Dunia dalam Gelembung

http://2.bp.blogspot.com
http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena,

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya,

Kita hidup di dunia dalam gelembung. Kita menggelembungkan segala yang ada, sehingga hampir semuanya kehilangan akar realitasnya, dan tampak berlebihan. Pada akhirnya, kita pun kehilangan pegangan pada realitas yang sesungguhnya, dan hidup dalam kebohongan.

Realitas yang Sesungguhnya?

Para pemikir sosial kritis tentu akan bertanya, apakah mungkin, kita mengetahui “realitas yang sebenarnya?” Bagi mereka, setiap pengamatan dan setiap pendapat selalu berbalut satu teori dan sudut pandang tertentu, sehingga tak pernah bisa sungguh mutlak, dan tak pernah bisa sungguh menangkap, apa yang “sesungguhnya terjadi”.

Jacques Derrida, filsuf asal Prancis, bahkan berpendapat, bahwa apa yang dapat kita ketahui hanyalah jejak dari relitas, dan bukan realitas itu sendiri. (Derrida, 1989) Maka dari itu, kepastian pengetahuan pun hanya ilusi. Orang yang merasa pasti, bahwa ia mengetahui sesuatu, berarti ia hidup dalam ilusi, karena ia tidak bisa membedakan antara jejak dari realitas, dan realitas itu sendiri.

Argumen ini memang masuk akal, dan memiliki kebenarannya sendiri. Akan tetapi, pada hemat saya, kita dapat mengetahui realitas yang sebenarnya, walaupun pengetahuan itu tidaklah mutlak, karena realitas itu berubah, maka pengetahuan manusia pun juga harus berubah.   Lanjutkan membaca Dunia dalam Gelembung

Mittelstand: Belajar Filsafat Bisnis dari Jerman

http://www.mittelstand-optimierung.de
http://www.mittelstand-optimierung.de

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn Jerman

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, para praktisi bisnis dan ekonomi AS dan Inggris menertawai strategi ekonomi Jerman. Bagi mereka, kebijakan ekonomi perusahaan-perusahaan Jerman, yang menolak untuk melakukan investasi finansial di bursa-bursa saham untuk meraup keuntungan secara cepat, dan masih giat memproduksi berbagai bentuk barang, amatlah kuno dan konservatif. Sepuluh tahun berlalu, dan dunia dihantam krisis yang diakibatkan para pemain pasar finansial yang bertindak semaunya. Sekarang, siapa menertawakan siapa? (Campbell, 2012)

Ketika Eropa diguncang oleh krisis hutang yang mengancam sebagian negaranya, ekonomi Jerman malah mengalami surplus. Ekspor meningkat, dan angka pengangguran menyentuh titik terendah selama 20 tahun terakhir. Kita bisa mengajukan pertanyaan kecil, apa kuncinya? Apa rahasia keberhasilan ekonomi Jerman di awal abad ke 21 ini?

Rahasianya adalah Mittelstand. Secara harafiah, kata ini bisa diterjemahkan sebagai “kelas menengah”, atau bisnis kelas menengah. Namun, maknanya lebih dalam dan lebih luas daripada itu, yakni suatu etos kerja, dan suatu paham filosofis tentang bagaimana kita harus hidup. Secara sederhana, ada beberapa inti dari Mittelstand, yakni etos kerja radikal, spesialisasi, familiaritas, kejujuran, konservatisme keuangan, investasi pada manusia, dan pemerintah yang kompeten. Lanjutkan membaca Mittelstand: Belajar Filsafat Bisnis dari Jerman

Sesudah Revolusi, Sebuah Refleksi

Dutch Fishing Boats, Verso: Sketches of BoatsJohan Barthold Jongkind (Dutch, 1819–1891)
Dutch Fishing Boats, Verso: Sketches of Boats
Johan Barthold Jongkind (Dutch, 1819–1891)

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

Dunia tersentak oleh revolusi yang nyaris tanpa darah di Mesir 2011 lalu. Sosok pimpinan yang telah memimpin begitu lama dengan teror dan senjata rontok oleh desakan ratusan ribu orang yang menggedor pintu politisnya. Setahun setelah peristiwa itu, suasana berubah.

Revolusi belum selesai, karena presiden terpilih (dengan dukungan kelompok Muslim Brotherhood) membuat kebijakan yang seolah mengangkat dirinya sendiri sebagai diktator baru, mengancam keberadaan kelompok minoritas, maupun cita-cita revolusi sebelumnya. Revolusi harus dilanjutkan, mungkin kali ini dengan pertumpahan darah. Musim Semi di Arab seolah berganti muka menjadi Musim Dingin di Arab (Der Spiegel, Dezember 2012)

Hampir dua tahun, Suriah dicabik oleh perang saudara. Kelompok pemberontak berperang melawan pemerintah untuk menguasai negeri itu. Berbagai skenario bertebaran, siapa yang mendukung siapa, atau siapa menolak siapa. Namun, satu pertanyaan menggantung, apa yang terjadi, setelah perang usai? Apakah keadaan akan lebih baik, atau sebaliknya, bagaikan keluar dari mulut singa masuk ke mulut harimau, justru terperosok lebih dalam ke dalam penderitaan? Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan ini.

