Mencintai?

Mencintai?

“…Ajarlah aku untuk mencintai lebih daripada aku dicintai…”

Fransiskus dari Asisi

Banyak orang tidak menyadari bahwa pandangan yang paling umum, yang paling populer, tentang cinta selalu melibatkan unsur “menerima” sesuatu. “Saya menyukai coklat” berarti “saya menikmati pengalaman, ketika sedang mencecap rasa coklat di dalam mulut saya”. Dengan pola yang sama, ketika kita mengucapkan “aku cinta padamu”, hal ini dapat saja berarti “saya menikmati berhubungan seksual dengan kamu”, atau “saya menikmati keyakinan bahwa kamu akan memberikan saya kenyamanan dan perlindungan”. Lacan, di dalam berbagai tulisannya, melihat gejala ini sebagai suatu bentuk polymorphus perversion, atau “keanehan yang beragam”.Hey, jangan jengah dulu dengan kata-kata yang bersifat konseptual dan terkesan intelek. Kita selalu sudah mengetahui apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan „keanehan“. Sedangkan, Polymorphus berarti „memiliki banyak bentuk“. Jadi, ini semua sebenarnya mau mengatakan, bahwa kita seringkali mencari cinta di tempat yang salah. Kita mencari kenikmatan dan kepuasan di dalam berhubungan seks, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menemukan apa yang sebenarnya kita cari. Apa yang sebenarnya kita cari adalah suatu pengalaman yang seringkali tidak dapat dialami sepenuhnya di dalam hidup, yakni perasaan aman, perasaan diakui dan diterima, serta perasaan bahwa saya adalah bagian dari sesuatu. Bayi mengalami perasaan ini, ketika ia mendapatkan perlindungan dari orang tuanya. Akan tetapi, perasaan ini semakin tercabik, karena kegagalan orang tua memberikan cinta kepada anaknya. Perasaan ini akan lenyap, ketika orang menjadi lebih tua dan independen, di mana seringkali perasaan terisolasi muncul.  Beberapa orang seringkali berganti-ganti pasangan, entah kekasih ataupun dalam ikatan pernikahan, untuk mendapatkan perasaan itu. Ia melompat dari satu batu ke batu yang lain, seperti ketika sedang berjalan melewati sungai. Selama mereka berhasil melompat dengan baik, maka mereka akan merasa bahagia. Akan tetapi, ketika hubungan mulai tidak berjalan seperti apa yang mereka inginkan, yakni ketika mereka terpleset dari batu dan jatuh ke air, mereka segera membutuhkan lompatan baru, yakni mencari pasangan baru segera setelah berpisah dengan yang lama. Cepat atau lambat, batu-batu sebagai tempat pijak lompatan itu akan kehilangan kekuatannya, dan akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam kesengsaraan.Lacan sendiri mengatakan bahwa walaupun cinta yang seringkali kita kejar sebenarnya adalah sesuatu yang tidak ada, tetapi tetap ada jenih cinta lainnya yang lebih tinggi dari cinta sebelumnya, yakni cinta yang melampaui batas dan melibatkan kebahagiaan jiwa seutuhnya, dan bukan kebahagiaan badan. Ironinya adalah, kita seringkali merasa tahu apa yang kita inginkan, yakni cinta. Akan tetapi, sebenarnya yang kita inginkan hanyalah ilusi. Kita mencari cinta di tempat yang salah. Cinta yang sebenarnya, dari sudut pandang Lacan, adalah sesuatu yang mistik, yang menyentuh keutuhan jiwa. Lacan kemudian membedakan antara “cinta yang biasa”, dan “cinta sejati”. Perbedaan kedua jenis cinta ini sama juga seperti perbedaan antara menerima dan memberi. Disini, arti memberi tidak hanya mengacu pada memberi benda-benda material ataupun kekayaan tertentu. Disini, arti memberi adalah suatu ekspresi kualitas-kualitas emosional yang positif, seperti kesabaran, ketulusan, pengertian, dan pengampunan. Dari sini, kita akan melihat bahwa tindak mencintai orang-orang yang mencintai kita sebenarnya adalah sesuatu yang sangat mudah. Akan tetapi, apakah kita siap mencintai orang-orang yang mengganggu kita, membenci kita, menghalangi kita? Dapatkah kita mencintai musuh kita? Tindak mencintai orang yang tidak mencintai kita adalah suatu ujian bagi arti cinta sesungguhnya. Banyak dari kita mengklaim, bahwa kita telah berupaya untuk mencintai orang lain, dan tidak bersikap egois. Diam-diam, kita sebenarnya memiliki keinginan psikologis untuk tidak mau diabaikan. Oleh karena itu, kita mulai memberikan perhatian, supaya kita juga diperhatikan. Kita mulai mencintai, supaya kita dicintai. Jadi, apa yang kita sebut sebagai tindak mencintai sebenarnya adalah suatu tindakan “penyogokan”!Banyak orang tua di Jakarta yang memberi uang saku berlebihan kepada anaknya, supaya anaknya mencintai dia, dan patuh padanya. Kebahagiaan pun diidentikkan semata-mata dengan memberikan uang. Anak, tidak menyadari apa yang telah terjadi padanya, pun menganggap tindak memberikan uang saku berlebihan dari orang tuanya adalah suatu bentuk cinta. Kekerasan terhadap anak juga diam-diam seringkali dianggap sebagai tanda cinta. Orang tua menganggap anak itu tidak memiliki fondasi moral dan intelektual yang kuat, maka mereka mulai “mendidiknya”. Orang tua merasa telah mendidik, padahal si anak telah mengalami luka emosional di dalam dirinya akibat sikap itu. Dengan demikian, orang yang ingin memiliki cinta secara berlebih justru adalah orang yang paling memiliki kemungkinan untuk menipu. Sementara, orang-orang yang secara praktis tidak menginginkan apapun, dan siap memberikan semuanya, justru adalah orang yang dapat mencintai secara sempurna. Cinta semacam ini bukanlah ilusi.  

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Mencintai?”

  1. Mengapa saya melihat banyak di sekitar saya, wanita banyak memilih para cowok yang sering menyakiti mereka, yang egois dan sebagainya dengan alasan cinta, bahkan ada yang sampai menikah, sedangkan para cowok yang tulus mencintai dengan pengorbananya tidak dianggap sama sekali, bagaimana melihat dan menanggapi kenyataan dilapangan yang berbeda?

    Suka

  2. Ada dua kemungkinan. Pertama, perempuan memang mayoritas masokis. Mereka menikmati untuk disakiti. Mereka rindu untuk dikuasai. Dua, kita tidak yang tidak mampu menangkap pemahaman tentang cinta yang irasional, yang diberikan oleh para perempuan untuk laki2 yang menyakiti mereka. Cinta semacam itu irasional, di luar pemahaman nalar kita.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s