Birokrasi Miskin Visi

LiveJournal Tags: ,,

image

Birokrasi Miskin Visi

Oleh : REZA A.A WATTIMENA

Birokrasi adalah prosedur yang diselimuti aturan untuk memperlancar proses kerja dan menghindari kebocoran administratif. Kebocoran administratif itu bisa berupa penyalahgunaan wewenang yang bermuara pada kerugian ekonomis dan kerugian sosial (social lost) dalam bentuk krisis kepercayaan. Jelaslah bahwa alasan keberadaan birokrasi adalah sesuatu yang positif. Namun dalam prakteknya birokrasi seringkali menjadi penghalang perubahan ke arah yang lebih baik, sekaligus sebagai pembunuh kreatifitas.

Banyak orang yang bersikap pengecut bersembunyi di balik birokrasi untuk mematahkan gejolak perubahan,baik dalam hukum maupun dalam praksis manajemen sehari-hari. Alasan sebenarnya adalah ketakutan untuk berubah dan ketakutan untuk kehilangan posisi. Namun alasan tersebut dibalut dengan argumentasi birokratis, guna menutupi mentalitas pengecut yang bersembunyi di baliknya. Birokrasi menjadi pembenaran bagi sikap pengecut dan ketakutan berlebihan pada sesuatu yang tidak diketahui (fear of the unknown).

Sistem dan Rasionalitas Instrumental

Darimanakah akar pemikiran untuk mendirikan birokrasi di negara modern maupun perusahaan bisnis? Menurut Horkheimer dan Adorno, birokrasi adalah nyawa dari sistem di dalam pemerintahan maupun bisnis modern. (1944) Sistem sendiri menurut Niklas Luhmann, seorang pemikir teori sistem, bertujuan untuk mengurangi kerumitan di dalam dunia, sehingga produktivitas bisa meningkat sejalan dengan proses pengurangan kerumitan tersebut. (Luhmann, 1984) Akar dari cara berpikir yang terdapat di dalam birokrasi dan sistem adalah rasionalitas instrumental, yakni cara berpikir yang mengedepankan kontrol, efisiensi, efektivitas, dan bersifat impersonal. Birokrasi dan sistem menjadi pilar penyangga hampir semua institusi modern.

Perlu dicatat bahwa tujuan awal dari keberadaan rasionalitas instrumental di dalam birokrasi dan sistem adalah untuk mengurangi kerumitan. Semua itu bermuara pada pembentukan prosedur kerja. Di dalam hukum prosedur menjamin bahwa tuntutan atau kasus hukum tertentu dapat dikatakan sah. Di dalam ilmu pengetahuan, prosedur, dalam bentuk metode, menjadi penjamin kesahihan suatu penelitian.

Kesalahan muncul ketika orang memperlakukan dunia manusia, yang sangat rumit, melulu sebagai sistem dan birokrasi. Ketika itu terjadi relasi antar manusia kehilangan spontanitasnya, dan menjadi impersonal. Kehangatan dan makna hidup hilang ditelan oleh prosedur yang kering dan mekanis. Spontanitas dan kreativitas menjadi sesuatu yang langka di dalam sistem negara modern. Tidak heran banyak orang menderita kelainan jiwa, karena ia merasa terasing di tempat tinggalnya sendiri. Dalam kasus yang ekstrem, orang akan bunuh diri.

Dunia Kehidupan yang Spontan

Jürgen Habermas –salah seorang pemikir Jerman kontemporer- berpendapat bahwa dunia manusia tidak hanya terdiri dari sistem yang mekanis, melainkan juga terdiri dari dunia kehidupan. Dunia kehidupan adalah ruang-ruang di masyarakat yang tidak terjamah oleh birokrasi. Di dalamnya orang menemukan identitas dan makna keberadaan dirinya di dunia. Di dalamnya pula lahir spontanitas dan kreativitas yang memberi warna bagi kehidupan manusia. (Habermas, 1984)

Di dalam negara modern, menurut Habermas, dunia kehidupan semakin terkikis oleh sistem dan birokrasi. Akibatnya banyak orang mengalami krisis makna, karena ia tidak memiliki ruang untuk menemukan identitas dirinya. Banyak orang hanya hidup di dalam sistem yang sifatnya mekanis dan impersonal. Dalam jangka panjang psikopatologis adalah konsekuensi dari cara hidup semacam itu.

Dunia kehidupan tidak bergerak dengan rasionalitas instrumental, tetapi dengan rasionalitas komunikatif. (Habermas, 1984) Rasionalitas komunikatif berfokus pada komunikasi yang dilakukan secara adil, guna menemukan persetujuan bersama. Manusia membentuk dirinya melalui komunikasi dengan lingkungannya. Sebagai bagian dari masyarakat modern, kita wajib memberikan ruang yang mencukupi bagi dunia kehidupan, dan membatasi keberadaan sistem sesuai kebutuhan saja. Dalam bahasa yang lugas, spontanitas dan kreativitas haruslah diberikan tempat, bahkan di dalam birokrasi yang paling rumit sekalipun.

Birokrasi Dinamis

Apa implikasi refleksi kecil ini bagi Indonesia? Indonesia adalah sebuah negara yang tengah menapaki jalan untuk menciptakan birokrasi modern yang sempurna. Dalam perjalanan tersebut haruslah terus diingatkan, bahwa birokrasi diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Maka ketika birokrasi justru mempersulit, mungkin sudah waktunya mengubah atau bahkan melenyapkan birokrasi tersebut demi berkibarnya spontanitas dan kreativitas. Pikiran dan kehidupan manusia lebih luas dari aturan dan birokrasi.

Birokrasi harus cukup lentur, sehingga memungkinkan kreativitas berkembang bebas. Dan sebaliknya birokrasi harus cukup kuat, sehingga korupsi, dalam bentuk apapun, dapat dipatahkan sejak awal. Di dalam penerapan birokrasi juga tidak pernah boleh menjadi selimut yang menutupi mental pengecut. Tugas kita bersama untuk memastikan semua itu terwujud.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s