Misteri Integritas Diri

Why-Is-Integrity-Important

Misteri Integritas Diri

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Ada yang unik di dalam diri manusia, yakni kemampuannya untuk bertahan memegang prinsip di tengah terjangan badai kehidupan. Ia bertahan walau terus dalam tegangan. Ia berpegang teguh walaupun terus diguncang krisis harapan. Bahkan ia rela mati, demi suatu keyakinan.

Inilah yang kiranya membuat para pejuang kemerdekaan Indonesia bertahan di tengah badai peluru tentara kolonial. Inilah yang membuat para religius bertahan di tengah dunia yang semakin banal. Inilah yang membuat para martir agama tetap yakin tak tergoyahkan. Dan ini juga yang membuat orang tua membanting tulang memberikan anaknya kehidupan.

Energi di balik itu semua adalah integritas diri.

Integritas

Integritas adalah sikap batin yang kokoh memegang prinsip di tengah situasi sesulit apapun. Integritas adalah keyakinan tak tergoyahkan. Integritas lahir dari permenungan mendalam pada beragam peristiwa kehidupan. Integritas berkembang di dalam benturan kenyataan.

Di Indonesia sekarang ini sulit sekali mencari orang yang hidup dengan integritas. Prinsip hidup dijual untuk memperoleh rupiah dengan culas. Orang tidak hanya menjual barang ataupun pelayanan, tetapi juga diri dan spiritualitasnya. Ini terjadi mulai dari institusi negara, sampai institusi pendidikan. Integritas semakin langka di tengah dunia yang kian hari kian tanpa harapan.

Pembangunan bangsa dimulai dengan pembangunan mentalitas individu. Tanpa itu sistem dan birokrasi tak lebih dari simbol-simbol semu. Pusat dari pembangunan mentalitas adalah pembangunan integritas. Semua itu hanya dapat dijalankan dengan pengkondisian lahirnya manusia-manusia penuh integritas.

Konflik Batin

Hidup yang penuh dengan integritas akan seringkali berhadapan dengan dilema. Apakah orang akan berpegang pada prinsip, ketika prinsip itu mungkin saja akan membunuh diri dan keluarganya? Ketika prinsip itu mungkin saja mengorbankan mata pencahariannya? Ketika prinsip itu bisa dengan mudah diganti dengan keuntungan material nan memikat mata?

Situasi semacam itu mencipkan konflik batin. Tak pelak hati tersiksa berhadapan dengan tekanan sistem. Namun integritas mengandung misteri, yakni ia tak mati ditekan situasi. Di dalam dilema dan konflik, ia justru semakin terasah dan teruji.

Di Indonesia orang tak tahan dengan dilema diri. Situasi menekan dan orang langsung pergi menyelamatkan diri. Konflik batin adalah situasi yang menyakitkan, maka orang meninggalkannya. Tanpa konflik batin dan upaya untuk memaknainya, orang akan hanyut di sungai-sungai kehidupan, dan integritas akan semakin jauh dari dirinya.

Yang tercipta kemudian adalah masyarakat penuh warga culas. Lahirlah koruptor waktu, uang, dan bahkan penipu dengan wajah memelas. Masyarakat yang warganya takut berkonflik dengan dirinya sendiri melahirkan para penjahat yang tak punya hati nurani. Mereka menghisap keberadaban masyarakat, tanpa pernah berpikir untuk berhenti.

Bukan Fundamentalisme

Perlu juga disadari bahwa integritas berbeda dengan sikap keras kepala. Integritas adalah paradoks yang berakar pada hidup yang bijaksana. Di satu sisi keteguhan prinsip tetap menyala. Namun di sisi lain fleksibilitas dalam penerapan yang berakar pada konteks tetap ada.

Maka integritas juga berbeda dengan sikap mental fundamentalis. Sikap fundamentalis lahir dari hidup yang tak dikaji secara mendalam, dan secara perlahan membuat hati nurani terkikis. Sikap fundamentalis tak mengenal fleksibilitas dan konteks dalam penerapan. Sementara mental integritas justru memberi ruang cukup besar bagi kebebasan, namun dalam rambu-rambu prinsip yang tak tergoyahkan.

