Fashion dan Dilema Manusia

shoe-cartoon-illustration

Fashion dan Dilema Manusia

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Apa yang tampak selalu dikaitkan dengan kedangkalan. Apa yang di permukaan selalu dikaitkan dengan kesemuan. Begitulah pandangan umum ketika orang mendengar kata fashion. Ya, fashion identik dengan kedangkalan.

Pandangan itu tidak tepat seutuhnya. Fashion telah lama menjadi bagian dari hidup manusia. Yang perlu diupayakan adalah menjadikan fashion sebagai alat untuk mengekspresikan substansi diri. Fashion adalah medium ekspresi sekaligus sebagai alat untuk menangkap esensi diri.

Di sisi lain fashion adalah simbol dari dilema. Banyak aspek yang bertentangan hidup di dalamnya. Fashion adalah pencipta sekaligus pemecah kepastian identitas. Fashion adalah simbol kebebasan sekaligus tanggung jawab yang mengikat dengan batas. Fashion menawarkan kebaruan yang tak pernah sungguh baru. Dilema ini perlu untuk kita hayati dan rayakan dengan tawa, tanpa rasa sendu.

Mengubah Paradigma

Fashion memang terkait dengan apa yang tampak di permukaan. Namun fashion mencerminkan sesuatu yang lebih dalam, yakni praktek-praktek sosial yang sedang diterima oleh masyarakat pada suatu waktu dan tempat tertentu. Di dalamnya terkandung mulai gaya berpakaian, aksesoris, sampai dengan sepatu. Lebih dalam dari itu, fashion mencerminkan semangat dari suatu jaman tertentu.

Seperti dijelaskan sebelumnya banyak orang masih berpegang pada asumsi lama, bahwa fashion adalam simbol kedangkalan. Fashion adalah simbol dari apa yang cepat berlalu di dalam kehidupan. Aspek kesementaraan ini membuat fashion tidak dianggap serius. Fashion hanyalah milik para showbiz dan orang-orang metro seksual.

Pandangan ini jelas membutuhkan suatu dekonstruksi, yakni proses untuk menunda kepastian makna, sambil mencari kemungkinan pemaknaan baru. Apa yang tampak tidak selalu merupakan tanda kedangkalan. Sebaliknya apa yang tampak justru bisa menjadi ekspresi dari kedalaman diri. Fashion juga dapat cerminan dari substansi diri.

Fashion dengan Substansi

Apa yang kita pakai mencerminkan siapa kita. Apa yang kita pakai mencerminkan jiwa kita. Selera kita mencerminkan ‘bahasa’ yang kita yakini. Dan apa yang kita yakini mempengaruhi tindakan maupun keputusan yang kita buat.

Maka fashion sebagai industri tidak bisa secara elitis menentukan apa yang menjadi ‘jiwa’ masyarakat. Fashion harus muncul dari sanubari masyarakat itu sendiri. Jika ini terjadi maka fashion sungguh merupakan cerminan dari kedalaman diri. Inilah yang saya sebut sebagai fashion dengan substansi.

Fashion dengan substansi adalah fashion yang berusaha menangkap jiwa penggunanya. Fashion menjadi sarana bagi orang untuk mencipta identitas diri seutuhnya. Mereka menemukan kenyamanan di dalamnya. Fashion diciptakan sekaligus menciptakan manusia yang membuatnya.

Maka di masa depan, fashion bukanlah sekedar industri, melainkan medium untuk mengenali dan menyalurkan hasrat manusia. Dan karena hasrat manusia begitu beragam, maka fashion pun juga merupakan perayaan keberagaman. Ketika dunia dihimpit fundamentalisme sempit, fashion bisa memberikan contoh tata kelola keberagaman peradaban. Fashion adalah simbol dari pembebasan.

Keindahan yang ditawarkan fashion mampu menarik manusia dari keterasingan dirinya. Justru di tengah peradaban yang semakin rumit, fashion menemukan ruang-ruang ekspresinya untuk membuat hidup semakin bermakna. Fashion menawarkan pembebasan di tengah himpitan kerja dan tanggung jawab kehidupan. Ia memberikan warna ketika dunia terasa buta dan hampa.

Dilema

Di masa depan fashion juga merupakan suatu tanggung jawab (Svendsen, 2004). Manusia diminta untuk semakin memikirkan apa yang akan ia tampilkan. Ia tidak bisa lagi sembarangan menentukan apa yang akan ia gunakan. Ia diminta bertanggung jawab atas figur dirinya.

Di satu sisi fashion adalah pembebasan. Di sisi lain fashion adalah wujud komitmen pada penampilan. Keduanya berjalan bersama tanpa terpisahkan. Ini sejalan dengan diktum klasik kebebasan, bahwa ia selalu diikuti dengan komitmen yang tak terbantahkan.

Juga di satu sisi, fashion memberi identitas. Namun di sisi lain, fashion justru memecah identitas. Dengan karakter keberagamannya fashion memecah keteraturan. Yang tercipta kemudian adalah ketidakpastian. Orang terhanyut di dalam gerak perubahan, tanpa punya pegangan.

Fashion menawarkan makna. Tetapi tawaran itu hanya suatu sikap pura-pura. Yang sebenarnya terjadi adalah fashion memecah makna, dan menjadikannya sementara. Fashion adalah simbol dari keterpecahan subyek yang jelas menjadi ciri manusia kontemporer dewasa ini. (Svendsen, 2004)

Fashion menawarkan kebaruan. Namun kebaruan itu pun juga hanya pura-pura. Tidak ada yang sungguh baru. Yang ada adalah reproduksi ulang dari apa yang sudah ada. Proses kreatif terletak pada proses reproduksi yang berlangsung tanpa koma.

Jika ditanya makna fashion dewasa ini, saya hanya bisa mengajukan satu kata, yakni dilema. Fashion adalah dilema. Fashion adalah ekspresi dari situasi dilematis yang dihadapi manusia di awal abad ke-21 ini. Dilema yang mungkin tidak perlu kita ratapi, melainkan kita rayakan dengan anggur dan tawa.

Ya, industri fashion adalah industri dilema. ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Fashion dan Dilema Manusia”

  1. Fashion adalah salah satu penanda jaman dan gambara peradaban paling valid. Ia merepresentasikan pemaknaan masyarakat atas dirinya dengan jujur. Oleh karen itu, industri fashion merupakan salah satu jenis industri paling efektif dan profitable, karena industri fashion mengeksploitasi kondisi psikologis masyarakat yang sesungguhnya.

    Mungkin fashion bisa sejajar dengan sejarah 🙂

    Suka

    1. hhehe.. argumen menarik… yang diperlukan oleh para perancang fashion dan distributor adalah intuisi untuk menangkap zeigeist atau semangat jaman… mereka perlu menjadi produsen yang antisipatif, dan bukan pedagang dangkal yang reaksioner…. Banyak dekonstruksi pemikiran diperlukan di dalam dunia fashion Indonesia…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s