Yang Tersisih

surrealism-10
arthit.ru

Oleh Reza A.A Wattimena

Di mata banyak orang, sekumpulan anak muda itu tampak mencurigakan. Mereka bertato. Telinga mereka ditindik. Gaya rambut mereka pun tidak umum.

Gaya berjalan mereka berbeda dengan kebanyakan orang. Gaya berbicara mereka pun lain. Dari sudut kategori moralitas umum, mereka berada di luar, atau bahkan melanggar. Dari kaca mata hukum, mereka pun tampak mencurigakan, mirip seperti pelaku kejahatan. Lanjutkan membaca Yang Tersisih

Meritokrasi untuk Indonesia

cyril-power-whence-and-whither-1930
imaginarycitiesbook,com

Oleh Reza A.A Wattimena

Si penjilat itu naik pangkat lagi. Kerjaannya berantakan. Namun, mulutnya manis, dan pandai merayu atasan. Ia tidak hanya diampuni kesalahannya, tetapi juga naik pangkat, melampaui teman-temannya yang lebih mampu.

Di tempat lain, keponakan sang penguasa mendapat posisi penting. Ia tidak berpengalaman. Ia tidak pernah menunjukkan prestasi apapun. Semata karena lahir di tempat yang tepat, dan menjadi keponakan sang penguasa, ia mendapatkan jabatan yang penting. Lanjutkan membaca Meritokrasi untuk Indonesia

Melampaui Pemerkosaan

c3a433375ca62c81da0de2bdd9b9938a_largeOleh Reza A.A Wattimena

Persoalan kekerasan terhadap perempuan adalah persoalan mendesak yang menuntut jalan keluar yang tepat. Kekerasan terhadap perempuan menjadi unik, karena seringkali melibatkan pemerkosaan. Tubuh perempuan dilecehkan sebagai tanda penguasaan dan penghinaan dari pelaku. Setelah terpuaskan, si pelaku lalu membunuh korban, kerap kali dengan cara-cara sadis.

Kita semua bergidik ngeri membaca berita-berita pemerkosaan yang bermuara pada pembunuhan sadis. Kita semua marah, dan menuntut keadilan bagi semua pihak. Namun, persoalan ini tetap muncul, bahkan dengan tingkat brutalitas yang semakin mengerikan. Mengapa ini bisa terjadi? Lanjutkan membaca Melampaui Pemerkosaan

Sains dan Spiritualitas

abstract_3d_04
fantasyartdesign.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Penulis dan Doktor dari Universitas Filsafat Muenchen, Jerman

Italia, 1564, lahirlah seorang ilmuwan sekaligus filsuf yang pemikirannya akan menggetarkan dunia. Namanya adalah Galileo Galilei. Mungkin, anda pernah mendengar namanya. Ia adalah salah satu tokoh di dalam dunia ilmu pengetahuan yang berani menantang tradisi dan kekuasaan yang mengekang kebebasan berpikir, berpendapat dan mencari kebenaran.

Ia berpendapat, bahwa pusat dari tata surya bukanlah bumi, seperti yang diyakini tradisi Gereja Katolik dan filsafat pada abad pertengahan, melainkan matahari. Pandangan ini menyangkal langsung pandangan Gereja Katolik pada masa itu. Galileo pun dituduh sebagai bidaah, dan harus menjalani berbagai persidangan maupun tahanan rumah, sampai akhir hayatnya. Nantinya, pandangan-pandangan utama Galileo justru terbukti benar. Lanjutkan membaca Sains dan Spiritualitas

Menulis, Penyembuhan dan Perubahan

4111150a448811e25ec254fc8727081a
pinimg.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat München Jerman

Anaïs Nin, penulis asal Kuba, pernah berkata, “Kita menulis untuk merasakan kehidupan dua kali, pada saat itu, dan ketika kita mengingatnya di dalam tulisan kita.”

Perubahan

Setiap hari, kita menulis. Kita menulis untuk mengirim pesan kepada teman atau keluarga. Kita menulis untuk menyampaikan perasaan kita, entah kepada buku harian, blog atau kepada orang lain. Dengan menulis, kita memperoleh ruang untuk mengekspresikan pemikiran kita, termasuk di dalamnya harapan dan ketakutan di dalam hidup kita. Menulis berarti menciptakan ruang, tempat dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri, tanpa halangan dari pihak manapun. Lanjutkan membaca Menulis, Penyembuhan dan Perubahan

Metanegasi, Pretensi dan Kesalahan

stars-surrealismOleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Penulis dan Doktor Filsafat dari Universitas Filsafat München, Jerman

Tanggapan atas buku “Filsafat Negasi” tulisan Muhammad Al-Fayyadl dalam Diskusi di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 9 Mei 2016

Saya teringat suatu sore di kota Berlin, Jerman. Saya sedang berdiskusi dengan seorang kawan tentang perbedaan antara filsafat Jerman dan filsafat Prancis kontemporer. Kawan saya berpendapat, bahwa para pemikir Prancis tidak dapat dianggap sebagai seorang filsuf, melainkan sastrawan. Mereka menggunakan bahasa yang indah dan berbunga-bunga, guna menyampaikan maksud mereka yang sebenarnya cukup sederhana. Ini tentunya berbeda dengan gaya menulis para filsuf Jerman kontemporer, seperti Julian Nida Rümelin dan Jürgen Habermas, yang menekankan ketepatan kata, supaya tulisannya bisa dimengerti oleh masyarakat luas.

Ketika membaca buku Filsafat Negasi ini, ingatan tentang percakapan tersebut mengalir deras di dalam kepala saya. Saya mencoba membaca buku ini, dan melahirkan semacam metanegasi, yakni negasi atas negasi. Yang saya tangkap adalah, bahwa Fayyadl mencoba memaparkan apa yang sesungguhnya tidak bisa dipaparkan oleh kata dan konsep. Sebuah kepura-puraan (pretensi), bahwa kehidupan bisa dilukiskan dengan guratan tulisan yang mati, setelah pengarang meninggalkannya. Lanjutkan membaca Metanegasi, Pretensi dan Kesalahan