Di Indonesia orang tidak memahami pembedaan yang tipis ini. Integritas disamakan dengan sikap keras kepala dan bangga diri. Integritas disamakan dengan sikap tak berpikir dalam menerapkan suatu ajaran. Yang tercipta kemudian adalah masyarakat keras kepala, irasional, dan anti perubahan. Ingatlah bahwa integritas berbeda dengan kebebalan.

Maka pembedaan antara integritas, sikap keras kepala, dan mental fundamentalis perlu untuk dipahami dan dihayati . Jika tidak masyarakat akan terjebak pada lingkaran kebebalan. Kebebalan akan membuat masyarakat tak bisa membaca gerak jaman. Ia pun akan ditinggalkan oleh kereta kemajuan.

Otonom dan Otentik

Orang yang hidup dengan integritas juga memiliki otonomi dan otentisitas. Prasyarat dari kedua hal ini adalah kebebasan. Otonomi adalah kemampuan diri untuk menentukan apa yang baik dan buruk seturut keadaan. Sementara otentisitas adalah kemampuan untuk mengenali diri secara penuh, dan hidup mengikuti panggilan hati yang tak terkatakan.

Orang yang memiliki integritas memiliki otonomi untuk menentukan secara mandiri apa yang baik dan benar untuk dilakukan. Orang yang memiliki integritas paham akan dorongan-dorongan dirinya, baik yang terkatakan maupun yang tak terkatakan. Ia hidup mengikuti panggilan hatinya. Di dalam proses itu, ia memberikan kontribusi nyata pada masyarakat yang membutuhkannya.

Di Indonesia otonomi adalah sesuatu yang langka. Orang sulit untuk berpikir mandiri tentang apa yang baik dan benar untuk dilakukannya. Orang diminta untuk mengikuti aturan dan norma yang ada tanpa tanya. Tanpa otonomi mental integritas tidak akan pernah lahir ke dunia. Orang hanya akan menjadi robot ataupun kambing yang tak memiliki mimpi bagi diri dan masyarakatnya.

Di Indonesia orang juga tak mengenal dirinya sendiri. Ia mengenyam pendidikan dan bekerja sesuai tuntutan situasi. Ia tidak punya mimpi. Tak heran Indonesia minim inovasi yang berarti. Tidak hanya itu inovasi justru ditakuti, maka kemudian dipaksa berhenti.

Untuk membangun integritas orang perlu juga berbarengan membangun otonomi dan otentisitas diri. Orang perlu menggunakan pikiran untuk menentukan apa yang terbaik untuk dilakukan berhadapan dengan situasi. Orang perlu menggunakan keseluruhan diri untuk mengenali panggilan hidupnya, dan mengikutinya tanpa ragu. Hanya dengan begitu integritas yang sejati bisa tercipta, dan orang bisa bahagia menjalani hidup yang tidak semu.

Budaya Unggul

Budaya unggul dalam organisasi juga membutuhkan sikap integritas dari individu-individu yang terkait di dalamnya. Integritas lahir dari kebebasan yang dewasa. Kedua hal itu menghasilkan inovasi yang bermakna untuk organisasi dan masyarakat. Organisasi tidak hanya menyediakan mata pencaharian bagi anggotanya, tetapi juga makna yang meningkatkan kualitas hidupnya.

Di Indonesia budaya unggul di dalam organisasi nyaris tidak tercipta. Banyak organisasi bagaikan hidup segan mati tak mau. Semuanya sekedar rutinitas dan kewajiban, tanpa roh yang menjiwai. Inovasi mati dan bahkan justru dianggap sebagai alergi yang harus dihindari.

Ini semua terjadi karena individu di dalam organisasi hidup tanpa integritas. Mereka memiliki mental ikut arus. Mereka tidak mengenali dan mengembangkan kemampuan diri. Untuk mencegah pengeroposan organisasi lebih jauh, maka prinsip utama dan pertama pengembangan di dalam organisasi adalah penciptaan dan pelestarian integritas diri.

