Paradoks Memaafkan

Paradoks Memaafkan

Reza A.A Wattimena

Hampir semua agama dan kepercayaan di dunia ini mengajarkan umatnya untuk saling memaafkan. Di dalam tindak memaafkan, ada niat untuk berdamai dengan kehidupan, baik kehidupan orang lain ataupun kehidupan diri sendiri. Namun apa sebenarnya arti tindak memaafkan ini? Mengapa kita perlu melakukannya?

Makna Memaafkan

Tindak memaafkan adalah tindakan paradoksal (Lazare). Di dalam ucapan maaf selalu terkait dua hal, yakni keinginan untuk mengingat sekaligus untuk melupakan. Untuk mengingat berarti untuk menerima kejadian yang negatif, yang harus dimaafkan, sebagai bagian dari peristiwa hidup, dan juga sebagai bagian dari relasi antar manusia. Untuk melupakan berarti berkomitmen untuk tidak lagi mengungkap peristiwa negatif tersebut di kemudian hari sebagai alat untuk menyakiti.

Di sisi lain tindak memaafkan juga selalu mengandung aspek universal dan partikular. Di dalam semua peradaban, tradisi memaafkan dapat dengan mudah ditemukan. Fenomena memaafkan adalah fenomena yang universal. Namun tindak memaafkan juga bersifat partikular, karena pribadi-pribadi yang melakukannya adalah pribadi yang unik. Mereka adalah person-person. Semua tindakan terkait memaafkan selalu muncul dari pengalaman personal, dan berawal dari ucapan orang personal pula.

Level tertinggi dari memaafkan adalah memaafkan apa yang sebenarnya tidak termaafkan (Derrida). Jika anda memaafkan hal-hal yang sepele, yang sebenarnya tidak merugikan anda, maka sebenarnya anda belum memaafkan, karena anda masih melakukan hitung-hitungan untung rugi dengan orang yang anda maafkan. Namun jika anda sungguh dirugikan, baik secara mental maupun fisik, dan anda mampu memaafkan, maka anda sudah mencapai tingkat tertinggi dari memaafkan itu sendiri. Inilah dimensi paradoksal terdalam dari tindak memaafkan, yakni bahwa ia sungguh menjadi nyata, ketika orang berani untuk memaafkan apa yang sebenarnya tidak termaafkan.

Distorsi Memaafkan

Sekarang ini banyak orang memaafkan, jika mereka dimaafkan. Pola yang berlaku adalah saya untung, dan anda juga untung. Tidak ada beda antara transaksi bisnis dengan memaafkan. Padahal tindak memaafkan memiliki makna tepat karena tindakan itu tidak bersifat transaksional, melainkan altruistik. Selain cinta ibu kepada anaknya, mungkin tindak memaafkan adalah satu-satu sumber keyakinan kita semua, bahwa manusia mampu bertindak tulus terhadap sesamanya.

Sekarang ini banyak juga orang yang memaafkan hanya sekedar di mulut. Mereka mengucapkan maaf atau memaafkan, tetapi hatinya tetap membenci dan menyimpan dendam. Tindak memaafkan dan meminta maaf dilepaskan dari kejujuran. Padahal pada hakekatnya, meminta maaf dan memaafkan mengandaikan kejujuran. Tanpa kejujuran semua tindakan itu tidak ada artinya.

Tradisi memaafkan memang tradisi yang mulia. Namun orang tidak boleh hanya melakukannya, hanya karena itu merupakan kewajiban. Dengan kata lain tindak meminta maaf dan memaafkan tidak boleh hanya menjadi sekedar formalitas dan ritualistik. Sekarang ini banyak orang terjebak pada formalitas memaafkan. Formalitas dan ritualitas memaafkan mengeringkan tindakan itu dari maknanya yang sesungguhnya sangat dalam.

Memaafkan Secara Sosial

Di sisi lain tindak memaafkan memang berawal dari pengalaman personal. Namun akhir dan puncak dari tindak memaafkan sebenarnya ada di level sosial. Kehidupan sosial manusia sudah sejak awal selalu dilumuri dengan perang dan penderitaan. Tanpa keberanian untuk menerima semua kepedihan yang muncul dari peristiwa itu, kehidupan sosial yang harmonis tidak akan pernah tercipta.

Tanpa keberanian untuk memaafkan di level sosial, identitas kita sebagai bangsa tidak akan pernah terbentuk secara utuh. Kita harus berani berani menatap sejarah bangsa Indonesia yang penuh dengan perang dan penderitaan secara terbuka dan berani. Ajakan ini bukan untuk menguak luka lama, melainkan untuk menjadikan perang dan penderitaan itu sebagai bagian dari identitas bangsa ini. Tanpa kehendak dan keberanian untuk menatap masa lalu yang negatif, kita tidak akan pernah dewasa sebagai bangsa.

Di tingkat sosial memaafkan juga mengandaikan keberanian untuk melupakan. Dalam arti ini melupakan bukan sekedar untuk melupakan begitu saja, melainkan melupakan untuk menerima, dan menerima untuk mengingat (Ricoeur). Semua kepedihan bangsa ini, yang muncul dari begitu banyak perang, krisis, dan konflik antar kelompok, hanya dapat dilampaui dengan dilupakan. Supaya dapat menerima orang perlu untuk melupakan, karena hanya di dalam kemampuan untuk melupakanlah orang dapat mengingat secara tepat (Straub).***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s