Bekerja dengan Hati

Oleh Satryo Soemantri Brodjonegoro

Beberapa hari lalu dunia kehilangan Steve Jobs, seorang visionaris Apple Group yang melegenda karena visi hidupnya yang menakjubkan. Dalam beberapa hari ini pun dunia dicerahkan tampilnya sejumlah pemenang Hadiah Nobel di sejumlah bidang, seperti kimia, fisika, kedokteran, dan sastra.

Jika kita cermati riwayat hidup para pemenang Hadiah Nobel tersebut ternyata mengandung satu kesamaan yang hakiki, yaitu mereka semua bekerja dengan hati. Mereka sangat mencintai pekerjaannya.

Baru-baru ini penulis berkunjung ke Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda (KNAW) dalam rangka kerja sama ilmiah Indonesia-Belanda. Kesan yang diperoleh selama di KNAW, para ilmuwan di sana sangat mencintai pekerjaannya dan tekun mengembangkan ilmu pengetahuannya. Tidaklah mengherankan apabila Belanda mampu menghasilkan 20 pemenang Hadiah Nobel selama ini.

Ketekunan dan kecintaan pada pekerjaan juga ditunjukkan oleh para ilmuwan Jepang. Meskipun terkendala kemampuan bahasa Inggris, beberapa ilmuwan Jepang berhasil meraih Hadiah Nobel dalam bidang fisika, kimia, dan kedokteran.

Cinta pekerjaan

Kecintaan akan pekerjaan membuat seseorang tidak pernah berhenti bekerja meskipun terhadang oleh berbagai kendala. Beberapa pemenang Hadiah Nobel ada yang mengalami penyakit yang tidak ringan, bahkan ada yang sudah lumpuh, tetapi tekun berkarya.

Kendala fisik maupun penyakit tidak mengurangi peran mereka untuk terus berkarya. Tidak semata-mata untuk meraih hasil dan penghasilan, tetapi karena kecintaannya kepada pekerjaan karena bekerja adalah bagian dari kehidupan mereka. Hati mereka telah menyatu dengan pekerjaan sehingga mereka semua dapat bekerja dengan hati.

Salah satu falsafah hidup Steve Jobs adalah bahwa seseorang bekerja karena mencintai pekerjaannya. Karena kita mencintai pekerjaan kita, akan terjadi efek berganda yang signifikan. Artinya terjadi pengayaan, baik bagi pekerjanya maupun pekerjaannya.

Hal ini yang kemudian menjadi keunggulan (competitive advantage) dan keunikan (comparative advantage) bagi individu maupun kelompok yang selalu mencintai pekerjaannya. Apple Computer menjadi sangat canggih dan mendunia karena kegigihan Steve Jobs mengembangkan terus teknologinya, bukan karena terpaksa untuk tetap survive bersaing dengan komputer lain, melainkan karena kecintaan pada pekerjaannya, yaitu berinovasi. Dengan demikian, Apple Computer punya keunggulan maupun keunikan, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Falsafah hidup yang sama juga dimiliki oleh para pemenang Hadiah Nobel, di mana mereka semua sangat mencintai pekerjaannya dan luar biasa ketekunannya dalam mempelajari suatu fenomena. Hasil penelitian mereka maupun inovasi yang dihasilkan tidak terjadi dalam waktu singkat, apalagi instan, tetapi memerlukan waktu sangat lama. Terkadang sampai puluhan tahun.

Tentu dibutuhkan suatu daya tahan mental yang luar biasa untuk dapat menekuni suatu pekerjaan secara terus-menerus selama puluhan tahun, praktis selama hayat dikandung badan. Hal ini hanya mungkin apabila seseorang bekerja dengan hati sehingga dia mencintai pekerjaannya.

Berbagai kendala akan dapat diatasi kalau kita bekerja dengan hati, bahkan kendala ekonomi sekalipun. Memang tampaknya perlu ada suatu pergeseran paradigma dari paradigma lama bahwa seseorang melakukan pekerjaan ke paradigma baru bahwa seseorang bekerja.

Dengan bekerja, terjadi integrasi antara pelaku dan kegiatannya sehingga dapat diharapkan terjadinya bekerja dengan hati di mana bekerja tidak mengenal batasan waktu dan tempat. Mereka bekerja sepanjang waktu secara konsisten di bidangnya, karena untuk menemu-kenali suatu fenomena ilmiah memerlukan suatu kerja keras dalam waktu sangat lama. Demikian juga untuk memperoleh suatu inovasi memerlukan upaya yang sangat intensif dalam waktu yang panjang.

Sebaliknya, apabila seseorang menggunakan metode instan dalam bekerja atau melakukan pekerjaan, tidak akan ada hasilnya. Kalaupun ada, tidaklah signifikan, atau bahkan justru menyuburkan plagiarisme, pencurian hak cipta, tindakan yang koruptif, dan tindakan negatif lainnya. Memang untuk bekerja secara instan kita tidak perlu menggunakan hati, bahkan bertentangan dengan hati nurani.

Terbentuknya budaya kerja dengan hati dapat melalui pembentukan suasana lingkungan kerja yang mendukung. Perguruan tinggi dan lembaga riset serta pusat teknologi merupakan tempat yang tepat untuk melahirkan para ilmuwan terkemuka dan inventor maupun inovator terkemuka.

Tempat-tempat tersebut, jika dikelola secara tepat, mampu memberikan suasana akademik, ilmiah, dana inovatif yang kondusif bagi para individu maupun kelompok kerja yang ada di dalamnya. Keunggulan perguruan tinggi maupun lembaga riset serta pusat teknologi tingkat dunia adalah kemampuannya memberikan suasana akademik-ilmiah-inovatif yang kondusif sehingga muncullah berbagai inovasi dan temuan ilmiah yang mendunia.

Tata kelola dan otonomi

Salah satu prasyarat untuk dapat menciptakan suasana yang kondusif tersebut adalah bahwa perguruan tinggi/lembaga riset/pusat teknologi harus otonom dengan akuntabilitas kepada publik. Tanpa ada otonomi, lembaga-lembaga tersebut akan mandul dan pasif, yang justru menghambat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi baru. Lembaga tersebut akan menjadi satuan administratif yang tidak mungkin mampu menumbuhkan suasana akademik-ilmiah-inovatif yang kondusif.

Indonesia yang sangat kaya akan sumber daya alam akan berdaya saing global yang tinggi seandainya seluruh sumber daya manusianya bekerja dengan hati dan mencintai pekerjaannya secara konsisten. Penyiapan sumber daya manusia tersebut seyogianya dilakukan oleh lembaga-lembaga yang ditata kelola secara otonom dan bertanggung jawab kepada publik.

Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan pemberdaya bagi lembaga yang otonom, dan pemerintah menjamin kepentingan publik. Otonomi bagi lembaga pendidikan dan lembaga riset adalah suatu keharusan.

Penulis adalah Guru Besar ITB

About these ads

4 thoughts on “Bekerja dengan Hati

  1. saya suka posting ini; energi hati dan paradigma baru ‘kerja’. Sebagai muara, maka apa yang disebut keunggulan individu, seringkali terletak di ‘hulu’. pertanyaan saya: apakah persepsi saya, tentang hulu dan hilir, pada dasarnya menjadi penentu terbentuknya formula: 1). energi hati atau instan? 2). paradigma lama atau baru?. Maaf, saya hanya mencoba untuk mencari ‘keyword’ dalam posting ini, dan mohon di ‘re-check’ dugaan saya. Terima kasih.
    Salam hormat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s