Membongkar Mitos Kebijakan Publik

Membongkar Mitos Kebijakan Publik

Oleh: Reza A.A Wattimena

Sri Mulyani akan meninggalkan Indonesia, dan bekerja di Bank Dunia. Banyak orang menyayangkan hal ini. Ia dianggap sebagai menteri keuangan terbaik di Asia Tenggara, karena membawa perubahan yang positif bagi kondisi perekonomian Indonesia, di mana ia menjabat sebagai menteri keuangan mulai 2009 lalu. Namun sungguhkah perekonomian Indonesia mampu menghadapi krisis, dan kemudian berkembang ke arah yang lebih baik, semata karena jasa dari Sri Mulyani, terutama karena kemampuannya menghasilkan dan menerapkan kebijakan ekonomi yang tepat?

Apa yang membuat suatu perubahan itu bisa berlangsung di dalam masyarakat, terutama perubahan ke arah yang, menurut masyarakat tersebut, lebih baik? Inilah kiranya pertanyaan yang menjadi teka teki berbagai refleksi filsafat dan sains, terutama di dalam ilmu-ilmu sosial. Inilah pertanyaan yang perlu diajukan, ketika kita menyamakan begitu saja keberhasilan ekonomi Indonesia di satu sisi, dan jasa Sri Mulyani di sisi lain. Ada jarak yang cukup besar antara pembuatan kebijakan di satu sisi, dan fakta perubahan yang berlangsung secara konkret di masyarakat.

Jarak yang seringkali dianggap lenyap oleh mitos dan kemalasan berpikir yang bercokol di kepala kita.

Belajar dari Negara Lain

Coba kita belajar dari Amerika Serikat dan Swedia. Berdasarkan analisis David Brooks (2010), kira-kira seratus tahun yang lalu, banyak warga Swedia yang pindah ke Amerika Serikat. Dari keseluruhan hanya sekitar 6,7 % yang dianggap miskin. Sementara di tanah air mereka sendiri, yakni Swedia, tingkat kemiskinan juga kurang lebih serupa, yakni 6,7 % dari keseluruhan jumlah penduduk. Brooks menarik kesimpulan lebih jauh, bahwa dua kelompok yang memiliki latar belakang budaya yang mirip, namun hidup dalam dua sistem politik yang berbeda, ternyata memiliki tingkat kemiskinan yang kurang lebih sama.

Coba lihat perihal kesehatan. Pada 1950 sebagaimana diteliti oleh Brooks (2010), orang Swedia hidup lebih lama 2,6 tahun dari orang Amerika Serikat. Sekarang ini Swedia membangun sebuah negara dengan sistem politik negara kesejahteraan, sementara Amerika Serikat tidak. Brooks melihat bahwa tidak ada perbedaan jauh di dalam soal usia hidup. Orang Swedia hidup lebih lama 2,7 tahun dari orang Amerika Serikat sekarang ini.

Apa kesimpulan yang bisa kita tarik dari data singkat di atas? “Pengaruh dari politik dan kebijakan (ekonomi)”, demikian tulis Brooks, “biasanya ditenggelamkan oleh pengaruh budaya, etnisitas, psikologi, dan selusin faktor lainnya.” (2010) Dengan kata lain tidak peduli kebijakan politik atau ekonomi apapun yang dibuat, perubahan tidak muncul dari dua hal itu. Kemampuan Indonesia bertahan di hadapan resesi ekonomi dunia, dan meningkatkan secara perlahan namun pasti pertumbuhan ekonominya, juga tidak secara langsung diakibatkan oleh pembuatan kebijakan ekonomi dari kementerian keuangan, namun oleh perubahan cara hidup dan cara berpikir rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Dekonstruksi Teknokrasi

Perubahan tidak semata muncul dari perubahan kebijakan politik dan ekonomi, bahkan pengaruhnya justru sangat kecil. Perubahan lahir dari apa yang Brooks (2010) sebut sebagai pengalaman historis sebagai suatu kelompok, sikap-sikap hidup, pola pengasuhan anak, pola pengasuhan keluarga, harapan kelompok tersebut tentang masa depan, etos kerja, dan kualitas relasi sosial yang terdapat di dalam masyarakat tersebut. Perubahan di dalam hal-hal tersebut akan mempengaruhi kualitas hidup suatu kelompok masyarakat. Faktor-faktor itu pada akhirnya akan menciptakan perubahan lebih jauh di level yang lebih besar, seperti pada level ekonomi dan politik.

Di dalam bukunya yang berjudul What Money Can’t Buy, Susan Mayer (Dikutip oleh Brooks, 2010) berpendapat, bahwa orang-orang miskin tidak akan berubah kualitas hidupnya, jika hanya diberikan uang yang banyak. Pendapatan per bulan yang bertambah juga tidak otomatis meningkatkan perhatian orang tua dari keluarga miskin pada pendidikan anaknya. Dengan demikian pola pembangunan Indonesia tidak lagi bisa melulu bersifat teknokratis, di mana pembangunan fisik (jalan raya dan gedung) serta ekonomi (meningkatkan jumlah pendapatan) menjadi satu-satunya tujuan. Pola pembangunan juga perlu memperhatikan soft ware (perangkat lunak) dari masyarakat, seperti sikap-sikap hidup, pengalaman historis sebagai suatu kelompok, harapan kelompok tersebut tentang masa depan, etos kerja, dan kualitas relasi sosial yang ada.

Penelitian jelas menunjukan bahwa ‘perangkat lunak’ dari masyarakat itulah yang sungguh mempengaruhi kualitas hidup suatu masyarakat. Jika perangkat lunak tidak diubah, sejuta kebijakan yang tepat pun tidak akan mampu berbuat banyak. Kebijakan publik pemerintah Indonesia juga harus sungguh memperhatikan perangkat lunak peradaban ini. Cara berpikir ini sebelumnya dianggap remeh, karena dianggap tidak bisa diukur secara kuantitatif (ini pola berpikir teknokrat: semuanya hendak diukur dengan angka). Menimbang hal ini kita perlu mengkaji ulang gelar ‘menteri keuangan terbaik’ yang tampak begitu saja diberikan kepada Sri Mulyani.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s