Revolusi dan Perang Saudara

Revolusi adalah suatu perubahan politis yang relatif cepat, yang biasanya diikuti dengan gerakan massa yang besar, serta gencetan senjata yang memakan korban jiwa. Indonesia, dan ratusan negara lainnya, telah mengalaminya. Dua tahun belakangan ini, badai revolusi bergerak dari Afrika Utara, dan kini sedang menyerang Timur Tengah. Apa yang terjadi setelah revolusi? Tak ada yang tahu.

Jarang sekali, kita menemukan revolusi yang berjalan damai. Seperti situasi Mesir, revolusi yang berjalan damai, mungkin saja, berarti, bahwa revolusi belum selesai, dan harus terus dilanjutkan. Bagaikan saudara kembar yang senantiasa bergandengan tangan, revolusi dan perang saudara yang mencabik banyak korban jiwa selalu ada berbarengan. Apakah ini hukum sejarah? Mungkin.

Dengan adanya revolusi, orang mengharapkan perubahan politis ke arah yang lebih baik, yakni terciptanya tata politik yang memungkinkan orang untuk hidup secara damai, adil, dan sejahtera. Namun, harapan luhur ini bisa tak terwujud, ketika orang tak mempersiapkan, apa yang mesti dilakukan, setelah revolusi usai. Pertanyaan apa yang harus segera dilakukan setelah revolusi, pada hemat saya, tak kalah pentingnya dengan pertanyaan, bagaimana melakukan revolusi secepat mungkin, dan tanpa darah. Lanjutkan membaca Sesudah Revolusi, Sebuah Refleksi

Negara Kesejahteraan: Pencuri atau Penyelamat? Belajar dari Jerman

photo_28580_carousel
http://chronicle.com

Oleh Reza A.A Wattimena, Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

Peter Sloterdijk, salah seorang filsuf Jerman yang sampai sekarang masih hidup dan aktif berkarya sebagai Professor für Philosophie und Ästhetik di Hochschule für Gestaltung di Karlsruhe, Jerman, menulis sebuah artikel yang menggemparkan publik Jerman pada 31 Juni 2009 lalu. Artikel itu berjudul Die Revolution der gebenden Hand, atau dapat diterjemahkan sebagai Revolusi dari tangan yang memberi, dan diterbitkan di Frankfurter Allgemeine, salah satu koran nasional di Jerman yang paling banyak dibaca.

Di dalam artikel itu, ia mengritik keras kebijakan negara kesejahteraan (Sozialstaat) yang sampai sekarang masih dipegang erat oleh negara-negara Eropa Barat, termasuk Jerman dan negara-negara Skandinavia, seperti Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Denmark. Dalam arti ini, kita dapat memahami Negara Kesejahteraan sebagai suatu tata kelola pemerintahan, dimana pemerintah memainkan peranan yang amat besar untuk melindungi dan mengembangkan kehidupan sosial maupun ekonomi warganya. Lanjutkan membaca Negara Kesejahteraan: Pencuri atau Penyelamat? Belajar dari Jerman

Reputasi dan Kekuasaan

Image
The Accommodations of Desire, 1929, Salvador Dalí (Spanish, 1904–1989)

Oleh Reza A.A Wattimena, Dosen Filsafat Politik di Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

         Tiba di Jerman, saya berjumpa dengan orang-orang yang berasal dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Afrika, Asia, Eropa, sampai dengan Amerika Latin. Ketika memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia, dengan nada bercanda, mayoritas mereka akan menanggapi saya dengan satu dari tiga hal berikut, entah negara teroris, negara tsunami, dan, tentu saja, Bali, yang memiliki pantai indah. Dalam hati, saya bertanya, mengapa?  

         Di lain kesempatan, saya berkumpul dengan orang-orang Indonesia yang tinggal di Jerman. Rasa kangen akan masakan Indonesia pun terpuaskan, karena mereka, orang-orang Indonesia di perantauan, senang sekali berkumpul, dan memasak makanan Indonesia. Ketika ditanya sedang belajar apa, mereka kaget, bahwa saya belajar filsafat. Di kepala mayoritas orang di Indonesia, orang belajar di Jerman berarti belajar teknik. Kembali saya bertanya, mengapa?  

         Saya rasa, ini yang disebut sebagai reputasi, yakni konsep atau simbol yang dianggap mewakili wujud realitas aslinya. Reputasi seseorang, atau suatu negara, adalah sekumpulan konsep yang dianggap mampu mewakili realitas aslinya, yakni orang, atau negara, itu sendiri. Pertanyaan saya adalah, sejauh mana reputasi itu mencerminkan realitas sesungguhnya? Apakah reputasi itu suatu konsep yang netral dan obyektif, atau justru berisi sesuatu yang lain, yang mempengaruhi apa isi dari reputasi itu sendiri, dan bagaimana reputasi tersebut terkait dengan kenyataan? Lanjutkan membaca Reputasi dan Kekuasaan