir Budi Hardiman tentang berbagai tema yang penting dan menarik di dalam sejarah filsafat barat.

Lepas dari argumen yang saya ajukan ini, buku Filsafat Fragmentaris tetaplah layak disambut oleh para peminat filsafat dan siapapun yang tertantang untuk berpikir orisinil-filosofis tentang tema-tema yang dekat dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Buku untuk siapapun yang berani berpikir orisinil….

Reza Antonius Alexander Wattimena

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

One thought on “Filsafat Fragmentaris, sebuah Kritik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s