Bagaimana?

Esensi dari integritas adalah otonomi dan otentisitas. Keduanya hanya terbangun di dalam iklim kebebasan. Di titik ini kebebasan tidak berarti kebebasan tanpa aturan. Kebebasan dalam konteks integritas adalah kebebasan yang dibalut dengan prinsip-prinsip hidup yang tak tergoyahkan.

Maka yang perlu diciptakan adalah iklim kebebasan berpikir dan berekspresi yang dibalut dengan prinsip-prinsip yang mendalam. Iklim perbedaan sudut pandang harus diciptakan, dan disertai dengan argumentasi rasional yang mendasari masing-masing perbedaan. Kebebasan berekspresi harus ditonjolkan dalam bentuk kemerdekaan berpendapat, dan keberanian menampilkan citra diri seutuhnya. Hanya di dalam iklim semacam itulah integritas bisa tumbuh dan berkembang.

Di Indonesia orang takut dengan kebebasan. Kebebasan disamakan begitu saja dengan pemberontakan. Kaum religius takut umatnya akan menjadi ragu. Kaum feodal pendidikan takut muridnya tidak lagi patuh. Keduanya adalah kesalahan berpikir soal kebebasan.

Yang perlu disadari adalah, bahwa kebebasan itu butuh waktu untuk menciptakan tradisinya. Kebebasan perlu kesabaran untuk membuktikan keunggulannya. Kebebasan itu kemudian diterjemahkan di dalam kebijakan yang manusiawi. Itulah iklim yang bisa melahirkan integritas diri.

Integritas bukan buih moral tanpa makna. Integritas adalah soal eksistensi kita sebagai manusia dan bangsa. Meremehkannya sama dengan menggiring kita perlahan menuju kehancuran. Integritas adalah lembar tipis yang memisahkan kita dari ketiadaan.***

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Misteri Integritas Diri”

  1. Integritas adalah sebuah kualitas. Tanpa dia, sesungguhnya keberadaan hidup kita tak lebih dari sekedar ‘kebetulan’. Apabila manusia hanya menjalani hidupnya sebagai ‘kebetulan’, maka prinsip survival yang dihayati adalah oportunis ekstrem. Menariknya, dunia saat ini cenderung mengkondisikan ke arah demikian 🙂

    Suka

  2. Ketika kita menyadari esensi dari otonomi dan otentisitas pagi ke-aku-an diri sendiri, maka tuntutan akan adanya suatu kebebasan berpikir menjadi sedemikian vitalnya. Karena aku memiliki free will yang membuat ku bebas memilih pengalaman macam apa yang ingin didapatkan pada kesempatan hidup kali ini.
    Quote :
    “kemampuannya untuk bertahan memegang prinsip di tengah terjangan badai kehidupan. Ia bertahan walau terus dalam tegangan. Ia berpegang teguh walaupun terus diguncang krisis harapan. Bahkan ia rela mati, demi suatu keyakinan. ”

    Terkadang, diri sempat terlupa, manakala si aku demikian tampak. Dan membuat kita semakin lupa jika unsur utama dari keseluruhan hal yang dijuluki intergritas sebenarnya adalah kebijaksanaan. Jikasaja aku benar mengingini free will, keyakinan, keteguhan, maka seharusnya orang lain pun berhak mendapatkan yang sama. Bias akan terjadi manakala keyakinan dan free will antara dia dan aku berbeda. maka aku mengatakan bahwa dia tidak mempunyai free will as good as I am.

    Dan seiring terjadinya evolusi berpikir manusia, melalui perkembangan kesadaran, sungguh, rasanya tak mungkin lagi ada keyakinan mutlak atas apapun yang dianggap paling benar. Yang harus kita kembangkan adalah kemampuan memahami arti paling sejati dari kehendak bebas baik untuk diri sendiri maupun orang lain, yaitu mengamati tanpa menghakimi, mencintai tanpa memiliki, mengajarkan namun tidak memaksakan.

    Cheers!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s