Apatisme Kaum Buruh

Technorati Tags: ,,

Apatisme Kaum Buruh

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

1 Mei diperingati sebagai hari buruh sedunia. Pada momen tersebut beragam kelompok buruh berkumpul, dan melakukan dialog dengan pemerintah. Dewasa ini masyarakat menanggap, bahwa buruh adalah para pekerja kasar yang bekerja di level rendahan suatu perusahaan. Maka yang berdialog dengan pemerintah mayoritas adalah orang-orang itu, yakni para pekerja kerah biru yang mengabdi pada perusahaan tertentu.

Namun definisi buruh tidaklah sesederhana itu. Di dalam wikipedia dijelaskan dengan gamblang, bahwa buruh adalah manusia yang menggunakan kemampuannya untuk memperoleh nafkah. Kemampuan itu bisa berupa kemampuan pemikiran, ataupun kemampuan fisik. Jika definisi semacam ini diyakini, maka banyak sekali jumlah buruh di Indonesia.

Pertanyaannya lalu mengapa sedikit sekali yang sungguh aktif memperjuangkan hak-haknya sebagai buruh, dan berdialog dengan pemerintah? Mengapa hanya pekerja kerah biru (dengan segala hormat pada pekerja kerah biru) yang turun ke jalan melakukan dialog? Mengapa banyak buruh lainnya tidak peduli dengan hari buruh? Mengapa banyak buruh lainnya tidak peduli tentang perjuangan hak-hak mereka sendiri?

Apatisme Buruh

Saya melihat setidaknya tiga sebab dari sikap apatis para buruh. Pertama, banyak buruh tidak menyadari status dan hak-haknya sebagai buruh. Mereka mengira bahwa buruh hanyalah status rendah pekerja kelas biru. Akibatnya hari buruh, gerakan buruh, dan perjuangan kaum buruh tidak memiliki makna apapun bagi mereka.

Anggapan ini jelas salah. Buruh bukanlah status rendah, melainkan sebaliknya, status yang penuh kehormatan. Status tersebut diberikan kepada siapapun yang dengan kemampuannya bekerja untuk mempertahankan hidup diri dan keluarganya. Dalam arti ini hampir seluruh orang Indonesia adalah kaum buruh.

Maka persoalan kaum buruh adalah persoalan banyak orang. Persoalan kaum buruh melibatkan kita semua, yang sebelumnya tidak menyadari diri sebagai buruh. Status sebagai buruh harus dipegang dengan penuh rasa hormat dan kebanggaan. Hak-hak kaum buruh pun adalah hak-hak kita semua yang harus dengan gigih dan terhormat diperjuangkan.

Kedua, banyak kaum buruh merasa, bahwa perjuangan hak-hak buruh adalah sesuatu yang sia-sia. Dialog hanya ritual tanpa makna. Perubahan pun hanya mimpi belaka. Ketiadaan harapan adalah penyebab utama sikap apatis banyak kaum buruh di Indonesia saat ini.

Anggapan ini pun tidak tepat. Terjadinya perubahan berpangkal pada satu hal penting, yakni kehendak. Tanpa kehendak maka tidak akan ada perubahan. Ketiadaan harapan memadamkan kehendak, dan pada akhirnya menjadi ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Perubahan pun tidak akan pernah terjadi.

Dalam hal ini kaum buruh harus berani melepas paradigma lama (tanpa harapan), dan memeluk paradigma baru (perubahan itu mungkin). Realitas sosial adalah ciptaan manusia, maka manusia (kaum buruh) bisa merubahnya dengan kehendak dan usaha yang cukup. Keyakinan akan mungkinnya perubahan harus menjadi jantung dari gerakan buruh di Indonesia. Keyakinan adalah awal dari tindakan, dan tindakan adalah awal dari perubahan.

Pewarisan Ketidakpedulian

Ketiga, ketidakpedulian seringkali tidak hanya berakar pada diri individu, tetapi tertanam di dalam kultur masyarakat. Masyarakat yang tidak peduli adalah masyarakat yang memiliki trauma besar di masa lalu yang belum bisa dilampaui. Indonesia adalah bangsa/masyarakat semacam itu. Penjajahan selama lebih dari tiga ratus tahun ditambah dengan represi sepanjang Orde Baru menciptakan mentalitas apatis dan pengecut.

Orang takut untuk berkata dan berbuat benar. Mereka takut dituduh pemberontak. Maka mereka lalu mencari aman. Gerakan buruh menjadi tidak relevan di dalam masyarakat semacam itu.

Mentalitas apatis dan pengecut diwariskan ke generasi berikutnya melalui pendidikan. Maka pendidikan tidak lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan mewariskan trauma ke generasi selanjutnya. Melampaui trauma penjajahan dan represi orde baru memang merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar untuk kita. Usaha tersebut melibatkan proses hukum (membuka dan mengadili pihak-pihak yang terlibat) dan proses pendidikan (merevisi kurikulum pendidikan dan metode pengajaran baru).

Dapatlah disimpulkan bahwa apatisme kaum buruh melibatkan persoalan yang lebih besar di dalam pembangunan bangsa Indonesia dewasa ini. Dengan kata lain tidak ada persoalan sosial di Indonesia yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait sehingga analisis pun juga harus melibatkan berbagai bidang untuk sungguh menemukan kebenaran. Persoalan apatisme gerakan kaum buruh adalah persoalan politik dan, terlebih, persoalan pendidikan.

Yang perlu kita kerjakan bersama adalah memperluas dan memperdalam kesadaran sebagai kelas buruh, yakni kelas orang-orang yang mengabdikan kemampuan mereka untuk mencari nafkah. Kesadaran tersebut akan menciptakan solidaritas di antara kaum buruh. Solidaritas akan mendorong persatuan, dan ini semua akan meningkatkan kualitas maupun kuantitas gerakan buruh di Indonesia. Bersatulah kaum buruh di seluruh dunia!***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Pengajar Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s