Hantu itu Bernama Primordialisme…

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Kurang lebih dua ratus tahun yang lalu, Karl Marx pernah menulis, “Ada hantu yang bergentayangan di Eropa…. Hantu komunisme.” Di jaman kita, kalimat ini harus dirumuskan ulang. Ada hantu yang bergentayangan di dunia… hantu itu bernama primordialisme.

Primordialisme adalah paham yang menekankan ikatan-ikatan primordial sebagai dasar utama bagi hubungan antar manusia. Ikatan-ikatan primordial tersebut adalah suku, ras, ikatan keluarga dan agama. Kedekatan primordial menjadi unsur utama dari hubungan pertemanan, percintaan sampai dengan hubungan bisnis. Tanpa dasar primordial semacam ini, hubungan manusia menjadi amat sulit, bahkan tidak mungkin. Lanjutkan membaca Hantu itu Bernama Primordialisme…

Racun-Racun Pendidikan Kita

Void Mirror

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Pendidikan merupakan urusan bersama. Ia bukanlah hanya urusan para ahli ataupun praktisi pendidikan. Masyarakat sebagai keseluruhan, sebenarnya, merupakan sebuah institusi pendidikan. Pendidikan terjadi setiap saat di dalam kehidupan bersama, melampaui sekat-sekat ruang kelas.

Pendidikan tertinggi datang dari keteladanan hidup. Rumusan moral maupun ilmu pengetahuan akan menjadi percuma, tanpa keteladanan hidup yang nyata. Ketika keteladanan meredup, maka kemunafikan akan bertumbuh. Buih moral nan suci akan dibarengi dengan hasrat akan uang, kuasa dan kenikmatan seksual yang tak terbendung. Lanjutkan membaca Racun-Racun Pendidikan Kita

Gedankenlosigkeit

                                                                    Pinterest

atau tentang Ketidakberpikiran

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Gedankenlosigkeit… Jangan khawatir, karena istilah ini bukanlah sebuah mantra sihir. Ia tidak memiliki kekuatan gaib untuk menyihir orang, seperti misalnya di film Harry Potter. Ini merupakan kata yang lahir dari rahim filsafat Jerman, terutama dari pemikiran Hannah Arendt dan Martin Heidegger. Artinya sederhana, yakni ketidakberpikiran, atau sebuah keadaan, dimana orang tidak lagi menggunakan pikirannya, sehingga ia hidup hanya mengikuti apa yang ada, tanpa tanya.

Gedankenlosigkeit dialami oleh seseorang, ketika ia tidak lagi berpikir kritis. Ia gampang sekali percaya pada apa yang dikatakan orang, tanpa kecurigaan apapun. Ia gampang disetir, sehingga gampang sekali dipergunakan oleh orang lain untuk tujuan-tujuan yang tidak baik. Ia bagaikan robot yang diprogram untuk patuh buta pada tuannya. Lanjutkan membaca Gedankenlosigkeit

Di Hadapan Ketidakadilan

pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Di satu sisi, ada orang yang hidupnya baik, namun terjebak dalam kemiskinan. Beragam usahanya selalu gagal. Ia bekerja dengan jujur dan rajin. Sayangnya, bencana selalu menimpanya, sehingga ia kembali terjebak ke dalam lubang kemiskinan.

Di sisi lain, ada orang yang rakus dan licik. Ia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan, bahkan dengan merugikan teman dan kerabatnya. Ironisnya, ia justru menjadi orang yang kaya dan berpengaruh di lingkungannya. Keberuntungan tampak selalu datang di pangkuannya. Lanjutkan membaca Di Hadapan Ketidakadilan

Mengembalikan “Manusia” ke dalam Ilmu-ilmu Manusia

dev.null.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Sejujurnya, tidak ada satu pun orang yang memahami seluruh pendekatan metodik di dalam  ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu politik, pendidikan, sosiologi, ekonomi, manajemen, antropologi, hubungan internasional, psikologi, sejarah dan beragam cabangnya, hendak memahami manusia di dalam konteks sosialnya. Ia merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar, yakni ilmu-ilmu manusia, atau humaniora. Kesemuanya itu sudah mengembangkan beragam metode yang rumit, canggih dan sangat terspesialisasi.

Di era komputer seperti sekarang, beragam angka dan algoritma digunakan tidak hanya untuk memahami perilaku manusia, tetapi juga untuk meramalkannya. Tentu saja, kepastian adalah sesuatu yang selalu lolos dari genggaman. Namun, berkat kecanggihan dan kerumitan metode penelitian yang telah dikembangkan, orang bahkan berani memastikan temuan dari penelitiannya. Statistik dan algoritma seolah menjadi rumus pasti di dalam memahami manusia dengan segala dimensinya. Lanjutkan membaca Mengembalikan “Manusia” ke dalam Ilmu-ilmu Manusia

Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?

Huffington Post

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Sejarah manusia memang tidak selalu bergerak maju. Yang kerap kali terjadi, tiga langkah maju ke depan diikuti dengan dua langkah mundur ke belakang. Inilah yang kiranya seringkali dialami oleh bangsa Indonesia. Pemahaman sejarah tak selalu berkembang ke arah kedewasaan, tetapi juga kerap mundur ke arah pembodohan.

Kesalahpahaman tentang apa yang terjadi pada 30 September 1965 dan tahun-tahun berikutnya masih saja tersebar. Fitnah dan kebohongan masih menjadi senjata utama untuk memecah belah dan memperbodoh rakyat luas. Tak heran, ketika banyak bangsa sudah mulai bergerak ke arah eksplorasi ruang angkasa, kita masih saja ribut soal isu komunis yang sudah ketinggalan jaman. Nalar sehat seolah menjadi barang langka di Indonesia. Lanjutkan membaca Nalar Sehat, Dimanakah Dirimu?